Sunday, 18 October 2009

Forensik: Identifikasi Forensik

Instead of this topic been buried in the dust, I wrote the back and post these lecture of Forensic Dentistry for those who need the topic. The lecturer was given by drg. Sara Afari Gadro, MKes. The topic given were merely basic understanding for Forensic Dentistry, beyond that, we have to look for another sources if want some improvement. Speaking of which, this is just of the record, I was intended to maintain my body vitality. Ehehe... I am going to swimming regularly one every two weeks. Yeah, I'm pretty lame in swimming. I am only able to practice frog style and reversed-frog style. My sparring partner has better technique. She almost can do every technique! Yes, she is amazing! Last Saturday was our first swimming practice. After a couple of an hour, I (or we) felt exhausted. We had a delicious breakfast: Mie Yamin Polos and Bubur Ayam. OISHII~~~ Oh, well, I said it.



So here it is, the topic is about to start.
Ichi-ni-san... hajime!

Identifikasi Forensik
Author: drg. Sara Afari Gadro, Mkes
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK UGM/ Instalasi Kedokteran Forensik
RS dr. Sardjito Yogyakarta

Seperti diketahui bersama dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, perkembangan di segala bidang kehidupan yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia, pada kenyataannya juga menimbulkan berbagai akibat yang tidak diharapkan.

Salah satu diantara akibat yang tidak diharapkan tersebut adalah meningkatnya kuantitas maupun kualitas mengenai cara atau teknik pelaksanaan tindak pidana, khusunya yang berkaitan dengan upaya pelaku tindak pidana dalam usaha meniadakan sarana bukti, sehingga tidak jarang dijumpai kesulitan bagi para petugas hukum untuk mengetahui korban dan atau pelakunya.

Selain itu kemajuan teknologi yang dijumpai pada sarana-sarana angkutan baik udara, laut maupun darat yang menggunakan mesin-mesin modern dan canggih sehingga mampu menempuh dalam ruang dan waktu dengan kecepatan yang sangat tinggi dan daya angkut yang besar, disamping itu juga pembangunan gedung-gedung besar dan bertingkat di kota-kota besar, seperti perkantoran, pasar dan kompleks pertokoan, gedung-gedung pertunjukan dan hiburan, hotel-hotel, pabrik-pabrik dan sebagainya; yang semuanya mempunyai resiko terhadap adanya kemungkinan terjadinya musibah kecelakaan massal atau kebakaran, demikian pula persenjataan perang dan bencana alam yang akan dapat menghancurkan semua benda dan manusia yang menjadi korbannya sehingga sulit atau bahkan tidak dapat dikenali lagi.

Disitulah semua, identifikasi mempunyai arti penting baik ditinjau dari segi untuk kepentingan forensik maupun non-forensik.

Makalah ini bertujuan membahas berbagai hal mengenai identifikasi forensik ataupun identifkasi secara umum meliputi: pengertian, arti penting, macam-macam pemeriksaan dan cara atau metode serta sistem identifikasi. Hal-hal demikian diperlukan untuk memperoleh pemahaman pemahaman dalam penanganan dan pemeriksaan identifikasi yang komprehensif.


Dalam fungsi pelayanan ilmu kedokteran forensik kepada masyarakat (biasanya di suatu instalasi kedokteran forensik rumah sakit tipe C ke atas oleh dokter atau dokter ahli forensik/ SpF (Spesialis Forensik) atau tim kedokteran forensik (multi disipliner)), identifikasi merupakan bagian tugas yang mempunyai arti cukup penting. Disebutkan bahwa yang dimaksud dengan identifikasi adalah suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal,, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Seperti diketahui, sumbangan ilmu kedokteran forensik dalam membantu penyelidikan perkara pidana menyangkut barang bukti tubuh manusia sebagaimana dituangkan dalam bentuk surat keterangan ahli berupa visum et repertum, antara lain: menentukan saat kematian, serta pada kasus-kasus tertentu dengan keadaan korban tidak dikenal adalah menentukan identitasnya.

Dalam proses penyidikan suatu tindak pidana, mengetahui identitas korban merupakan suatu hal yang mempunyai arti sangat penting, yaitu sebagai langkah awal penyidikan yang harus dibuat jelas lebih dahulu sebelum dapat dilakukan langkah-langkah selanjutnya dalam proses penyidikan tersebut. Apabila identitas korban tidak dapat diketahui, maka sebenarnya penyidikan menjadi tidak mungkin dilakukan. Selanjutnya apabila penyidikan tidak sampai menemukan identitasnya identitas korban, maka dapat dihindari adanya kekeliruan dalam proses dalam proses peradilan yang dpat berakibat fatal (ingat semboyan: “lebih baik membebaskan yang bersalah daripada menghukum yang tidak bersalah”).

Selain itu untuk berbagai kehidupan sosial misalnya asuransi, pembagian dan penentuan ahli waris, akte kelahiran, pernikahan dan sebagainya keterangan identitas mempunyai arti penting pula, yaitu untuk mengetahui bahwa keterangan itu benar-benar keterangan yang dimaksud untuk memperoleh yang menjadi haknya maupun untuk memenuhi kewajibannya.

Dalam pelayanan identifikasi forensik berbagai macam pemeriksaan dapat digunakan sebagai sarana identifikasi. Berdasarkan penyelenggaraan penanganan pemeriksaannya, maka sarana-sarana identifikasi dapat dikelompokkan:
1. Sarana identifikasi konvensional, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang biasanya sudah dapat diselenggarakan penanganannya oleh pihak polisi penyidik antara lain:
a. Pemeriksaan secara visual dan fotografi mengenali ciri-ciri muka atau sinyalemen tubuh lainnya.
b. Pemeriksaan benda-benda milik pribadi seperti: pakaian, perhiasan, sepatu dan sebagainya.
c. Pemeriksaan kartu-kart pengenal seperti KTP,SIM, Karpeg, kartu mahasiswa dan sebagainya, surat-surat seperti surat tugas/ jalan atau dokumen-dokumen dsb.
d. Pemeriksaan sidik jari dan lain-lain.
2. Sarana identifikasi medis, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang diselenggarakan penanganannya oleh pihak medis, yaitu apabila pihak polisi penyidik tidak dapat menggunakan sarana identidikasi konvensional atau kurang memperoleh hasil identifikasi yang meyakinkan, antara lain:
a. Pemeriksaan ciri-ciri tubuh yang spesifik maupun yang non-spesifik secara medis melalui pemeriksaan luar dan dalam pada waktu otopsi. Beberpa ciri yang spesifik, misalnya cacat bibir sumbing atau celah palatum, bekas luka ata operasi luar (sikatrik atau keloid), hiperpigmentasi daerah kulit tertentu (toh), tahi lalat, tato, bekas fraktur atau adanya pin pada bekas operasi tulang atau juga hilangnya bagian tubuh tertentu dan lain-lain. Bebera[a contoh ciri non-spesifik antaralain misalnya tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, warna serta bentuk rambut dan mata, bentuk-bentuk hidung, bibir dan sebagainya.
b. Pemeriksaan ciri-ciri gigi melalui pemeriksaan odontologis.
c. Pemeriksaan ciri-ciri badan atau rangka melalui pemeriksaan antropologis, antroposkopi dan antropometri.
d. Pemeriksaan golongan darah berbagai sistem: ABO, Rhesus, MN, Keel, Duffy, HLA dan sebagainya.
e. Pemeriksaan ciri-ciri biologi molekuler sidik DNA dan lain-lain.

Kemudian yang dimaksud dengan identifikasi forensik adalah usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan untuk proses peradilan. Identifikasi forensik mempunyai arti yang besar, khususnya untuk membantu penyidik dalam usahanya untuk membuktikan bahwa seseorang adalah korban atau pelaku suatu tindak pidana yang telah terjadi. Beberapa contoh kasus yang memerlukan penanganan identifikasi forensik adalah sebagai berikut:
1. Kasus-kasus forensik kriminal atau pidana:
a. Kasus-kasus ditemukannya jenasah atau rangka tidak dikenal yang diduga sebagai korban pembunuhan.
b. Kasus-kasus penggalian jenasah atau rangka forensik tertentu yang memerlukan pembuktian identitasnya.
Contoh:
(1) Penggalian jenasah “Kasus TKI Atik” yang dikirim pulang kembali dari Singapura ke Yogyakarta dalam keadaan sudah meninggal dengan keterangan dari yang berwenang di Singapura karena bunuh diri. Setelah dimakamkan ternyata pihak keluarganya masih belum dapat menerima mengenai keterangan sebab-sebab dan cara kematian tersebut.
(2) Penggalian rangka pada penyidikan ulang kasus Marsinah.

c. Kasus-kasus pembunuhan bayi (infantisid), untuk mengetahui:
(1) Siapa orang tua bayi
(2) Berapa umur bayi, berkenan dengan penetapan berat ringannya sanksi dalam kasus abortus kriminalis, seperti yang diatur dalam KUHP pasal-pasal 306, 308, 342 dan 349. Umur bayi dalam bulan dapat diperkirakan berdasarkan ukuran panjang badan menurut Haase (puncak kepala-tumit) atau menurut Streeter (puncak kepala-tulang ekor). Untuk mengetahui apakah bayi lahir hidup atau mati dapat diektahui melalui tes apung paru-paru atau dapat juga melalui pemeriksaan histologis garis-garis neonatal gigi. Mengenai garis-garis neonatal ini, disebutkan bahwa proses mneralisasi pada gigi berlangsung kontinyu dan ritmis, fase aktif dan istirahat silih berganti dalam keseimbangan yang halus dan peka. Ritme perkembangan ini berpola, terlihat sebagai garis-garis sejajar disebut garis-garis pertumbuhan (incremental lines) “Retzius” dalam email dan “Owen” dalam dentin. Pada gigi geligi yang proses kalsifikasinya mulai prenatal, yaitu gigi-gigi susu dan geraham tetap pertama, disebutkan tampak dalam penampang mikroskopis ada garis-garis pertumbuhan yang menyimpang polanya dan bentuknya lain. Hal ini disebabkan karena goncangan dan perubahan dalam metabolisme mineral pada saat lahir, karena pengaruh makanan dan perubahan lingkungan. Sejumlah garis pertumbuhan yang menunjukkan aksentuasi sesaat lahir, dinamakan garis-garis neonatal.

2. Kasus-kasus forensik perdata:
Kasus-kasus paternitas:
a. Klamasi seorang ibu terhadap laki-laki sebagai ayah biologis anaknya pada kasus-kasus perkosaan, hubungan gelap atau kumpul kebo dan sebagainya.
b. Kasus-kasus seperti “perebutan bayi Dewi dan Cipluk”, “bayi X” di Klaten dan sebagainya.

Di samping kasus-kasus forensik, terdapat pula kasus-kasus non-forensik yang juga memerlukan penanganan identifikasi untuk keperluan-keperluan kemanusiaan seperti: repatriasi, asuransi, santunan, sertifikat kematian, ahli waris, sosial lainnya dan bahkan budaya. Beberapa contoh kasus misalnya:
1. Kasus-kasus ditemukannya jenasah orang gelandangan atau rangka tidak dikenal yang tidak didapati adanya tanda-tanda kecurigaan sebagai korban pembunuhan.
2. Kasus-kasus repatriasi:
a. Pengembalian ke negara asal dan distribusi kepada masing-masing keluarganya atas rangka jenasah korban Vietnam, Korea dan sebagainya.
b. Musibah jemaah haji di Mina atau kecelakaan pesawat terbang jemaah haji Indonesia di Colombo tahun 1974 bila diperlukan repatriasi.
3. Kasus-kasus kecelakaan pesawat terbang dan musibah massal yang lain:
a. Kecelakaan pesawat terbang ABRI di Condet
b. Musibah kebakaran tempat hiburan diskotik di Manila
c. Musibah kecelakaan dan kebakaran bis Kramat Jati di jalan tol Jakarta
d. Musibah kebakaran pasar dan toko Robinson di Bogor
e. Tragedi musibah gedung WTC oleh teroris di Amerika Serikat
4. Penggalian antropologis dan arkeologis rangka non-forensik untuk kepentingan suatu penelitian rekonstruksi sejarah manusia dan budayanya.

Bagaimana cara melakukan identifikasi? Dikenal ada dua metode melakukan identifikasi yaitu secara membandingkan dan secara rekonstruksi.

Yang dimaksud dengan identifikasi membandingkan data adalah identifikasi yang dilakukan dengan cara membandingkan antara data ciri hasil pemeriksaan hasil orang tak dikenal dengan data ciri orang yang hilang yang diperkirakan yang pernah dibuat sebelumnya. Pada penerapan penanganan identifikasi kasus korban jenasah tidak dikenal, maka kedua data ciri yang dibandingkan tersebut adalah data post mortem dan data ante mortem. Data ante mortem yang baik adalah berupa medical record dan dental record. Identifikasi dengan cara membandingkan data ini berpeluang menentukan identitas sampai pada tingkat individual, yaitu dapat menunjuka siapa jenasah yang tidak dikenal tersebut. Hal ini karena pada identidikasi dengan cara membandingkan data, hasilnya hanya ada dua alternatif: identifikasi positif atau negatif. Identifikasi positif, yaitu apabila kedua data yang dibandingkan adalah sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa jenasah yang tidak dikenali itu adalah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan. Identifikasi negatif yaitu apabila data yang dibandingkan tidak sama, sehingga dengan demikian belum dapat ditentukan siapa jenasah tak dienal tersebut. Untuk itu masih harus dicarikan data pembanding ante mortem dari orang hilang lain yang diperkirakan lagi. Untuk dapat melakukan identifikasi dengan cara membandingkan data, diperlukan syarat yang tidak mudah, yaitu harus tersedianya data ante mortem berupa medical atau dental record yang lengkap dan akurat serta up-to-date, memenuhi kriteria untuk dapat dibandingkan dengan data post mortemnya. Apabila tidak dapat dipenuhi syarat tersebut, maka identifikasi dengan cara membandingkan tidak dapat diterapkan.

Apabila identifikasi dengan cara membandingkan data tidak dapat diterapkan, bukan berarti kita tidak dapat mengidentifikasi. Apabila demikian halnya, kita masih dapat mencoba mengidentifikasi dengan cara merekonstruksi data hasil pemeriksaan post-mortem ke dalam perkiraan-perkiraan mengenai jenis kelamin, umur, ras, tinggi dan bentuk serta ciri-ciri spesifik badan.
Sebagai contoh:
1. Dengan mengamati lebar-sempitnya tulang panggul terhadap kriteria dan ukuran laki-laki dan perempuan, dapat diperkirakan jenis kelaminnya.
2. Dengan mengamai interdigitasi dutura-sutura tengkorak dan pola waktu erupsi gigi, dapat diperkirakan umurnya. Pada kasus infantisid dengan mengukur tinggi badan (kepala-tumit atau kepala-tulang ekor) dapat diperkirakan umur bayi dalam bulan.
3. Dengan formula matematis, dapat diperhitungkan perkiraan tinggi badan individu dari ukuran barang bukti tulang-tulang panjangnya.
4. Dengan perhitungan indeks-indeks dan modulus kefalometri atau kraniometri, dapat diperhitungkan perkiraan ras dan bentuk muka individu.
5. Dengan ciri-ciri yang spesifik, dapat menuntun kepada siapa individu yang memilikinya.

Meskipun identifikasi cara rekonstruksi ini tidak sampai menghasilkan dapat menentukan identitas sampai pada tingkat individual, namun demikian perkiraan-perkiraan identitas yang dihasilkan dapat mempersempit dan memberikan arah penyidikan.

Terhadap pola permasalahan kasusnya, dikenal ada tiga macam sistem identifikasi, yaitu sistem terbuka, tertutup dan semi terbuka atau semi tertutup.

Identifikasi sistem terbuka adalah identifikasi pada kasus yang terbuka kepada siapapun dimaksudkan sebagai si korban tidak dikenal. Pola permasalahan kasusnya biasany: kriminal, korban tunggal, sulit diperoleh data ante-mortem, identifikasinya biasanya dilakukan dengan cara rekonstruksi, contoh: identifikasi korban pembunuhan tidak dikenal.

Identifikasi sistem tertutup adalah identifikasi pada kasus yang jumlah dan daftar korban tak dikenalnya sudah diketahui. Pola permasalahan kasus biasanya: non-kriminal, korban massal, dimungkinkan diperoleh data ante mortem, identifikasi dapat dilakukan dengan cara membandingkan data, contoh: identifikasi korban kecelakaan pesawat terbang menabrak gunung.

Identifikasi sistem semi terbuka atau semi tertutup adalah identifikasi pada suatu kasus yang sebagian korban tidak dikenalnya sudah diketahui dan sebagian lainnya belum diketahui sama sekali atau belum diektahui tetapi sudah tertentu, contoh: identifikasi korban kecelakaan pesawat terbang di Malioboro (semi terbuka) atau di suatu perumahan (semi tertutup).

1 comment:

  1. bagus artikelnya. boleh tu sumbernya dari mana?? thank u

    ReplyDelete

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!