Sunday, 23 August 2009

Fire Emblem Sacred Stone: Eirika and Innes

I made some fanfic(s) for this whole time. Fanfic is a term to shorten the alternate or make-up story that is build by fan of a story – example from games, animes, mangas, novels or so on. Fanfic sometimes is considered as a entity to express fan’s like to games, animes, mangas or novels. Fanfic is very subjective and the story that is told won’t be found in the main story. Lately, last year, I played Fire Emblem: Sacred Stone game. The platform was Game Boy Advance (GBA). I was suddenly spellbounded by the game that I wante to make the fanfic. Moreover, the game had a super nice story line and support conversation. I liked Innes very much since he is a handsome, talented, brash, cocky, mindful, dependable, gentle yet skillful archer and jenius strategician. I love archer (kya-kya-kya), and actually willing to join archery club, but haven’t find one here. Can someone tell me?



Oh, well, all the characters were very nice like I want to make all the fanfic possible for them based on the support conversation. I decided to make Eirika-Innes pairing since Eirika had lot of option for pairing. I found that the support conversation between these two character is very interesting. Innes is just nonchalant and image-care person (self-detonated~~) and Eirika, in contradiction, is straight-forward and caring person.

[Spoiler alert] Eirika has a twin brother, named Ephraim. Ephraim has a special relationship with Eirika since they are twin. This absolutely make Innes burn in jealously. Innes always make Ephraim his best rival and best frind (?). Eirika and Ephraim are the Renais Castle’s princess and prince. Their castle and nation are invaded by Grado Empire – one of the five nation in Magvel. In the other side, Innes is Frelia’s prince. He has one little sister that also friend of Eirika and Ephraim. Innes develops his feeling toward Eirika during the Stone War (the main game about). This fanfic is based on C support conversation. There are three support conversations for each pairing. I decided to publish the C level first.

Alright, stop this pera-pera monologue, let’s start with the fanfic! Below, is my first fanfic. I actually made it much longer that what I post here. I published it shorter to save the page. The title for this very first fanfic is DEAERU KOTO SHINJITERU – I Believe We will Meet Again. I got the tittle from Nami Tamaki’s song – Believe for Gundam Seed Anime (love the song!!). The full length may be published if I think the time is on. O-tanoshi mi ni desu~~Hai, whistle blowing.



DEAERU KOTO SHINJITERU
I BELIEVE WE WILL MEET AGAIN

Senja turun. Caer Pelyn, sebuah desa keramat yang sekarang menjadi tempat singgah sementara rombongan Eirika bermandikan cahaya keemasan. Sebentar lagi malam menjelang, bulan sabit malam keempat kan menggantikan sang surya yang sejak pagi tadi bertugas. Eirika sedang memandang hamparan sawah dan ladang Caer Pelyn di kejauhan. Ia sedang memikirkan kakak kembarnya, Ephraim. 

Eirika mengatupkan kelopak matanya dan bertelekan pada kusen jendela kamarnya. Ia mendengar suara di luar pintu kamarnya. Langkah ringan orang itu berhenti sebentar di depan pintu kamar Eirika. Sepertinya ia ragu. Ia mengetuk pintu perlahan, sekali, dua kali ketukan. Eirika membuka kelopak matanya, masih malas mengangkat kepalanya. Ia berkata, “Silakan masuk”.
Cklek! Pintu terbuka Sebuah kepala berambut perak menyembul. Eirika terkejut sesaat. “Tak biasanya ia bersikap seperti itu”, gumam Eirika pelan. Setelah berada pada jarak aman bicara empat mata, ia membuka suara. “Eirika, aku tahu dan paham bahwa hal ini datang tiba-tiba, tapi...”, ia berhenti sejenak, memilih kata-kata yang tepat, lalu melanjutkan, “Tapi... aku memutuskan untuk melindungimu untuk sementara”.


Kalimat terakhir terutama frase ‘untuk sementara” ia ucapkan dengan nada fade-out. Mata Eirika membelalak kaget. “Wh-what? Apa maksudmu Innes?”. Eirika terkejut alang kepalang. Ia tidak mengerti mengapa Innes, sang pangeran Frelia yang arrogant dan luar biasa percaya dirinya ini sedang mengatakan kata-kata yang sangat ajaib. Harga dirinya sangat tinggi, dan sering beradu mulut dengan Ephraim dalam menentukan siapa yang lebih superior dalam hal menguasai senjata. 



HALLOO...... Innes adalah seorang sniper, sama seperti Neimi yang artinya.... ia sangat ulung dalam hal memanah. Okey... kemampuan memanahnya jauh di atas Neimi, tetapi bukan berarti Neimi tidak ulung loh! Innes juga seorang stategician handal yang memimpin pasukannya menahan gempuran tentara Grado di Carcino (meski akhirnya ikut rombongan Eirika). Sedangkan Ephraim adalah seorang laki-laki yang memilih jalan tombak sebagai spesialisasinya. Jika keduanya bertarung dengan senjata yang sama, misalnya si Innes menggunakan tombak melawan Ephraim, jelaslah si Ephraim yang menang, hal serupa juga terjadi sebaliknya, jika si Ephraim menggunakan panah melawan Innes, si sniper tukang nyolot itu lah yang pasti menang. Jadi.... tidak dapat dipastikan siapa lebih hebat dari siapa kan? HAHHH.... persahabatan yang aneh plus rival sejati seumur hidup.

Innes mengalihkan pandangannya ke tembok di ruangan, menatap lukisan naga yang terpampang di sana. Hmm,,, tetapi saat ini pikirannya tidak sedang mencerna lukisan itu. Ia lalu berkata, masih memandangi lukisan naga, “Ketika aku ada pada kondisi sulit di Carcino, aku... harus mengakui bahwa aku berhutang banyak padamu hari itu”. Innes sepertinya mengeluarkan pernyataannya itu dengan sangat berat (pasti karena harga dirinya!). Eirika yang sejak tadi terkesima menjawab, “Oh, aku...aku paham”. Sesaat, Eirika menghembuskan nafas lega, ia kini dapat mengatur nafasnya kembali. 



Habisnya, siapa yang tidak kaget kalau pangeran di depannya ini mampu mengatakan hal yang paling tidak mungkin dikatakan kepada orang lain. HAHH... tentu saja, Innes adalah tipe orang yang tidak mau berhutang budi. Ia lebih suka menolong daripada ditolong. Pokoknya, ia sangat suka jika orang lain mengakui kehebatannya.

Innes kembali menatap Eirika. Mata abu-abunya menembus pupil Eirika. Retina Eirika mengirimkan sosok itu ke otaknya dan menerjemahkan senyum percaya diri Innes saat itu sebagai bukti bahwa Innes memang pangeran dengan tingkat konfidensial level S (level tertinggi yang dapat dicapai seseorang, melebihi level A, hahaha...). Innes melanjutkan kalimatnya, “Jadi sekarang, aku memutuskan untuk melindungimu dalam perang ini. Aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini, tapi...”, lagi-lagi Innes berhenti sejenak, memfilter kata-katanya. “Aku tidak dapat menerima kalau aku terus menerus berhutang padamu”. Eirika yang kini dapat menguasai dirinya lagi kini memiringkan kepalanya ke kiri dan tersenyum lembut, “Oh, kau dan harga dirimu yang bodoh itu—“. Eirika berkata lalu mengambil satu nafas panjang.


Innes kemudian meraih sejumput ujung rambut biru Eirika. “Regardless, kamu dapat mengandalkanku sekarang. Panahku mungkin tidak dapat melumpuhkan semua musuh, tetapi aku dapat menjamin keselamatanmu. Apakah kau menerima sumpahku?”, kata Innes tegas, tetapi pandangan mata abu-abunya lembut. Lagi-lagi, Eirika terbius oleh mata abu-abu itu. “Er... baiklah. Aku menerimanya. Arigatou... Prince Innes”, kata Eirika terbata-bata. Terlihat sedikit semburat merah muda di pipi gadis muda itu. Innes mengurai rambut Eirika lalu berbalik ke arah pintu. Saat berada di ambang pintu, Innes berhenti sejenak lalu berkata pada Eirika tanpa membalikkan tubuhnya, “Ikuti aku kalau begitu”.
Eirika lalu tersadar, “Eh....tunggu dulu, Innes. Tapi kamu adalah pemanah... Tidakkah lebih masuk akal kalau formasimu yang berada di belakangku? Archer adalah range shooter sehingga lebih bijaksana kalau kau ada di bagian defense line”, Eirika memaparkan panjang lebar mengenai dasar-dasar strategi perang sambil memejamkan mata dan mengangguk-angguk, mencoba mengingat pelajaran dasar perangnya. Innes tidak berkata apapun. Lalu ia menutup pembicaraan sore itu dengan ber-sigh panjang. Dari kejauhan, terdengar suara Neimi berteriak, “Makanan sudah siap, yang terakhir menghabiskan menu malam ini harus mencuci piring ya~~~”. “Innes, hey.. tunggu aku...”, Eirika berlari pendek ke arah Innes, ia berjalan menyamai langkah Innes sampai sejajar dengannya. Innes memandang lurus ke depan. Eirika memandang wajah Innes tak mengerti. Senja di Caer Pelyn berganti dengan malam damai yang mengantarkan wangi manis bunga iris di bawah langit perak keunguan. Malam damai yang mengizinkan Eirika dan rombongannya tidur nyenyak mengisi energi untuk berjuang esok hari.
(mada oshimai-not yet finished)


Being young and healthy is the best. We should cherish our seishun (youth). Do everything the fullest so that you won’t disappointed in the future. You decide your own life. Find your own happiness with your own hand that you yourself is the only person that can find it.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!