Monday, 5 October 2009

Syarat-syarat Flap Rongga Mulut

KONBANWA... It's already October, kind of chilly outside. I guess my appetite is increasing. I tried 'mie ayam jakarta' and I thought it was superb. What's more, I was hungry. Ohoho... (Gochishousama deshita~~~)

Oh, yeah, I got a request from anak-KG-san. I thought the topic was about minor surgery. I found interesting book about it. So since I had free time to type it, I intended to publish it also.
Oh, well... see the reference below to know the detail. The picture shown below is kind like the resume. Jyaannn... benkyo shimasho ka.

Reference: Pedersen GW. 1988. Translation of Oral Surgery. First Edition. WB Saunders Company: Philadelphia






Pendahuluan
Perncabutan gigi dengan pembedahan harus dilakukan apabila pencabutan dengan tang tidak mungkin dilakukan, gagal atau apabila gigi mengalami impaksi ataupun terpendam. Baik untuk pencabutan gigi erupsi yang menimbulkan masalah, atau impaksi molar ketiga, prinsip-prinsip pembedahan biasanya relatif serupa. Diawali dengan pembuatan flap mukoperiosteal untuk mencapai jalan masuk ke tulang rahang. Kemudian jalan masuk ke gigi dicapai dengan mengasah tulang secara konservatif. Akhirnya, jalan masuk yang tidak terhalang diperoleh dengan mengasah tulang atau lebih baik dengan memotong gigi secara berencana. Pada akhir prosedur ini jaringan lunak dikembalikan ke tempat semula dan distabilisasi dengan jahitan.


Flap untuk Jalan Masuk
Kecenderungan yang ada selama ini adalah jarang melakukan pembuatan flap atau mungkin pembuatan flap yang terlalu kecil. Pada pencabutan gigi, suatu pendekatan dengan pembuatan flap sering lebih konservatif dan kurang traumatik dibandingkan dengan pencabutan berkepanjangan menggunakan tang atau elevator, yang pada dasarnya mengakibatkan cedera yang cukup berat pada jaringan lunak dan jaringan keras.

Klasifikasi
Flap diidentifikasikan berdasarkan lokasinya, komposisi jaringannya, dan desain/ bentuknya. Sebagai contoh, suatu flap untuk pencabutan gigi molar pertama atas dinamakan mucoperiosteal envelope buccal flap. Sebagian besar flap yang dibuat untuk tujuan bedah mulut adalah di bagian bukal karena rute ini merupakan rute yang paling langsung dan tidak rumit untuk mencapai gigi yang terpendam/ fragmen ujung akar. Rute ini memberikan visualisasi yang baik dan jalan masuknya alat juga lebih mudah. Apabila variasi anatomi dan patologi yang perlu pembedahan terletak pada palatal ataupun lingual, maka dibuat flap lingual. Contoh yang jelas adalah pengambilan torus. Kadang diperlukan flap yang meliputi bukal dan lingual permukaan alveolar yang disebut flap contiguous. Hal ini sering dilakukan pada alveoplasti yang luas. Flap yang paling sering dibuat adalah yang mengikutsertakan mukosa dan periosteum dan disebut full thickness flap. Kadang-kadang dibuat partial thickness flap yang hanya menyertakan mukosanya saja, sedangkan periosteun tetap di tempatnya. Teknik ini dipertimbangkan apabila flap akan digeser atau dipindahkan sehingga menghindari daerah tulang yang terdedah.

Flap Envelope
Desain flap yang bisa diandalkan adalah envelope. Apabila dikombinasikan dengan insisi serong di bagian anterior (mesial) atau bagian posterior (distal) atau keduanya, kemampuannya luar biasa. Teknik yang biasanya dilakukan dengan membuat insici horizontal pada tepi gingiva kemudian dimodifikasi seperlunya dengan melakukan insisi serong ke arah anterior. Dalam kebanyakan kasus, desain ini sudah cukup. Apabila diperlukan jalan masuk apikal yang lebih besar maka ditambahkan incisi serong di bagian posterior.

Desain yang lain
Flap semilunar biasanya ditempatkan pada permukaan bukal processus alveolaris di sebelah apikal pertemuan antera mukosa bergerak dan cekat. Keuntungan desain ini adalah perlekatan gingiva dan sebagian mukosa cekat tetap terpelihara dengan baik, walaupun tetap diperoleh jalan masuk ke regio apikal dan sekitarnya. Flap semilunar sering digunakan untuk menghidnari tepi mahkota protesa, untuk pembedahan periradikular dan untuk mendapat jalan masuk ke sinus maksillaris dan tegio yang lebih jauh lainnya. Flap pedikel dibuat baik di bukal, lingual maupun palatal. Biasanya digunakan untuk migrasi atau transposisi untuk memperbaiki suatu cacat, misalnya fistula oroantral atau nasoalveolar.

INDIKASI’
Flap untuk jalan masuk
Flap dibuat untuk mendapatkan jalan masuk ke struktur di bawahnya (biasanya tulang atau gigi) atau untuk prosedur koreksi, untuk mencapai daerah patologis, merawat luka, atau menggerakkan jaringan untuk memperbaiki kerusakan. Pencabutan beberapa gigi yang berdekatan mengharuskan preparasi lingir sisa untuk restorasi prostetik di kemudian hari misalnya alveoplasti. Oleh karena itu diindikasikan pembuatan flap envelope, contiguous yang tidak bebas untuk mendapatkan jalan masuk ke processua alveolaris. Pencabutan gigi dengna pembedahan baik gigi yang erupsi maupun impaksi memerlukan flap untuk jalan masuk. Meskipun desain bermacam-macam, tergantung situasu, flap yang paling umum dipakai adalah envelope, baik dengan ataupun tanpa incisi tambahan. Preparasi untuk pembuatan prostetik yang tidak selalu harus berkaitan dengan pencabutan gigi, memerlukan berbagai flap sebagai jalan masuk. Misalnya pengambilan torus, reduksi tuberositas dan vestibuloplasti tertentu. Biopsi, kuretasi, enukleasi atau eksisi jaringan patologi memerlukan jalan masuk dan untuk itu diperlukan flap yang bervariasi. Pembedahan korektif, misalnya untuk disgnathia (cacat rahang) yang sering sangat besar. Perbaikan dan penutupan pada tindakan pembedahan rekonstruktif untuk cacat bawaan atau dapatan sering memerlukan transfer flap.

DESAIN
Suplai darah
Suplai darah yang cukup merupakan pertimbangan pertama dalam merencanakan desai flap. Kegagalan untuk memenuhi persyaratan ini akan mengakibatkan pengelupasan flap baik sebagaian maupun total. Flap yang mempunyai dasar yang lebih besar, yaitu dengan basis yang lebih besar daripada tepi bebasnya, biasanya tervaskularisasi dengan baik. Suplai darah sangat menentukan pada desai flap pedikel, dimana lebar basis flap berkaitan dengan panjang keseluruhan flap, lebar basis paling tidak setengah kali panjang flap. Tindakan yang perlu dilakukan untuk mempertahankan suplai darah adalah menghindari terpotongnya beberapa pembuluh darah pada waktu melakukan insisi. Pembuluh-pembuluh darah yang paling riskan di dalam rongga mulut, antara lain: a. Palatina mayor, a. Buccalis, a. Facialis, a. Lingualis; a. Mentalis pada regio mandibular tidak mudah terkena. Jadi jika pembuluh darah garus dihindari, maka adanya suplai saraf juga harus dipertimbangkan oada waktu mendesain suatu flap. Insisi ditempatkan sedemikian rupa sehingga apabila prosedur telah selesai tepinya didukung oleh tulang. Penyembuhan akan terganggu apabila tepi insisi hanya mengharapkan dari bekuan darah dan hematoma untuk mendukungnya.

Ukuran yang layak
Kesalahan yang umum pada desain flap adalah ukurannya terlalu kecil, sehingga mengakibatkan jalan masuk terhalang, visualisasi yang kurang, luka yang tidak menguntungkan. Perluasan flap horizontal memberikan keuntungan yaitu trauma yang minimal, selain itu menambauh jalan masuk. Perluasan yang berlebihan dari insisi serong tambahan dan penyibakan periosteum yang berlebihan, mengakibatkan invasi yang tidak perlu pada tempat perlekatan otot, misalnya m. buccinator dan meningkatkan morbiditas pasca pencabutan, mialnya perdarahan, rasa sakit dan pembengkakan. Waktu yang digunakan untuk merencanakan pembuatan desain flap merupakan simapanan yang memberi keuntungan jangka panjang, termanifestasi berupa berkurangnya komplikasi dan morbiditas.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!