Sunday, 13 December 2009

Apple and Our Health



Referensi: Khairuzzaman, Annisa. Mengungkap Rahasia 63 Buah Berkhasiat Istimewa. 2009. In Izna Books.

Jika masyarakat Timur (Eastern) memiliki durian sebagai buah unggulan, maka masyarakat Barat (Western) memiliki apel. Orang Barat sering memakai apel senagai paradigma bagi buah yang menarik.



Diperkirakan ada tujuh ribu jenis buah apel yang tumbuh di dunia, tetapi hanya ada beberapa macam yang ada di pasaran di Indonesia, seperti apel Kampung, apel Australia, apel Manalagi dan apel Amerika.

Bentuk, ukuran, warna, rasa serta tekstur masing-masing jenis apel memang beragam. Tetapi dalam hal gizi tidak jauh berbeda. Adanya kalim (potassium) serta pektin yang tinggi dalam apel, menjadikan buah ini sangat bermanfaat untuk mencegah stroke, serta mengurangi kadar gula dan kolesterol darah. Satu hal yang bermanfaat bagi penderita diabetes serta jantung koroner.


Apel umumnya berbentuk bulat, dengan cekungan pada pangkal pucuknya. Daging apel berwarna putih, tenyah dan berair dengan rasa manis atau asam. Daging buah ini dilimdungi oleh kulit tipis yang umumnya mengkilap. Bila daging ini dikerat, keluarlah aroma yang harum dan segar. Namun ada beberapa varietas apel, aroma itu terasa sangat tajam.

Citarasa, aroma, maupun tekstur, sebenarnya dihasilkan dari kurang lebih 230 komponen kimia. Termasuk pula beragam asam seperti asam asetat, formiat serta 20 jenis asam lainnya. Selain itu ada kandungan alkohol berkisar 30 – 40 jenis, ester seperti etil asetat sekitar 100 jenis, karbonil seperti formaldehida dan asetaldehida, serta banyak lagi.

Kandungan zat gizi yang menonjol pada apel adalah kalium, khususnya pada apel merah, serta pektin dan selulosa. Kalium merupakan mineral yang berfungsi meningkatkan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat gizi ke sel-sel, mengendalikan keseimbangan cairan dalam jaringan dan sel tubuh, serta membantu mengatur tekanan darah.

Penelitian yang dilakukan oleh pakar dari Universitas California di San Diego, Amerika Serikat menunjukkan bahwa satu porsi buah banyak mengandung kalium dalam sehari, mampu menurunkan risiko terkena stroke hingga 40%.

Riset tersebut diterapkan pada sekitar 800 pria dan wanita yang berusia 50 tahun ke atas, yaitu usia risiko tinggi terkena strokw. Ternyata konsumsi kalilum konsentrasi tinggi lewat makanan dapat mengurangi tekanan darah, sehingga peluang terjadinya stroke menurun.

Apel terutama yang berwarna merah, tergolong memiliki kandungan kalium cukup tinggi. Setiap 100 gram bagian apel merah yang dapat dimakan terdapat kandungan kalium sekitar 203 mg.

Kandungan kalium apel jika dibandingkan dengan buah lain seperti pisang (435 mg), alpukat (278 mg), duku (232 mg) dan pepaya (221 mg) memang masih lebih rendah. Akan tetapi, lebih tinggi jika dibandingkan dengan kandungan kalium pada sawo manila (181 mg), jeruk (162 mg), belimbing (130 mg), nanas (125 mg) dan anggur (111 mg). Karenanya apel dianggap sebagai salah satu buah yang potensial dalam menurunkan risiko serangan otak.

Apel mengandung serat dalam jumlah banyak. Selulosa adalah serat yang tidak larut dalam air yang berada pada kulit apel. Sedangkan pektin adalah tipe serat larut air yang dijumpai pada daging buah apel.

Serat tak larut, khususnya selulosa selain beberapa hemiselulosa dan lignin, dapat mempercepat perjalanan sisa makanan melintasi saluran pencernaan. Sementara serat larut dapat menimbulkan efek sebaliknya, memperlambat ‘lalu lintas’ sisa makanan.

Kedua bentuk serat ini sebenarnya sama-sama mempunyai kekuatan mencuci perut. Kedua jenis serat dapat menyerap air dan membuat kotoran lebih besar. Maka, jangan heran jika penderita konstipasi (sulit buang air besar), konsumsi apel utuh beserta kulitnya sangat dianjurkan.

Serat larut, yaitu pektin dan gum, membentuk gel dalam usus. Akibatnya waktu yang diperlukan sisa makanan untuk bergerak dari mulut anus jadi lebih lama. Hal ini membuat orang yang bersangkutan akan merasa kenyang lebih lama. Itu sebabnya, bagi yang sedang menjalani proses melangsingkan tubuh, apel dapat dijadikan sebagai pengganti makanan seperti kue berlemak atau manis.

Selain itu, serat larut mampu mengikat berbagai zat, termasuk kolesterol dan mengurangi penyerapannya dari saluran usus. Bentuk serat ini dapat menurunkan tingkat kolesterol darah.

Hasil penelitian menunjukkan, pektin apel dapat mengurangi kandungan kolesterol LDL sebanyak 10%. Kolesterol LDL merupakan penyebab penyakit jantung dan stroke. Selain menurunkan LDL, apel tidak mengurangi kolesterol HDL atau kolesterol ‘baik’, sehingga apel diperkirakan mampu memperkecil risiko penyakit jantung hingga 20%.

Serat larut pun ternyata mampu memperlambat masuknya glukosa dari saluran pencernaan ke aliran darah. Hal ini sangat bermanfaat untuk mengontrol penyakit diabetes.

Untuk memperoleh manfaat yang maksimal dari apel, maka bentuk sediaan harus diperhatikan. Apel segar umumnya lebih baik dibandingkan dengan hasil olahan menjadi sari buah maupun sirup.

Riset yang dilakukan beberapa ahli menunjukkan, pemberian apel dengan berbagai macam bentuk sediaan pada orang normal, menghasilkan respon yang berbeda terhadap konsentrasi gula darah maupun insulin. Sedangkan konsumsi apel segar utuh hanya menaikkan sedikit insulin serum, dibandingkan bubur apel. Struktur serat pada bubur apel sudah rusak.

Jadi apel segar – khususnya pada penderita diabetes – lebih bermanfaat dibandingkan dengan apel olahan. Kandungan serat larut yang tinggi dan energi yang rendah, serta rasa asam manis yang bervariasi membuat apel cocok sebagai pilihan makanan kecil selain sebagai pencuci mulut yang baik.

Rasa renyah apel dapat membantu melepaskan bahan-bahan yang melekat pada gigi, misalnya gulam sekaligus memacu pengeluaran air liur sehingga mampu membersihkan gigi.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!