Friday, February 24, 2012

Penelitian Hubungan Antara Penyakit Periodontal dengan Komplikasi Kehamilan (part 02)

garwooddentistblog.com

Pengaruh Inflamasi pada Perkembangan
Berdasarkan bukti terkini penelitian baik pada hewan coba dan manusia, sebuah model hipotesis mengenai hubungan antara inflamasi periodontal ibu dan perkembangan fetus dapat diajukan. Bakteri periodontal dan faktor-faktor virulensinya, yang ditemukan di poket periodontal, menginduksi respon imun host secara lokal, terutama produksi sitokin (IL-1, PGE2, TNF-alfa dan lainnya) dan antibodi yang melawan bakteri. Jika respon imun ini dan netrofil tidak mampu menjaga infeksi terlokalisir (seperti respon IgG ibu terhadap bakteri rendah), kemudian bakteri dan atau faktor-faktor virulensinya dan sitokin penyebab inflamasi mempunyai akses sistemik melalui sirkulasi darah. Hal ini secara klinis terbukti terutama sekali dengan adanya tanda perdarahan saat probing (bleeding on probing) dan pembentukan poket selama kehamilan. Adanya bakteri pada sirkulasi darah akan memicu host untuk membentuk respon inflamasi ronde kedua, kali ini sistemik, terutama melalui produksi sitokin inflamasi lebih banyak lagi dan reaktan fase akut seperti C-reactive protein dari hepar.

Saturday, February 11, 2012

Penelitian Hubungan Antara Penyakit Periodontal dengan Komplikasi Kehamilan (part 01)

smilevancouver.ca
Oleh Yiorgos A. Bobetsis, DDS, PhD; Silvana P. Barros, DDS, PhD;
Steven Offenbacher, DDS, PhD, MMSc
JADA 2006;137(10 supplement):7S-13S.

INTISARI
Latar Belakang. Bukti yang bertambah banyak menyatakan bahwa gingivitis dan periodontitis maternal merupakan faktor risiko terjadinya lahir prematur dan kelainan kelahiran.

Tipe Penelitian yang Diulas. Untuk mengklarifikasi mekanisme yang memungkinkan antara penyakit periodontal dan kelahiran prematur, peneliti meninjau penelitian mengenai efek infeksi patogen periodontal pada hewan coba terhadap keturunannya, termasuk pertumbuhan fetus, abnormalitas struktural plasenta dan kesehatan neonatus. Setelah laporan pertama, pada tahun 1996, mengenai hubungan potensial antara penyakit periodontal ibu dan kelahiran prematur atau bayi lahir berat rendah pada manusia, beberapa penelitian case control dan prospektif telah dipublikasikan. Ulasan ini mengikhtisarkan hal-hal tersebut, dan juga penelitian terdahulu mengenai intervensi periodontal untuk mengurangi risiko.

Hasil. Meskipun terdapat penemuan yang berlawanan dan masalah potensial terhadap faktor risiko yang mendasari yang tak terkontrol, sebagian besar penelitian klinis mengindikasikan korelasi positif antara penyakit periodontal dan kelahiran prematur. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa penemuan mikrobiologis dan imunologis menunjang hubungan ini. Penelitian mengindikasikan bahwa infeksi periodontal dapat mengacu pada paparan fetus-plasenta, yang ketika dibarengkan dengan respon inflamasi fetus, dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Data dari studi hewan coba menaikkan kemungkinan bahwa infeksi periodontal maternal juga memiliki efek yang merugikan jangka panjang pada perkembangan bayi.

Implikasi Klinis. Pemberian informasi dilakukan pada pasien dan pemberi jasa kesehatan berkaitan dengan plausibilitas biologis mengenai hubungan dan risiko potensi, tetapi terdapat bukti klinis yang kurang memadai saat ini untuk dicapainya kebijakan rekomendasi terkait perawatan periodontal maternal dengan tujuan mengurangi risiko kelainan.

Kata Kunci: penyakit periodontal, kelahiran prematur, faktor risiko.

Saturday, February 04, 2012

Hands-Only CPR Staying Alive!

 
Hands-only CPR, a simplified CPR.
100 rate per minute depth 5 cm.
Bee Gees Stayin' Alive disco song.

Saturday, January 28, 2012

CPR: Cepat Tidak Selalu Lebih Baik


moms.gather.com
 NEW YORK (Reuters Health) – Melakukan CPR terlalu cepat dapat mengindikasikan bahwa kompresi dada tidak cukup dalam sehingga dapat memastikan darah mengalir ke dalam jantung dan otak, temuan sebuah penelitian dari Belgia. Peneliti menemukan bahwa ketika penolong melakukan kompresi dada dengan kecepatan di atas 145 kompresi per menit, kedalaman kompresi tersebut menurun hingga kurang dari empat sentimeter.

Rekomendasi dari Eropa dan Amerika Serikat sekarang menyatakan bahwa kompresi sebaiknya memiliki kedalaman setidaknya 5 cm (sekitar 2 inchi) dengan kecepatan 100 per menit atau lebih cepat.
“Gagasan logis tindakan tersebut adalah bahwa setiap kompresi akan menyebabkan sedikit darah mengalir ke tubuh dan jika kita memompa lebih cepat, maka darah juga akan mengalir lebih banyak”, kata Dr. Benjamin Abella, seorang dokter departemen kegawat daruratan di rumah Sakit Universitas Pennsylvania di Philadelphia yang tidak terlibat di penelitian terbaru ini.

Tetapi, jika anda melakukannya lebih cepat, ada kemungkinan kedalamannya menjadi berkurang”, lanjutnya kemudian kepada Reuters Health.

Bagi penolong pertama yang tidak dilatih secara professional untuk melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation), hal paling penting untuk dilakukan adalah mendorong “dalam dan cepat” – tetapi tidak terlalu cepat yang membuat anda kelelahan dalam beberapa menit saja. Pelayanan kesehatan darurat selanjutnya dapat menyediakan tindakan yang lebih rumit ketika mereka datang.

Dalam penelitian baru ini, Dr. Koenraad Monsieurs dkk. dari Rumah Sakit Belgia menggunakan accelerometer untuk mengukur kecepatan dan kedalaman kompresi dada selama prosedur CPR berlangsung oleh professional pada 133 pasien. Mereka menemukan bahwa kompresi dada yang sangat cepat sering lebih dangkal daripada kompresi yang dilakukan dengan kecepatan 100 kali per menit. Dan pada kecepatan 145 kali per menit, kedalaman menjadi “terlalu dangkal”, jelas peneliti dalam jurnal Resuscutation. Hal tersebut mengacu pada pedoman Eropa 2005 yang menyatakan bahwa kompresi sedalam 4 cm atau lebih sudah cukup. Sejak saat itu, standard-nya dinaikkan.

“Dari pengalaman saya melakukan CPR… Saya mempunyai kesan bahwa beberapa penolong pertama akan berpikir makin cepat makin baik”, jelas Monsieurs kepada Reuters Health. “Akhirnya jika kecepatan terlalu cepat, kedalaman kompresi menjadi tidak cukup”, lanjutnya.

Hal tersebut penting karena kompresi yang lebih dalam meningkatkan kemungkinan penggunaan defibrillator akan membuat jantung berdenyut kembali dan pasien tiba di rumah sakit dalam keadaan hidup, jelas peneliti. “Kompresi yang lebih dalam menyebabkan darah lebih banyak mengalir menuju jantung dan otak – organ paling penting untuk bertahan hidup”, kata Monsieurs.

CPR biasanya dilakukan setelah serangan jantung atau kasus hampir-tenggelam, ketika seseorang tidak mempunyai denyut ataupun tidak bernapas.

Pada tahun 2010, pedoman baru Asosiasi Jantung Amerika (American Heart Association; AHA) mengatakan penolong pertama yang melakukan CPR dapat menghilangkan protokol pernapasan yang menjadi protokol awal CPR dan hanya melakukan komprasi dada hingga paramedic datang.
 “Penyedia layanan kesehatan professional mampu mencapai pengukuran kecepatan dan kedalaman kompresi dada dari alat seperti accelerometers – tetapi bagi penolong pertama, hal yang paling penting hanyalah melakukan CPR segera”, jelas Abella.

Dia mengatakan bahwa semua orang sebaiknya mempelajari CPR semampunya – baik tersertifikasi maupun tidak – dan tidak perlu takut memulai dan melakukan kompresi di saat darurat. “Jika seseorang mengalami henti jantung, Anda bukan menyakiti mereka, namun membantu mereka”, katanya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah kompresi dada beriringan dengan lagu disko Bee Gees tahun 1977 berjudul “Stayin’ Alive” yang mempunyai ritme 100 denyut per menit. “Tentu saja, ritme ini mungkin bukan hal paling gampang untuk diingat di saat-saat darurat”, jelas Abella.

 “Selama Anda menempatkan tangan di atas dada dan menekan kuat dan cepat, Anda sedang melakukan sesuatu yang sangat penting”, tutupnya.

SOURCE: http://bit.ly/OfkexZ Resuscitation, online July 23, 2012.
Reuters Health; by Genevra Pittman
(c) Copyright Thomson Reuters 2012. Check for restrictions at: http://about.reuters.com/fulllegal.asp