Saturday, 5 December 2009

PEMERIKSAAN ODONTOLOGIS DALAM PELAYANAN IDENTIFIKASI

This is lecture by my forensic teacher. by: drg. Sara Afari Grado, MKes Dalam pelayanan identifikasi, peran odontologi forensik didasarkan atas potensi gigi sebagai salah satu sarana yang dipergunakan untuk mengidentifikasi orang, baik korban atau pelaku kejahatan maupun korban kecelakaan, yaitu apabila sarana identifikasi konvensional tidak dapat atau belum memberikan hasil yang meyakinkan. Gigi memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai sarana pemeriksaan identifikasi karena mempunyai faktor-faktor sebagai berikut: 1. Derajat individualitas yang sangat tinggi Disebutkan bahwa berdasarkan perhitungan komputer, kemungkinan menemukan dua orang yang sama giginya adalah satu banding dua trilyun. Dengan penduduk dunia yang berjumlah hanya pada tingkat milyar, akan mustahil ditemukan dua orang yang sama keadaan giginya. Adanya dia kali pertumbuhan gigi (20 gigi susu dan 32 gigi tetap – diphyiodensi), serta dengan adanya perubahan kerena rusak atau tindakan perawatan seperti pencabutan, penambalan dengan berbagai bahan pada berbagai permukaan mahkotanya, perawatan saluran akar, ditambah ciri-ciri khas seperti bentuk lengkung, kelainan posisi gigi dan sebagainya, menyebabkan gigi sangat khas pada orang yang memilikinya. 2. Kuat dan tahan terhadap berbagai pengaruh kerusakan. Selain hal-hal tersebut di atas, dalam keadaan dengan sarana pemeriksaan identifikasi konvensional seperti sidik jari misalnya yang mempunyai kelemahan mudah rusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi atau kurang memberikan hasil yang meyakinkan, maka identifikasi dengan sarana gigi sangat mungkin dapat dilakukan karena sifat gigi yang sangat kuat, tahan terhadap berbagai pengaruh kerusakan seperti trauma mekanis, termis, kimiawi, dekomposisi dan sebagainya. Keadaan demikian karena gigi disamping strukturnya yang mengandung bahan anorganik yang kuta, juga karena gigi merupakan jaringan tubuh yang terdapat di bagian badan, yaitu mulut yang cukup memberikan perlindungan terhadap berbagai pengaruh kerusakan tadi. Identifikasi dengan sarana gigi dilakukan dengan cara membandingkan antara data gigi hasil pemeriksaan orang/ jenasah/ rangka tidak dikenal dengan data gigi yang pernah dibuat sebelumnya dari orang hilang yang diperkirakan. Untuk data post-mortem, maka perlu dicatat pada pemeriksaan antara lain sebagai berikut: 1. Gigi yang ada dan yang tidak ada. Bekas gigi yang tidak ada apakah baru atau lama. 2. Gigi yang ditambal, jenis bahan dan klasifikasi tambalannya. 3. Anomali bentuk dan posisi gigi. 4. Karies atau kerusakan gigi yang ada. 5. Jenis dan bahan restorasi perawatan dan rehabilitasi yang mungkin ada seperti jaket, gigi jembatan, plat ortodonsia, protesa gigi dan sebagainya. 6. Atrisi atau keausan dataran kunyah gigi yang merupakan proses fisiologi untuk fungsi mengunyah. Derajat atrisi ini akan sebanding dengan umur. 7. Gigi molar ketiga sudah tumbuh atau belum. 8. Bentuk lengkung gigi dan rahang. 9. Lain-lain misalnya: ciri-ciri populasional ras, geografis dan sebagainya. Disebutkan ciri-ciri incisival sholvel-shaped pada gigi incisivus dan tuberkulum Carabelli pada gigi-gigi molar atas banyak dijumpai pada ras Mongoloid, palatum yang tinggi lebih banyak dijumpai pada orang-orang yang tinggal di pegunungan dibandingkan yang tinggal di dataran rendah. 10. Akibat tindak budaya seperti mutilasi (pangur), pencabutan/ ekstraksi, pencuilan, pelubangan, pengimbuhan dan sebagainya. Pada identifikasi kasus jenasah, barang bukti dapat bermacam-macam keadaannya dari jenasah yang masih utuh atau segar, tinggal rangka, tebakar hangus, rusak dan hancur, membusuk atau kombinasi keadaan tersebut. Keadaan-keadaan tadi akan menentukan cara melakukan pemeriksaan gigi supaya jelas sehingga dapat diperoleh data-data gigi post-mortem secara baik, lengkap dan akurat. Bila kepala masih utuh maka untuk kepentingan estetis maka sedapat mungkin jangan sampai dirusak. Untuk mengatasi kaku jenasah atau kekerasan jaringan di sekitar rahang akibat terbakar, apabila mulut sulit dibuka, maka dilakukan seksi bentuk tapal kuda dari anguus mandibua sebelah kiri melewati di bawah corpus mandibula (margo inferior corpus mandibula) dan dagu, terus sampai pada angulus mandibula kanan. Dengan memotong vestibulum oris dan otot-otot dasar mulut dan lidah, rahang bawah ditarik ke bawah sampai rahang dan gigi tampak jelas. Apabila ini belum bisa dilakukan maka otot masseter dan otot-otot pada ramus mandibula disiangi sampai mencapai processus condyloideus dan processus coronoideus, kemudian rahang bawah dilepas dengan memotong articulatio antara processus condyloideus mandibula dengan fossa glenoidea kepala. Untuk rahang atas bila dipandang perlu dapat pula dilepaskan dengan cara menggergaji pada batas sebelah atas puncak akar-akar giginya, jangan sampai memotong akar-akar giginya. Apabila telah selesai dilakukan pemeriksaan, bagian-bagian tadi direposisi seperti keadaan semula. Kepala yang tinggal tengkorak dapat diperiksa langsung setelah dibersihkan. Rahang yang lepas dapat diperiksa dengan cermat, bila perlu dipotret atau dibuat foto rontgennya. Untuk rekonstruksi dan reposisi bagian-bagian yang hancur, rahang maupun fragmen-fragmen gigi harus dicari dengan teliti, demikian pula bahan-bahan atau alat restorasi dan rehabilitasi seperti tambalan, jaket, gigi jembatan, alat ortodonsia, protesa gigi yang terpental keluar mulut, bila ditemukan sangat berguna untuk identifikasi. Data gigi yang pernah dibuat sebelumnya (data ante mortem) merupakan syarat utama yang harus ada apabila identifikasi cara membandingkan akan diterapkan (data post mortem dibandingkan dengan data ante mortem). Data gigi ante mortem dapat berupa: 1. Dental record, yaitu keterangan tertulis berupa odontogram atau catatan keadaan gigi pada pemeriksaan, pengobatan atau perawatan gigi. 2. Foto rontgen gigi. 3. Cetakan gigi. 4. Protesa gigi atau alat ortodonsi. 5. Foto muka (close up muka atau rontgen gigi). 6. Keterangan atau pernyataan dari orang-orang terdekat di bawah sumpah Data tersebut dapat dicari pada sumber-sumber seprti praktik dokter gigi, rumah sakit, instansi-instansi pelayanan kesehatan gigi, lembaga/ pusat pendidikan kedokteran gigi atau sanak keluarga dan sebagainya. Selain harus ada, maka ketersediaan data ante morterm tersebut juga harus memenuhi keakuratan untuk dapat diperbandingkan dengan data ante mortemnya, misalnya hal kelengkapan dan kesempurnaan catatan data, kejelasan data untuk diinterpretasi, kriteria yang sama untuk diperbandingkan dan sebagainya. Dalam pelaksanaan operasional pelayanan identifikasi sebagai salah satu sarana pemeriksaan, maka dari pengalaman penanganan kasus-kasus di instalasi Kedokteran Forensik RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, identifikasi dengan cara membandingkan data gigi ini tidak dapat atau sulit diterapkan. Kesulitannya adalah dalam hal untuk memperoleh data gigi ante mortem yang akan dibandingkan dengan data gigi hasil pemeriksaan post mortem yang didapatkan. Untuk memperoleh data gigi ante mortem dental record, kesulitan yang dijumpai, pertama adalah adanya kenyataan bahwa belum semua orang terarsipkan giginya dengan baik. Untuk mengatasi hal ini maka hendaknya dapat diuupayakan pencatatan data gigi pada setiap pemeriksaan atau perawatan gigi semua orang terutama pada orang-orang yang tugasnya mempunyai resiko jiwa. Kemudian kesulitan kedua, yaitu bahwa keadaan gigi setiap orang dapat berubah karena pertumbuhan, perkembangan, kerusakan dan perawatan. Padahal untuk kepentingan identifikasi diperlukan sarana ciri yang tetap. Untuk mengatasi hal ini, hendaknya dapat dilakukan pencatatan data gigi barunya. Pada masyarakat Polri dan TNI misalnya, hal demikian sudah terselenggara dengan adanya program pemersiksaan berkala bagi anggota-anggotanya. Dengan demikian catatan mengenai data gigi dapat diperbaharui, sehingga akan dapat selalu up-to-date. Apabila data gigi ante mortem tidak ada, maka identifikasi dengan sarana gigi dilakukan dengan cara merekonstruksi data gigi post mortem, yaitu menillai data-data gigi yang diperoleh dari hasil pemeriksaan jenasah/ rangka tidak dikenal untuk memperkirakan umur, (melalui pola waktu erupsi gigi-gigi dan derajat atrisi), ras (melalui ciri-ciri rasial iincisival shovel-shaped dan tubercullum Carabelli yang banyak dimiliki ras Mongoloid), ciri-ciri khusus gigi dan sebagainya. Meskipun tidak dapat mencapai hasil sampai tingkat individual, tahapan-tahapan identitas demikian dapat memberikan petunjuk arah penyidikan.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!