Saturday, 5 December 2009

PERAN ANTROPOLOGI FORENSIK DALAM KEDOKTERAN FORENSIK

Ada kalanya penyidikan dibebani kasus-kasus penemuan barang bukti dengan keadaan tidak lagi berupa tubuh yang lengkap, tetapi berupa rangka, sejumlah atau sebagian tulang-tulang atau bahkan sisa-sisa tulang.

Menghadapi keadaan demikian sepertinya halnya pada kasus-kasus yang lain, bantuan pelayanan kedokteran forensik yang diharapkan adalah identifikasi siapa korban dan keterangan-keterangan lain yang dapat mencakup mengenai saat dan cara serta sebab-sebab kematian dan sebagainya.



Pemeriksaan identifikasi tulang-tulang pada kasus yang sederhana, pada umumnya dapat dilakukan oleh setiap dokter atau mereka yang sudah berbekal ilmu anatomi dan osteologi. Tetapi untuk keadaan barang bukti yang sedemikian rumit dan memerlukan analisa khusus yang lebih kompleks, hasil yang lebih baik dapat diharapkan bila pemeriksaannya dilakukan oleh ahli dalam bidang antropologi, yang tidak hanya melayani kedokteran dorensik tetapi juga badan intelegensi, polisi, lembaga kriminologi dan lambaga-lembaga lain.

Peran antropologi forensik sepserti salah satu cabang antropologi khususnya antropologi ragawi dalam menunjang pelayanan kedokteran forensik adalah didasarkan pada kemampuan pemeriksaan antropologis untuk menilai dan merekonstruksi gambaran biologis individu manusia dengan rentang waktu mencakup manusia dari masa lampau hingga sekarang.


Dalam antropologi dikenal cara-cara pemeriksaan/ metoda, yaitu somatologi, baik berupa “pengamatan” (antroposkopi/ osteoskopi) dan “pengukuran” (antropometri/ osteometri), disamping antropologi gigi, antropologi bagian lunak, dermatoglyfi, seroantropologi, dan antropologi genetika. Dengan antroposkopi, barang nukti dapat dideskripsikan keadaannya, dengan antropometri, barang bukti dapat diukur formula indeks-indeks atau modulusnya dan sebagainya, demikian pula dengan cara-cara tadi sehingga dapat dinilai untuk merekonstruksikan keterangan-keterangan baik dari segi ciri-ciri maupun keadaan-keadaan lain yang berguna untuk penyidikan, baik dari populasi manusia hidup sisa manusia sekarang maupun manusia masa lampau.

Bantuan yang dapat diberikan melalui pemeriksaan antropologi ini, disebutkan dapat mencakup antara lain:
1. Keterangan-keterangan yang berkaitan dengan identitas korban/ barang bukti:
a. Apakah barang bukti merupakan manusia atau bukan.
b. Berapa jumlahnya, individu tunggal atau terdiri dari beberapa individu.
c. Apa jenis kelaminnya
d. Berapa umurnya
e. Apa rasnya
f. Tinggi badan dan bangun badan (perawakan)
g. Ciri-ciri identitas personal ante mortem yang mungkin ada
2. Keterangan yang berkaitan dengan saat kematian atau lama mati. Saat kematian yang dimaksud mencakup baik rentang waktu pendek untuk korban yang masih mempunyai arti forensik maupun rentang waktu yang tak terbatas untuk kasus yang ternyata sudah tidak mempunyai arti forensik. Dalam hal ini antropologi menjembatani temuan arkeologis dan rangka masa sekarang, sehingga dapat menentukan apakah menjadi urusan polisi atau arkeologi atau bukan kedua-duanya.
3. Keterangan-keterangan yang berkaitan dengan sebab-sebab kematian mencakup antara lain:
a. Tanda-tanda luka atau kekerasan ante mortem
b. Kelainan-kelainan patologi, anomali serta kelainan bawaan ante mortem
c. Perubahan atau kerusakan akibat pengaruh keadaan lingkungan dan tindak budaya post mortem.

Untuk mengetahui apakah barang bukti berasal dari manusia atau bukan maka apabila tulang-tulang dalam keadaan lengkap, dapat dikenali melalui pengetahuan yang luas mengenai variasi rangka manusia dan hewan. Apabila barang bukti berupa potongan-potongan sisa tulang, dengan pengetahuan biologi tulang dan teknik pemeriksaan antara tulang manusia dan bukan manusia. Apabila tulang-tulang terfragmentasi dalam keadaan buruk, tidak dapat dikenali seperti dalam kasus kebakaran atau ledakan maka tes serologis presipitasi dapat membedakan jenasah manusia atau bukan manusia.

Untuk mengetahui apakah barang bukti berasal dari satu individu atau lebih dapat diketahui dengan membandingkan kesesuaian ukuran dan simetrisitas pasangan tulang-tulang beserta perlekatan otot-ototnya, juga petunjuk permukaan sendi-sendinya dan sebagainya. Untuk hal ini perlu diperhitungkan adanya penyakit dan gangguan pertumbuhan tulang atau penyembuhan bekas fraktur dan sebagainya yang dapat menyebabkan terjadinya keadaan asimetri. Disamping itu dengan teknik pemeriksaan sinar ultraviolet barang bukti campuran tulang-tulang dapat dipisahkan berdasarkan derajat fluorosensinya.

Untuk mengetahui jenis kelamin biasanya tidak begitu sulit, yaitu apabila tersedia materi barang bukti tulang panggul dan tengkorak disamping tulang panjang. Tulang panggul dan tengkorak banyak memberikan dimorfisme seksual. Walaupun ada rentang variasi antara jenis kelamin dan beberapa dapat saling meliputi antara keduanya, namun bagi seorang ahli dapat memanfaatkan patunjuk-petunjuk tadi untuk menentukan jenis kelamin barang bukti.

Untuk mengetahui umur biasanya didasarkan atas perkiraan yang didapatkan dari banyak sarana. Pada bayi dan anak-anak, dengan penilaian ukuran panjang tubuh dan panjang tulang panjang, maturitas tulang dengan melihat pusat penulangannya, serta erupsi gigi susu dapat memberikan hasil yang baik. Pada periode dewasa awal, bersatunya epifisis tulang merupakan sarana yang lebih berguna disamping gigi tetap. Pada periode dewasa sampai 50 tahun dilihat perubahan-perubahan pada simfisis pubis, pertautan sutura calvaria dan keausan gigi, juga dilihat tulang-tulang yang lain.

Untuk mengetahui tinggi badan diperoleh dengan jalan mengukur panjang seluruh tulang-tulang yang terekonstruksi atau dengan menghitung formula-formula matematis hubungan antara panjang beberapa tulang panjang terhadap tinggi badan seseorang, maupun lingkaran diafisis tulang panjang terhadap tinggi badan. Penelitian tinggi badan dan perawakan (biotipologi) dapat dilakukan bersamaan menentukan jenis pekerjaan, kebiasaan, anomali, dan kelainan bawaan serta patologi yang meyangkut tulang-tulang.

Untuk melakukan rekonstruksi wajah dilakukan dengan rekonstruksi bagian lunak wajah atau dengan superimposisi foto tengkorak/ kepala/ wajah; dapat juga dilakukan rekonstruksi wajah berdasarkan wawancara dengan keluarga atau orang yang kenal dengan korban atau pelaku kejahatan yang dituangkan dengan komputer atau dilukis oleh artis khusus.

Untuk mengetahui ras barang bukti, dengan secara antroposkopi atau antropometri khususnya pada tengkorak termasuk gigi dan beberapa tulang panjang, dapat dinilai ciri populasional rasnya.
Beberapa ciri yang dapat dijadikan dasar penentuan ras antara lain:
1. Antroposkopis, antara lain dilihat:
a. Bentuk daerah lubang hidung, tulang hidung, akar hidung
b. Bentuk dan letak lubang tulang mata, tulang kening
c. Bentuk tulang langit-langit dan rahang bawah
d. “Incisival shovel-shapes”, arcus dentalis
e. Bentuk prognatisma rahang dan muka
f. Penonjolan tulang pipi
g. Bentuk dan tonjolan tengkorak maupun wajah
h. Tulang panggul

2. Anttropometris:
a. Derajat prognatisma rahang dan muka
b. Perbandingan ukuran tulang tibia terhadap femur atau tualng radius terhadap humerusnya.

Perkiraan saat kematian merupakan keterangan yang dapat pula diberikan melalui pemeriksaan antropologis dalam menilai barang bukti tiap-tiap tulang. Seperti diketahui, keadaan post-mortem dapat bervariasi oleh pengaruh berbagai faktor lingkungan iklim dan udara serta keadaan tanah seperti derajat keasaman, bakteri dan kamdungan mineral dan sebagainya. Lingkungan demikian mempengaruhi perubahan jenasah menjadi rangka bervariasi pada berbagai waktu. Pada iklim tropis dengan udara yang panas dan lembab, jenasah dapat hampir menjadi rangka seluruhnya dalam beberapa minggu. Pada keadaan udara kering dan sejuk, jenasah dapat menjadi awet untuk waktu yang lebih lama. Pada iklim panas dan kering, dapat terjadi mumifikasi.

Terdapat kasus dimana yang sudah diarahkan pada dugaan tindak p idana, tetapi oleh ahli antropologi dinyatakan bahwa tanda mineralisasi pada bawang bukti menunjukkan rangka dalam waktu kematian sudah puluhan atau ratusan tahun bahkan ribuan atau jutaan tahun. Dengan demikian barang bukti tidak lagi memiliki arti dorensik.

Perlukaan pada tulang dapat memberikan keterangan mengenai sebab-sebab kematian. Penilaian hal ini oleh patologi forensik harus dilakukan secara hati-hati. Terutama untuk kasus-kasus temuan barang bukti yang sudah lama, ahli antropologi dapat dilibatkan untuk membantu menginterpretasikan apakah perlukaan itu merupakan tanda kekerasan ante mortem, kelainan patologis penyakit atau kerusakan barang bukti oleh pengaruh lingkungan post mortem.

Antropologi forensik membantu dalam hal selain identifikasi rangka, juga dermatoglifi, khususnya dalam hal pewarisan pola sidik, soal paternitas dan maternitas yang disengketakan, untuk penerbang dan bayi pembuatan sidik tapak kaki sangatlah penting. Hal lain yaitu pembuatan sidik bibir hal ini penting untuk mengetahui pewarisan, paternitas bahkan individu bekas gigitan (odontologi forensik); tapak gigi (menentukan bentuk kaki, tinggi badan, berat badan dan umur yang memilikinya, gait, patologi).

Sisa rambut untuk mengetahui bentuk, umur individu, sex dan rasnya. Sisa kepingan tulang karena kebakaran (sengaja, tidak sengaja, kremasi), harus dilihat besar kepingan, warna dan keadaan permukaan, sisi pecah yang penting sebagai petunjuk tinggi suhu pembakaran, penyidikan osteologi dan odontologis khusus, kadang-kadang sex dan umur dapat ditentukan, bahkan odontologis forensik kadang-kadang dapat menentukan sampai tingkatan individu.

Peran seroantropologi penting dalam antropologi forensik dan dapat dijalankan juga oleh ahli seroimunologi, hematologi dan genetika biokimiawi; untuk menentukan identifikasi non paternitas atau maternitas.

Antropogenetika terutama dalam menghadapi identifikasi anak hilang, terpisah dalam perang, yang dipersengketakan, berbagai ciri genetis diselediki seperti darah, protein serum, ciri-ciri morfologis (muka, kepala, rambut, warna kulit, dermatoglifi, buta rasa dan sebagainya).

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!