Thursday, 22 October 2009

Manga Review: Fruit Basket Chapter 1



Fruit Basket is a manga created by Natsuki Takaya-sensei. It has 23 tankoubon and in Indonesia, monthly manga-magazine Hanalala, has already released the transliteration of the manga. I am one of the fans of Fruit Basket. This manga (and the anime) was the first time struck my heart when I was at my junior high. Since I am Fruit Basket's fans, I might do unnecessary things for the sake of the story. Want to know one of it? I transliterated the first chapter of the manga and the episode 16 of the anime. The story itself is ridiculously not just superficial shoujo manga. NOPE! Eventhough that might be the first impression. The manga is full of twist and when you think that the story reach its anti-climax, the plot will change suddenly with a lot of surprises here and there. Oh, my! So, as a warming up. Enjoy the first chapter of the manga. Here say, my English is so-so. The translation was in Indonesian. O tanoshimi, minna-san~~~

Jikkan Juunishi: Sekarang ini Juunishi yang digunakan berhubungan dengan hewan: tikus, sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, domba, monyet, ayam jantan, anjing dan babi hutan.

Honda Tohru muncul dari sebuah tenda, perasaannya bahagia. Dia masuk sekali lagi ke dalam tenda lalu menyalami foto ibunya.

Kemudian ia berpamitan, “Baiklah, Ibu, doakan aku hari ini ya! Aku akan kembali nanti ! “. Hallo, semuanya, Namaku Honda Tohru. Pada bulan Mei tahun ini, Ibuku yang membesarkan aku sendirian, meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Setelah insiden itu, Aku tinggal secara rahasia di tenda. Benar-benar tidak nyaman. Tapi, sudahlah, tidak apa-apa. Karena salah satu mottoku adalah...Tidak pernah menyerah pada keadaan apapun.

Tohru terus berjalan menuju sekolahnya. Lalu ia menyadari ada sebuah rumah disekitar tempat tinggalnya dan memutuskan untuk melihatnya. Ia berkata dalam hati, “Ibu, aku menemukan sesuatu...sebuah rumah ada di sini ! Kelihatannya sangat damai“. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada figure-figure yang ada di depannya. ‘‘Uwaa...Kawaii!! Ini adalah figur dari 12 hewan dari zodiac China’’, katanya masih dalam hati. Tohru tiba-tiba menyadari kalau ada seseorang yang berdiri di depannya. ‘‘Ada cewek di sekitar sini ya ?’’, kata suara itu. Tohru kaget dan panik. Ia mengibas-ngibaskan tangannya seraya berkata, ‘‘WAII !! Ma-maaf!!! Saya sudah seenaknya saja masuk tanpa permisi ke pekarangan rumah orang lain.”. “Oh, nggak apa-apa. Aku tidak keberatan karena aku hanya menjemur patung-patung itu. Tapi, mereka tidak terlalu menarik bagi anak-anak muda kan, yah, kurasa sih.”, kata suara itu memberikan pendapat. Tohru menyahut, “Tidak juga...mereka sangat imut”.

Laki-laki itu lalu mengatakan bahwa ia senang mengoleksi benda-benda seperti itu. Tohru lalu melanjutkan bicara bahwa memang tidak ada kucing. Laki-laki itu terkejut dan menanyakan apakah yang Tohru maksud itu kucing dalam legenda 12 shio. “Yes. Ibuku pernah menceritakan padaku mengenai hal itu”, jawab Tohru mantap.

Terdapat flashback Tohru waktu ia masih kecil. Ibunya sedang menceritakan dongeng pengantar tidur: Long...long time ago, Kami-sama mengatakan pada semua hewan bahwa ia akan mengundang semuanya ke pesta besok dan tidak boleh terlambat. Ketika tikus yang licik dan jahat mendengar hal itu, ia berbohong kepada tetangganya, sang kucing, bahwa pestanya akan dilaksanakan esok lusa. Keesokkannya, tikus pergi ke pesta dengan menaiki punggung sapi dan datang paling awal pada pesta itu. Setelah itu berturut-turut, sapi, harimau dan seterusnya bersenang-senang di pesta itu sampai pagi. Kecuali si kucing yang sudah dibodohi...

Tohru mulai menagis.... Ibunya bertanya, “Mengapa kamu menangis, Tohru?”. Hiks...hikss.... “Itu sangat menyedihkan ! Aku ikut menyesal untuk sang kucing”, kata Tohru masih menangis. “Baiklah, daripada anjing, aku ingin menjadi kucing!”, kata Tohru kecil sambil mengepalkan tangannya yakin. End of flashback.

“Eh?! Aku jadi ingin tahu apa yang ‘dia’ pikirkan kalau mendengar hal ini. Tohru tidak mengerti, “Dia?!?”. “Anyway, jadi kamu lahir di tahun anjing ya? It seems we have good chemistry between us.”, laki-laki itu sepertinya ingin menggoda Tohru.

Saat itu juga sebuah tas menghantam kepala laki-laki itu. DHUUENG... “Aku penasaran apa yang kalian bicarakan sepagi ini. Apa kamu baik-baik saja, Honda-san? Sepupuku bikin ulah ya?”, sebuah suara halus dan merdu menyapa Tohru.

Tohru terkesiap, “So-Souma-kun?”. Tohru berpikir dalam hati, ”Ibu, this isn’t real...It’s Souma-kun! Pangeran di SMU kami...Souma Yuki-kun berdiri di depan mataku. Ini adalah rumahnya Souma Yuki-kun.

“Aduh...tas itu sangat berat. Apa ada kamus atau semacamnya di dalamnya??”, tanya laki-laki itu sambil mengelus-elus kepalanya. Yuki hanya berkata, “ Hmph...a lot ”. Laki-laki itu berkata lagi, “Eh?!? Jadi kamu adalah teman sekelas Yuki, ya? Namaku Souma Shigure, sepupunya Yuki”. Tohru juga memperkenalkan dirinya seraya membungkuk menghormat, “Oh, I’m Honda Tohru”.

“Honda-san, kenapa kamu ada di tempat seperti ini?”, tanya Yuki-kun ingin tahu. Tohru agak kaget dengan pertanyaan Yuki-kun barusan. “Eh..aa..rumahku ada di sekitar sini”, jawab Tohru sekenanya. Yuki-kun juga agak terkejut, “Nearby? Here?”. “Ya” , jawab Tohru. Shigure-san hanya menggumam hmm..

“Well, Sebaiknya aku pergi sekarang”, kata Tohru cepat. Ia tidak ingin terlibat pertanyaan-pertanyaan lainnya (terutama mengenai tempat tinggalnya. Plus ia sudah masuk pekarangan rumah orang lain tanpa permisi). “Umm...Honda-san...”, kata Yuki-kun mengambang. “Yes?”, kata Tohru sambil membalikkan badannya kembali. “Bagaimana jika kita berangkat bareng?”, tawar Yuki-kun.
“Eh!!?”, Tohru hanya bisa bengong.

Dalam perjalanan ke sekolah para anggota Prince Yuki Club meneriakkan cheer mereka (yang norak sekali). L-O-V-E-M-E Y-U-K-I [o_O]. Mereka melihat Tohru berangkat bersama Yuki-kun. Sampai di sekolah, mereka mengkonfrontasi Tohru (tentu saja setelah mereka yakin Yuki tidak akan mendengarnya).

Cewek 1 mengatakan dengan sinis, “Honda-san!! Apa-apaan itu?”. Cewek kedua menyambung, ”Ya! Ngapain kamu berangkat bareng Yuki-kun. JELASKAN!”. Tohru tergagap menjawab pelan, “Itu hanya kebetulan..”. Cewek ketiga melotot sambil berkata seperenambelas tidak percaya, “Jadi, kalau memang hanya kebetulan, tidak perlu memanggil polisi kan?”. Cewek pertama langsung mengambil pose dan berkata berapi-api, “Fakta yang ada adalah tidak ada seorang cewekpun yang tidak memahami anak kelas satu, kelas D, SMU Kaiwara, Yuki Souma yang cantik!”. Cewek kedua segera menyambung dan mengambil pose, “Dan super jenius!. Tak berselang satu detik, cewek ketiga segera menyambung, “Dan jago olahraga!”. Layaknya lingkaran tak berujung, cewek pertama segera menyambung (lagi), “Meski demikian, kami, yang menjadi anggota fans club-nya, Princess, bahkan tidak dapat berdekatan dengannya!. Sebelum cewek kedua menyambung (lagi), seseorang menginterupsi mereka. Asal suaranya dari belakang trio berisik itu, “Oi”. Pendek dan berat.
Cewek pertama menelengkan kepalanya, mencari asal suara tersebut, “Apa..??”. Ia terkejut melihat Uotani berdiri di belakang mereka!!! “Tohru sudah mengatakan kalau itu hanya kebetulan. Jangan bertanya lagi tentang itu, idiot! Trio berisik itu tergagap, “Ap-apa?? Kau pikir ‘yankee’ sepertimu dapat menyelesaikan semuanya dengan ancaman kosong?”. Uo tidak menjawab. Kali ini, Hanajima, dikelilingi dengan gelombang elektrik, muncul dan angkat bicara… “Wahai gadis-gadis, ingin di-BIP dengan kejutan listrik?”. Hana (begitulah ia biasa disapa) tampak misterius dan gelap. Trio berisik itu segera berlari dan menghilang dari pandangan!! Tohru berseri-seri melihat mereka berdua, “Uo-chan, Hana-chan... Kalian sudah menyelamatkanku!”. Uo mengamati ke arah pandang hilangnya trio berisik tadi, ia lalu mengalihkan pandangan pada Tohru kemudian pada Hana. “Kamu dikerjai, Tohru, kamu manis sih”, Uo menatap Tohru lembut, ia kemudian berkata, ”Dan, Hana-chan, tolong jangan mengirim kejutan listrik beneran ya”.

Waktu istirahat
“Souma-kun sangat cantik… jadi ketika saya berada di sebelahnya, saya sangat berdebar-debar! Saya juga tidak dapat bercakap-cakap banyak dengannya”, ujar Tohru seraya meregangkan tangannya. ”Aku merasakan adanya gelombang listrik yang aneh terpancar darinya”, kata Hana datar dan dalam. “Oh, keluar juga akhirnya! Laporan listrik dari Hana-chan”, Uo menimpali sambil meringis. Mereka bertiga bercakap-cakap sambil bersenderan pada dinding yang berada di depan kelas mereka. Banyak anak-anak kelas lain yang lalu lalang di sekitar mereka, tetapi tidak ada yang memperhatikan mereka bertiga.

Tohru menukas, ”Apa maksudmu dengan aneh?”. Hana tidak segera menjawab. Sejurus kemudian ia menjawab dengan agak ragu, “Itu…aku juga tidak yakin...”. Uo berpikir sejenak sebelum berceletuk, “Hmm, ia memang tampak penuh rahasia, aku yakin itu. Dan dia juga tidak terlalu sering membicarakan dirinya sendiri. Sebelum ini, aku pernah melihatnya dengan anak kelas dua yang mengajaknya kencan. Pas cewek itu mendekatinya, dia mendorongnya. Cewek itu pasti kaget banget”. Hana menimpali, “Aneh banget kalau zaman sekarang masih ada orang kayak gitu”. Suasana hening sejenak karena tidak ada lagi yang berkata-kata.

Uo memecah kesunyian, “Tohru, kamu bukannya ada kerja sambilan hari ini?”. Tohru berseru, ”Iya, kau benar”. Uo berujar, ”Itu nggak baik… Kau kan tinggal bareng kakekmu”. Agak linglung, Tohru menjawab, ”Ah... ah... iya ya…”. “Apakah itu karena kamu berjanji padanya kalo kamu bakal membayar biaya sekolahmu sendiri?”, Uo menginvestigasi Tohru. ”Tohru buru-buru menjawab, ”Y-ya...”. Hana yang sedari tadi memperhatikan Tohru berseru, ”Tapi kamu tidak perlu bekerja terlalu ngoyo karena kita bersekolah di sekolah negeri”. Tohru mengerjap sebelum berujar, ”Itu... Hal itu…”. Ia tidak melanjutkan kalimatnya. “Kamu harus makan teratur. Dan dia tidak mengambil uangmu kan?”, Uo masih berbicara. ”Tohru langsung menjawab, ”Iya”. Layaknya ibu-ibu yang cerewet, Uo terus saja mencerocos, ”Pahamilah, jika sesuatu yang buruk terjadi, kau sebaiknya bercerita langsung pada kami! Aku akan langsung membereskannya”. Tohru tak berani memandang Uo. Ia menjawab pelan, “Y-ya”. Dalam hati ia berkata bahwa ia tidak dapat mengatakan pada Uo ia sekarang tinggal di tenda. ”Aku benar-benra nggak dpat ngomong ke mereka”, kata Tohru dalam hati.

Adegan flash-back.
Tohru teringat akan masa lalunya. Setelah ayahnya meninggal, ibu bekerja sangat keras membiayai hidup. Tohru tidak pernah membayangkan bahwa ibunya yang sangat cemerlang dan kuat, akan meninggal dalam kecelakaan. Tohru dapat tinggal dengan banyak saudaranya saat itu, tetapi ia akhirnya memutuskan tinggal dengan kakeknya dari pihak ayah. Tohru tidak ingin merepotkan kakeknya yang hidup dari uang pendiunnya, sehingga ia berjanji akan membayar biaya sekolahnya dengan uangnya sendiri. Setelah itu, kakek memutuskan tinggal bersama salah satu anak perempuannya dan rumah akan dijual. Kakek pernah bertanya kalau-kalau Tohru punya teman yang dapat tinggal bersama. Uo-chan tinggal di apartemen satu kamar sedangkan Hana-chan mempunyai anggota keluarga 5 orang. Tentu saja Tohru tidak mengatakan apapu pada mereka berdua. Ia mengerti. Ia akan meraih kesempatan ini untuk hidup mandiri. Akhir adegan flash-back.

Bel pulang berdentang. Suara-suara bergairah anak-anak kelas bermunculan. Tohru berjalan menuju lokernya. Ia bertemu dengan Yuki. “oh, Souma-kun… Terima kasih untuk pagi tadi ya…”, sapa Tohru riang. Yuki selesai mengatur barang-barang di lokernya. Ia menutup lokernya dan berujar, ”Nggak. Aku seharusnya yang berkata seperti itu karena Shigure bikin ulah”. Mereka berdua berjalan keluar sekolah bersama-sama. Sejenak kemudian, Tohru berseru, ”Oh, tidak. Shigure adalah orang yang baik. Ia mengizinkanku melihat figur-figur zodiak Cina”. Yuki langsung mudeng, ”Oh... Kamu waktu itu mengatakan bahwa kamu ingin lahir pada tahun kucing kan?”. Tohru menaymbung, “Saya memutuskannya ketika masih kecil. Saya…”. Sebelum Tohru menyelesaikan kalimatnya, Yuki memotong, “Kucing itu bodoh… Mereka nggak punya kualitas”. Tohru merasa nada suara Yuki aneh daripada biasanya. Ia tidak mengerti dan hanya bergumam, “Huh?”. Ereka berjalan dalam diam. Sejenak kemudian, Yuki sudah kembali ke Yuki yang biasanya, “Honda-san, apakah kamu tahu? Dua belas hewan dalam zodiac Cina sebenarnya adalah simbol jam”. Tohru terkesiap, “Oh, tidak, saya tidak tahu…”. Yuki memandang Tohru sebentar lalu menjelaskan panjang lebar, “Aslinya, mereka digunakan untuk fungsi numeric pada jam. Setelahnya, bentuk Budha Yin dan Yang – baik dan buruk ditambahkan. Sehingga mereka lalu digunakan untuk meramal juga”.

Tohru berusaha mencerna penjelasan tadi kemudian ia berceletuk, “JAdi aslinya nggak berhubungan dengan hewan ya?”. Yuki menjawab, ”Tidak... Meski aku juga nggak tahu bagaimana dan kapan mereka terlibat dalam cerita, kucing nggak pernah masuk dalam zodiac itu dari awal. Tapi si kucing masih terus ngotot kepingin jadi teman-teman 12 hewan itu. Bodoh sekali, si kucing itu”. Ada nada getir dalam suara Yuki tiap kali ia menyebut-nyebut kucing. “apakah itu artinya, kamu benci kucing?”, Tohru bertanya. Yuki berpikir sejenak. Ia akhirnya membuka suara, “…Aku pikir iya. Tapi sejak pagi ini, aku melihatmu agak pucat. Kamu sebaiknya jaga diri baik-baik. Oke, sampai ketemu besok”. Yuki membelok ke sebuah jalan setapak. Tohru membalas pelan salamnya. Yuki berjalan menjauh sampai menghilang di belokan. Tohru masih berdiam diri dan berpikir, “Dia benar-benar penuh rahasia. Tapi, Souma-kun… saya akan berpura-pura nggak dengar hal barusan! Ibu mungkin akan berkomentar yang lebih buruk lagi!”.

Tohru sekarang sedang ada di tempat kerja sambilannya. Ia merapikan, membersihkan dan menata barang-barang di gedung itu. Sampah-sampah ia bersihkan, tisu toilet dia usung dan tata. Sangat bersemangat. Semua rekan kerja yang rata-rata ibu-ibu sampai terbengong-bengong dibuatnya. ”Aku tidak akan menyerah! Aku tidak akan keluar... desu!!”, serunya keras.

Adegan berpindah. Yuki dan Shigure berjalan-jalan dari suatu tempat. Mereka rupanya pulang dari makan malam di luar. “Kalo aku makan kayak gini terus tiap hari, aku akan sakit dan bosan”, keluh Shigure. ”Kalo gitu, bikin aja makananmu sendiri”, kata Yuki datar. “Kalo aku yang bikin, kamu pasti terus saja mengeluh”, kata Shigure dengan nada yang dipanjang-panjangkan. “Kalo ada lobak putih dalam kare, aku punya keinginan untuk mengeluhkan satu hal itu”, Yuki terus bernada datar. Shigure merajuk, “Hmm… kamu memang cerdas, Yuki, tapi kamu suka sama makanan pedas dan asin ya, jadinya kan aku campur (lobak dibuat asinan dan kare beraroma pedas…ya ampun, Shigure!!!). Apakah menurutmu kita perlu menyewa pembantu rumah tangga?”. Shigure mencoba mencari solusi. “Cewek cuma bakalan tambah ngerepotin”, Yuki berkata datar. Ia tidak melanjutkan omongannya ketika ia menyadari sesuatu yang tampah aneh di depannya. “Huh?”, ia kebingungan. Mereka berdua melihat Tohru berjalan ke arah tenda dan menghilang ke dalamnya. Tohru tampak sangat kelelahan bekerja dari kerja sambilannya. Ia berujar pelan pada sosok di dalam foto, ”Aku pulang, Ibu. Aku sangat mengantuk, tapi aku harus menulis laporan sekolah buat besok. Aku sebaiknya mencuci muka di danau dulu”. Tohru membuka tutup tendanya. Di depannya, dua sosok manusia memandangnya dengan pandangan tak percaya. Tak perlu waktu lama, Shigure ngakak. Keras, lama dan sampai bercucuran air mata. “Shigure, kamu tertawa berlebihan”, tukas Yuki. Shigure, masih tertawa sambil memegangi perutnya, kesakitan, ia memunggungi Yuki dan Tohru. Ia terus ngakak dengan suara menggelegar.

Tohru diajak ke rumah Souma. Shigure masih terus tertawa. Wajahnya berkeriut berusaha menahan tawa. Tapi suara tawa pecah lagi. Yuki mengabaikannya. Alih-alih, ia bertanya pada Tohru, “Honda-san… Kamu tinggal di tenda tadi?”. Tohru menjawab pendek, “Ya”. “Sejak kapan?”, tanya Yuki lagi. “Udah sekitar satu minggu kira-kira”, jawab Tohru yakin. “Aku piker aneh karena seluruh daerah di sekitar sini adalah milik keluarga Souma dan sekarang ini nggak ada satupun orang yang meminjam ataupun membeli tanah”, kata Yuki, lebih kepada dirinya sendiri daripada ke Tohru. “OH, aku mohon! Tolong biarkan saya tinggal sejenak di sana. Kalau rekonstruksi rumah kakek sudah selesai, saya akan segera pindah! Saya nggak punya uang, tapi saya akan ebrusaha membayarnya!”, seru Tohru merana. Sebuah suara ketiga pecah diantara mereka, “Tempat itu berbahaya. Tanahnya tidak stabil dan kadang-kadang ada orang mesum yang muncul. Aku piker tidak mungkin bagi seorang gadis tinggal sendirian di tenda”. Oh, ternyata Shigure yang berbicara. ”Kamu udah selesai ketawa?”, kata Yuki sarkastis. Shigure mengangguk dan berseru pendek, “Um…”. Tohru berkata, “Tidak apa-apa! Saya sudah cukup dekat dengan bekicot dan semacamnya! Saya juga yakin dengan kemampuan fisik saya. Saya cukup kuat!”. Kata-kata Tohru tampaknya tidak meyakinkan karena ia kemudian ambruk setengah pingsan.

Yuki meraba dahi Tohru. “Honda-san! Kamu demam rupanya”, ujar Yuki. Shigure lebih tanggap, ia membuka pintu kertas geser ingin mengambilkan obat penurun panas. Sejurus setelah membuka pintu geser, segunung dan sehutan sampah menumpuk di depan mereka! Shigure berceletuk pendek dan jenaka, “Aah…”. Tohru melihat dengan matanya yang berair dan berkomentar, “Itu, hutan yang sangat rimbun…”. ”Oh, metafora yang menarik!”, Shigure mengomentar komentar Tohru.

Wajah Shigure tampak berubah serius sekali. Perubahan yang terjadi tiba-tiba ini membuat aura Shigure menjadi lain. “Hmm? Kau dengar? Aku sangat yakin ada tanah longsor di suatu tempat”, cetus Shigure masih serius. “Tohru masih berjuang mengembalikan kesadarannya di sela-sela wajahnya yang memerah karena demam and nafas yang sedikit tersengal-sengal ikut berujar, “Maaf, tapi, bagaimana anda biasa tahu?”. Shigure tampak sudah kembali ke karakter aslinya. Ia menjawab setengah serius setengah bercanda, “Hmm… Well, kau boleh menyebutnya insting alami”. Yuki bertanya dengan wajah serius, ”Dekat nggak?”. Shigure menajamkan pendengarannya sejenak sebelum menjawab, “Kayaknya dekat dengan tenda… atau sekitar-sekitar situ”.

Tak perlu waktu lama, ketiganya bergegas menuju tenda Tohru. Tenda itu sudah lenyap, berganti dengan tumpukan tanah basah yang menggunung.
”Oh, tidak! IBU!!! Foto ibu ada di dalam tenda! Ibu!!”, Tohru histeris dan panik. Ia mencoba menggali gundukan tanah di depannya. Yuki berusaha menenangkan Tohru. “Honda-san, tenanglah. Kamu sedang demam”, ujar Yuki meraih pundak Tohru. “Tapi, ibuku… Apa yang bisa saya lakukan?”, suara Tohru bergetar. Tangisnya tampak dapat pecah sewaktu-waktu. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia berjuang tidak menitikkannya. “Jika saya tidak segera mengambilnya, ibu akan kesakitan!”, lanjut Tohru di sela-sela ratapan dan kepanikannya. Shigure meraih tangan Tohru. Ia berubah menjadi lebih bijaksana dan berkata sendu, “Ketika hari sudah lebih terang, kita akan kembali ke sini. Jika sekarang kau terluka, ibumu tentu akan lebih sedih lagi kan?”. Tohru tidak menjawab. Ia mengangguk pelan.

Mereka bertiga kembali ke rumah. Yuki mencari-cari obat – berjuang – diantara tumpukan barang-barang dan sampah dan apapun itu. Tohru perlahan-lahan jatuh tertidur . Shigure sudah menyiapkan futon dan selimutnya ternyata. Shigure menemani Tohru. Ia mengompres dahi Tohru. “Maaf…”, gumam Tohru pelan. Shigure tersenyum. “Kamu pasti sangat lelah. Kamu memaksakan dirimu sendiri”, kata Shigure. “Saya kehilangan rumah lagi”, ujar Tohru disela-sela gedubrakan dan suara berkelontang yang ditimbulkan Yuki. Mereka berdua mengabaikan suara-suara itu. “Apakah hal itu menyakitkan?”, atnya Shigure. “Tidak. Saya tahu hal yang lebih menyakitkan”, jawab Tohru sambil menutup kelopak matanya. Rasa nyeri dan sakit di hatinya muncul. “Seperti apa misalnya?”< Tanya Shigure ingin tahu. Tohru kini sudah membuka matanya lagi. Ia memandang Shigure lalu memandang ke atap rumah. Ia mengambil nafas panjang kemudian bercerita panjang lebar, “Saya tidak berkata ’hati-hati di jalan ya’ pada pagi ketika ibu meninggal karena kecelakaan. Hari itu saya ada tes kecil dan saya begadang buat belajar. Saya nggak bisa bangun pagi hari itu, sehingga saya nggak bisa mengucapkan kalimat itu pagi itu. Saya selalu mengatakan kalimat itu”. Tohru mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan, “Tetapi, pagi itu, saya berpikir kalo misalnya saya berhenti sekolah saja dan meneruskan bekerja. Tapi ibu berkata, ’Aku hanya lulus SMP saja, tatapi aku selalu pingin menjadi anak SMA. Aku pingin kamu berbeda denganku dan mengalami masa-masa SMA’. Itu adalah saat dimana saya menyadari kalo ibu bekerja demi diri saya. Tapi demi ibu yang sedemikian, saya tidak mengatakan ’hati-hati di jalan ya’. Bahkan saya tidak melihat punggungnya yang pergi bekerja hari itu. Jadi saya akan lulus dari SMA seperti yang ibu saya impikan. Itu adalah impian saya juga. Saya tidak akan kalah sama demam seperti ini”. Tohru menyelesaikan ceritanya dengan senyum lemah. Air matanya sudah meleleh sejak tadi.

Tohru jatuh tertidur dengan Shigure masih mengamatinya dengan merenung keras. Yuki muncul entah dari mana. Di genggamannya, ia membawa sebuah botol yang isinya sedikit meragukan. “Luar biasa. Dia biasanya sangat ceria di sekolah meski ia menderita. Aku selalu berencana minggat dari rumah besar keluarga Souma. Tapi secara mutlak aku selalu menjadi seorang Souma yang sama. Jika memang aku benar-benar nggak tahan, aku seharusnya bersikap seperti Honda-san, hidup di tenda dan tetap berjuang mesti keadaan menyedihkan. Aku sadar aku ternyata masih seorang bayi”, Yuki berujar lebih kepada dirinya sendiri. Shigure mendengus pendek dan berkomentar, “Luar biasa mungkin bukan kata yang tepat”. Jeda hening sejenak. Yuki rupanya merencanakan sesuatu. “aku punya permintaan. Boleh aku pergi keluar?”, tanya Yuki tegas. ”Kemana? Menggali tempat tadi? Aku harus ikutan? Kayaknya sulit kalo sendirian”, Shigure bertanya menantang. Suaranya kedengaran tidak meyakinkan. Seperti setengah bercanda dan mencemooh. “Sendirian? Kamu ini sedang ngomong sama siapa sih?”, balas Yuki dengan nada mencemooh juga. Di latar belakang, segerembolan berpasang-pasang mata merah berkumpul. Tikus-tikus hampir ratusan tampak terhipnotis dan berlari beriringan mengikuti Yuki pergi. Shigure melambaikan tangannya seraya bergumam, “Hati-hati di jalan ya”. Shigure kembali bertelekan dagu di meja kotatsu.

Tohru bermimpi ibunya memanggil-manggil namanya... ”Tohru... Tohru... Kamu demam lagi ya. Kamu nggak perlu terlalu ngoyo. Kamu sebaiknya melakukan hal-hal sesuai dengan iramamu. Kapanpun…”, desau suara lembut itu. “Tapi…”, Tohru hendak membantah. Tohru perlahan-lahan membuka matanya. Pagi sudah menjelang. Demamnya juga sudah turun. Yang lebih membuatnya terkesima, foto ibunya dalam piguranya sudah terpajang di dekat futon-nya. “Eh? Ibu… bagaimana?”, serunya gagap mengatai keterkejutannya. Yuki muncul dan menyapa, “Ohayou! Bagaimana perasaanmu?”. Bagai malaikat pagi, Yuki dating membawa barang-barang milik Tohru yang sebelumnya tertimbun tanah longsor. Bagian bawah celana Yuki agak kotor tetapi bagian tubuh lainnya masih bersih tak tampak noda apapun. Masih terkesima dengan kejutan awal tadi, Tohru belum dapat mencerna kejutan lainnya, “Sou – ah? Ohh…”. Yuki tersenyum pada Tohru. Ia berujar, “Aku sudah mendapatkan barang-barangmu kembali. Kamu ingin memeriksanya?”. Tohru masih saja belum berhasil menekan rasa terkejutnya. Ia melongo dan kemudian berseru nyaring, ”EH? Souma-kun, kamu membawa semua barang-barang saya yang tadinya terkubur di sana sendirian?!”. Yuki melebarkan senyumnya lagi dan berkata, ”Tentu saja enggak!”. Tohru tak bisa memahami serentetan peristiwa yang sambung meyambung ini, ia bertanya, ”Eh, tapi gimana?”. Yuki menjawab pendek dan misterius, “Hi-mit-su. Ra-ha-si-a”. Tohru menaikkan alisnya dan bergumam tidak mengerti, ”Huh?”.

Tohru sudah bangkit dari tidurnya. Ia berusaha mencerna kata-kata Yuki sebelum dan sebelumnya. Tetap saja ia tidak mempunyai penjelasa logis. Sebelum Tohru sempat mengajukan pertanyaan, Yuki berceletuk, “Ya, meskipun rumah ini kotor, dan hanya ada cowok-cowok saja, ada satu kamar kosong di atas. Jadi, sampai rekonstruksi rumahmu selesai, kamu bisa tinggal di sini”. Tohru buru-buru menjawab, ”Eh? Tidak! Saya tidak setuju!”. Ia menggeleng keras. “Pintunya bisa digerendel kok”, ujar Yuki. “Bukan, bukan itu!”, Tohru meluruskan kesalahpahaman. Shigure tiba-tiba muncul dan berseru riang, “Tohru-kun, apakah kamu suka pekerjaan rumah tangga? Misalnya saja bersih-bersih dan memasak?”. Pertanyaan yang sama sekali tidak terduga. Tohru yang merasa seluruh kejadian malam tadi hingga sekarang masih merasa tidak terlalu logis, menjawab pertanyaan Shigure, “Eh… Ya, saya menyukainya”. “Kalo gitu, SELAMAT DATANG DI KEDIAMAN SOUMA!!! Aku juga akan mambantu membawakan barang-barangmu ke kamar. Yuki-kun, pinjami dia beberapa bajumu ya?”, Shigure, out of nowhere, dengan riangnya membawa tas-tas Tohru ke lantai dua. Sebelum keadaan berubah menjadi tambah tidak dimengerti oleh Tohru, ia menukas, ”Tidak! Kalian berdua sudah menjagaku hingga pagi ini, dan selain itu, saya boleh tinggal di kamar di rumah ini? Saya sudah tidak sopan!”. Yuki menghentikan langkahnya dan berkata, ”Honda-san, kamilah yang sudah seenaknya berbuat seperti ini, jadi aku pikir kamu bukan nggak sopan. Terlebih lagi, kamu nggak punya tempat buat tinggal sementara kan?”. Tohru bengong sebelum akhirnya berkata, ”Baiklah, jika saya harus tetap tinggal, ceritakan pada saya mengenai apa-apa yang harus saya kerjakan. Tentang keluarga Souma juga...”. Tohru bangkit dari futonnya. Ia berjalan mensejajari Yuki, ikut membawa barang bawaannya. Shigure sudah kembali dari lantai dua. Dia sepertinya sibuk dengan sesuatu lainnya. Yuki berujar, “Itu tidak terlalu penting, Honda-san. Kamu dapat melakukannya sesuai dengan iramamu, di rumah ini”. Tohru teringat dengan mimpinya. Shigure setengah berbisik pada Yuki, “Beneran nggak apa-apa nih? Tinggal bareng sama cewek?”. Yuki mendengus dan berkata, “Kamu ini ya! Bukannya kamu gembira ria karena hal ini. Menurutku keadaan akan baik-baik saja… asalkan kita nggak berpelukan”. Percakapan ditutup. Shigure mengerucutkan bibirnya, lalu tersenyum lebar. Ia kemudian menggulung futon yang tadi dipakai Tohru. Yuki terus menuju lantai dua. Tohru mengikutinya. Tak diketahui oleh Shigure dan Yuki, sesosok manusia berdiri di pohon di dekat beranda, mengawasi mereka berdua.

Yuki menunjukkan kamar baru untuk Tohru. Tohru melihat berkeliling, dalam hati ia berkata, “Baiklah, akhirnya harus seperti ini. Seperti mimpi saja. Selain itu, saya juga dipinjami pakaian”. Masih terkagum-kagum dengan serentetan kejadian yang menimpanya, keterkaguman Tohru dipecahkan olah Yuki. “Agak lembab kaerna kamar ini ditutup dalam waktu yang cukup lama. Mungkin jendelanya perlu dibuka”. Tohru sedikit tersentak dan mengangguk-angguk. Tak perlu menunggu beberapa saat, sebuah suara retak datang dari arah atap rumah. Seorang cowok jatuh dari atas atap dan mendarat di tengah-tengah ruangan itu. Ia memunggungi Tohru. Rambutnya berrwarna jingga. Ia berpakaian kaos dan bercelana kardigan. “YO~! Aku sudah capek nungguin kamu. Ayo kita selesaikan!”, gertak cowok tak-tahu-berasal-dari-mana itu (Dia rupanya yang mengawasi rumah Shigure dari atas pohon). “Gimana kalo kamu menyerah saja? Kamu lemah soalnya!”, ujar Yuki dingin dan tajam. Cowok itu mengepalkan tinjunya dan menggulung lengan kaosnya seraya berseru, “HEE!!? Kalo kamu mikir aku sama dengan sebelumnya, kamu akan menyesal! Aku akan menghancurkan egomu!”. Cowok itu menerjang Yuki. Sedetik sebelum tinjunya melayang ke arah Yuki, Tohru memeluk cowok itu dari belakang, mencoba menghentikannya… “AH!!! Tunggu dulu!!”, Tohru meraih cowok itu secepat otaknya bisa menyuruh kakinya untuk melangkah dan tangannya untuk mencengkeram sosok di depannya. Tohru terpeleset karena menginjak eternit dan jatuh menubruk cowok it.
PUF!!!!
Shigure muncul dari arah pintu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Seraya berjalan berderap ke arah ruangan, Shigure berujar, “Yuki-kun~ Aku baru saja mendengar suara yang keras. Apakah Kyou datang tiba-tiba?”. Tohru tiba-tiba bangkit berdiri dan berseru, “Maafkan saya! Apakah kamu baik-baik saja?”. Tohru segera menyadari bahwa ia sedang memegang (tepatnya menggendong) seekor kucing!! Dalam kepanikannya, Tohru tidak sempat berpikir apapun. Kata-kata yang terlontar tidak beraturan, ”Wah!! Dia berubah menjadi kucing!! Kucing! Tepat di depan mata saya! Kita harus segera memanggil dokter atau…”. Belum sempat kata-katanya selesai, sepotong eternit jatuh menimpa kepala Tohru!! ”Honda-san!”, seru Yuki. Shigure menimpali, ”Tohru-kun!”. Tohru limbung, dan jatuh menimpa Yuki dan Shigure.
PUF!!!!! PUF!!!!
Yuki dan Shigure berubah menjadi tikus dan anjing!!! Tohru menjadi bertambah pusing dengan kebingungannya. ”GAWAT DARURAT! Semuanya...berubah menjadi hewan!!!”, jerit Tohru dengan mata terbelalak lebar.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!