Thursday, 17 December 2009

Anatomy: Perkembangan Neurocranium (part 1)



Prinsip Pertumbuhan Cranial dan Wajah
Pendahuluan
Waktu dapat mengubah segalanya tak terkecuali wajah manusia, Hal itu berlangsung secara eksplisit sehingga kadang-kadang kita salah menilai umur seseorang dalam beberapa tahun saja. Diskusi pertumbuhan wajah dan tengkorak ini berfokus pada bagian tulang.



Beberapa disiplin ilmu mempunyai range pada daerah ini. Masing-masing mencari perbedaan segi pembahasan yang paling dapat digunakan bagi kebutuhan ilmu tersebut. Sebagai contoh, para ortodontis dan radiologis. Orthodontis sangat bergantung pada radiocephalometrics untuk melakukan perhitungan dan penilaian pola pertumbuhan, mencari metode yang dapat diramalkan dan merancang diagnosa dentoskeletal (Ricketts, 19960; Broadbent, 1975; L.E. Johnston, 1975). Radiologis biasanya memperoleh gambaran perkembangan tulang untuk tujuan diagnosis dan terapeutik, dan hal ini tidak berhubungan dengan ortodontis (Henderson & Shermam, 1946; Dorst, 1964; Caffey, 1973). Namun keduanya saling overlap sehingga mereka harus memahami penjelasan mengenai embriologi dan perkembangan dalam spesialisasi bidang masing-masing.

Pada tahap pertumbuhan yang paling awal, bagian tertua secara filogenetik dari viscerocranium terdiri atas kartilago (kondrocranium). Bagian tengah diantara neurocranium dengan viscerocranium disebut sebagai dasar cranial. Struktur ini dimulai dari kartilago midline berjalan ke depan dari foramen magnum. Pada awalnya, kartilago terbentuk pada mesenkim notokord. Kartilago paranotochord berjalan dari sella turcica ke sklerotomes occipitale. Di sebelah anterior kartilago parachordal terdapat kartilago hypofisis dan trabeculae cranii. kartilago hypofisis membentuk corpus sphenoidale dan kemudian os ethmoidale. Dasar cranial kemudian berkembang ke lateral pertemuan os occipitale, sphenoidale dan ethmoidale. Os occipitale berperan dalam pembentukan foraman magnum dan mendukung sepenuhnya struktur rhombencephalon berisi medulla, pons dan cerebellum. Os occipitale dibentuk dari kartilago parachondral dan bertambah banyak pada pusatnya : basioocciput di anterior, sepasang exoccipitale di lateral dan 4 bagian supraoccipitale di posterior. Pusat osifikasi endokondral ini kemudian bergabung dengan sepasang pusat intramembran di atas linea nuchalis superior (interparietal). Pembentukan jaringan keras mulai muncul sekitar minggu sembilan kehamilan. Sutura Mendosal memisahkan supraoccipitale dengan interparietale. Sambungan penuh os occipitale memanjang pada sutura Mendosal menghilang dari deteksi radiografi pada beberapa minggu pertama kelahiran. Pemisahan exoccipitale dengan supraoccipitale menghilang selama dua hingga tiga tahun dan syncondrosis spheno-occipitale menjadi basis sphenoidale dan basiocciput lenyap pada usia duapuluhan.

Tulang yang secara prinsip merupakan bagian dari endokondral adalah os temporale. Os temporale mulai terbentuk mulai dari kapsul terluar dari telinga bagian dalam (kartilago perotic) yang merupakan bagian dari condrocranium primitif.. Pars squamose adalah tulang membran dan os temporale mempunyai peranan dalam pembentukan arcus branchial kedua (Reichert,s cartilage) untuk pembentukan processus stylohyoideus. Penulangan endokondral kapsul pada telinga bagian dalam disebut pars petrosa os temporale. Bagian temporale secara filogenetik mengalami penulangan paling cepat, yaitu sekitar bulan kelima atau keenam kehamilan. Hal ini diikuti oleh pergantian penulangan intramembran pars squamose dan ring tympani. Perkembangan os temporale. direkam pada radiography dan perjalanan perkembangan ini dipahami oleh radiologis. Untuk alasan yang sama, os occipitale kadang-kadang mempunyai diagnosa yang signifikan. Tulang-tulang membranous yang menyebar ke bagian lateral dan rostral cranium mulai mengkalsifikasi sebelum 10 bulan. Biasanya, tuber frontal dan interparietal muncul dan diikuti oleh perkembangan yang cepat pada regio parietal.

Susunan Tulang
Secara umum tulang manusia dikelompokkan menjadi dua, yaitu tulang-tulang aksial (sumbu tubuh) dan tulang-tulang apendikular. Tulang-tulang aksial terdiri atas cranium (tengkorak), columna vertebral (ruas-ruas tulang belakang), costae (iga) dan sternum (tulang dada). (Persaud, 2003).

Susunan rangka berkembang dari lapisan benih mesoderm yang nampak selama perkembangan minggu ketiga. Ia membentuk suatu rangkaian kelompok jaringan mesodermal, yaitu somit, di setiap sisi tabung saraf. Segera setelah pembentukannya, setiap somit berdiferensiasi menjadi suatu bagian ventromedial yaitu sklerotom dan suatu bagian dorsolateral yaitu dermomiotom. Pada akhir minggu keempat, sel sklerotom menjadi polimorf dan membentuk jaringan-jaringan yang dikenal sebagai mesenkim atau jaringan penyambung mudigah. Sangatlah khas bagi sel mesenkim untuk berpindah dan berdiferensiasi melalui berbagai cara yang berlainan. Sel-sel mesenkim ini dapat menjadi fibroblast, kondroblast atau osteoblast.

Kemampuan mesenkim untuk membentuk tulang tidak terbatas dari sel sklerotom saja, tetapi terjadi juga pada lapisan mesoderm somatic dinding tubuh dimana costae terbentuk. Telah diperlihatkan juga bahwa sel-sel krista neuralis di daerah kepala berdiferensiasi menjadi mesenkim dan turut mengambil bagian pada pembentukan tulang-tulang muka. Pada beberapa tulang, seperti tulang pipih tengkorak, mesenkim secara langsung berdiferensiasi menjadi tulang, suatu proses yang dikenal sebagai pertulangan membranosa (membranous ossification). Akan tetapi, pada sebagian besar tulang, sel mesenkim pertama-tama membentuk model tulang rawan hialin, yang kemudian mengalami penulangan endokondral. (Sadler, 1993).

Dinding Rongga Cranium
Dinding rongga cranium bervariasi ketebalannya pada daerah yang berbeda. Lapisan tersebut biasanya lebih tipis pada wanita dibandingkan pada pria dan lebih tipis pada usia muda dibandingkan pada usia yang lebih tua. Tulang-tulang tersebut cenderung paling tipis pada daerah yang ditutupi otot secara keseluruhan, seperti pada pars squamose os temporale dan posteroanterior region di posterior foramen magnum (pars squamose os occipitale). Kita dapat mengamati area tulang tipis ini dengan cara menerawangnya pada lampu yang sangat terang. Kebanyakan tulang calvaria terdiri atas lapisan interna dan externa (lamina interna dan externa) yang dipisahkan oleh substansi spongi disebut diploe. In vivo, diploe berisi sumsum tulang merah yang berisi canal-canal vena. (Moore and Persaud, 1999)

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!