Monday, 27 June 2011

Bahasa Tertunda pada Anak Usia 2 Tahun

Language and communication! Yeah, that are two basic thing that are needed badly by human. No lives exist without that things. Language is complex issue, relating to physical, psychological, physiological, and cultural. Language does develop since our first contact with our very first environment, include since in our mother womb. This article emphasizes to the language delay to the kids living in the institutions.


Bahasa mengacu baik pada kapasitas manusia secara spesifik yang bersifat dapatan dan digunakan sebagai sistem kompleks komunikasi, atau untuk hal spesifik seperti sistem komunikasi kompleks.

Bahasa mempunyai banyak fungsi dan kompleksitas. Tiga fungsi dasar bahasa adalah untuk informasi, ekspresi dan instruksi. Bahasa bukan sesuatu yang diturunkan, tetapi harus dipelajari oleh subjek selama bersinggungan dengan lingkungannya.

Makin cepat mereka dimasukkan ke tempat pembinaan makin baik, simpul sebuah penelitian.

Oleh Robert Preidt
Jumat, Juni 17, 2011 Tertaut Halaman MedlinePlus
Di bawah label: Adopsi, Perkembangan Anak, Gangguan Bicara dan Komunikasi

Rumah binaan mendorong perkembangan bahasa pada anak-anak yang sebelumnya tinggal di panti, sebuah penelitian baru menunjukkan.

Peneliti mengamati lebih dari 100 anak-anak yang sebelumnya tinggal di panti ataupun yayasan di Rumania. Sekitar setengah dari anak-anak ini dimasukkan ke rumah binaan ketika usianya 22 bulan, sedangkan setengah yang lain tetap tinggal di panti. Dua kelompok ini kemudian dibandingkan dengan 60 anak-anak yang tinggal dalam komunitas yang sama dengan orang tua biologis mereka.

Anak-anak dari panti yang dimasukkan di rumah binaan sebelumnya, ternyata memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik ketika usianya menginjak 3,5 tahun daripada mereka yang tetap tinggal di panti, menurut penelitian isu terbaru dalam jurnal Child Development.

Peneliti juga menemukan bahwa kemampuan bahasa anak-anak yang dimasukkan ke rumah binaan sebelum berusia 15 bulan mirip dengan anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua biologis mereka. Tetapi anak-anak yang dimasukkan ke rumah binaan setelah 2 tahun cenderung mengalami penundaan bahasa yang besar sama dengan mereka yang tinggal di panti.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak hanya perubahan ke rumah binaan berkualitas menguntungkan bagi anak-anak ini, tetapi timing perubahan tampaknya juga penting,” jelas penulis utama Jennifer Windsor, seorang profesor ilmu bicara-bahasa-pendengaran di Universitas Minnesota, kepada news release the Society of Research in Child Development.

Penemuan ini menekankan pentingnya usaha dini untuk membantu anak-anak untuk segera menguasai bahasa, juga menjadi wawasan bagi orang tua Amerika yang mengadopsi bayi dari negara lain.

"Banyak bayi dan balita yang diadopsi dari negara lain dan tinggal di Amerika Serikat mempelajari bahasa dengan cepat,” kata Windsor. “Meski demikian, anak-anak yang usianya lebih tua yang sebelumnya tinggal di lingkungan kurang mendukung mempunyai risiko tinggi penundaan bahasa.”

SOURCE: Society of Research in Child Development, news release, June 17, 2011

Referensi:
1. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_113343.html
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Language
3. http://philosophy.lander.edu/logic/form_lang.html
4. http://www.answers.com/topic/language

Credit picture: myngle.com

5 comments:

  1. Ini terjemahan tulisan inggris link pertama ya? Secara struktur ga ada yg salah dari kalimat2nya, tapi secara feel ga kerasa bahwa ini tulisan Indonesia :P

    anw, komen ttg artikelnya, hmm apa yaa, byk sih yg bqn penasaran sebenernya, misal
    1. tempat pembinaan itu apaan yak
    2. kalau sebelum 2 taun dijejali diajari 3 bahasa skaligus, misalnya, kecepatan belajarnya ngaruh ga ya
    3. makin cepet bisa ngomong, ngaruh kah ke makin cepet bisa nulis (tau sendiri bahasa inggris mah aneh nulisnya gimana bacanya gimana)
    4. otak anak 22 bulan sm 24 bulan bedanya apanya ya
    5. kok label postny dentistry, emg dentistry itu mencakup apaan aja? :D

    ReplyDelete
  2. Iya, saya juga merasa terjemahan saya masih jauh dari nyaman dibaca. Sebenarnya lebih enak baca bahasa Inggrisnya langsung, lebih mudeng, tapi menulisnya kembali ke bahasa Indonesia adalah tantangan tersendiri. Sekarang saya mau coba jawab pertanyaannya:
    1. Tempat binaan: itu aslinya dari kata foster care. Harusnya ditulis foster care aja kali ya, soalnya kalau di Indonesia belum ada tempat seperti itu. Kan jarang diberitakan ada orang tua yang mengadopsi anak-anak dari luar negeri. Disini mah keluarga berekstensi ke samping tanpa harus memikirkan risiko ledakan penduduk.
    2. Kalau sebelum 2 taun dijejali diajari 3 bahasa skaligus, misalnya, kecepatan belajarnya ngaruh ga ya. Jawabnya enggak. Justru usia segitu adalah golden age-nya anak-anak. jadi, nanti kalau punya anak, ajarilah tutur kata yang sopan dan dirangsang terus bahasanya. Cuma...kalau misalnya bahasa itu jarang atau tidak digunakan, maka anak-anak akan cepat lupa, belajar bahasa itu seperti pakai baju. Harus dilakukan terus menerus. Kita nggak pernah mikir mau masukin lengan kemana, masukin kanding kemana karena udah biasa. Bahasa juga seharusnya gitu. (Pssst...saya nulisnya campur-campur karena itu buat latihan bahasa saya loh. Soalnya bahasa Inggris saya ancuuurrr macam bubur).
    3. Makin cepet bisa ngomong, ngaruh kah ke makin cepet bisa nulis (tau sendiri bahasa inggris mah aneh nulisnya gimana bacanya gimana). Jawabannya ini mirip sama jawaban no 2. Kalau belajar bahasa itu audio, nah kalo nulis itu visual dan kinestetik. Sebaiknya punya tembok putih yang luas biar junior bisa corat-coret tembok sesukanya tanpa harus mengobrak-abrik sofa putih kesayangan. Tenang, bahasa Inggris itu menyenangkan ko. Coba bandingkan dengan bahasa Rusia, Tajikistan (semuanya konsonan), Prancis ataupun Jerman. Hah! Kalau mau tulisan sama dengan cara bacanya: coba bahasa Jepang dan bahasa Jawa (kesulitannya adalah pada bahasa tulisnya). Hah lagi! Tulisan dan bacanya beda: coba bahasa China
    4. otak anak 22 bulan sm 24 bulan bedanya apanya ya? Kalau dari volume kayaknya sama, tapi sampai usia 2 tahun, rangsangan audio, visual dan kinestetik sangat berperan pada perkembangan anak. Saya bukan ahlinya siy. nanti kalo ada topik tentang ini, saya coba share ya.
    5. kok label postny dentistry, emg dentistry itu mencakup apaan aja? :D. Jadi, kedokteran gigi itu sebenarnya luas, saya sebutkan beberapa ya, ada kesehatan gigi anak (pertumbuhan dan perkembangan gigi anak dihubungkan dengan pertumbuhan dan perkembangan pada umumnya), kesehatan gigi masyarakat (penyuluhan pas KKN mahasiswa, skrining ke SD atau SMP), kedokteran gigi dasar (termasuk pelajaran anatomi, histologi, fisiologi), penyakit mulut (dari bau mulut, sariawan, herpes, sampai kanker mulut), ortodonsi (itu yang kerjanya ngawat gigi biar rapi supaya dilirik sama anak-anak perempuan yang manis), perio (jaringan penyangga gigi), dan masih banyak lagi. Hahaha! Saya jadi kebawa suasana mau membicarakan SKS-nya.

    ReplyDelete
  3. Diluar negeri soalnya rata-rata active native languagenya emang lebih dari 1. secara perbatasan negara yang saling menghimpit. Kaya TS gw di Belanda, fasih bicara Belanda, Jerman dan Inggris. Karena komunitas sekitarnya berbahasa fasih itu juga, dan batas negara yang berdekatan.
    Tapi menurut penelitian, makin banyak bahasa asing yang dikuasai, makin terangsang otak kanan [apa kiri, ya?], yang bisa meningkatkan daya ingat seseorang. Kaya Soekarno (alm) misalnya.. Salam..

    ReplyDelete
  4. Selamat pagi, Dok. Yeah, kalau di Indonesia, bahasa sehari-harinya adalah bahasa nasional (Indonesia), meski ada juga campuran dialek-dialek lokal dan bahasa-bahasa modern. Di luar negeri, khususnya Eropa, bahasa memang beragam dan bukan hal yang mengherankan kalau seseorang bisa fasih berbicara banyak bahasa. Meski saya dengar, orang Jerman jauh lebih menyukai bahasa Jerman sendiri daripada bahasa Inggris. Di negara Belanda, selain bahasa Belanda sendiri, bahasa Jerman dan Inggris memang dominan.

    Belajar bahasa memang menyenangkan ya!

    Menurut yang saya baca dari http://en.wikipedia.org/wiki/Lateralization_of_brain_function (1) dan http://psychology.about.com/od/cognitivepsychology/a/left-brain-right-brain.htm (2), kedunya menyatakan bahwa bahasa itu secara garis besar dipegang oleh otak kiri. (1) lebih lanjut menjelaskan kalau bahasa itu juga dikendalikan oleh kedua hemisfer otak kanan dan kiri, hanya saja otak kiri lebih dominan pada right-handed people dan sebaliknya. Kalau otak kiri pegang grammar/vocabulary, literal; sedangkan otak kanan pegang intonation/accentuation, prosody, pragmatic, contextual.

    Menurut (2), otak kiri lebih oke untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan logika, bahasa dan pemikiran analitik. Sedangkan otak kanan buat pekerjaan ekspresi dan kreatif seperti musik, mengenali wajah, mengekspresikan emosi, warna, gambar, intuisi dan kreativitas.

    ReplyDelete
  5. I see, jadi yg sy tangkep mah anak di bawah 2 taun mah coba jejalin ajarin aja macem-macem ya mumpung golden age. Hehe nanya poin 4 itu soalnya penasaran sm ksimpulan artikel ini, kenapa kok anak 22 bulan sm anak 24 bulan bs beda hasilnya, mungkin ada sesuatu yg berbeda di otaknya.

    ReplyDelete

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!