Sunday, 6 September 2009

Anaesthesiology: The Pharmacokinetic of Local Anaesthesia

Good day, everyone! It was already the middle in the Ramadan month. How was your fasting? I cut my fringe a little so that I had a fresh look, though it didn’t that significant. Oh, yeah, I managed to tidy my wardrobe and found that I should donate few of my clothes to those who need. Oh well, the second anesthesiology posting is about to come. For this occasion, I will post about the pharmacokinetic of local anesthesia. Pharmacologic consists of four main concerns; absorption, distribution, metabolism and excretion. You see, every drug that we swallow, deliver or injected to body always experience this moment (pharmacokinetic things).



FARMAKOKINETIKA ANESTESI LOKAL
ABSORBSI

Ketika diinjeksikan ke jaringan lunak, anestesi lokal memiliki aksi farmakologik pada pembuluh darah. Semua anestesi lokal memiliki derajar vasoaktivitas, kebanyakan menghasilkan dilatasi pembuluh kapiler di tempat larutan diinjeksikan dan beberapa dapat menyebabkan vasokonstriksi.
Anestesi lokal jenis ester merupakan obat vasodilatasi yang poten. Prokain, vasodilator paling poten digunakan secara klinis ketika aliran darah perifer terganggu karena injeksi intraarterial tidak sengaja (misalnya tiopental). Tetrakain, klorprokain dan propoksikain juga mempunyai sifat vasodilator yang bervariasi meski tidak sepoten prokain. Kokain adalah satu-satunya anestesi lokal yang mempunyai sidaf vasokonstriksi. Aksi inisiasi kokain tetapi dimulai dengan vasodilatasi yang diikuti dengan vasokonstriksi yang memanjang.
Efek klinis vasodilatasi adalah meningkatkan kecepatan absorpsi ke dalam darah yang kemudian dapat meningkatkan potensi overdosis atau toksisitas. Kecepatan anestesi lokal diabsorpsi ke peredaran darah sistemik dan mencapak level puncak bervariasi tergantung cara pemberian obatnya.


Oral
Semua anestesi lokal tidak baik diabsorpsi di saluran cerna setelah pemakaian secara oral, kecuali untuk kokain. Hampir semua anestesi lokal mengalami first-pass effect di hepar sehingga obat dimetabolisme menjadi metabolit inaktif. Pada tahun 1984, dibuatlah analogi lidokain yaitu focainidin hidroklorid yang efektif secara oral.

Topikal
Anestesi lokal diabsorpsi dengan kecepatan yang berbeda pada membran mukosa yang berbeda. Pada mukosa trakea, absorpsi yang terjadi hampir sama dengan pada pemberian secara intravena. Pada mukosa faring, absorpsi lebih lambat dan pada mukosa esofagus dan kandung kemih, absorpsi lebih lambat dari aplikasi topikal di faring.

Injeksi
Kecepatan absorpsi anestesi lokal pada pemberian secara parenteral (subkutan, intramuskuler atau intravena) tergantung pada vaskularisasi tempat injeksi dan vasoaktivitas obat. Pemberian anestesi lokal secara intravena merupakan cara pemberian yang memungkinkan kadar obat dalam darah mempunyai level yang paling tinggi dalam waktu yang cepat. Cara ini digunakan secara klinis untuk menajemen disritmia ventrikel. Cara pemberian IV dapat mengakibatkan reaksi toksisitas yang serius.

DISTRIBUSI
Ketika anestesi lokal masuk ke peredaran darah, mereka didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh.
Organ yang highly perfused: otak, kepala, hepar, ginjal, paru-paru, limpa.
Otot rangka meski tidak terlalu highly perfused mempunyai konsentrasi terbesar karena jumlahnya paling banyak.
Persentase cardiac output pada beberapa sistem organ
Organ Persentase (%)
Ginjal 22
GIT, limpa 21
Otot rangka 15
Otak 14
Kulit 6
Hepar 6
Tulang 5
Otot jantung 3
Lain-lain 8

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar anestesi lokal dalam darah:
 Kecepatan absorpsi
 Kecepatan distribusi obat (lebih cepat pada orang sehat daripada pada pasien medically compromised)
 Eliminasi obat melalui proses metabolisme dan ekskresi

METABOLISME (BIOTRANSFORMASI)
 Penting à toksisitas tergantung pada keseimbangan absorpsi dengan metabolisme
 Ester: hidrolisis di plasma dengan bantuan enzim pseudokolinesterase
 Sebagai contoh klorprokain, prokain dan tetrakain berturut-turut mempunyai kecepatan hidrolisis 4,7; 1,1 dan 0,3 (hmol/ ml/ hr)
Makin cepat kecepatan hidrolisis, makin kecil potensi toksisitas anestesi lokal
 Biotransformasi anestesi lokal amida lebih kompleks daripada golongan ester
Organ metabolisme lidokain, mepivakain, artikain, etidokain, bupivakain: hepar sedangkan prilokain dimetabolisme di hepar dan paru-paru
 Fungsi hati yang normal merupakan faktor penting pada proses metabolisme

EKSKRESI
Organ utama proses ekskresi adalah ginjal
 Ester --> sejumlah besar dimatebolisme sehingga hanya sejumlah kecil yang tidak mengalami perubahan
 Amida --> karena lebih kompleks maka bentuk asalnya dapat ditemukan lebih besar di urin
 Fungsi ginjal yang sehat juga faktor yang berperan penting pada proses ekskresi

FARMAKODINAMIKA ANESTESI LOKAL
 CNS
 Sistem kardiovaskuler
 Toksisitas lokal jaringan
 Sistem respirasi
 Lain-lain
Sistem saraf pusat (CNS)
 Depresi
 Pada konsentrai rendah (terapeutik, nontoksik) --> tidak ada efek pada CNS yang signifikan
 Konsentrasi tinggi ( toksik, oveerdosis) --> konvulsi tonic-klonik general
Sifat antikonvulsi
 Prokain, liidokain, mepivakain, prilokain dan mungkin kokain
 Anestesi lokal dapat menaikkan nilai ambang kejang dengan cara menurunkan eksitabilitas neuron à mencegah atau menghilangkan serangan
Tanda dan gejala overdosis pertama kali secara klinis terlihat pada CNS
Pengaruh terhadap CNS yang lain:
 Analgesia
 Mood elevation
Sistem kardiovaskuler
 Aksi langsung pada miokardium dan pembuluh darah perifer
 Miokardium - Cara mirip dengan aksi pada nervus perifer, konsentrasi dalam darah naik à kecepatan depolarisasi miokardium turun (menurunkan eksitabilitas miokard, kecepatan konduksi dan kekuatan kontraksi)
 Prokain dan lidokain --> manajemen hipereksitabilitas miokard
 Pembuluh darah perifer – Kokain --> vasokonstriksi, yang lain --> vasodilatasi.
 Dilatasi mengakibatkan aliran darah bertambah banyak à absorpsi meningkat; menurunkan durasi aksi anestesi lokal
 Hipotensi adalah efek yang sering terjadi
Tahapan aksi anestesi lokal pada sistem kardiovaskuler
 Level non-overdosis: tidak atau sedikit kenaikan pada tekanan darah
 Level mendekati overdosis: hipotensi ringan --> relaksasi otot polos
 Level overdosis --> hipotensi berat --> kontraksi miokard, CO dan tahanan perifer menurun
 Level letal: kardiovaskuler kolaps --> vasodilatasi perifer secara masif, sinus bradikardi
Toksisitas lokal jaringan
 Otot rangka: reversibel (2 minggu regenereasi)
 Injeksi IM atrikain, lidokain, mepivakain, prilokain, bupivakain, etidokain
Sistem respirasi
 Efek ganda
 Level non-overdosis --> relaksasi langsung pada otot polos bronkus
 Level overdosis --> respiratory arrest sebagai akibat dari depresi CNS general
Lain-lain:
 Blokade neuromuskuler: blok transmisi neuromuskuler, inhibisi sodium channel pada membran sel, paralisis berkepanjangan
 Interaksi obat: opioids, obat antiansietas, fenotiazin dan barbiturat
 Malignant hyperthermia: kelainan herediter --> takikardi, takipnea, tekanan darah labil, sianosis, asidosis metabolik, demam > 42° , kematian

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!