Sunday, 23 August 2009

Oral Manifestation of Patient With B20 Infection - a cup of Oolong Tea


How’s life there? I felt like post my latest case report in Oral Medicine. It is about The Oral Manifestation of Patient with B20 case. And you know what? He is MOSLEM now!! My patient here! Subhanallah! Shinjirarenai, demo yokatta! For your information, B20 refers to Human Immunodeficiency Syndrome (HIV) infection. Mr. Panda told me before not to address that infection bluntly due to ethics issues. So, from now, should we say that infection with CDC code.
Hai, hajimarimasho ka.



TINJAUAN PUSTAKA
Methamphetamine
Methamphetamine adalah stimulan kuat sistem saraf pusat. Nama jalannya bermacam-macam, antara lain, meth, speed, crank, chalk, ice dan crystal. Biasanya berwarna putih, tidak berwarna, berasa pahit dan dapat diadministrasikan secara oral, dihisap lewat hidung dan suntik. Methamphetamine adalah derivat yang lebih kuat dari amphetamine. Pertama kali diproduksi di Jepang (tahun 1919) dan mulanya digunakan sebagai dekongestan hidung dan dilator bronkus penderita asma (Blachford dan Krapp, 2003).

Penggunaan methamphetamine secara legal melalui oral dalam sediaan tablet. Ketika digunakan secara ilegal, administrasi oral melalui sediaan pul, injeksi, melalui sediaan bubuk (powder) atau dihisap melalui bentuk kristal. Penggunaan methamphetamine di kalangan medis biasanya untuk penurunan berat badan pasien obesitas, narcolepsy dan attention deficit disorder (ADD). Toleransi terhadap obat ini terjadi secara cepat. Pasien dengan depresi berat, epilepsi parah ataupun penyakit Parkinson dapat diterapi dengan methamphetamin. Methamphetamine dapat menimbulkan ketergantungan. Pengguna dengan intensitas rendah sebagai stimulan mental dapat mengalami mental alertness, bertambah fokus dan konsentrasi, menambah percaya diri dan energi berlebih. Efek psikologis dan fisiologis yang disebabkan oleh methamphetamine adalah karena pelepasan epinefrin ke tubuh dan otak (Blachford dan Krapp, 2003).

Episode “rush” merupakan tahap euforia yang selanjutnya beralih pada ketergantungan fisiologis. Setelah empat hingga 16 jam, episode “shoulder” bermula. Pengguna mula merasa argumentatif dan hiperaktif. Episode ini dapat bertahan 3-15 hari. Episode “tweaking” terjadi ketika kadar methamphetamine dalam tubuh tidak mampu mengembalikan ke episode “Rush”. Pengguna akan mengalami gejala mental seperti kekosongan, depresi dan paranoia. Selanjutnya, episode “crashing” terjadi ketika pengguna methamphetamine jatuh tertidur karena kecapaian. Episode “crashing” dapat berlangsung satuhingga tiga hari. Pengguna jangka panjang dapat berefek ketergantungan, perubahan pada otak, kerusakan jantung (inflamasi). Pada pengguna intravena, penyalahgunaan obat ini menimbulkan resiko penularan hepatitis B dan C, juga HIV/ AIDS (Blachford dan Krapp, 2003). Pengguna methamphetamine juga menderita gangguan psikiatri, termasuk depresi.

HIV/AIDS

HIV pertama kali dideteksi pada tahun 1983 pada pasien AIDS. Infeksi kronis HIV dalam beberapa tahun menunjukkan kerusakan progresif sistem imun yang kemudian memicu defisiensi imun yang parah, infeksi oportunistik, kanker dan kematian (Adler dkk., 2004; Bricker dkk., 1994; Little dkk., 2002). HIV adalah virus RNA golongan retrovirus yang memerlukan reverse transcriptase dalam perkembangbiakannya. Virus terikat pada protein CD4 pada permukaan sel, menghasilkan kopi DNA yang kemudian bergabung dengan DNA sel pejamu dan menjadi provirus (Bricker dkk., 1994). HIV dapat ditransmisikan melalui cara seksual dan parenteral. Ibu hamil yang positif dapat pula menularkan pada bayinya. Metode paling umum transmisi virus adalah hubungan seks homoseksual, heteroseksual, heteroseksual IV drug users, biseksual atau resepien darah. HIV dapat ditemukan pada air mata, air susu, cairan serebrospinal, cairan amnion dan urin. Virus juga ditemukan pada saliva meski transmisi via saliva belum pernah ditunjukkan. Cairan yang hanya dapat menularkan adalah darah, semen, cairan vagina adn air susu ibu (Little dkk., 2002).

Menurut Adler dkk. (2004), perjalanan infeksi HIV hingga menjadi AIDS terbagi menjadi tiga yaitu infeksi akut, infeksi kronis dan AIDS. Bricker dkk. (1994) membagi fase tersebut menjadi tiga juga dengan sedikit perbedaan yaitu infeksi HIV, AIDS-related complex (ARC) dan AIDS. Gejala dan tanda infeksi HIV diawali dengan sindrom serokonversi, flu-like fever, weakness 10-14 hari. Pada tahap asimptomatik tidak terdapat tanda dan gejala tetapi pemeriksaan serologis menunjukkan adanya infeksi. Tahap selanjutnya adalah tahap simptomatik yang menunjukkan gejala dan tanda limfadenopati yang persisten, kandidiasis oral, rasio CD4/CD8 berkurang hingga 1, keringat malam, diare, penurunan berat badan, demam, lemas dan malaise. Tahap akhir infeksi HIV memiliki gejala dan tanda rasio CD4/CD8 kurang dari 0,5; HIV enselopati, HIV wasting syndrome, infeksi oportunistik, dan neoplasma (Little dkk., 2002).

Menurut Adler dkk. (2004), penyakit terkait AIDS di negara maju dan negara berkembang memiliki perbedaan. Penyakit terkait AIDS di negara maju meliputi Pneumocytis Pneumonia, candidiasis esofagus, Non-Hodgkin’s limfoma dan tuberculosis; sedangkan pada negara berkembang meliputi tuberculosis, HIV wasting syndrome, cerebral toxoplasmosis dan Cryptococcus meningitis. Infeksi oprtunistik merupakan penyebab utam kematian pada pasien HIV/AIDS. Beberapa infeksi oportunistik yang terjadi pada pasien HIV/AIDS adalah Pneumocytis carinii Pneumonia, toxoplasmosis, candidiasis, cytomegalovirus, Mycobacterium Avium Complex (MAC), Herpes Simplex Virus (HSV), Epstein-Barr virus dan Human Papilloma Virus (HPV) (Little dkk., 2002; Nguyen, 2009; Bennet, 2009).

Tidak ada perawatan yang dapat tmenyembuhkan infeksi HIV/AIDS, agen antiretroviral tidak dapat membunuh virus HIV. Zidovudine dapat menunjukkan efek inhibisi signifikan terhadap sitopatogenisitas HIV. Agen antiretrovirus dapat digolongkan menjadi 3, yaitu analog nucleoside, protease inhibitor dan non-nucleoside reverse transcriptase. Medikasi dimulai kerika pasien HIV/ AIDS mengalami imunosipresi hitung CD4 di bawah 500 dan karena riwayat alami penyakit tersebut, obat ini digunakan dalam waktu tak terbatas (Little dkk., 2002).
Infeksi oprtunistik merupakan penyebab utama kematian pasien dengan infeksi HIV/ AIDS (Little dkk., 2002). Manifestasi oral infeksi HIV/AIDS meliputi infeksi jamur, bakteri, virus dan neoplasma. Jamur yang paling sering nampak adalah dari genus Candida. Infeksi bakteri pada penderita HIV/AIDS biasanya berupa Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG). Infeksi virus biasanya melibatkan HSV, Epstein-Barr Virus, HV, Herpes Zooster Virus (HZV) dan cytomegalovirus (Foltyn, 1994; Bricker dkk., 1994). Neoplasma terkait infeksi HIV/AIDS meliputi Kaposi’s sarcoma, Non-Hodgkin’s lymphoma (Little dkk., 2002).

Infeksi HIV/AIDS mempunyai banyak manifestasi meliputi sistem respirasi, neurologis, oral, mata, muskuloskeletal, hematologi, gastrointestinal dan kulit (Foltyn, 1994). Penatalaksanaan pasien dengan infeksi HIV melibatkan tim ayng berasal dari berbagai bidang ksesehatan dan bidang psikologi dan sosial. Pertimbangan paling besar dalam manajemen dental pasien dengan infeksi HIV/AIDS menitikberatkan pada hitung CD4 dan tingkat imunosupresi pasien. Dokter gigi sebaiknya mengetahui status infeksi oportunistik dan medikasi yang didapatkan pasien untuk profilaksis infeksi oportunistik (Little dkk., 2002). Kontrol infeksi dari pasien ke dokter gigi harus selalui diterapkan. Hal ini termasuk riwayat kesehatan terbaru, masker, glove, minimalisir penggunaan aerosol atau droplet, penggunaan rubber dam, high speed suction, dekontaminasi dan minimalisir penggunaan ultrasonic scaler (Bricker dkk., 1994).

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!