Sunday, 20 December 2009

Ouran High School Host Club Episode 2


Ouran High School Host Club
Episode 2
A High School Host’s Job

Disclaimer:
Ouran High School Host Club is the property of Bisco Hatori, Studio Bones, and Lala monthly magazine

Musim semi dimulai. Kuncup sakura mulai bermunculan menghiasi ranting-ranting berwarna kecoklatan. Menara jam Ouran tetap tegak menjulang. Udara sudah mulai hangat, tetapi seragam Ouran belum berganti. Ruang perpustakaan tetap ramai dengan celotehan anak-anak. Sang heroin duduk dan menghadapi tumpukan buku yang dibiarkan terbuka. Ia tampaknya sedang mengerjakan tugasnya.


Setelah menuliskan beberapa kalimat pada bukunya. Bel panjang berdentang, melantun sekitar 10 detik. Ia menghentikan karena teringat sesuatu. Ia menyeringai tidak jelas lalu menutup buku dan membereskan mejanya. Setengah berlari kecil, ia bergegas menuju tempat tujuannya. Tampak di latar belakang koridor Ouran yang bergaya Victoria. Kanopi-kanopi tinggi dengan ornamen-ornamen megah menjadi karakter sekolah elit ini. “Mereka bakalan ngomel kalau aku telat...”, keluhnya pada dirinya sendiri dalam perjalanannya ke tempat tujuannya.

Ruang musik ketiga, begitulah yang tergantung pada salah satu ruangan di salah satu sayap bangunan Ouran. Heroin kita membuka pintu ruang masuk itu. Di dalamnya, terbentang taman penuh dengan tanaman tropis. Tidak hanya itu, heawn-hewan tropis pun lengkap di dalamnya (bunglon, burung dan kupu-kupu dengan warna-warna mencolok). “Aku ada di mana?”, tanyanya pada dirinya sendiri. Enam orang pria tampan menyapanya begitu ia memasuki ruangan itu. Semuanya sedang ber-cosplay (?!?) dengan baju tropis dan bertelanjang dada. “Irasshaimase~~~”, begitulah sapa mereka ketika Haruhi, heroin kita masih terbengong-bengong dengan ‘kehebohan’ yang ada di ruangan itu. “Ketika pintu kubuka, di dalamnya, ada...surga tropis”, serunya dalam hati. Bunga sepatu berwarna merah cerah membingkai keenam orang yang menyapanya. Ular coklat sebesar lengan melilit batang pohon. Haruhi tak mampu berkata apapun. Ia sedang dalam perjalanannya berpikir apakah hal yang di depannya itu sebegitu tidak masuk akalnya sampai-sampai balasan sapa pun tidak dapat ia serukan. “Oh, ibu yang ada di surga, ini adalah Ouran Host Club yang kuikuti minggu lalu”, katanya lemah dalam hati.


Si kembar Hikaru dan Kaoru menyahut bersamaan, “Apaan?! Cuma Haruhi toh? Kamu telat datang”. Kepala Haruhi sudah ditenggeri burung tropis berwarna hitam dengan paruh jingga. Wajahnya suram. Mori, anggota klub yang paling tinggi menyangga buah nanas di tangan kanannya. Kyouya membetulkan letak kacamatannya sedangkan Honey yang berkalung bunga tropis mengerling ke atas. Tamaki, presiden klub itu sedang duduk di sebuah kursi rotan dengan kipas terbuka di hadapannya.

Haruhi mengintip kalender saku yang ia miliki sambil berkata, “Menurut kalender, sekarang sedang awal April”. “Takut dengan dingin dan bergulung di dalam kotatsu adalah nonsense!”, sang drama queen, Tamaki beraksi. Ia bangkit dari kursinya dan bergaya seperti pemain teater ternama. Mori dan Honey sudah meluncur kesana kemari di dalam taman tropis itu di latar belakang ketika Tamaki menjelaskan panjang lebar alasan ruangan klub mereka berubah sedemikian rupa. Kini background berganti dengan mawar merah segar yang berkilauan menemani monolog Tamaki. “Menurutmu, buat apa kita mempunyai AC yang sempurna ini?”, penjelasannya diakhiri dengan gerakan dramatis. Kyouya tersenyum sambil terus mencatat dalam map spesialnya. Haruhi tetap berwajah suram, tidak mengerti. “Apakah kamu mempunyai kritik terhadap kebijakan klub? Oh, Haruhi-kun yang mempunyai hutang delapan juta yen?”, tanya Kyouya tenang (tapi dalam). Ia mengalihkan pandangan dari mapnya ke Haruhi. Bagaikan tersengat listrik ribuan volt, Haruhi teringat insiden tempo hari, ia memecahkan vas bunga Rene seharga 8 juta yen yang akan dilelang, yang akhirnya membuat dia terikat kontrak dengan Host Club (baca episode 1!).

Sebuah kipas terbuka. “Laki-laki baik sebaiknya tidak terus-terusan mengurung dirinya”, lagi-lagi Tamaki menyerocos. “Meski disini sudah musim semi ketika dunia masih membeku, di klub ini, kita ingin menerima anak-anak kucing yang kedinginan (latar belakang berganti dengan adegan si kembar yang menjurus pada twincest) dengan aura surga tropis yang hangat!”, lanjut Tamaki yang kini sudah merangkul Haruhi. “Yes! Hari ini, tempat ini adalah surga absolut! A hot-hot island of everlasting summer!”, seru Tamaki mengakhiri penjelasannya. Tangan kirinya terangkat tinggi ke udara. “Sebenarnya, aku malah merasa dingin dalam beberapa hal”, komntar Haruhi yang ditutup dengan seekor bunglon menelan kupu-kupu.

Tamaki, sama seperti di episode pertama memberikan narasi dilatarbelakangi sebuah kompleks sekolah yang luar biasa mewah. Gedungnya laksana istana raja-raja Inggris dikelilingi dengan taman-taman yang indah dan terawat. “Sekolah Swasta Ouran didefinisikan sebagai satu, keluarga yang memiliki prestis, dua, kekayaan dan orang-orang yang mempunyai kelebihan waktu dalam hidupnya”, katanya menggebu-gebu. Tamaki melanjutkan “Oleh karena itu, Ouran Host Club adalah mengenai para pria tampan yang mempunyai waktu memberikan keramahannya menemani gadis-gadis yang menawan yang kebanyakan waktu dan kekayaan”. Narasi ditutup dengan kalimat, “Ini adalah permainan elegan yang ada di sekolah super kaya ini”.

HOST CLUB MASIH BUKA. “Oh, betapa kejamnya. Demi kulit yang indah seperti gading ini dan gaun upacara raja Bali ini, di hadapan dewiku, aku hanya bisa tertunduk... dan bukanlah siapa-siapa kecuali pelayan yang setia”, kata Tamaki pada kliennya. Bunga mawar putih membingkai adegan itu (yare-yare...). Kliennya bermata sendu mendengar kata-kata bius Tamaki dan hanya berkata pelan, “Tamaki-kun...”. Klien yang lain – total klien yang dilayaninya ada 3 orang – juga terkesima dengan monolog Tamaki. Haruhi yang mengantarkan gelas-gelas minuman pada kliennya melirik suram ke arah Tamaki yang memang selalu berlebihan. Mata klien Tamaki berubah semua menjadi hati merah muda. Haruhi tidak berkomentar apapun dan segera meninggalkan meja mereka setelah ia meletakkan pesanan klien Tamaki. Tamaki masih melanjutkan, “So...so...Minggu depan adalah saatnya pesta dansa yang diadakan oleh Host Club Ouran”. Haruhi menghentikan langkahnya dan meneleng ke arah Tamaki seraya bergumam, “Dance party?”.

Sebuah suara ceria terdengar, “Apa yang akan kalian lakukan saat pesta dansa nantinya?”. Oh, ternyata suara itu milik seorang klien si kembar. Hitachiin Hikaru, yang sulung menjawab, “Kami mem-booking semua lobi utama aula pusat...”, dan disambung dengan si bungsu, Hitachiin Kaoru, “...dan itu akan menjadi hal yang paling fantastis”. DHUAR! Latar belakang berganti dengan mawar merah yang menghiasi adegan romantis si kembar. Hikaru menyentuh dagu adiknya. Tatapannya penuh kasih sayang. Kaoru membalas tatapan kakaknya dengan pandangan yang sama. “Tapi sebenarnya, aku hanya ingin kita menghabiskan malam itu berdua saja denganmu, Kaoru...”, kata Hikaru mesra. Kaoru membalas tak kalah hot-nya, “Jangan katakan itu, Hikaru... Aku sebenarnya...juga...”. DHUUUAARR!! “That’s so beautiful”, jerit klien si twincest itu, senang. “Percintaan kakak-beradik dengan aroma surga tropis!”, seru klien-klien itu jejeritan.

“Kayaknya klien kita lebih heboh daripada biasanya ya”, kata Haruhi seraya memperhatikan dari kejauhan adegan barusan. Di samping Haruhi, Kyouya masih tetap mencatat ini-itu di dalam mapnya. “Menunjukkan kulit terbuka sepertinya diterima dengan baik”, jelas Kyouya sambil terus sibuk dengan mapnya. Mereka ternyata sedang berdiri di depan meja bar yang dipayungi atap rumbai-rumbai lebar. “Kamu yang merencanakan proyek tropis ini ya, Kyouya-senpai?”, tanya Haruhi yang masih memegangi gelas piala di atas nampannya. “Aku nggak punya wewenang menetapkan keputusan itu”, jawab Kyouya tanpa mengalihkan perhatiannya dari map. “Semua operasional klub ini ditentukan secara mutlak oleh King, Tamaki”, lanjut Kyouya. Gambar Tamaki yang berseri-seri seraya menunjukkan tanda peace melompat-lompat kegirangan. Kyouya kemudian mengalihkan perhatiannya sekejap. Ia membetulkan letak kacamatanya dan melayangkan senyum bisnisnya. Di latar belakang, ular tropis melilit-lilit pada batang pohon. “Tapi, kayaknya ada baiknya tidak sengaja meletakkan koleksi foto-foto Bali di atas mejanya”, jelas Kyouya tetap dengan senyumnya. Adegan berganti dengan photobook Bali yang dibingkai dengan pohon-pohon tropis. “Orang ini adalah shadow king...”, kata Haruhi dalam hati, suram. Kyouya kembali sibuk dengan mapnya.

“JYAANN~~ tadaa~~”, seru Honey riang. Honey adalah nama alias Haninozuka Mitsukuni, murid kelas 3 SMU Ouran. Ia menunjukkan kalung bunga sepatunya pada kliennya. “Honey-kun, kamu sangat imuuut!”, seru kliennya tak kalau riang. Di latarbelakangi bunga-bunga sepatu berwarna merah cerah, ia melanjutkan, “EHE! Ini adalah bunga-bunga dari Bali. Kami mengimpornya dari Bali pakai pesawat”. Morinozuka dengan wajah datarnya melintas (seperti sudah direncanakan sebelumnya). Nanas yang tadinya disangga di tangan kanan, sekarang disangganya di tangan kiri. “Ah, Takashi~~~”, tukas Honey. Takashi adalah nama depan Mori-senpai (nama aslinya Morinozuka Takashi, yang juga kelas 3 SMU Ouran). Honey memanjat (?!) Takashi dan kemudian mengalungkan rangkaian bunga yang mirip dengannya ke leher Mori. Setelahnya, Honey memamerkan pada kliennya, “EHE! Lihat, kembaraann~~~”, serunya gembira. Mori tetap berwajah datar. Klien mereka berdua melayang hampir pingsan melihat adegan tadi. “Oh, nona Tsubaki!”, kata salah satu klien yang berusaha menahan supaya klien yang bernama Tsubaki tidak jatuh pingsan. Haruhi yang sudah bergabung dengan kliennya menatap kedua – Honey dan Mori – seraya bergumam, “Wah, mereka berdua tetap tidak ada tandingannya”.

“Haruhi-kun...”, kata klien Haruhi pelan. Haruhi tersadar dari spacing-out-nya. Ia kembali berkonsentrasi pada klein-kliennya. “Kamu nggak pakai pakaian tropismu?”, tanya mereka. “Aku pengin lihat...”, kata klien yangl ain. “Haruhi langsung mengangkat kedua tangannya, “Tidak, aku...aku pikir lebih natural kalau kita memakai pakaian awal musim semi di awal musim semi”. Ia mengingat peristiwa beberapa saat sebelumnya. –Start of flash back– Tampak Tamaki ber-monolog, “Aku sudah mempersiapkan kostummu juga, Haruhi!”. Dan apa yang tampak seperti kostum ternyata adalah kostum untuk perempuan (lengkap dengan hiasan kepalanya!). Kostum itu ternyata kembaran dengan Tamaki dengan sedikit variasi untuk perempuan HUWAHAHA!. Tentu saja Haruhi menolak tanpa harus berpikir dua kali. Mungkin setidaknya ada dua alasan: Haruhi tidak mau merusak aura awal musim semi dan kostum itu jelas-jelas buat anak cewek! Tamaki langsung patah hati ketika Haruhi menolak dengan berkata, “No, thank you”. –End of flash back–

“Haruhi-kun ingin menghargai suasana tiap musim ya?”, kata klien si sebelah kanan Haruhi. “Wah, kalo begitu, pasti sangat luar biasa ya kalau melihat sakura mekar saat pesta dansa nanti”, sahut klein di depan Haruhi. “Pasangan berdansa di antara kelopak sakura...”, sambung klien terakhir yang duduk di sebelah kiri Haruhi, dreamy. “Begitu ya? That’s so cute of you all to have dream”, komentar Haruhi. Klien Haruhi merona semuanya. Haruhi diperkenalkan sebagai rookie natural yang highly-anticipated. Psst.. Haruhi tidak perlu teknik khusus seperti Tamaki, King yang super narsis, atau adegan twincest si kembar atau pairing Honey-Mori (lha Kyouya mana?!?). Sebuah suara lain menyapa Haruhi, “Pardon me...”. Haruhi menoleh pada pemilik suara. “Aku yakin ini sudah hampir waktunya pertukaran shift”, kata gadis itu pada Haruhi. “Oh, sumimasen, I’m so sorry. Kamu adalah klienku selanjutnya...”, kata Haruhi meminta maaf dan mengambang. “Kasugasaki Kanako dari kelas 2B”, jawab gadis itu. Tea set berputar dengan sosok gadis memunggungi dan latar belakang gelap ditayangkan. “Sepertinya kamu lebih imut dari gosip yang beredar”, Kasugasaki menyentuh dagu Haruhi. “Aku sudah memutuskan, kamu akan menjadi favoritku selanjutnya”, lanjutnya pada Haruhi yang masih tidak dapat mencerna kalimat-kalimat Kasugasaki. Tampak di latar belakang, Tamaki berubah putih semua karena patah hati.

Senja berwarna jingga mulai merayap. Host Club tutup. Tamaki dengan muka suram menyeruput mie cup ramen dengan suara keras. Ia bergumam dalam hati, mengeram, “Aku tidak terima ini!”. Ia duduk memisah dari anggota Host Club yang lain di dekat jendela. Anggota yang lain sedang duduk mengelilingi meja bundar. Kyouya sibuk mencatat di laptop miliknya (Ehehe, untuk menghindari masalah lisensi, laptop Kyouya berlambang pineapple, alih-alih berlambang apple. Ihihi...!). Si kembar dengan pose yang sama berdiri dengan tangan kanan di pinggang dan tangan yang lain menekan meja. Haruhi duduk di sebelah kanan Kyouya sedangkan Honey dan Mori berturut-turut di sebelah kanan Haruhi, berdiri. “Touno – My lord, hentikan makan mi rakyat jelata itu dan bantuin kami dengan rencana pesta dansa nanti”, kata Hikaru pada Tamaki di duduk ujung ruangan. “Apakah dia sangat sebal akan fakta bahwa Princess Kasuga lebih memilih Haruhi sekarang?”, goda Kaoru dengan wajah poker-face-nya. “Penyakitnya bukan hal yang baru, kan?”, kata Kyouya tanpa mengalihkan perhatian dari laptop pineapple-nya. “Penyakit?”, tanya Haruhi heran. Si kembar lalu memberikan penjelasan. “Penyakit ‘host-wandering’ kayaknya”, kata Hikaru yang langsung disambung Kaoru, “Dengan kata lain, penyakit ‘ ganti-ganti cowok terus-terusan’ begitu”. Haruhi yang kelihatannya masih belum paham dengan penjelasan si kembar ganti memandang Kyouya. Atau tampaknya Kyouya yang mengerti dengan penjelasan si kembar yang tidak menjelaskan sampai Haruhi mengerti, menjelaskan, “Biasanya, klien reguler menentukan seorang host dan ‘memesan’nya seterusnya”. Kyouya masih terus mengetik rencana pesta dansa di laptopnya sambil terus menjelaskan (Hebat deh! Bisa membagi konsentrasi sedemikian rupa), “Tapi, dia punya kebiasaan secara periodik mengganti favoritnya”.

“Sebelumnya, favoritnya Tama-chan, kaaan~~?”, tukas Honey yang memeluk Usa-channya. Adegan berganti dengan adegan Tamaki yang sedang bergaya mesra dengan Kasugasaki di tengah-tengah taman bunga mawar (seminggu yang lalu). Deskripsi (atau mungkin distorsi) ingatan Tamaki selalu berlebihan! Haruhi akhirnya mengerti, “Oh, jadi itu karena kliennya diambil orang lain ya?”. Tamaki muncul mendadak dan berteriak, “SALAA—AH!”, sampai-sampai membuat rambut Haruhi berkibar ke belakang. Honey pun terkaget-kaget. “Bukan itu masalahnya!”, cerocos Tamaki. Tamaki lalu berkobar-kobar berkata, “Baiklah, aku sudah tidak tahan lagi! Haruhi, segeralah berwujud cewek!”. Ia menunjuk Haruhi dengan telunjuk kanannya. Haruhi bengong dengan sweat-drop di kepalanya, “Huh?”. Honey yang masih terkaget-kaget merajuk di dekat Kyouya sambil memandang Tamaki. “Kenapa sih kamu malah populer di kalangan cewek padahal kamu juga cewek?!”, monolog Tamaki, sang drama-queen, bergulir lagi. Kali ini adegan dramatisnya seperti di-reinforce seratus kali lipat (bayangkan saja sendiri!). “Sejujurnya, orang yang hanya mengetahui rahasiamu kalo kamu cewek itu cuma anggota Host Club disini kan!”, lanjutnya dengan tangan terkepal.

Si kembar mendekati Tamaki, masing-masing dari arah yang berbeda, mereka mengangkat tangan mereka memberi penjelasan. “Hai, pelajaran olahraga hanya pelajaran suplemen dan dia memilih untuk tidak mengikutinya”, Hikaru mulai menjelaskan. Kaoru menyambung, “Tempat duduk anak cowok dan cewek dicampur, jadinya tidak bakalan ada yang tahu kan?”. Tamaki lalu lari keluar dari layar dan segera kembali dengan membawa kotak harta karun yang bertuliskan ‘Harta Raja’ (yare-yare...). Tamaki membuka kotak itu lalu mengaduk-aduk isi kotak untuk mencari sesuatu barang. “Ayah ingin...ayah ingin...”, jerit Tamaki sambil bercucuran air mata (tentu saja hiperbolis). Tak beberapa lama kemudian, ia menunjukkan sebuah pigura super besar yang ternyata adalah foto Haruhi waktu SMP – kala itu rambut Haruhi panjang sebahu. “Ayah ingin sekali melihatmu saat kau seperti ini!”, jerit Tamaki masih berlinangan air mata dalam keputus asaannya. “Jangan merekayasa foto orang lain tanpa seizin pemiliknya!”, Haruhi meledak jengkel. Apa pasal? Ternyata foto Haruhi dalam pigura itu sudah mengalami proses photoshop-ing. Tamaki menambahkan mawar pink dimana-mana (Ya ampun!).

Tamaki memamerkan foto Haruhi dalam pigura dengan gerakan pasrah dan berlutut. Anggota Host Club yang lain berkumpul di sekeliling Tamaki. Hikaru berkomentar tentang foto Haruhi, “Makin lama dilihat, aku makin terpesona”. Haruhi tak berkomentar dan ada sweat-drop di kepalanya. “Kenapa ‘ini’ bisa jadi ‘itu’ sih?”, Hikaru terheran-heran. ‘Ini’ merujuk pada foto Haruhi saat SMP yang berambut panjang dan berpakaian sailor yang tampak manis, sedangkan ‘itu’ merujuk pada foto Haruhi saat pertama kali masuk ke ruangan Host Club dengan pakaian seadanya, rambut potongan sembarangan dan kacamata kuno (baca episode 1).

Anggota Host Club yang lain langsung menoleh pada Haruhi minta penjelasan. Haruhi lalu menceritakan kejadian mengapa hal itu terjadi. Ternyata satu hari sebelum hari pertama masuk sekolah, salah seorang anak tetangga menaruh permen karet di rambutnya. Selanjutnya karena Haruhi merasa kesulitan membersihkannya, ia lalu memotong rambutnya sendiri. “Ore to shite wa otoko ni mirarete mo betsu ni dou demo ii shi... ‘Aku’ sih nggak masalah dikira anak cowok”, terang Haruhi lancar. Tamaki menangis tragis dan meledaklah air matanya. “ANAK PEREMPUAN NGGAK BOLEH PAKAI ‘ORE’!!!”, ledak Tamaki histeris. “Okaasan, Mom, Ibu, Haruhi menggunakan kata-kata kasar”, rajuk Tamaki pilu. Ia berlulut tak berdaya di samping Haruhi dan menutup mukanya dengan saputangan putih. Haruhi hanya berekspresi muka seakan-akan mengatakan “cih” saja. “Okaasan? Ibu?”, heran Kaoru. “Dilihat dari posisinya, kayaknya itu aku deh!”, tukas Kyouya. Anggota Host Club yang lain melihat drama panggung itu dari jarak aman serangan Tamaki.

“Habisnya, kan aku harus membayar hutangku sebelum lulus dari sini, jadi mendingan jadi host dan melayani klien daripada menjadi pesuruh saja, kan?”, Haruhi memberikan argumennya. Di episode 1, Haruhi awalnya memang menjadi pesuruh di Host Club. “By the way, kamu punya pengalaman berdansa? Kan itu suatu keharusan saat pesta nanti!”, tanya Hikaru mengalihkan topik pembicaraan. Haruhi langsung ber-HEE panik. “Tapi—pesta nggak ada hubungannya dengan hutangku kan? Aku nggak tertarik dengan event seperti itu dan sebenarnya, aku ingin absen dari—”, Haruhi beralasan dengan kepala dimiringkan dan wajah berpeluh. Tamaki langsung mendapat ide dan bangkit dari tangis bombay-nya. Dari arah belakang Haruhi, dengan mata berkilat jahat (?) yang membuat Haruhi merinding, Tamaki sekali lagi bermonolog, “NO, dansa ballroom adalah pengetahuan yang biasa bagi gentleman”. Dengan latar belakang berpetir-petir, Tamaki mencerocos, “Jika kamu ingin memilih jalan sebagai host, tunjukkan padaku keseriusanmu kali ini, Haruhi-kun. Jika kamu tidak mampu menguasai waltz dalam waktu seminggu ini dan tidak dapat menunjukkannya pada pesta nanti, kamu harus membuka jati dirimu sebagai cewek dan diturunkan jadi pesuruh Host Club”. Tamaki menunjuk Haruhi dengan telunjuk tegas dan final. Haruhi tak dapat membalas pernyataan Tamaki. Ia segera menyadari mimpi buruk yang akan dialaminya (sebagai murid dengan hutang besar!).

Keesokan harinya, saat jam Host Club buka, musik waltz terdengar sayup-sayup. Ternyata Haruhi sedang diajari Kasugasaki-hime dansa waltz. “Quick, quick, slow”, kata Kasugasaki memberi aba-aba pada Haruhi. Tamaki mojok suram tetap dengan pose narsisnya, meski auranya gloomy, ia tetap tidak ingin tampak menyedihkan. Matanya menatap lantai dengan pandangan redup. “Quick, quick, slow. Very-nice, Haruhi-kun”, sambung Kasugasaki lagi. Haruhi mengikuti petunjuk Kasugasaki belepotan dan muka nyengir tidak jelas. Gerakan Haruhi masih kaku ternyata. Di latar belakang tampak Mori dan Honey berdansa sekenanya (mereka berputar-putar dihiasi kelopak mawar berguguran tertiup angin). Pasangan ajaib yang berprinsip my-pace! “Letakkan kakimu bersama saat slow”, tuntun Kasugasaki lembut. Haruhi yang berwajah kesusahan berusaha keras mengikuti petunjuk Kasugasaki, huahaha! “Gentleman yang harus memimpin dansa ini, wanita tinggal mengikuti, makanya perhatikan partnermu.”, terang Kasugasaki. Pasangan ajaib Mori-Honey masih tertawa-tawa di latar belakang sambil berputar-putar (yang tertawa cuma si Honey sih!). “Hai..”, jawab Haruhi lemah. Adegan kembali pada Tamaki yang berpose pangeran kesepian, lalu ke Haruhi-Kasugasaki lagi. Mereka berdua jatuh. Haruhi menindih Kasugasaki dan tampak sebagai adegan shoujo manga yang romantis. Wajah mereka dekat. “I’m so sorry, Kasugasaki-san”, cetus Haruhi buru-buru dengan wajah memerah. Kasugasaki meraih leher Haruhi dan malah semakin mendekatkan wajah mereka. “Nggak papa, Haruhi-kun”, kata Kasugasaki tenang. Adegan kembali pada Tamaki yang tetap berpose seperti itu dalam jangka waktu beberapa saat lalu.

“Our Lord is looking gloomy”, cetus si kembar berbarengan, dengan suara yang dapat didengar Tamaki. “Aku dengar ia pengin jadi partner latihan dansa Haruhi”, kata Hikaru pada Kaoru. “Kan nggak mungkin jadi partner ceweknya Haruhi karena tinggi badannya?!”, sambung Kaoru ikutan jahil. (Di manga, bukan di anime, ada tambahan bahwa Mori adalah partner wanita Honey ketika berlatih dansa, dan Mori asik-asik aja. Ditanggapi si kembar: kalau kalian sih memang tidak perlu dipertanyakan! Huahaha!!!).

Setelah sesi latihan selesai, Haruhi meminta maaf lagi pada Kasugasaki. “Sori, memintamu menjadi partner latihanku...”, terang Haruhi. Kasugasaki sudah duduk pada salah satu set kursi dengan peralatan minum teh berwarna hijau ceria. Ia mengelap peluhnya. “Ara! Aku nggak keberatan ko! Aku dengar kamu nggak bisa menerima tamu karena latihan intensif. Aku malah merasa senang soalnya aku bakalan bisa memonopoli waktumu yang sekarang kan”, jelas Kasugasaki dengan pandangan (yang mungkin cukup) seduktif. Haruhi memandang Kasugasaki dan hanya ber-aaa.

Kyouya sudah berada di jarak bicara ketika Kasugasaki tiba-tiba mengatakan, “Oh, my, apakah ini cangkir yang baru? Ginori, kan?”. Kepala Haruhi dipenuhi sweatdrop karena tidak mengerti. “Ginori?”, tanyanya tak mengerti. Ginori adalah set peralatan minum teh yang didesain oleh Richard Ginori, sedangkan Haruhi menginterpretasikannya sebagai rumput laut bumi (Ji=earth, nori=seaweed; huahahaha!!). “Oh, anda mempunyai analisis seorang ahli. Mereka baru datang kemarin”, kata Kyouya memuji. Kasugasaki memandang cangkir Ginori dengan bahagia. Ia mengangkat cangkirnya dan mengamatinya dengan teliti. “Klub kami berusaha memperbaharui koleksi set minum teh”, terang Kyouya lebih jauh. Tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir Ginori, Kasugasaki berkomentar, “Begitu ya. Cangkir ini warnanya indah. Sangat cantik”. Ia mengelus sayang cangkir itu. Tamaki yang sedari tadi berpose kesepian yang entah diperhatikan entah tidak, langsung tertegun mendengar komentar terakhir Kasugasaki. Sebenarnya sejak tadi Tamaki ada di ujung ruangan, duduk di dekat jendela dengan pose kaki kanan ditekuk dan menopang tangan kanannya. Arah pandangan 15 derajat ke arah lantai. Tamaki teringat sesuatu. “Kau menyukai tableware ya?”, celetuk Haruhi senang. Kasugasaki tergagap-gagap menjawabnya, “Bi-bi-bi-bi-biasa aja kok”. Ia segera meletakkan cangkir Ginori ke tatakannya dengan agak terburu-buru. Wajahnya merah padam dan salah tingkah. “Ap-apa yang kamu katakan?”, tukasnya tidak jelas. Haruhi hanya nyengir dan dalam hati berkata, “Oh, dia benar-benar menyukainya. Tapi...kenapa ia harus menyembunyikannya ya?”. Untuk beberapa saat, suasana hening. Kasugasaki hanya mengelus-elus cangkirnya yang sudah diisi teh. Dari belakang, terdengar suara.

“Konnichiwa, selamat siang, saya membawa cangkir teh yang Anda pesan”, kata suara itu. Kasugasaki terperanjat dengan warna suaranya. Ia mengenali dengan baik si pemilik suara itu. “Ah, arigatou”, kata Kyouya menyambut tamunya. “Set peralatan yang kau pilihkan untuk kami diteima dengan baik oleh klien-klien kami. Kau benar-benar ahli”, lanjut Kyouya memuji tamunya dengan senyum bisnis seperti biasa. Tamunya ternyata seorang lelaki dengan sweater berwarna gading dan menenteng sebuah kotak berisi satu set cangkir teh. “Aku senang mendengarnya”, sambut tamu itu, tersenyum. Haruhi mendekati tamu yang baru saja datang sambil melontarkan pertanyaan polos, “Apakah seseorang dari perusahaan?”. Kasugasaki mendengarkan sambil tetap menatap cangkirnya. “Aku cuma murid sini kok. Aku pakai seragam kan?”, jawab tamu tersebut. Haruhi menerima kotak cangkir itu.

Kasugasaki mendadak tertawa canggung yang langsung mendapat perhatian Haruhi, Kyouya dan lelaki pengantar set cangkir itu. “Haruhi-kun orang yang menarik ya!”. Mereka bertiga memandang Kasugasaki yang tiba-tiba berkomentar, “Tapi, nggak heran juga sih. Dia nggak kelihatan seperti penerus perusahaan kelas satu”. Kasugasaki sekarang sudah menggeser duduknya sehingga ia menghadap ke arah mereka bertiga. Cowok itu lalu tertegun dengan komentar Kasugasaki. “Penerus?”, tanya Haruhi bengong. Kyouya – seperti biasa – menjelaskan pada semuanya bahwa tamu yang mengantarkan satu set cangkir tadi sebagai Suzushima. Keluarganya, Perusahaan Perdagangan Suzushima, terutama bergeark di bidang eksport dan import peralatan makan dan minum keramik, dan saat ini, merekalah yang menguasai pasar di Jepang. Intinya mereka itu nomor satu”. Kasugasaki yang merasa tidak enak sendiri, berhenti menatap Suzushima dan mengalihkan pandangannya ke bawah. Haruhi memandang kotak kuning yang berlabel Suzushima – yang isinya set minum teh pesanan Host Club. Suzushima masih memandang Kasugasaki seperti orang yang bingung ingin minta penjelasan. “Jadi, aku meminta dia untuk mengantarkan pada kita beberapa barang jika perusahannya mengimpor”, lanjut Kyouya. Haruhi mengerling pada Suzushima yang masih memandang Kasugasaki. Lalu bergantian, ia memandang ke arah pandangan Suzushima yang sedang memandang Kasugasaki. Kasugasaki kini kembali ke posisi duduknya. Ia memunggungi mereka bertiga lagi. “Aku sangat mempercayai matamu, Suzushima-kun”, puji Kyouya pada Suzushima. Lelaki itu lalu kembali berkonsentrasi pada Kyouya dan tersenyum lemah seraya berkata, “Oh, tidak, mataku belum sebagus itu kok”. Kasugasaki menunduk semakin dalam. Ia bersedih. “Aku dengar, kamu bakalan sekolah ke Inggris mulai bulan depan ya?”, tanya Kyouya, tetap ingin menyambung topik. “Yes. Kalo begitu, saya pamit dulu”, jawab Suzushima pelan. Tea set berputar dengan sosok gadis memunggungi dan latar belakang gelap ditayangkan. Ternyata gadis itu adalah Kasugasaki yang memandang punggung Suzushima yang berjalan menjauh. Suara pintu ditutup.

“Menikmati waktumu di Host Club?”, tanya Tamaki tiba-tiba. “Eh?”, Kasugasaki terbengong dengan pertanyaan Tamaki yang tiba-tiba. “Apakah kamu dekat dengan orang yang barusan?”, tanya Haruhi ingin tahu sambil menjinjing boks tea-set tadi. Sekali lagi, Kasugasaki langsung memerah dan tergagap-gagap menjawab, “He? Ka-ka-ka-ka-kami nggak dekat kok”. Ia buru-buru menambahkan, dan makin salah tingkah, “Aduh, Haruhi-kun ngomong apaan sih?”. Haruhi langsung mengambil kesimpulan kalau Kasugasaki memang kenal atau setidaknya tahu dengan Suzushima yang barusan. “Saya pamit dulu ya, buat hari ini. Take care”, kata Kasugasaki seraya segera melangkah keluar dari ruangan Host Club. Tamaki dan Haruhi memandang kepergian Kasugasaki dengan diam. Dari arah tak diduga, Honey berteriak dan langsung memeluk Haruhi.

“Haru-chaan~~”, serunya riang. Ia memeluk Haruhi dari belakang dan langsung piggy-back-ing di punggung Haruhi, sesuatu yang membuat jantung Haruhi melompat. (Bukan karena Haruhi naksir Honey atau apa, tetapi lebih karena boks tea-set mewah yang masih dipegang Haruhi itu harganya super mahal dan Haruhi tidak mau hutangnya bertambah lagi hanya karena ia menjatuhkan dan merusaknya lagi – end of reviewer’s analysis). Setelah menyeimbangkan posisinya, Haruhi baru bisa bernafas lega. Ia berkali-kali mengambil nafas panjang. “Apakah kamu tahuu~~?”, lanjut Honey dengan muka innocent-nya. “Suzushima-kun adalah tunangannya Kasuga-chan”, Honey meneruskan kalimatnya. Haruhi tertegun mendengar informasi baru tersebut. Tamaki melipat kedua tangannya, “Kyouya, sejak kapan kamu tahu hal ini?. Kyouya balik bertanya, “Maksudmu tentang urusan tunangan ini?”. “Tentu saja, aku sudah menginvestigasi semua pelanggan kita”, terang Kyouya sambil membuka halaman demi halaman map saktinya. Ia lalu menjelaskan, “Mereka berdua itu teman sejak kecil dan pertunangan keduanya ditentukan oleh kedua orang tua mereka. Informasi ini tidak berguna bagiku jadi aku hanya mengabaikannya”. Kyouya mengakhiri penjelasannya sambil mengalihkan pandangan ke Tamaki. “Omae na..kamu ini ya..”, komentar Tamaki pelan.

Kyouya lalu membuka halaman investigasinya lagi dan memberikan data hasilnya. “Suzushima Tohru. Level akademik memuaskan, kedudukan sosial keluarga biasa-biasa saja, wajah standar, poin kuatnya hanya kepribadiannya yang serius. Kalau mau ambil aspek jeleknya sih...”, terang Kyouya mengambang. Si kembar melengkapi penjelasan Kyouya dan mengangkat tangan, “Dia tidak memberikan kesan yang kuat...”, si Hikaru angkat bicara. “Dia lemah”, sambung Kaoru. “Dengan kata lain, dia itu membosankan. Laporan selesai”, simpul Kyouya akhirnya. Ia menutup mapnya. Kepala Haruhi dipenuhi sweatdrop dan dalam hati bergumam, “Dia nggak punya rasa kasihan kalo sama cowok ya”. “Tohru-kun orang yang baik kok, kan?”, kata Honey yang sekarang nangkring di bahu Takashi. Mori yang berwajah datar memberikan komentar datar, “Ya”, sambil tetap berwajah datar. Lalu sang drama queen merencanakan sesuatu.

“Kalo gitu, ayo kita bikin rencana”, cetus Tamaki serius. “Buat apa?”, tanya anggota yang lain serempak, bingung. Raja narsis itu lalu berapi-api mengobarkan idenya (jangan lupa lagu iringan “Simfonietta C-dur” yang bersemangat dan percikan-percikan glitter mengiringinya), “Kita, Host Club Ouran, ada karena untuk membawa kebahagiaan bagi para gadis-gadis!”.

Satu minggu kemudian. Senja berwana jingga telah berganti dengan langit abu-abu dan keperakan melatarbelakangi bangunan utama Ouran. Sakura tengah mekar-mekarnya. “Kepada semua anak-anak kucing yang telah berkumpul disini malam ini, pada pesta dansa Ouran Host Club, Selamat datang”, salam Tamaki pada seluruh hadirin yang ada di ruangan itu. Tamaki ada di balkon dan layaknya tuan rumah yang menjamu tamu-tamunya, ia membungkuk memberi salam. Tamaki mengenakan set baju berwarna putih dan vest berwarna violet cerah. Saat itu, ia adalah satu-satunya orang yang disorot spotlight. Satu persatu, lampu kristal menyala dan gesekan biola mengalun mengiringi pesta dansa itu. Semua gadis yang datang sudah berganti dengan baju pesta berwarna-warni. Mereka bertepuk tangan dengan sambutan Tamaki yang memang selalu heboh. Kyouya yang memakai setelan jas hitam buntut dan dasi ungu menambahkan, “Kami semua mengharapkan kalian semua menikmati berdansa dengan semua anggota Host Club”. Honey mengenakan setelan berwarna gading dan dasi merah marun, sedangkan Mori yang ada di samping luarnya mengenakan setelan hitam dan kemeja putih berlipit-lipit dengan dasi pita berwarna biru yang disilangkan Haruhi yang terbelalak dengan kehebohan malam itu (atau memang dia bermata sebesar itu) mengenakan setelah berwarna merah marun dan dasi berwana ungu (mungkin pinjaman?!). Si kembar malam itu tampil dengan setelan berwarna kuning gading dengan rompi kotak-kotak dan dasi pita berwarna hijau botol yang kembar. “Dan bagi para gadis yang menunjukkan dansa terbaik malam ini, yang akan terpilih menjadi ‘queen’ malam ini, akan menerima ciuman hangat di pipi dari ‘king’ kami “, jelas Kyouya lagi. Tamaki tampak berpose sedemikian rupa dan langsung berkata, “Do your best, baby”, ia mengakhiri satu kalimat saktinya dengan mengedipkan salah satu matanya. Latar belakang berganti menjadi mawar merah segar yang berkilauan. Teriakan dan jeritan histeris KYAAA~~~ langsung pecah di malam itu. Hati merah muda melayang-layang di angkasa. Bahkan ada beberapa yang pingsan mendengar pernyataan Tamaki barusan.

Masih dengan hati merah muda yang berhamburan, Haruhi malah tampak suram. Si kembar mengapitnya dan menukas bersamaan, “Haruhi, kok kamu nggak tampak antusias”. “Aku ngak terbiasa dengan event semacam ini”, cetus Haruhi masih dengan suara datar. “Sejauh yang aku ketahui, pesta dansa yang pernah kuikuti adalah perayaan bon-odori”, lanjut Haruhi dengan tampang yang tidak jelas. Bon odori adalah festival dengan tarian di musim gugur untuk menyambut arwah yang kembali satu tahun sekali. Adegan berganti dengan tulisan festival pada lampion merah diiringi genderang. “Kalau aku sih mungkin nggak bakalan menganggap itu sebagai pesta dansa”, komentar Kyouya sambil mencatat ini-itu pada mapnya. Honey – yang nangkring di bahu Takashi – dan Takashi memperhatikan ke arah map yang dipegang Kyouya.

Kyouya lalu mengalihkan perhatiannya sekejap ke Haruhi dan berkata, “Well, minimal kamu merasakan makanan yang disediakan disini. Semua ditraktir gratis”. Wajah Haruhi langsung berubah. “Ditraktir? Misalnya Ootoro”, katanya dengan muka malu-malu. (ootoro adalah sushi dengan lapisan lemak daging tuna yang memang mahal). Mendengar itu, semua anggota Host Club kaget seperti tersembar petir. Pena yang digunakan Kyouya untuk menulis sampai patah saking Kyouya tidak mempercayai pendengarannya. Honey membelalakkan matanya dan mengeratkan cengkeramannya pada Mori. Mori tak kalah herannya dan berwajah seperti ingin melakukan sesuatu. Si kembar berwajah sama persis dengan mimik devilish. Dan Tamaki akhirnya berpose sama sekali tidak prince-like. “Ootoro!”, seru mereka semua berbarengan. Tamaki langsung melompat dari balkon dengan gerakan senam anggun dan mendarat. Honey dan Mori mendekati Haruhi, memandangnya dengan pandangan kasihan. Tamaki segera memerintahkan Kyouya untuk segera memesan beberapa sushi ootoro ASAP. Kyouya yang sudah sangat sigap sudah memencet nomor di hapenya dan menghubungi pihak terkait, “Tambahkan beberapa sushi premium!”. Haruhi yang wajahnya sudah dapat disamakan dengan kepiting rebus dengan perasaan jengkel-malu setengah mati, diapit oleh si kembar yang memeluknya bersamaan. Mereka – yang bercucuran air mata – meng-cuddle Haruhi seraya berulang kali berkata, “Anak yang malang-anak yang malang”. Sesuatu yang membuat Haruhi mengumpat dalam hati, “Dasar orang kaya sialan!”.

Musik masih terus mengalun. Lampu-lampu kristal dengan indahnya menerangi aula utama Ouran. Pada anggota Host Club sudah melantai semuanya. Mereka berdansa bergantian dengan para klien mereka. Haruhi berdiri menyandar pada sebuah pilar. Dua orang klien Haruhi mengintip dari balik pilar itu, sepertinya menunggu kesempatan untuk mengajak Haruhi berdansa. Dengan suara pelan-pelan dan malu-malu, mereka berkata, “Umm?” pada Haruhi. Selama sepersekian detik bersamaan dengan dua orang klien Haruhi tersebut, sebuah suara familiar menyapanya, “Haruhi-kun!”. Dua orang klien Haruhi langsung ngumpet di balik pilar. Ternyata si pemilik suara itu adalah Kasugasaki. Malam itu, Kasugasaki memakai gaun one-piece bertali berwarna biru laut dengan selendang berwarna lebih muda yang dililitkan pada kedua tangannya. Haruhi menoleh mencari asal sumber suara tersebut. “Aku sudah mencarimu kemana-mana. Maukah kau berdansa denganku?”, lanjut Kasugasaki. Haruhi bangkit dari bersandarnya dan mengulurkan tangannya kepada Kasugasaki. “Ya, tentu saja”, jawab Haruhi singkat seraya tersenyum. Kedua klien langganan Haruhi hanya bisa patah hati melihat adegan itu. Tak beberapa lama kemudian, Honey berceletuk pelan, “Kasuga-chan udah datang tuh~~”. Mori memunculkan kepalanya ke layar dan melihat sekelilingnya. Tamaki lalu memerintah tanpa mengalihkan perhatian dari partner dansanya, “Kalau begitu, jalankan misi kita”. Haruhi menuntun Kasugasaki ke tengah ruangan, mengambil tempat untuk berdansa. “Roger!”, jawab Honey dan Mori singkat.

Belum sempat berbuat apapun, tampak dua bayangan hitam berkelebat menerjang Haruhi dan membawanya terbang entah kemana. (Kalau kita menyetel anime dengan kecepatan setengah atau seperempat kecepatan asli, maka akan terlihat kalau dua bayangan itu adalah Honey dan Mori dengan mata berkilau seperti elang yang berlari dengan kecepatan cahaya (?) dan memanggul Haruhi menjauhi aula utama). Kasugasaki terlongong-longong dan tanpa dapat berbuat apapun, hanya bisa bermuka cengok dan berkomentar, “A-pa i-tu? Penculikan?”. Tamaki melipat kedua tangannya dan tersenyum simpul sambil melirik (mirip tokoh yang merasa superior karena rencananya sukses!).

Sebuah pintu menjeblak terbuka. Di dalamnya, Kyouya sudah tersenyum-senyum di depan ruangan bertirai. Si kembar juga sudah menanti. Hikaru membawa sebuah buntelan didampingi adiknya, Kaoru. Honey menyeruak masuk, melompat-lompat ringan seperti kelinci. “Here she comes”, cetus Kaoru. Mori membawa Haruhi seperti membawa guling saja. Ia memanggul Haruhi ringan di bahunya. Mori lalu meletakkan Haruhi ke lantai. Haruhi lalu berkata, “Kalian nggak perlu maksa gitu kan--“. Sebelum Haruhi melanjutkan kalimatnya, Hikaru sudah menyerahkan buntelan yang dia bawa pada Haruhi dan menyuruhnya untuk memakainya. “Wah, urusan amat, udah, cepetan ganti dengan pakaian ini”, potong Hikaru seraya menyerahkan gaun pada Haruhi. Honey lalu mendorong Haruhi ke ruangan bertirai itu. Haruhi hanya memandangi bungkusan di tangannya dan segera berganti baju. Di luar, Kyouya menjelaskan rencana yang akan dijalankan, “Kecelakaan (yang tidak disengaja) di akhir akan menghangatkan sesuatu”. Honey berantisipasi dengan wajah berbinar-binar. Mori dengan wajah datarnya mendengarkan rencana itu dengan seksama. Si kembar berpose sama tersenyum nyengir. Kyouya lalu melihat jamnya dan berkata, “Dengarkan, Haruhi, batas waktumu adalah dua puluh menit sebelum puncak acara pesta ini. Kita udah memanggil Suzushima ke ruang kelas yang telah direncanakan”.

Selagi Kyouya mengulang kembali rencana mereka yang sudah dibicarakan sebelumnya, Haruhi mengenakan pakaiannya. Gaun yang dikenakan Haruhi adalah gaun one-piece berwarna pink dengan tali spagetti, corsase bunga di bagian dada dan setengah bagian bawah gaun. Haruhi mengenakan wig hitam yang sangat mirip dengan model rambutnya saat SMP. “Pastikan dia mengatakan perasaan yang sebenarnya ya?”, tambah Honey. Aneka peralatan rias lengkap dijembrengkan. Ternyata semua itu milik Hitachiin bersaudara (sebenarnya ibu mereka berdua adalah desainer baju. Baju yang dipakai Haruhi pun adalah rancangan ibu si kembar). Si kembar mendandani Haruhi. “Kami sebenarnya tidak begitu yakin karena ini adalah rencana strategi ‘our lord’ sih”, kata Hikaru-Kaoru berbarengan. Si kembar selalu menyebut Tamaki dengan julukan ‘lord’. Kyouya, Honey dan Mori memperhatikan Hikaru dan Kaoru merias Haruhi. Pintu menjeblak terbuka lagi.

“Hey, gimana sih, masa semuanya ada di sini? Siapa yang melayani tamu-tamu kita-“, kalimatnya tidak pernah selesai karena Tamaki tiba-tiba terpesona. Kelopak mawar beterbangan. Ia menyadari sesuatu hal yang tampak lain di dalam ruangan itu. Satu-satunya sosok yang tampak berbeda dengan awal saat acara pesta dansa itu dimulai. Lewat kaca, Tamaki dapat melihat sosok Haruhi yang telah berganti dengan gaun pink. Haruhi bangkit dari duduknya dan menoleh ke belakang ketika melihat Tamaki membuka pintu ruangan. Latar belakang berganti dengan mawar merah segar berkilauan yang biasanya menjadi background si ‘drama queen’. Tamaki terus menerus terbius dengan sosok di depannya. Tampak semburat kemerahan di pipinya (mungkin untuk beberapa lama karena Tamaki berubah menjadi tolol, dan tidak berkata-kata apapun). Latar belakang masih menunjukkan Haruhi dengan mawar-mawar merah yang beterbangan. Pintu tertutup. Tamaki masih bengong di tempat, tak berkata apapun. Si kembar datang mengapit Tamaki dari arah yang berlawanan. Mereka nyengir lebar karena merasa berhasil membuat Tamaki speechless. Seraya bergurau, mereka berbarengan berceletuk, “Gimana menurutmu, my lord?. Honey memuji, “kamu imut banget, Haruhii~~”. Kyouya tersenyum pyas sedangkan Mori tak berkomentar apapun. Mereka melepas kepergian Haruhi menjalankan misi yang telah direncanakan masak-masak (?). haruhi berjalan seperti mesin yang kekurangan pelumas, kaku dan patah-patah. Ia mengeluh. Wajahku rasanya berat. Aku nggak bisa jalan dengan sepatu ini”. Oh, ternyata dia mengenakan high-heels ya?! “Ayo berjuang demi yang terbaik!”, seru si kembar sambil nyengir lebar sekali ketika Haruhi yang berjalan seperti Pinokio yang belajar melangkah menyusuri koridor Ouran menuju ruang kelas yang telah dipesan sebelumnya. Xixixi... Tamaki masih dengan wajah malu-malu tapi mau (atau tololnya) berkomentar, “D-d-d-dia imuuut bangeet!”. Kyouya dan Mori tidak berkata apapun, sedangkan Honey tersenyum lebar.

Sakura-sakura yang bermekaran bertengger pada ranting-ranting berwarna coklat. Tampak seorang anak laki-laki memandanginya. Ia ternyata adalah Suzushima Tohru. Ia sudah berada di ruangan kelas. Haruhi masuk ruangan kelas yang gelap itu. Suzushima langsung menanyakan, “Apakah kamu yang menulis surat ini?”, seraya menyodorkan lembaran kertas surat itu. “Kamu beda banget dengan yang aku bayangkan”, lanjut Suzushima. “Surat?”, tanya Haruhi tidak mengerti. Haruhi lalu membaca isi surat itu. Ternyata surat itu ditulis dengan tinta pink dan jelas-jelas adalah surah cinta. Beginilah isinya: Love-love! Sejak pertama kali aku melihatmu, hatiku sudah super love-love! Seperti angin puyuh abadi dan badai yang tak kunjung selesai, hatiku pun berputar-putar dengan angin LOVE! Aku ingin sekali bertemu denganmu di kapal Nuh looooh~~~ (akhir dari surat). >_<; (self-detonate).

Haruhi – yang tentu saja ber-sweat drop di kepalanya – bertanya-tanya dalam hati, “Siapa..yang menulis surat ini...”. Di layar ditampakkan pelaku yang sesungguhnya, yaitu, Kyouya dan Hitachiin brothers!. Nggak heran siy. Selagi Haruhi berspekulasi dalam pikirannya sendiri, Suzushima sepertinya sedikit menyadari bahwa Haruhi sepertinya mirip dengan seseorang yang pernah ia jumpai sebelumnya. Haruhi langsung panik dalam hati dan buru-buru berkata dengan suara paling imutnya, “Bukan, ini adalah kali pertama aku berbicara denganmu. Ahaha...”. “Maaf ya...”, kata Suzushima pelan. Haruhi menghentikan tawa canggungnya. “Meskipun kamu telah memberiku surat ini, tapi aku tidak dapat membalas perasaanmu”, kata Suzushima lagi. Kelopak sakura mulai berguguran tertiup angin. “Ada seorang gadis yang sudah mengambil hatiku”, lanjut Suzushima tanpa memandang Haruhi. “Gadis itu...”, ujar Haruhi, mengambang. “Zannen dakara, dia bukan pacarku. Sebenarnya, dia pasti sudah capek denganku”, tukas Suzushima. Langit berwarna abu-abu dengan kelopak sakura yang makin banyak berguguran menghiasi penjelasan Suzushima. “Aku pikir, dia lebih cocok dengan laki-laki yang lebih percaya diri dan tangkas”, jelas Suzushima sambil menerawang. Haruhi mendengarkannya.

Tak jauh, di tempat lain. “Where exactly are you taking me?”, tanya Kasugasaki penasaran karena Tamaki membawanya menjauh dari aula utama tempat pesta dansa saat ini berlangsung. “Aku berpikir kamu tidak cocok dengan tindakanmu sebelumnya”, kata Tamaki tanpa menjawab pertanyaan Kasugasaki. “Apa maksudmu?”, tanya Kasugasaki pelan. Kelopak sakura tetap berguguran, menari-nari diterbangkan angin. “Tidak peduli berapa banyak kau mencoba untuk mendapatkan perhatiannya, dengan cara mencoba-coba semua host, kamu lebih bahagia saat kau memandang cangkir teh. “, tutur Tamaki dengan suara yang luar biasa tenang dan lembut. Tampak adegan Kasugasaki mengelus cangkir Ginori dengan sayang. Kasugasaki terkesiap dan teingat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Start of flash-back – tampak sebuah rak yang berisi bermacam-macam cangkir teh yang tersusun dengan cantiknya. Seorang anak laki-laki dan anak perenpuan sedang mengamati cangkir-cangkir itu dengan wajah berseri-seri. Si anak laki-laki yang tak lain adalah Suzushima Tohru keecil, memanjat sebuah kursi dan memandangi isi rak itu. Dari arah berseberangan, Kasugasaki Kanako kecil juga mengikuti jejak Suzushima, ia memanjat sebuah kursi. “Lihatlah itu, Kanako”, seru Suzushima riang. “Wow, cantik!”, puji Kasugasaki. “Yang ini Wedgwood, terus Foley, lalu Worcester, yang disini Ginori, disitu Meissen. Karena Kanako adalah istriku, jadi akau akan mengajarimu semuanya. Okay?”, jelas Suzushima dengan wajah berbinar-binar. Kasugasaki memandang Suzushima dari kaca rak tembus pandang dan mengangguk dalam, “Okay”. –End of flash back.

“Hentikan itu”, ujar Kasugasaki pelan. “Tidak peduli apapun yang aku lakukan, dia tidak peduli sama sekali. Begitu juga dengan soal sekolah ke luar negeri ini, dia memutuskannya sendiri sebelum aku mengetahuinya”, lanjutnya setelah selesai bernostalgia dengan kenangan itu. Setting tempat berpindah.

“Jadi, aku ingin berubah juga. Aku ingin melihat dunia, menjadi lak-laki yang lebih baik. Aku tahu ini kedengarannya egois, tapi aku berharap dia dapat menungguku, terang Suzushima lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Haruhi. “Ha–memang egois banget ya”, komentar Haruhi apa adanya. Sebuah tanda panah menusuk Suzushima. Kata-kata Haruhi menancap banget! “Meminta dia mengerti tanpa mengatakan hal itu padanya benar-benar tidak beralasan”, ucap Haruhi melanjutkan. Terdengar suara sepatu mendekati ruangan kelas itu. Suzushima tertegun mendengar penuturan Haruhi. “jika kamu mempunyai perasaan kuat terhadapnya, kenapa harus menunda untuk mengatakannya? Pada saat kau ingin berubah, sebenarnya kamu sudah berubah, menurutku”, lanjut Haruhi lagi. Kasugasaki memegang handle pintu sebuah ruangan, dan membuka pintunya tepat saat Suzushima hendak melihat lebih dekat wajah Haruhi. Suzushima berhenti bergerak untuk melihat siapa gerangan yang membuka pintu. Haruhi langsung menoleh melihat ke arah pintu juga. Di sanalah, berdiri Kasugasaki yang sepertinya sudah dikisiki Tamaki supaya pergi ke ruangan tertentu karena ia akan melihat kejutan (Wah, Tamaki ini ya!), terkejut dengan apa yang ditemukan di dalam ruangan itu.

Tak dapat berkata apapun saking shock-nya, Kasugasaki hanya berdiri mematung untuk beberapa saat. Suzushima yang menyadari bahwa sosok di ambang pintu itu adalah Kasugasaki berceletuk, “Kanako”. Merasa dirinya disadarkan melalui panggilan nama depannya, Kasugasaki langsung menunduk dan meminta maaf, “Oh my, maaf, aku sudah lancang, rasanya aku sudah menginterupsi sesuatu”. Wajah Kasugasaki semakin tertunduk dan butiran-butiran bening menuruni pipinya. Ia lalu berlari menjauh dari ruangan itu. Suzushima tak perlu berpikir terlampau jauh, langsung mengejar Kasugasaki sambil memanggil namanya berkali-kali, “Kanako!!!”.

Haruhi keluar dari ruangan dan melihat kedua sosok yang berlari menjauh itu hilang dari pandangan. Tamaki muncul dari balik pintu (?!). Hah?! “Bukannya malah jadi lebih gawat tuh?”, tanya Haruhi pada Tamaki. “Dia keluar dan mengejarnya”, jawab Tamaki kalem. (Ha? Kok Haruhi sama sekali tidak kaget siy dengan kemunculan Tamaki dari balik pintu?). Haruhi tertegun, ia akhirnya mengerti. Ia tersenyum dan melirik pada Tamaki. “Host Club Ouran ada untuk membawa kebahagiaan pada para gadis, ya?, ucap Haruhi dalam hati. Tamaki tersenyum puas melihat taktiknya sukses besar.

Kasugasaki masih berlari-lari dengan Suzushima di belakannya terus mengejar. Suzushima akhirnya berhasil menangkap tangan Kasugasaki dan menghentikan larinya. Karena efek torsi sentripetal, Kasugasaki berhenti dengan poros kaki kirinya dan berputar menghadap Suzushima. Tangisnya belum reda. Saat itu juga, angin bertiup lembut dan empat buah lampu spotlight menaungi mereka berdua. “Selanjutnya, ladies and gentlemen...”, terdengar suara Tamaki dengan pengeras suara menggema dari aula utama Ouran. Kemudian, satu persatu, jendela-jendela dan pintu-pintu Victoria Ouran terbuka lebar, menampakkan semua tamu dan anggota Host Club yang hadir di malam itu. “...malam yang menyenangkan ini telah sampai pada lagu terakhirnya. Waltz terakhir dari kami didedikasikan pada pasangan ini”, lanjut Tamaki yang dikelilingi anggota Host Club yang lain. Ia mempersilakan Kasugasaki dan Suzushima untuk menjadi special couple. Si kembar entah mengapa sedang mengunyah pisang.

Suzushima lalu melepaskan tangannya dari Kasugasaki lalu ia memohon dengan suara yang serius, “Kasuga-hime, maukah berdansa denganku?”. Suzushima membungkuk lalu menawarkan tangan kanannya pada Kasugasaki. Si gadis terpana. Wajah keduanya memerah. Selama tiga detik, suasana hening, kelopak sakura masih berguguran. “Hai”, jawab Kasugasaki pendek, pelan tetapi pasti. Keduanya berdansa diantara kelopak sakura yang serasa ikut menari-nari merayakan bersatunya pasangan yang kembali dari krisis mereka. Para tamu yang hadir semuanya ikut senang. Anggota Host Club yang lain pun tersenyum gembira, tak terkecuali si Mori. Si kembar masih terus saja mengunyah pisang.

Pasangan itu berdansa waltz untuk beberapa saat. “Kimi ga suki da. I like you. Zutto suki datta. I’ve always had”, bisik Suzushima pelan. Sesuatu yang menambah warna pada pipi Kasugasaki. Ia memandang partner dansanya. “Let me propose to you again”, lanjut Suzushima. Mata Kasugasaki berbinar cerah. Ia menangis. Tapi kali ini tangis bahagia. Ia mengangguk sebagai jawaban. Tea set berputar dengan sosok gadis memunggungi dan latar belakang langit cerah ditayangkan. Tea set itu sekarang berputar dan gadis yang duduk di dalamnya tersenym senang.

Badai sakura terus menerus menghiasi malam itu. Kasugasaki memberikan narasi, “Malam ini, the host-wandering girl sudah tidak ada lagi”. Tamaki lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke samping. Takut kena seruduk, Haruhi membungkuk dan memandang Tamaki dengan tatapan datar seperti biasa. “Marilah kita restui pasangan ceroboh ini!”, usul Tamaki pada semua hadirin yang hadir.

Sebuah panah berwarna biru muda berkedip-kedip, panah itu menunjuk pada kulit pisang yang dibawa Hikaru, ia membawa mike dan mengumumkan, “Malam ini, ratu dansa terpilih adalah...”, disambung oleh Kaoru yang juga membawa kulit pisang dengan tanda panah biru berkedip-kedip, “...PrincessKasugasaki Kanako!”. Kasugasaki tentu saja terkejut. Hadirin yang hadir semua bertepuk tangan. Tamaki masih merentangkan kedua tangannya. Kasugasaki tersenyum pelan. “Selanjutnya, ciuman restu dari king...”, lanjut Hikaru lagi. Tamaki langsung berpose melipat kedua tangannya di dada dan kemudian satu tangannya memegang dagu. “Sudah satanya giliranku ya?”, kata Tamaki percaya diri. Haruhi kembali ke sikap berdirinya. Ia sudah memastikan Tamaki tidak akan tiba-tiba merentangkan tangannya lagi. Tanda panah itu masih berkedip-kedip, tetapi kulit pisang yang tadinya ditunjuk sudah tidak ada lagi. “..,sekarang diganti menjadi dari Fujioka Haruhi!”, sambung Kaoru lagi. Baik Tamaki dan Haruhi sama-sama kagetnya. Satu sama lainnya sama sekali tidak mengerti adanya pergantian skenario semacam itu. Si kembar nyengir jahil sambil mengangkat bahu tidak peduli. “OOII”, sergah Tamaki bingung. Ia memandang si kembar bergantian, berulang kali minta penjelasan. Haruhi hanya terlongong-longong dengan rahang tergantung. “Habisnya, Kyouya-senpai mengatakan ‘Kecelakaan (yang tidak disengaja) di akhir akan menghangatkan sesuatu’ gitu!”, kata si kembar 100% berbarengan.

Suzushima menyentuh pundak Kasugasaki memberi dukungan pada Kasugasaki yang masih tampak kebingungan. “Cuma di pipi kan?”, ujar Suzushima tenang. “Ayo, segera terima ciumanmu, sebagai memori bagimu lulus dari penyakit host-wandering”, lanjut Suzushima lagi. Semua tamu dan anggota Host Club memandang Haruhi. “Ini sudah terlampau jauh”, gumam Haruhi. Kyouya yang ternyata masih serius dengan map saktinya, segera berucap, “Aku akan memotong sepertiga hutangmu”. Haruhi yang mendengar kata-kata hutang (menuju) lunas segera tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima nasibnya. “Ya udahlah, Cuma di pipi juga”, pasrah Haruhi akhirnya. Tamaki ternyata ditahan kedua lengannya oleh si kembar. Haruhi menuruni tangga menuju Kasugasaki yang tengah menunggu ditemani Suzushima. Kasugasaki lalu melangkah pelan ke arah Haruhi. Tamaki tampak sudah kehilangan 70% nyawanya ketika Honey tiba-tiba mengatakan, “Ne-ne-ne, masak sih ini adalah ciuman pertamanya Haru-chan?”. Tamaki menukas, “Nani? APA?”. Wajah Kasugasaki memerah. Haruhi menyentuh wajah Kasugasaki. Ia menelengkan wajah Kasugasaki ke arah kanan. Di antara badai sakura, Kasugasaki menutup kelopak matanya perlahan. Haruhi akan mencium pipi kirinya. Jaraknya tinggal 3 sentimeter saja. Ketika...

Tamaki terbang dengan kecepatan jet dan berteriak, “Hentikan ciuman itu!!!”. Alih-alih menghentikannya, ia menginjak kulit pisang di salah satu anak tangga yang berakibat malah mendorong punggung Haruhi ke depan. Oh, jadi kesitulah kulit pisang si kembar tadi berakhir! Refleks Kasugasaki ingin melihat ada apa gerangan menggerakan wajahnya ke depan. Haruhi juga kehilangan sasarannya. Sebagai efek resultan gaya dorong yang diberikan Tamaki, ia terdorong ke depan. Dan terjadilah! Ciuman yang seharusnya terjadi di pipi, kiri malah mendarat di bibir keduanya! Dibingkai oleh mawar merah segar, ciuman itu berlangsung selama 7 detik (real run time!). Darah di wajah Tamaki sudah tidak ada lagi. Wajahnya lebih pucat dari mayat. Ia terjatuh telungkup tidak berdaya. Suzushima juga kaget. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kasugasaki dan Haruhi segera memisah setelah menyadari kecelakaan itu. Semua tamu ber-KYAA~~ melihat adegan itu. Sebagian senang sekali yang ditunjukkan dengan mata mereka yag berubah jadi hati merah muda dan sebagian lagi bercucuran air mata karena melihat Haruhi berciuman dengan Kasugasaki. Honey tersenyum lebar, Mori juga tersenyum, Kyouya melipat kedua tangannya dan tersenyum secukupnya sedangkan si kembar, nyengir jahil karena kali inipun, keisengan mereka berhasil dengan sukses.

Haruhi masih menyentuh bibirnya ketika di dalam hati ia berucap, “Meskipun aku memberikan ciuman pertamaku pada seorang gadis melalui serentetan peristiwa yang aneh, perasaanku malam ini rasanya bagus”. Tamaki di latar belakang sudah bercucuran air mata dan tak sanggup berkomentar apapun. Wajahnya sudah putih semua. Kasugasaki juga menutup bibirnya. Ketika memandang Suzushima, wajahnya bertambah merah. Suzushima hanya tersenyum saja. Tamaki masih tidak rela dengan adegan barusan dan meraihkan tangannya seakan ingin mencapai sesuatu yang tidak dapat ia raih kembali. “So everything is fine, I guess”, tutup Haruhi akhirnya. Ia tersenyum lebar. Badai sakura terus menghiasi akhir malam pesta dansa itu.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!