Sunday, 23 August 2009

Recurrent Apthous Stomatitis (RAS)

This is the report case for my ulcer case, one of the prerequisites case.

LAPORAN KASUS

Seorang pria berusia 50 tahun datang ke klinik OM FKG UGM dengan keluhan rasa sakit pada langit-langit yang berdekatan dengan “senthil”. Keluhan tersebut dirasakan sejak 3 hari yang lalu, terasa sakit dan perih jika digunakan untuk menelan. Sariawan sudah sering muncul sejak usia muda dan lokasinya berpindah-pindah. Keadaan ini tidak dikeatuhi penyebabnya, tetapi jika pekerjaan menumpuk, stress ataupun tidur terlalu malam, sariawan muncul. Sariawan biasanya sembuh dalam waktu seminggu, sering berganti pasta gigi dari merek yang satu ke merek yang lain. Sariawan itu diobati dengan albotil, tetapi karena daerah sekitarnya “nglethek” pemakaian dihentikan. Sudah sering berobat ke dokter puskesmas dan diberi obat kumur berwarna kebiruan tetapi sariawan tetap muncul. Seminggu yang lalu berkukur air sirih, tetapi kemudian dihentikan.



Riwayat kesehatan oral menunjukkan pernah mencabutkan gigi geraham kiri bawah dan geraham kiri atas. Pencabutan kedua gigi tersebut tidak mengalami komplikasi. Pernah juga menambalkan gigi geraham kiri bawah dengan tambalan berwarna hitam. Ayah sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas, sedangkan ibu dalam kondisi sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik. Riwayat kehidupan pribadi adalah sudah menikah, mempunyai dua orang anak dan tinggal di rumah. Riwayat kesehatan umum menunjukkan sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik, tidak mempunyai alergi obat-obatan, cuaca maupun makanan dan belum pernah menjalani rawat inap di rumah sakit. Saat ini tidak sedang dalam perawatan dokter. Peninjauan sistem tubuh menjunjukkan tidak adanya kelainan.

Pemeriksaan subjektif menunjukkan jasmani sehat, rohani kooperatif dan komunikatif. Tanda-tanda vital tensi 110/70 mmHg, nadi 77 kali permenit, respirasi 18 kali permenit, suhu 36,5 derajat C, berat badan 50 kg, tinggi badan 157 cm, indeks massa tubuh 20,28 dan status gizi normal. Pemeriksaan ekstra oral yang meliputi muka, neuromuskuler, kelenjar ludah, kelenjar limfe, tulang rahang maupun TMJ tidak menunjukkan adanya kelainan.

Pada pemeriksaan intra oral ditemukan ulkus single, berdiameter 3 mm, berbentuk bulat berwarna putih kekuningan dengan halo eritematus pada tepinya, kedalamam superfisial dan tepinya reguler pada palatum molle sebelah kiri. Kondisi ini didiagnosis sebagai recurrent apthous stomatitis (RAS) tipe minor. Mukosa pipi terdapat gambaran lesi putih, linier, menonjol, bilateral, setinggi oklusal gigi yang tidak hilang bila diusap sebagai linea alba. Varikositas lidah terdapat pada permukaan ventral lidah yang secara klinis tampak sebagai penonjolan berwarna biru keunguan dan bilateral. Kelainan oral lainnya ditemukan pada gingiva berupa pergerakan margin gingiva ke arah apikal setinggi 3 mm yang didiagnosis sebagai resesi gingiva regio. Selain itu tampak pula gingiva kemerahan yang edematus, konsistensi lunak, papila interdental tumpul pada regio dan BOP (-) yang didiagnosis sebagai gingivitis ringan. Mukosa bibir, dasar mulut dan orofaring menunjukkan tidak adanya kelainan. Kondisi oral hygiene menunjukkan indeks sedang dengan gross-kalkulus pada regio kanan dan kiri. Pemeriksaan elemen gigi menunjukkan adanya kavitas kedalaman dentin pada permukaan mesial gigi 16 yang didiagnosis sebagai karies dentin dengan insensitif dentin; terdapat kavitas kedalaman dentin pada permukaan mesial dan distal gigi 15 yang didiagnosis sebagai karies dentin dengan insensitif dentin. Gigi 14 didiagnosis mempunyai karies dentin dengan insensitif dentin karena terdapat kavitas kedalaman dentin pada permukaan distal. Permukaan labial mengalami pengikisan hingga kedalaman dentin dengan tepi tajam pada gigi yang didagnosis sebagai abrasi gigi. Regio 36 dan 28 merupakan area tidak bergigi; partial edentulous karena prosedur eksodonsi sebelumnya. Pada gigi 37 terdapat karies email yang melibatkan permukaan oklusal. Gigi 38 terdapat tumpatan amalgam klas I. Gigi 42 tumbuh lebih ke arah labial, labioversi dan gigi 47 terdapat kavitas kedalaman dentin pada permukaan oklusal yang didiagnosis sebagai karies dentin dengan insensitif dentin.

Rencana perawatan yang hendak dilakukan meliputi edukasi, medikasi ulkus, melakukan scaling dan polishing, menumpat gigi-gigi yang karies, membuatkan gigi tiruan untuk mengganti elemen 36 yang hilang serta melakukan reevaluasi. Edukasi yang dilakukan meliputi penjelasan bahwa sakit pada langit-langit yang dekat dengan “senthil” dengan warna puthi kekuningan berbentuk bulat dengan tepi kemerahan berdiameter 3 mm dapat terjadi karena faktor stress, kelelahan dan gizi tidak berimbang. Pasien disarankan untuk memakan makanan yang bergizi dan mengelola stressnya. Panjelasan mengenai garis putih menonjol pada pipi bagian dalam kanan dan kiri terjadi karena gesekan ringan antara pipi dengan gigi yang berlangsung terus menerus. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak memerlukan perawatan khusus. Edukasi lainnya adalah penjelasan bahwa celah antara gigi 38 dengan 37 disebabkan karena hilangnya gigi dan dapat menyebabkan perubahan posisi gigi di sebelahnya. Pasien disarankan untuk membuatkan gigi tiruan supaya posisi gigi tidak berubah dan fungsi pengunyahan lebih optimal. Menjelaskan bahwa lubang-lubang pada gigi terjadi karena aktivitas bakteri. Pasien disarankan untuk menambalkan giginya dan meningkatkan kebersihan gigi dan mulutnya. Menjelaskan bahwa turunnya gusi dan pengikisan gigi sebelah depan dapat terjadi karena cara menyikat gigi yang kurang tepat. Pasien disarankan untuk mengubah cara menyikat gigi dari arah gusi ke gigi dan menambalkan giginya. Menjelaskan bahwa turunnya gusi dapat pula disebabkan karena penumpukan karang gigi yang dapat mengiritasi gusi. Pasien disarankan menghilangkan karang giginya.

Edukasi dalam rangka penatalaksanaan gingivitis ringan meliputi penjelasan bahwa gusi yang kemerahan disebabkan karena karang gigi yang dapat mengiritasi gusi dan penumpukan sisa makanan yang kurang dibersihkan dengan cermat. Pasien disarankan untuk menghilangkan karang giginya dan membersihkan rongga mulutnya dengan lebih cermat. Menjelaskan bahwa posisi gigi 42 yang miring ke depan dapat terjadi karena kekurangan ruang dalam lengkung rahang.

Medikasi RAS dilakukan dengan peresepan Alloclair untuk mempercepat penyembuhan ulkus. Alloclair dikumurkan 3 kali sehari setelah makan.

Reevaluasi yang dilakukan seminggu setelahnya menunjukkan sudah tidak adanya rasa sakit pada langit-langit yang dekat dengan “senthil”. Pemeriksaan objektif juga menunjukkan sudah tidak adanya ulkus single, berbentuk bulat dengan diameter 3 mm, berwarna putih kekuningan dengan halo eritematus pada tepinya, kedalaman superfisial pada palatum molle. Penyembuhan ulkus tidak meninggalkan jaringan parut. Tampak linea alba dan varikositas tanpa perubahan pada mukosa bukal dan ventral lidah pasien. Masih terdapat karies email gigi 27, karies dentin dengan insensitif dentin pada oklusal gigi 37, distal gigi 14, mesial dan distal gigi 15 dan mesial gigi 16. Selain itu masih terdapat partial edentulous regio 26 karena pasien belum sempat membuatkan gigi tiruan, resesi gingiva regio dan abrasi gigi. Gingivitis ringan juga masih nampak pada regio. Dari pemeriksaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa RAS sudah melalui tahap penyembuhan. Rencana perawatan selanjutnya meliputi menyarankan pasien untuk melakukan scaling dan polishing, menyarankan untuk menambalkan gigi yang berlubang dan gigi yang abrasi serta menyarankan untuk membuatkan gigi tiruan untuk mengganti elemen 36 yang hilang.

PEMBAHASAN

Pemeriksaan subjektif menunjukkan adanya rasa sakit pada langit-langit yang dekat dengan “senthil” sedangkan pemeriksaan klinis menunjukkan adanya ulkus single berdiameter 3 mm berbentuk bulat berwarna putih kekuningan dengan halo eritematus pada tepinya, kedalaman superfisial dan tepinya halus pada palatum molle sebelah kiri. Pasien merasa sakit saat area ini digunakan untuk menelan dan sudah sering muncul sejak usia muda. Kondisi ini sering diperparah hika pekerjaan menumpuk, stress ataupun tidur terlau malam. Pasien sering berobat ke puskesmas untuk memeriksakan keadaan ini, namun ulkus baru bermunculan beberapa minggu atau bulan kemudian.

Berdasarkan hasil pemeriksaan subjektif melalui anamnesa dan pemeriksaan objektif dapat diambil kesimpulan bahwa diagnosis dari kasus ini adalah Recurrent Aphtous Stomatitis (RAS) tipe minor. Diagnosis ini dapat dicapai dengan melihat penampakan klinisnya yaitu ulkus single ataupun multiple berjumlah 1 – 6 ulkus dengan diameter bervariasi antra 2-5 mm. RAS minor biasanya terjadi pada mukosa non-keratinisasi meski tidak tertutuo kemungkinan ulkus terjadi pada mukosa mulut yang berkeratinisasi. Ketidaknyamanan prodormal dapat didahului oleh sakit (Mitchell, 2005). Ulkus biasanya sembuh dengan spontan tanpa pembentukan jaringan parut dalam waktu satu hingga dua minggu (Bricker, 1994). RAS minor dipicu oleh stress, trauma lokal, menstruasi dan dapat pula “marker” untuk defisiensi besi, vitamin B12 ataupun folat. Pada beberapa kasus merupakan manifestasi Chron’s disease, kolik ulseratif atau gluten enteropathy. Merkipun etiologinya belum sepenuhnya dipahami, faktor autoimun dipercayai mendasari RAS. Pada 45% terdapat riwayat keluarga (Mitchell, 2005).

Pemeriksaan subjektif menunjukkan bahwa pasien sering mengalami sariawan bila pekerjaan menumpuk, stress ataupun tidur terlalu malam. Regezi dan Sciubba (1993) menyebutkan bahwa faktor emosi dapat memicu timbulnya RAS. Sircus (1984) menambahkan bahwa beberapa pasien merasakan bahwa stress memperparah kondisi ulkus rongga mulut, tetapi tidak jelas menyatakan bahwa stress saja mengubah persepsi nyeri. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pasien dengan RAS memiliki pola tingkah laku abnormal mirip dengan pasien dengan nyeri kronis. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat faktor psikologi yang mendasari.

RAS merupakan lesi yang dapat sembuh dengan sendirinya sehingga terapi RAS bertujuan untuk mempercepat penyembuhan dan menurunkan durasi, manajemen rasa sakit (morbiditas) , manajemen nutrisi dan kontrol penyakit (mencegah rekurensi) (Lynch, 1994). Antibiotik tidak mempunyai kontribusi dalam penyembuhan ulkus sedangkan hormon steroid dapat digunakan tetapi dalam aplikasi terbatas. Manajamen nutrisi dan manipulasi diet dapat dianjurkan sebagai terapi subjungtif. Konsumsi makanan dan minuman bergizi yang adekuat serta instruksi untuk selalu menjaga kebersihan mulut dapat disarankan untuk mempercepat penyembuhan ulkus (Sircus, 1984).

Manajemen stress dan faktor emosi juga patut ditekankan karena etiologi RAS dipercaya dapat berasal dari faktor hormon dan psikologi (Sircus, 1984). Dalam kasus ini, pasien dianjurkan untuk mengelola stressnya.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!