Sunday, 23 August 2009

Oral Manifestation of Smoking Patient - a cup of white tea



Halitosis? What exactly was that? It sometimes makes us embarrassed and uncomfortable due to its potential to destroy our proximity to others (what the?!). But, yes, indeed, halitosis can be be the major lead of mouthwash industry movement. Without halitosis, they can't make their factory puffing their fog and smoke. Aiya...... sorry for the blabbing. My supervisor for this case was drg. Sri Budiarti, M.S.



TINJAUAN PUSTAKA
Halitosis adalah odor tidak sedap yang berasal dari nafas (the Columbia Encyclopedia, 2004). Halitosis merupakan keluhan yang umum dilaporkan (Spielman, 1996). Tidak semua orang yang percaya bahwa mereka memiliki malodor yang sesungguhnya. Hal ini dapat menjadi dilema klinis dan dapat mempunyai dasar psikogenik (Scully, 2004). Oral malodor merupakan hal umum yang dijumpai saat bangun pagi (morning breath) dan disebabkan karena aliran saliva dan oral cleansing yang rendah selama tidur. Hal ini tidak memberikan signifikansi karena biasanya aktivitas makan, berkumur dengan air dapat menetralkannya. Halitosis dapat menjadi konsekuensi memakan makanan yang memiliki rasa yang kuat seperti bawang putih, bawang merah dan rempah-rempah. Kebiasaan merokok dan meminum minuman beralkohol juga dapat menyebabkan halitosis.

Halitosis secara umum muncul sebagai akibat dari dekomposisi partikel makanan, sel-sel deskuamasi, darah dan beberapa komponen kimia pada saliva. Sembilan puluh persen halitosis berasal dari rongga mulut (Spielman, 1996). Scully (2004) menyebutkan bahwa halitosis merupakan konsekuensi aktivitas bakteri oral, yang biasanya anaerob yang muncul dari oral hygiene yang buruk, gingivitis, penyakit periodontal, oral sepsis, soket ekstraksi yang terinfeksi, debris di bawah GTC ataupun alat orto, ulkus maupun xerostomia.

Ketika dekomposisi material menjadi komponen yang lebih sederhana seperti asam amino dan peptida, beberapa substansi volatil (asam lemak dan senyawa sulfur) juga turut dihasilkan. Beberapa substansi volatil yang dihasilkan meliputi asam propionat, asam butirat, asam valerat, aseton, asetil aldehid, etanol, propanol dan diacyl (Moss, 1996).

Volatil Sulphure Compound (VSC) ditemukan dalam konsentrasi lebih tinggi pada pasien dengan penyakit gingiva daripada pasien normal (Moss, 1996). Kebersihan mulut yang buruk dapat mengakibatkan gingivitis, menciptakan poket miskin-oksigen dalam mulut dan akhirnya mendukung proliferasi bakteri anaerob gram negatif. Bakteri-bakteri ini kemudian akan melisiskan protein pada saliva dan jaringan di rongga mulut yang memicu produksi VSC (Iwakura, 1983). Prabhu (2004) menyebutkan bahwa etiologi halitosis dilaporkan sebagian besar berasal dari rongga mulut sedangkan penyebab non-oral (sistemik) hanya sekitar 10%.

Attia dan Marshall (1982) menyatakan bahwa halitosis yang berasal dari rongga mulut sering dikaitkan dengan kebersihan mulut yang buruk, plak gigi, karies, gingivitis, stomatitis, periodontitis, hairy tongue dan karsinoma. Plak dan hairy tongue merupakan sumber penting halitosis, terutama pada permukaan dorsoposterior lidah (Yaegaki dan Sanada, 1992).

Halitosis yang bukan dari rongga mulut dapat bersumber dari saluran pernafasan, saluran pencernaan, kelainan neurologis, penyakit sistemik dan obat (Attia dan Marshall (1992). Beberapa penyakit saluran pernafasan yang dapat berkontribusi terhadap halitosis adalah infeksi nafas, sinusitis dan polip hidung, pneumonia dan abses paru-paru (Rosenberg, 1996). Menurut Lee dkk. (2004), penyakit sistemik yang dapat menyebabkan halitosis adalah diabetes mellitus misalnya, nafas pasien biasanya berbau manis, seperti buah-buahan atau aroma seton. Pasien dengan gagal ginjal dapat muncul bau amonia (Bricker dkk., 1994). Lee dkk. (2004) menambahkan bahwa obat-obat diuretik, antidepresan, antihipertensif dan antipsikotik dapat menyebabkan halitosis.

Diagnosis dan assesment halitosis ditentukan secara organoleptik (Rosenberg, 1996). Standar referensi utama deteksi halitosis adalah melalui indera penciuman hidung (Rosenberg dan McCulloch, 1992). Baru-baru ini, sudah diperkenalkan sebuah alat untuk mengukur halitosis secara kuantitatif yang disebut halimeter. Alat ini mengukur gas-gas yang dihasilkan dalam mulut. Meski demikian, alat ini masih belum mampu membedakan jenis sulfida yang dihasilkan (DeBoever dkk., 1994).

Manajemen halitosis diawali dengan menilai semua penyakit di rongga mulut yang kemungkinan berkontribusi terhadap halitosis. Pada orang sehat, penatalaksanaan halitosis berdasar pada asumsi bahwa halitosis tersebut merupakan hasil pertumbuhan berlebih flora di rongga mulut yang memproduksi VSC. Terapi yang paling sering ditempuh meliputi cara mekanik (penyikatan lidah) dan secara kimiawi (agen antibakteri) (Preti dkk., 1995). Attia dan Marshall (1982) dan Rosenberg (1996) menambahkan bahwa jika sumber halitosis bukan berasal dari rongga mulut, pasien sebaiknya dirujuk ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Bricker dkk. (1994) menyatakan bahwa halitosis karena OH buruk dapat dirawat melalui penghilangan plak menggunakan dental floss. Halitosis yang timbul dari gigi tiruan yang sudah lama dan kotor dapat dihilangkan dengan pembersihan gigi tiruan atau menggantinya dengan yang baru. Apabila tidak terdapat sumber halitosis intraoral, halitosis yang persisten harus diselidiki lebih lanjut untuk mengetahui faktor sistemik yang mungkin terlibat.

Menurut Prabhu (2004), halitosis dapat diterapi dengan ebebrapa alternatif terapi sesuai dengan kondisi pasien, seperti:
• Halitosis yang berasal dari rongga mulut karena perkembangan bakteri gram negatif anaerob yang menghasilkan VSC sehingga perawatan yang dilakukan dengan pengurangan jumlah dan populasi mikroba.
• Halitosis yang berasal dari nasal atau sistemik perlu dikonsultasikan dengan spesialis kesehatan lain yang tepat.

Halitosis karena Merokok

Efek sistemik penggunaan tembakau telah banyak diteliti dan dilaporkan secara luas, namun efek lokal karena kebiasaan mengkonsumsi tembakau belum banyak mendapat perhatian kecuali yang berpotensi menjadi kanker (Agustina, 2007). Menurut Attia dan Marshall (1982), merokok merupakan penyebab halitosis fisiologis yang dapat berkurang bahkan menghilang jika kebiasaan dihilangkan.

Merokok dapat memicu terhambatnya produksi saliva. Saliva memiliki peranan penting dalam mekanisme self-cleansing rongga mulut. Produksi saliva yang menurun mengakibatkan penumpukan plak dan kalkulus, kemudian diikuti gigi-gigi yang rentan terhadap karies sehingga OHI menjadi buruk. Peningkatan bakteri anaerob yang berlebihan dalam rongga mulut akan memacu produksi VSC yang kemudian menghasilkan halitosis (Dryscale, 2007).

Perubahan pada jaringan mulut karena merokok dapat dikelompokkan menjadi perubahan pada jaringan lunak, pada jaringan keras, perubahan fisiologi dan mikrobiologi mulut maupun perubahan yang dapat menyebabkan gangguan estetik. Perubahan pada mukosa mulut meliputi leukoplakia, nicotinic stomatitis, smoker melanosis, leukoedema, hairy tongue dan kanker mulut. Perubahan pada jaringan periodontal meliputi gingivitis, periodontitis, ANUG dan delayed alveolar wound healing. Perubahan pada jaringan keras gigi termasuk karies, abrasi dan erosi, sedangkan perubahan pada jaringan mulut yang berkaitan dengan aspek estetis adalah halitosis (Agustin, 2007).

Penatalaksanaan halitosis karena merokok salam dengan penatalaksanaan halitosis secara umum. Jka halitosis disebabkan karena merokok maka penghentian merokok menjadi kunci penting manajemen halitosis (Dryscale, 2007). Peningkatan kebershian mulut juga menjadi terapi efektif halitosis (Scully, 2004).

Menurut Bouquet dan Schroeder (1992), perubahan pada jaringan lunak rongga mulut meliputi:
1. Kanker mulut
Lebih dari 80% pasien kanker mulut mempunyai riwayat meroko ataupun pengguna tembakau dengan cara dikunyah. Kanker mulut saja tentu saja berkembang dengan adanya ko-karsinogen seperti asupan alkohol berlebih.
2. Leukoplakia
Leukoplakia pada perokok terlihat sabagai plak berwarna putih pada mukosa. Lesi ini dapat menghilang jika kebiasaan merokok dihentikan. Leukoplakia juga mempunyai potensi berkembang ke arah malignansi.
3. Nicotine palatinus (stomatitis)
Biasa ditemukan pada perokok yang menggunakan pipa. Lesi ini terjadi karena adanya kontak asap rokok dalam frekuensi dan durasi yang lama. Lesi ini tampak sebagai lesi putih yang berkeratin dan dapat hilang beberapa bulan setelah kebiasaan merokok dihentikan.
4. Smoker’s melanosis
Merokok mampu menstimulasi melanosit pada mukosa rongga mulut umtuk menghasilkan melanin berlebih sehingga menimbulkan patch berwarna coklat pada mukosa bukal dan gingiva. Ditemukan pada sekitar 5-28% perokok berat. Kelainan in dapat hilang jika kebiasaan merokok dihentikan.
5. Hairy tongue
Kondisi ini secara klinis tampak seperti permukaan menebal yang dapat berwarna putih, coklat ataupun hitam. Hairy tongue merupakan pemanjangan papila filiformis yang menyerupai rambut.

See~~ how smoking is very benificial for human glutathione depletion! Glutathione tt nan da? I might post it soon...

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!