Thursday, 1 July 2010

Biomaterial - Semen Ionomer Kaca



Howdy, everyone? Good day!
During my senior clerkship in Dental Public Health Department, I found an very interesting article about GIC or Glass Ionomer Cement. It was actually published by Made Asri Budisuari from Peneliti Puslitbang Pelayanan Kesehatan. This article give us information, though not all, about this aesthetic filling material. Credit and appreciation are given to Ms. Made Arsi Budisuari. Thank you!

Glass Ionomer Cement is also called Semen Ionomer Kaca (SIK) or Semen Glass Ionomer.


Keunggulan Semen Glass Ionomer Sebagai Bahan Restorasi

MADE ASRI BUDISUARI
Peneliti Puslitbang Pelayanan Kesehatan

Pendahuluan

Karies gigi merupakan suatu penyakit yang mengenai struktur jaringan keras gigi yang ditandai dengan kerusakan pada email, dentin, serta sementum sehingga terbentuk kavitas (Kerr dan Ash, 1960). Gigi berperan sangat penting terhadap estetik wajah dan kepribadian seseorang. Di samping itu, gigi juga berfungsi sebagai alat untuk berbicara, mengunyah, serta menelan. Ukuran, warna, dan bentuk gigi sangat berpengaruh terhadap kecantikan atau estetik seseorang. Sehubungan dengan hal tersebut, saat ini telah dikembangkan ilmu kedokteran gigi yang lebih mengutamakan estetika di bidang restorasi gigi.

Pada manula atau orang-orang yang menyikat gigi dengan cara yang kurang benar, biasanya ditemukan adanya retraksi gingiva atau abrasi yang terdapat pada daerah servikal gigi. Ini dapat menyebabkan sensitivitas gigi pada daerah tersebut meningkat terhadap rangsangan termis (panas maupun dingin). Abrasi pada daerah servikal yang banyak ditemukan pada orang yang menyikat gigi dengan cara yang kurang benar maupun retraksi gingiva yang sering ditemukan pada lanjut usia, memerlukan penanganan khusus, yang tidak memerlukan tambahan perlukaan jaringan keras gigi yang sehat. Oleh karena itu, pada kasus tersebut diperlukan suatu bahan restorasi yang tepat.

Dewasa ini telah banyak dikembangkan bahan tumpatan untuk memperbaiki gigi yang rusak. Salah satu bahan tumpatan tetap yang pada saat ini banyak digunakan oleh dokter gigi adalah semen glass ionomer. Semen glass ionomer digunakan sebagai bahan tumpatan di kedokteran gigi sejak 1972. Beberapa kasus karies yang menggunakan bahan tumpatan ini antara lain:

1. Karies yang menyerang permukaan serviks gigi yang disebabkan oleh abrasi, yang menurut klasifikasi G.V. Black termasuk lesi kelas V. Abrasi servikal ini sering dijumpai pada gigi anterior maupun gigi posterior.
2. Karies yang terdapat pada akar. Karies ini banyak terjadi pada orang tua yang gingivanya telah mengalami resesi dan dapat terjadi pada akar gigi yang emailnya tidak terkena karies. Pada karies tersebut tidak memungkinkan dilakukan preparasi atau pengambilan jaringan pada sekitar daerah tersebut.
3. Karies pada kavitas kelas III. Menurut klasivikasi G.V. Black, karies kelas III adalah karies yang menyerang permukaan aproksimal gigi-gigi anterior. Pada kasus ini, faktor estetik sangat diutamakan di samping faktor kekuatan dan keawetan dari bahan tumpatan.
4. Semen glass ionomer juga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan perlekatan amalgam (terutama pada kavitas kelas II menurut klasivikasi G.V. Black, yaitu karies yang terdapat pada interdental, baik karies yang terdapat pada mesial oklusal, distal oklusal, maupun mesial oklusal distal).
5. Semen glass ionomer dapat juga digunakan sebagai fissure sealent (penutup fisur). Pengaplikasian penutup fisur pada fisur yang memang mempunyai risiko tinggi menjadi karies, sangat bermanfaat bagi pencegahan karies, terutama bagi pasien yang insiden kariesnya tinggi serta motivasinya rendah. Semen glass ionomer juga digunakan sebagai restorasi gigi sulung pada pit maupun fisure.

Keunggulan Semen Glass Ionomer

Keunggulan dari bahan restorasi glass ionomer antara lain:

1. Mempunyai kekuatan kompresi yang tinggi.
2. Bersifat adhesi.
3. Tidak iritatif.
4. Mengandung fluor sehingga mampu melepaskan bahan fluor untuk mencegah karies lebih lanjut.
5. Mempunyai sifat penyebaran panas yang sedikit.
6. Daya larut yang rendah.
7. Bersifat translusent atau tembus cahaya.
8. Perlekatan bahan ini secara fisika dan kimiawi terhadap jaringan dentin dan email.
9. Di samping itu, semen glass ionomer juga bersifat bikompabilitas, yaitu menunjukkan efek biologis yang baik terhadap struktur jaringan gigi dan pulpa. Kelebihan lain dari bahan ini yaitu semen glass ionomer mempunyai sifat anti bakteri, terutama terhadap koloni streptococcus mutant (Mount, 1995).

Karena keunggulan-keunggulan tersebut di atas maka bahan tumpatan semen glass ionomer banyak digunakan sebagai bahan tumpatan tetap oleh dokter gigi dewasa ini. Pada manula sering kali ditemukan kavitas kelas V atau karies yang terdapat pada akar, karena pada manula biasanya sering didapatkan adanya retraksi gingiva yang disebabkan proses degenerasi. Karies yang terdapat pada akar juga ditemukan pada orang-orang yang cara menyikat giginya kurang baik dan benar, sehingga menyebabkan abrasi pada daerah servikal. Oleh sebab itu, bahan semen glass ionomer diunggulkan sebagai bahan tumpatan pada kasus tersebut, karena bahan tumpatan semen glass ionomer merupakan bahan restorasi yang memenuhi persyaratan estetika, bersifat adhesi, serta mempunyai sifat biokompabilitas.

Menurut Sockwell dan Heymann, l985 (cit. Raphael Triendra Untara), bahan tumpatan yang memenuhi persyaratan estetika adalah yang sewarna atau hampir mendekati warna gigi, baik gigi anterior maupun posterior tanpa mengesampingkan faktor kekuatan, keawetan, dan biokompabilitas dari bahan tersebut. Di samping itu, bahan tumpatan semen glass ionomer mempunyai estetik yang lebih baik dibandingkan dengan tumpatan semen silikat, meskipun jika dibandingkan dengan resin komposit faktor estetik dari bahan ini masih kurang baik. Dewasa ini dengan berkembangnya bahan tersebut, faktor estetik tidak lagi menjadi masalah. Penggunaan semen glass ionomer dengan sinar juga mulai banyak digunakan. Hal ini akan menghemat waktu dokter gigi, waktu tindakan klinik lebih singkat, serta mempunyai peningkatan PH yang relatif cepat. Karena itu, bahan ini juga direkomendasikan sebagai bahan yang dapat meningkatkan perlekatan amalgam dengan jaringan gigi.

Beberapa Bahan Restorasi Gigi Plastis

Tujuan restorasi gigi tidak hanya membuang penyakit dan mencegah timbulnya kembali karies, tetapi juga mengembalikan fungsinya. Bahan-bahan restorasi gigi yang ideal pada saat ini masih belum ada meskipun berkembang pesat. Untuk dapat diterima secara klinis, kita harus mengetahui sifat-sifat bahan yang akan kita pakai sehingga jika bahan-bahan baru keluar di pasaran, kita dapat segera mengenali kebaikan dan keburukan dibanding dengan bahan yang lama. Dua sifat yang sangat penting yang harus dimiliki oleh bahan restorasi adalah harus mudah digunakan dan tahan lama. Sedangkan sifat-sifat yang lainnya adalah:

1. Kekuatan tensilnya cukup.
2. Tidak larut dan tidak mengalami korosi dalam mulut.
3. Sifat eksotermisnya rendah dan perubahan volume selama pengerasannya dapat diabaikan.
4. Tidak toksik dan tidak iritasi terhadapjaringan pulpa serta gingiva.
5. Mudah dipotong dan dipoles.
6. Derajat keausannya sama dengan email.
7. Mampu melindungi jaringan gigi sekitar dari serangan karies sekunder.
8. Koefisien muai termiknya sama dengan email dan dentin.
9. Difusi termiknya sama dengan pada email dan dentin.
10. Penyerapan airnya rendah.
11. Adhesif terhadap jaringan gigi.
12. Radio opak.
13. Warna translusensinya sama dengan email.
14. Tahan lama dalam penyimpanan.
15. Murah.

Bahan Restorasi Plastik

Beberapa bahan restorasi plastik yang selama ini banyak digunakan di kedokteran gigi antara lain amalgam, silikat, komposite, dan semen glass ionomer. Bahan-bahan tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Dental Amalgam

Merupakan bahan yang paling banyak digunakan oleh dokter gigi, khususnya untuk tumpatan gigi posterior. Sejak pergantian abad ini, formulasinya tidak banyak berubah, yang mencerminkan bahwa bahan tambalan lain tidak ada yang seideal amalgam. Kelemahan utama amalgam terletak pada warnanya dan tidak adanya adhesi terhadap jaringan gigi. Walaupun sifat fisik dan kimia bahan tumpatan amalgam sebagian besar telah memenuhi persyaratan ADA specification no. l, perlekatannya dengan jaringan dentin gigi secara makromekanik seperti retention and resistence form, dan undercut tidak dapat melekat secara kimia.

Prinsip retention and resistance form (dove tail, box form dan retention groove) pada lesi karies daerah interproksimal, selain mengangkat jaringan karies juga mengangkat jaringan yang sehat untuk memperoleh retensi pada kavitas. Pada kavitas kelas II dengan isthmus dan garis sudut bagian dalam yang lebar, akan melemahkan kekuatan terhadap beban kunyah. Akibatnya, pasien banyak yang mengeluh karena seringkali adanya fraktur pada tumpatan kelas II, baik pada tumpatan MO (Mesial Oklusal), DO (Distal -, Oklusal), maupun MOD (Mesial - Oklusal - Distal).

Amalgam dapat disimpan lama dan dibandingkan dengan bahan restorasi lain. Bahan ini tidak begitu mahal dan sampai tingkat tertentu kesalahan dalam manipulasi masih menghasilkan tumpatan yang baik. Jika dibuat oleh operator yang trampil dan lingkungannya mendukung, bahan tumpatan ini dapat tahan lama, namun umur klinknya rata-rata 5 tahun. Amalgam cenderung mudah korosi di dalam lingkungan mulut karena strukturnya yang heterogen, permukaannya yang kasar, dan adanya lapisan senyawa oksida yang belum sempurna. Amalgam memerlukan beberapa jam untuk mencapai kekerasan penuhnya. Jika ini telah dicapai, kekuatan kompresifnya akan menyamai dentin.

Resin Komposit

Generasi resin komposit yang kini beredar mulai dikenal di akhir tahun enam puluhan. Sejak itu, bahan tersebut merupakan bahan restorasi anterior yang banyak dipakai karena pemakaiannya gampang, warnanya baik, dan mempunyai sifat fisik yang lebih baik dibandingkan dengan bahan tumpatan lain. Sejak akhir tahun enam puluhan tersebut, perubahan komposisi dan pengembangan formulasi kimianya relatif sedikit. Bahan yang terlebih dulu diciptakan adalah bahan yang sifatnya autopolimerisasi (swapolimer), sedangkan bahan yang lebih baru adalah bahan yang polimerisasinya dibantu dengan sinar. Resin komposit mempunyai derajat translusensi yang tinggi. Warnanya tergantung pada macam serta ukuran pasi dan pewarna yang dipilih oleh pabrik pembuatnya, mengingat resin itu sendiri sebenarnya transparan. Dalam jangka panjang, warna restorasi resin komposit dapat bertahan cukup baik. Biokompabilitas resin komposit kurang baik jika dibandingkan dengan bahan restorasi semen glass ionomer, karena resin komposit merupakan bahan yang iritan terhadap pulpa jika pulpa tidak dilindungi oleh bahan pelapik. Agar pulpa terhindar dari kerusakan, dinding dentin harus dilapisi oleh semen pelapik yang sesuai, sedangkan teknik etsa untuk memperoleh bonding mekanis hanya dilakukan di email perifer.

Semen Silikat

Semen yang didasari oleh terbentuknya reaksi antara kaca silikat dengan asam telah digunakan di kedokteran gigi sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Warnanya sesuai dengan warna gigi dan cocok digunakan untuk restorasi gigi anterior. Akan tetapi, karena kekuatan tensilnya kurang baik dan sangat regas, bahan ini tidak dapat digunakan untuk restorasi sudut insisal dan permukaan oklusal gigi posterior. Di samping itu, semen ini mudah larut terhadap asam yang terdapat dalam plak yang melekat di atasnya. Saat ini, semen silikat oleh dokter gigi mulai jarang digunakan karena banyak kekurangannya.

Semen Glass Ionomer

Sebelum ditemukan semen glass ionomer oleh Wilson dan Kent pada 1972, semen silikat merupakan bahan tumpatan plastis aterior yang paling banyak digunakan. Di samping itu, resin komposit juga telah berkembang dengan pesat sehingga menjadi tumpatan plastis anterior yang paling banyak dipakai. Walaupun demikian, pemakaian glass ionomer tetap meningkat, khususnya karena bahan ini beradhesi ke dentin dan email. Sejak pertama kali diperkenalkan, bahan ini dapat diperoleh dalam tipe yang mengeras lebih cepat, tidak mudah larut, lebih translusens, dan estetikanya dapat diterima.
Semen glass ionomer terbentuk karena reaksi antara bubuk kaca alumino-silikat yang khusus dibuat dengan asam poliakrilat. Setelah tercampur, pasta semen ini ditumpatkan ke kavitas pada saat bahan masih belum mengeras. Semen glass ionomer yang berisi logam perak dalam bubuknya telah dikembangkan serta dikenal dalam nama generiknya, yaitu cermet. Semen semacam ini mempunyai ketahanan terhadap abrasi dan keradiopakannya, sehingga dapat digunakan pada gigi posterior. Walaupun demikian, penggunaannya hanya pada kavitas yang masih terlindung, karena semen ini tidak sekuat amalgam. Keunikan lain dari bahan semen glass ionomer adalah kemampuannya untuk berikatan dengan dentin dan email secara kimia sehingga menghasilkan penutupan yang baik. Bahan ini juga mempunyai sifat khas melepaskan fluor sehingga bersifat antikaries. Dengan demikian, bahan ini direkomendasikan untuk digunakan secara luas pada abrasi serviks, tanpa harus melakukan preparasi kavitas. Keadaan ini, misalnya, terjadi pada situasi tidak adanya email untuk retensi resin komposit, atau kalaupun ada hanya sedikit sekali. Semen glass ionomer dapat digunakan sebagai restorasi tunggal atau dapat dipakai sebagai basis dan di atasnya dilapisi oleh resin komposit (teknik sandwich).

Menurut Mujiono, cit Mc. Lean et al (1985) dan Tyas et al (1989), semen glass ionomer juga dapat meningkatkan perlekatan resin komposit, yaitu sebagai perantara untuk menambah retensi tumpatan komposit. Dengan cara memberikan etsa asam pada semen glass ionomer, akan terjadi erosi dan permukaan semen menjadi kasar. Kekasaran permukaan ini dapat memberi retensi mekanis terhadap resin komposit.

Di samping itu, semen glass ionomer juga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan perlekatan amalgam dengan jaringan dentin gigi, terutama pada karies di bagian interproksimal. Di bagian ini pengangkatan jaringan keras sebagai retensi kurang memungkinkan, karena dapat menyebabkan melemahnya struktur gigi akibat jaringan sehat tinggal sedikit. Semen glass ionomer dapat ditumpatkan di kavitas yang dalam tanpa mengiritasi pulpa, sekalipun tanpa diberi pelapik. Namun, agar tidak timbul reaksi yang tidak diinginkan pada kavitas dengan dentin, sebaiknya tetap digunakan pelapik. Biokompabilitas dari bahan ini sangat tinggi walaupun semennya bersifat sangat asam. Hal ini mungkin disebabkan oleh besarnya molekul polyanion sehingga asam tidak dapat memasuki tubulus. Namun, peradangan tetap timbul jika semen langsung diletakkan di atas pulpa yang terbuka.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari bahan tumpatan ini, harus dijaga kontaminasi antara bahan ini dengan saliva selama penumpatan dan sebelum semen mengeras sempurna. Kontaminasi dengan saliva akan sangat berbahaya karena semen akan mudah larut dan daya adhesinya akan menyusut. Untuk itu, kavitas harus dijaga agar tetap kering dengan mengusahakan isolasi yang efektif. Setelah selesai penumpatan, tumpatan sebaiknya ditutup dengan lapisan pernis yang kedap air selama beberapa jam setelah penumpatan dilakukan. Hal ini untuk mencegah desikasi karena hilangnya cairan atau semen melarut karena menyerap air.

Karena adanya beberapa keunggulan dari bagian tersebut itulah maka semen glass ionomer saat ini secara luas digunakan oleh dokter gigi, terutama pada kavitas servikal yang sering terjadi pada manula dan orang yang menyikat gigi dengan cara yang kurang baik dan benar, serta pada karies yang pengambilan jaringan gigi yang sehat sebagai retensi kurang memungkinkan.

Semen glass ionomer merupakan bahan tumpatan baru di bidang ilmu konservasi gigi yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir ini. Semen glass ionomer digunakan sebagai bahan restorasi tetap di kedokteran gigi sejak 1972, serta disempurnakan dari tahun ke tahun sehingga menjadi bahan restorasi yang memenuhi persyaratan baik estetik maupun kekuatan serta keawetan.

Kekurangan Bahan Semen Glass Ionomer

Di samping beberapa keunggulan yang dimiliki oleh bahan glass ionomer yang telah kita bicarakan di atas, yaitu tidak iritatif, bersifat adhesi, dan mempunyai sifat biokompabilitas yang tinggi. Bahan ini juga mempunyai kekurangan jika dibandingkan dengan bahan tumpatan lain, misalnya dalam hal estestik. Bahan ini masih kurang baik bila dibandingkan dengan resin komposit. Demikian juga ketahanan terhadap abrasi juga kurang baik, terutama pada daerah kontak oklusal yang luas. Di daerah tersebut akan mudah terjadi fraktur akibat kekuatan geser yang tinggi. Di samping itu, glass ionomer juga bersifat porous dan sulit dipulas sehingga menghasilkan permukaan tumpatan yang kurang halus. Oleh karena itu, dewasa ini telah dikembangkan teknik restorasi sandwich yang pada hakikatnya semen glass ionomer diaplikasikan dahulu dengan resin komposit, atau pada tumpatan gigi posterior yang menggunakan amalgam.

Glass ionomer juga dapat membantu meningkatkan perlekatan amalgam dengan jaringan gigi menggunakan bahan ini sebagai basis atau liner pada kavitas sebelum ditumpat amalgam. Dengan demikian, bahan ini dapat menghambat kerusakan tepi, mengurangi preparasi jaringan sehat gigi, meningkatkan dukungan mahkota gigi, serta meningkatkan resistensi terhadap fraktur.

Kesimpulan

Penggunaan bahan semen glass ionomer untuk restorasi gigi sebaiknya menggunakan bahan restorasi yang tepat. Bahan tersebut harus memenuhi beberapa persyaratan, misalnya tidak iritatif, bersifat adhesi, mengandung fluor sehingga dapat mencegah karies yang lebih lanjut, serta mempunyai sifat biokompabilitas yang baik.
Karies yang disebabkan abrasi pada daerah servikal ataupun lesi kelas V, menurut klasifikasi G.V. Bkack, ditemukan pada manula, pada orang yang kurang baik dan benar cara menyikat giginya, serta pada kasus di mana preparasi jaringan sehat gigi kurang memungkinkan. Akibatnya, preparasinya diusahakan untuk tidak mengambil jaringan yang sehat sehingga penggunaan semen glass ionomer diunggulkan sebagai bahan restorasi pada kasus-kasus tersebut. Karena bahan restorasi ini mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan dentin dan email secara kimia, maka tidak diperlukan pengambilan jaringan yang sehat dalam preparasi kavitasnya.

Walaupun semen glass ionomer dapat ditumpatkan di kavitas dalam tanpa mengiritasi pulpa serta tanpa diberi lapisan pelapik, agar tidak menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan sebaiknya bahan pelapik tetap diberikan. Di samping itu, untuk mendapatkan hasil yang baik dari bahan restorasi ini, haruslah diperhatikan adanya isolasi pada daerah kerja, karena bahan restorasi ini sangat berpengaruh terhadap kontaminasi cairan mulut (saliva).

Ada 2 cara untuk mencegah kontaminasi dengan cairan mulut, yaitu menggunakan rubber dam dan memakai gulungan kapas (cotton roll).

Saran

Banyak kegagalan terjadi karena teknik pengerjaan yang buruk. Oleh karena itu, operator (dokter gigi) harus dapat menghilangkan atau paling tidak memperkecil hal-hal yang dapat menyebabkan kegagalan. Operator disarankan untuk:

1. Memilih bahan restorasi yang tepat untuk suatu kasus, khususnya untuk restorasi gigi kelas V dan pada manula, sebagai basis dari tumpatan kelas II dari tumpatan amalgam dan teknik sandwich dari tumpatan komposite, semen glass ionomer direkomendasikan untuk restorasi tersebut.
2. Cara manipulasi bahan yang baik.
3. Teknik isolasi pada saat penumpatan dilakukan.
4. Preparasi yang cukup.

Apabila operator memperhatikan hal-hal tersebut di atas maka akan memperkecil faktor-faktor kegagalan.

Daftar Pustaka
1. Ali Nurdin, Penggunaan semen Glass Ionomer sebagai upaya meningkatkan perlekatan tumpatan amalgam dengan jaringan gigi, Majalah Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, vol 34 nomor 3a, Agustus, 2001.
2. Cecilia G. J. Lunardi, Soeyatmi Iskandar, Sri Kunarti Prijambodo, Resin komposit untuk restorasi gigi posterior simposium sehari Mempertahankan Gigi Selama Mungkin, Surabaya: FKG, 1989.
3. Henry Lee, Modern method of restorative dentistry, Chicago, Berlin, Rio de Janeiro, Tokyo Quintescence Publishing Co., 1982.
4. John F. Mc. Cabe, Applied Dental Materials, seven edition Oxfrod, London, Eidenburgh Boston, Melbourne, Berlin, Blackwell Scientific Publication Vienna, 1990.
5. Moch. Mujiono, Kekuatan Geser Resin Komposit pada Semen Ionomeri Gelas yang dietsa, Majalah Kedokteran Gigi Universitas Airlangga vol. 29, no 3, Juli-September 1996.
6. Narlan Sumawinata, Restorasi Gigi, edisi 2, Jakarta Kedokteran EGC, 1993.
7. Raphael Tri Endra Untara, Perbedaan integritas marginal gingival antara restorasi seme ionomer kaca dan resin komposit teknik sanwich pada erosi - abrasi servikal: Laporan Penelitian, Yogyakarta, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada, 1998.
8. Rasinta Tarigna, Kesehatan Gigi dan mulut, edisi revisi, cetakan IV, Jakarta, Kedokteran ECG, 1995.

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!