Tuesday, 15 September 2009

Fire Emblem Sacred Stone: Eirika and Innes (B)



(Marching sound...)
Ehehe... finally, the continuation of the previous fanfic of Fire Emblem: Sacred Stone is on air. O matase shimashita!! Hai, sore ja, happy yonde kudasai ne!

DEAERU KOTO SHINJITERU
I Believe We Will Meet Again
(Fanfic Fire Emblem: Sacred Stone; pairing Eirika-Innes; support conversation B)

“.... Apa yang kamu lakukan?”, tanya Innes tak sabar. Eirika terkejut, “Apa lagi kali ini Innes?”, tanya Eirika sambil terus mengamati barisan Caellah di kejauhan.



“Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan melindungimu”, kata Innes keras kepala. Eirika mengalihkan pandangannya dari kumpulan titik-titik merah di ujung sana, pasukan Caellah yang membawa panji dan bendera perang berwarna merah ke wajah Innes yang setengah wajahnya tertutup rambut peraknya.

Assesment Eirika terhadap medan perang agak terusik dengan statement Innes barusan. Debu-debu beterbangan di sekitar mereka. Innes menyeka rambut dahinya ke samping. Keringat membasahi leher Eirika. Ia menelan ludah dan menjawab pendek, “Right, tepat”.

Rombongan Eirika semakin mendekati defense line pasukan Caellah. Innes yang berada di sebelah Eirika berkata sambil mengarahkan panahnya pada pegasus knight yang tiba-tiba menukik di atas mereka. Strike! Tepat sasaran, yup, satu lagi bukti kehebatan Innes sebagai sniper. “Dan, kalau musuh menampakkan dirinya, kau langsung merangsek maju dan menyerangnya... Semua orang akan berpikir bahwa kaulah yang melindungiku.”, Innes terus-menerus mengisi busurnya dengan panah karena magic wielder musuh tampaknya lebih lincah dari yang ia perkirakan.

Tapi hebat!! Tak satupun tembakannya meleset dari target. Eirika mengambil nafas panjang sebelum akhirnya berkata, “Well, aku tidak dapat membantumu dengan image problemmu, Innes. Kau adalah pemanah sedangkan aku harus bertarung jarak dekat”.

Lagi! Innes dengan harga diri setinggi langitnya itu menyambung, “Hal itu tidak dapat diterima. Aku mengatakan bahwa aku akan melindungimu dan aku berkata jujur”. Wajah Eirika memerah, entah karena suhu atmosfer Jehanna yang sangat berbeda dengan suhu Renais atau pernyataan terakhir Innes yang membuatnya tersipu.

Eirika tersenyum lalu berkata pada Innes tanpa mengalihkan perhatiannya dari barisan Caellah yang berhasil diobrak-abrik gabungan kekuatan Master Saleh, Seth dengan javelinnya dan Cormag si penguasa angkasa.

“Dan aku menghargai hal tersebut. Sangat manis mengetahui bahwa ketika aku sedang bersilang pedang dengan musuh, kau tak jauh dariku dengan busurmu yang selalu kau genggam itu”, Eirika merendahkan suaranya. Kali ini giliran Innes yang terkejut, mungkin ia kini yang gantian tidak percaya bahwa Eirika dapat mengatakan kalimat seperti itu.

“Eirika... Kamu sangat baik hati... Kau sangat berbeda dengan orang itu... kau tahu maksudku... kakakmu”, kata Innes setelah melumpuhkan mage yang tak berhasil menyerang Innes dengan animanya.

“Hmm... tidak seperti yang kamu pikirkan. Mungkin kau hanya melihatnya sebagai prajurit, sebagai kompetitor, tapi dia adalah laki-laki yang baik dan lembut, kasih sayangnya sangat besar”, sesaat pandangan waspada Eirika berganti dengan pandangan lembut kasih sayang seorang adik terhadap kakaknya.

Innes yang menangkap gelagat suara Eirika mengerling ke arahnya. Innes ber-sigh sebentar kemudian tanpa melepaskan pandangan waspada ke padang pasir di jangkauan penglihatannya, ia melanjutkan kalimatnya dengan agak terbata-bata, “... Jika kau mengatakan demikian. Aku merasa aku tidak bisa meragukan bahwa hal tersebut datang dari bibirmu sendiri”.

Eirika menyadari perkatannya sendiri (EHH... sebenarnya dia tidak terlalu brother complex sih..., tapi kembarannya, Ephraim itu mungkin punya sister complex di atas normal ^_^).

“Prince Innes, please, bertemanlah dengan kakakku. Aku tahu ia juga akan menginginkan hal yang sama. Aku tidak tahu mengapa engkau membencinya. Ketika aku sendirian bersamanya, ia sangat baik hati”, Eirika berusaha meyakinkan Innes dengan mata berbinar jujur, semburat merah masih menghiasi pipinya, kali ini malah sampai ke telinganya.

Tetapi sepertinya kalimat terakhirnya barusan merusak mood Innes (mungkin seperti menambah minyak ke dalam api). Dengan suara rendah, alis bertaut, Innes memalingkan wajahnya, “Maafkan aku, tetapi aku tidak dapat berbicara mengenai topik ini lebih dalam lagi. Ketika aku melihatmu bersikap demikian terhadap Ephraim... yang kurasakan hanya jealously, cemburu”. Eirika terkejut tak mengerti, “Ap—apa?”.

“Dia..... dia adalah orang yang sulit dimaafkan. Mungkin hanya ada satu cara untuk menyelesaikan hal ini”, Innes lebih berkata pada dirinya sendiri daripada kepada Eirika.

“Prince Innes—”, sergah Eirika pelan, berusaha mencerna makna kalimat Innes barusan. Setelah melumpuhkan mage terakhir di depannya, Innes menghambur pergi ke arah barat daya, ketika ia merasakan rival sejatinya itu telah muncul. Ya! Ephraim dan rombongan kecilnya ternyata datang dari arah barat daya. Rombongan itu terdiri atas Ephraim, jendral Duessel (salah satu dari enam jendral Grado yang berkhianat karena ingin mencari kebenaran sejati: mengapa Grado tempatnya mengabdi kini menyerang empat kerajaan lainnya) dan Knoll, seorang shaman misterius yang bergabung saat Ephraim menyerbu Grado.

Penglihatan Innes tampaknya tidak salah. Setelah Caellah dan pasukannya berhasil dilumpuhkan, Eirika berlari menyambut Ephraim, tak percaya bahwa kakak satu-satunya kini ada di hadapannya. Fatamorgana Jehanna tidak mungkin senyata ini kan? Ephraim meyambut pelukan Eirika dengan tangan terbentang. Sesaat, semua aktivitas terhenti mengamati pertemuan kedua saudara yang mengharukan ini. Mereka berdua belum menyadari bahwa saat ini, pasukan udara Valter menghadang jalan mereka. Ohoho... (dasar anak muda!). Innes yang tadinya setengah melongo (hanya setengah loh!) berdehem melihat adegan tersebut. GYAA...! tambah lagi deh cemburunya!

(mada oshimai desu~~)

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!