Sunday, 23 August 2009

Oral Manifestation of Geriatric Dental Patient

LAPORAN KASUS

Seorang wanita berusia 63 tahun datang ke klinik OM RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan merasa kesulitan saat makan karena banyak gigi yang hilang. Keadaan ini mulai dirasakan sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Satu persatu giginya “grimpil”, berlubang lalu akhirnya tanggal beserta akarnya. Riwayat kesehatan oral pernah mencabutkan gigi belakang kiri atas saat masih kecil, gigi belakang kanan atas. Kedua gigi tersebut tidak mengalami komplikasi saat dicabut. Mempunyai kebiasaan menyikat gigi secara horizontal. Kedua orang tua sudah meninggal karena usia tua. Riwayat kehidupan pribadi menikah, mempunyai 3 orang anak yang masing-masing tinggal di Jambi, Magelang dan Yogyakarta. Sekarang tinggal bersama anak ketiga. Riwayat kesehatan umum tidak mempunyai alergi terhadap makanan, obat ataupun cuaca, tidak sedang dalam perawatan dokter. Pernah dirawat di RS untuk operasi katarak mata kanan sekitar 1,5 tahun yang lalu. Obat yang diminum saat itu terdiri atas 3 macam yang diminum 3 kali sehari. Dijadwalkan operasi katarak mata kiri setelah kontrol mata kanan pada bulan Mei 2009.



Hasil pemeriksaan darah dan kolesterol pada batas normal 1,5 tahun yang lalu. Sekarang tidak sedang mengkonsumsi obat apapun dan tidak ada riwayat mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu lama. Peninjauan sistem tubuh menunjukkan tidak adanya kelainan pada sistem.

Kesan umum kesehatan penderita menunjukkan jasmani sehat, rohani komunikatif dan kooperatif. Vital signs menunjukkan tensi 150/80 mmHg, nadi 72 kali permenit dan reguler, respirasi 18 kali permenit, suhu 35,7 derajat C, berat badan 43 kg, tinggi badan 140 cm, indeks massa tubuh 21,94 normal. Pemeriksaan kepala dan leher menunjukkan tidak adanya kelainan pada kepala/ muka, mata, hidung, bibir, telinga, muskuloskeletal sistem pengunyahan, kelenjar ludah dan limfe. Pada pipi terdapat freckles yang berupa patch berwarna kecoklatan, berbatas tegas, homogen, multifokal, berdiemeter antara 5 mm – 1 cm pada cutis corpus zygomaticum kanan berbentuk oval dan freckles yang berupa makula kecoklatan, berbatas tegas, homogen, multifokal, berdiameter 2 – 4 mm pada cutis corpus zygomaticum kiri. Selain itu, pada pipi tampakrhytides yang berupa kerut-kerut pada kulit wajah yang disebabkan oleh berkurangnya lemak subkutan, meningkatnya jaringan elastis yang terfragmentasi dan tidak elastik.

Pemeriksaan intraoral menunjukkan terdapat resorpsi tulang alveolar pada daerah tidak bergigi (87651/12345678)/(8765432/345678), varikositas lingualis, coated tongue pada permukaan 1/3 posterior lidah, fissured tongue dengan panjang 2 cm, kedalaman 3 mm pada permukaan dorsal 1/3 anterior lidah, ulkus apthae berdiameter 2 mm pada mukosa bukal kanan, ephelis pada mukosa labial bibir bawah, resesi gingiva pada gigi (43/)/(1/12). Terdapat kalkullus supragingival dan subgingival pada gigi-gigi rahang bawah. Oklusi dan relasi rahang tidak dapat diklasifikasikan dan pasien tidak memakai gigi tiruan. Penemuan intraoral lainnya meliputi radiks 12 dan atrrisi derajat 3 pada gigi 43/(1/12). Semua gigi masih vital.

Assesment yang didapatkan adalah adanya mastication impairment pada geriatri karena partial edentulous (87651/12345678)/(8765432/345678) dengan kelainan oral seperti yang telah disebutkan di atas. Rencana perawatan yang disusun meliputi edukasi, medikasi ulkus dengan Alloclair untuk mempercepat penyembuhan, emlakukan scaling dan polishing, menumpat gigi yang mengalami atrisi, mencabut radiks 12, membuatkan GTL untuk mengganti gigi yang hilang dan reevaluasi.

Perawatan yang dilakukan adalah edukasi. Edukasi tentang partial edentulous berisi penjelasan bahwa daerah tidak bergigi dapat terjadi karena gigi-gigi yang hilang. Pasien dianjurkan membuatkan gigi tiruan supaya proses pengunyahan lebih efisien dan optimal. Edukasi tentang resesi gingiva berisi penjelasan bahwa penurunan gusi ke bawah pada rahang bawah dan naiknya gusi ke atas pada rahang atas dapat terjadi karena proses penuaan, cara menyikat gigi yang kurang tepat dan iritasi karang gigi. Pasien disarankan menyikat giginya dari arah gusi ke gigi dan menghilangkan karang giginya. Edukasi mengenai resorpsi tulang alveolar berisi penjelasan bahwa tulang penyangga gigi yang menjadi datar dapat disebabkan karena gigi-gigi yang hilang. Pasien disarankan membuatkan gigi tiruan supaya tulang penyangga gigi tidak bertambah datar dan membantu mengoptimalkan fungsi pengunyahan. Edukasi mengenai fissured tongue berisi penjelasan bahwa celah-celah dengan kedalaman 3 mm dengan panjang 2 cm pada permukaan lidah dapat merupakan variasi normal. Pasien dianjurkan untuk menjaga kebersihan mulutnya. Edukasi mengenai varikositas berisi penjelasan bahwa penonjolan pada lidah bagian bawah yang berwarna keunguan merupakan pelebaran pembuluh darah karena berkurangnya elastisitas. Tidak ada perawatan khusus untuk kondisi ini. Edukasi tentang coated tongue berisi penjelasan bahwa permukaan lidah yang berwarna putih dapat terjadi karena penumpukan sisa makanan yang kurang dibersihkan dengan cermat. Pasien disarankan menyikat lidahnya saat menyikat gigi. Edukasi mengenai radiks berisi penjelasan bahwa sisa akar gigi dapat mengakibatkan infeksi. Pasien disarankan mencabutkan akar tersebut. Edukasi mengenai atrisi berisi penjelasan bahwa terkikisnya permukaan gigi dapat terjadi karena proses pengunyahan selama ini. Pasien disarankan menumpatkan giginya. Edukasi tentang ephelis berisi penjelasan bahwa bercak-bercak pada permukaan bibir dan pipi dapat terjadi karena penumpukan pigmen. Tidak ada perawatan khusus untuk keadaan ini. Edukasi mengenai ulkus apthae berisi penjelasan bahwa sariawan pada pipi dalam kanan atas dapat terjadi karena faktor stress ataupun kelelahan. Pasien dianjurkan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan lebih banyak.

Perawatan selanjutnya yang dilakukan adalah medikasi ulkus apthae melalui pemberian Alloclair untuk mempercepat penyembuhan dan rujukan ke bagian periodonsia untuk dilakukan scaling dan polishing. Saat reevaluasi, pasien masih kesulitan saat makan karena gigi-giginya banyak yang hilang. Pemeriksaan objektif menunjukkan masih terdapat resorpsi tulang alveolar regio (87651/12345678)/(8765432/345678), varikositas, coated tongue yang sudah berkurang, fissured tongue, ephelis, partial edentuolus, radix 12 dan atrisi derajat 3 gigi (43/)/(1/12). Ulkus apthae sudah mengalami penyembuhan dan tidak terbentuk jaringan parut. Terdapat luksasi derajat 2 gigi 41. Planing meliputi anjuran scaling dan polishing, anjuran pencabutan radix 12, menambalkan gigi-gigi yang atrisi dan membuatkan GTL.

PEMBAHASAN

Pemeriksaan subjektif menunjukkan bahwa pasien merasa kesulitan saat makan karena banyak gigi yang hilang. Keluhan ini mulai dirasakan sejak sekita sepuluh tahun yang lalu. Pemeriksaan objektif menunjukkan adanya resorpsi tulang alveolar yang berupa processus alveolaris yang menjadi rendah pada regio tidak bergigi (87651/12345678)/(8765432/345678). Menurut Gershen (1991), perubahan demografi, termasuk peningkatan harapan hidup dan kuantitas lansia menimbulkan perhatian tersendiri pada gerodontologi. Lansia mempunyai resiko lebih besar untuk mengalami penyakit rongga mulut karena umur panjang mengakibatkan kondisi-kondisi kompromi atau penyakit sistemik yang mempunyai manifestasi rongga mulut.

Lebih lanjut, Gershen (1991) menyatakan bahwa kehilangan gigi menjadi suatu indikator penting terhadap status oral pada geriatri. Edentulisme sebagian atau seluruhnya dapat menyebabkan fungsi mastikasi menjadi tidak optimal. Kondisi ini turut memperparah asupan makanan yang bernutrisi. Peterson dan Yamamoto (2005) menyatakan bahwa individu dengan edentulisme cenderung mengkonsumsi buah, sayur dan makanan kaya serat lebih sedikit dan mengkonsumsi lebih banyak lemak, kolesterol dan nutrisi. Christmawaty (2007) menyimpulkan bahwa hilangnya gigi mempengaruhi kualitas asupan nutrisi dan dapat meningkatkan resiko kemunculan beberapa gangguan atau penyakit sistemik.

Ship (2003) menyatakan bahwa perubahan pada gigi geligi dapat dipengaruhi oleh proses fisiologis seperti atrisi, abrasi dan atrisi. Penggunaan gigi geligi yang berlangsung terus menerus dapat menyebabkan dentin terbuka yang dapat memicu dentin sklerotik dan dentin sekunder sebagai respon terhadap trauma, karies dan tekanan mastikasi. Hal ini sesuai dengan penemuan objektif pasien yaitu adanya atrisi hingga kedalaman dentin.

Permukaan incisal gigi berwarna coklat dan pemeriksaan dengan CE menunjukkan hasil positif. Pasien merasakan linu yang mengindikasikan gigi-gigi tersebut masih vital. Ship (2003) menambahkan bahwa perubahan pada dentin menimbulkan perubahan warna dan sering ditemukan pada usia tua. Mjor (1996) menyatakan bahwa perubahan tersebut terjadi karena deposisi dentin sekunder yang terus menerus terjadi selama gigi masih vital. Pembentukan dentin sekunder mengurangi ukuran kamar pulpa. Obturasi tubulus dentinalis menyebabkan pengurangan sensitivitas terhadap rangsang.

Kelainan oral yang dapat ditemukan pada pasien adalah lingual varix atau varikositas pada ventral lidah. Menurut Langlais dan Miller (2000), varikositas adalah temuan umum pada orang tua. Penyebab pelebaran pembuluh vaskuler ini adalah penyumbatan vena atau benda asing internal atau hilangnya dinding vaskuler. Varikositas intraoral paling umum timbul superfisial pada permukaan ventral dua pertiga anterior lidah. Varikositas tampak menonjol dan berwarna biru sampai ungu. Varix tidak bergejala sehingga tidak ada perawatan yang diperlukan untuk keadaan ini.

Resesi gingiva yang terjadi pada pasien dapat terjadi karena iritasi kalkulus supragingiva dan subgingiva serta kebiasaan menyikat gigi yang kurang tepat. Katz dkk. (1996) menyatakan bahwa attachment loss.jaringan periodontal dan resesi gingiva meningkat dengan peningkatan usia. Lebih lanjut, penyakit periodontal meningkat secara signifikan dengan jumlah gigi yang tersisa.

Menurut Whelton (1996), coated tongue tampak sebagai lapisan putih pada permukaan dorsum lidah karena adanya sisa makanan dan mikroorganisme. Hal ini dapat terjadi karena daerah tersebut kurang dibersihkan dengan optimal dan aliran saliva yang kurang. Lansia sering mengabaikan kebersihan mulutnya sehingga kelainan oral seperti coated tongue dapat dijumpai pada pasien-pasien geriatri (Petersen dan Yamamoto, 2005). Edukasi mengenai penyikatan lidah rutin dapat diberikan dalam rangka peningkatan status kesehatan mulut pasien.

Lansia sering dihubungkan dengan kondisi-kondisi degeneratif dan kronis (Ship, 2003). Berdasarkan pemeriksaan riwayat kesehatan umum menunjukkan bahwa pasien menjalani operasi katarak sekitar 1,5 tahun yang lalu dan dijadwalkan menjalani operasi katarak lanjutan bulan Mei 2009 nanti. Menurut Ship (2003), ketidakmampuan kronis yang memiliki prevalensi tinggi pada geriatri adalah gangguan penglihatan, pendengaran dan berbicara. Berkey dkk. (1996) menambahkan bahwa pencahayaan yang cukup, peresepan obat dan instruksi yang jelas patut ditekankan pada pasien-pasien geriatri.

Sehubungan dengan pencapaian derajat kesehatan ronggamulut yang optimal, pasien dianjurkan untuk melakukan scaling dan polishing. Pada pemeriksaan objektif intraoral dijumpai kalkulus supragingiva dan subgingiva pada regio palatal/ lingual dan fasial. Iritasi kalkullus dapat menyebabkan resesi gingiva pada pasien.
Ulkus apthae yang ditemukan saat hari kedatangan dan luksasi derajat 2 pada gigi 42 saat kontrol diakui tidak diketahui penyebabnya oleh pasien. Terlepas dari faktor kelupaan mengenai etiologi lesi-lesi dan kelainan tersebut, pasien geriatri memang cenderung mengalami penurunan ambang rasa sakit dan persepsi sakit. Ulkus apthae pada mukosa bukal kanan pasien mungkin dapat disebabkan karena trauma mekanik saat menyikat gigi. Luksasi gigi 42 mungkin dapat disebabkan karena mengunyah makanan yang keras atau terbentur sesuatu.
Pasien dianjurkan untuk mencabut radiks 12 supaya tidak menjadi sumber unfeksi dan menumpatkan gigi yang atrisi. Selanjutnya pasien dianjurkan untuk membuatkan GTL supaya fungsi pengunyahan lebih optimal dan resorpsi tulang alveolar tidak berlanjut.

Christmawaty (2007) menyatakan bahwa dokter gigi sebagai personel medis yang paling bertanggung jawab pada kesehatan mulut, seharusnya menjadi orang pertama yang menjadi orang pertama yang paling menguasai semua perubahan yang dapat terjadi pada rongga mulut, termasuk rongga mulut lansia.

Umumnya kesehatan gigi dan mulut lansia sering terabaikan. Kemampuan mengunyah, menelan dan berbicara dapat secara langsung dipengaruhi oleh kesehatan mulut yang buruk. Pada lansia, masalah kesehatan gigi dan mulut merupakan masalah yang kompleks. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan objektif pasien, tindakan dental seperti scaling dan polishing, pencabutan radiks 12, penumpatan gigi-gigi yang atrisi serta pembuatan GTL memberikan prognosis yang baik karena kondisi fisik yang masih baik, ADL independen, kooperatif pasien dalam tindakan dental. Hal yang patut dipertimbangkan dalam penanganan pasien geriatri adalah waktu visite yang relatif pendek, instruksi singkat yangmudah dimengerti dan kontrol infeksi yang baik. Peresepan obat, jika memungkinkan, menghindari over-prescription ataupun polifarmasi.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!