Friday, 1 July 2011

Karakteristik Hipersensitivitas Dentin (part 1 of 8)


Finaly, the translation is complete! It took a lot of days to finish this journal's translation. I found it very interesting and it's easy to understand. I mean, Britain's and America's English are particularly easy to understand, unlike English journal come from Middle-East or Asian country. Several times reading them and you will get what I'm talking about. Alright, without any hesitation, I present you how to managing dentin hypersensitivity. Fully loaded!


ABSTRAK

Latar Belakang. Tujuan dari ulasan ini adalah untuk menginformasikan pada praktisi mengenai hipersensitivitas dentin (HD) dan penatalaksanaannya. Informasi klinis ini dijelaskan dalam konteks segi biologis yang mendasari.

Tipe Ulasan Penelitian. Peneliti menggunakan MEDLINE untuk menemukan pustaka berbahasa Inggris yang relewan yang dipublikasikan pada tahun 1999 – 2005. Kata kunci yang digunakan untuk mencari literatur adalah: dentin, gigi, hipersensitivitas, desensivitas. Peneliti membaca abstrak dan artikel penuh untuk mengidentifikasi penelitian yang mendeskripsikan etiologi, prevalensi, penampakan klinis, uji coba klinis terkontrol dan penelitian laboratoris yang relevan pada mekanisme aksi.
Hasil. Prevalensi HD bervariasi secara luas, tergantung pada cara investigasi. Pasta gigi mengandung potasium adalah perawatan yang paling banyak digunakan dalam tataran penggunaan at-home. Perawatan yang dilakukan di ruang praktik gigi menggunakan beberapa bentuk ‘barrier’, termasuk cairan atau jelli topikal atau bahan restirasi adhesif. Efikasi dari bahan-bahan tersebut bervariasi – beberapa tidak menunjukkan efikasi dibandingkan dengan perawtan kontrol. Alasan yang mungkin terjadi didiskusikan. Diagram alir menyimpulkan strategi perawatan yang bervariasi.

Implikasi Klinis. HD didiagnosis seterah eliminiasi penyebab yang mungkin oleh adanya nyeri. Perawatan desensitisasi sebaiknya dilakukan secara sistematis, diawali dengan pencegahan dan perawatan di rumah. Selanjutnya dapat dilakukan dengan perawatan di ruang praktik gigi.

Kata kunci. Perawatan di rumah; penampakan klinis; perawatan desensitisasi; hipersensitivitas dentin, etiologi; perawatan di klinik dental; pencegahan; pasta gigi

Beberapa praktisi dental kebingungan dengan diagnosis, etiologi dan mekanisme hipersensitivitas dentin (HD). Praktisi dental juga melaporkan bahwa mereka kurang percaya diri untuk mengelola kondisi ini secara efektif. Dalam artikel ini, kami mengulas pustaka terbaru mengenai HD untuk memberikan informasi pada praktisi sehingga dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan klinis HD dalam praktik dental sehari-hari.

KARAKTERISTIK HIPERSENSITIVITAS DENTIN

Penampakan Klinis. Definisi. HD ditandai dengan adanya nyeri tajam durasi pendek yang bermula dari dentin terpapar sebagai respon terhadap rangsang – biasanya termal, evaporatif, taktil, osmotik ataupun kimiawi – yang tidak dapat dianggap berasal dari defek atau penyakit dental yang lain (1). HD biasanya didiagnosis setelah kondisi yang memungkinkan lainnya dieliminasi. Penyebab alternatif nyeri termasuk gigi cuil atau patah, tonjol retak, lesi karies, restorasi bocor ataupun sulkus palatogingiva (2). Penampakan klinis HD terdokumentasi dengan baik (2-4)

Prevalensi. Prevalensi HD bervariasi dari 4 – 57 persen (5-6). Variasi ini disebabkan karena adanya perbedaan populasi yang dipelajari dan metode investigasi (misalnya saja kuesioner atau pemeriksaan klinis). Prevalensi HD diantara 60 – 98 persen pada pasien periodontitis (7). Sebagian besar pasien, tidak mencari perawatan untuk men-desensitisasi gigi mereka karena pasien menganggap HD bukan masalah kesehatan rongga mulut (8). Dari hasil kuesioner, dokter gigi melaporkan bahwa HD mempengaruhi 10 – 25 persen pasien mereka (9-10). Schuurs dkk. (9) juga melaporkan bahwa dokter gigi mempercayai bahwa HD adalah masalah berat hanya pada 1% pasien mereka.

Distribusi. Meski HD paling sering ditemukan pada pasien berusia 30-40 tahun, kondisi ini dapat ditemukan pada pasien segala usia. Wanita lebih sering terkena daripada pria, jenis kelamin tidak signifikan secara statistik. Kondisi ini dapat terjadi pada gigi manapun, tetapi paling sering terjadi pada gigi caninus dan premolar (3,4); gigi yang terkena bervariasi pada penelitian yang berbeda dan pada populasi yang berbeda, pola distribusi yang berbeda juga dijumpai (11).

Etiologi. Mekanisme sensitivitas. Dentin secara alami sensitif secara fungsional dan anatomi karena kedekatannya dengan pulpa (12). Sensitivitas yang sudah menjadi sifatnya ini bukan masalah karena jaringan lain menutupi dentin. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan bahwa pola tubulus dentinalis pada DH lebih banyak secara kuantitas dan lebih lebar dibandingkan dengan dentin non-sensitif (13, 14). Observasi ini konsisten dengan hipotesis bahwa nyeri dentin dapat dijelaskan dengan mekanisme hidrodinamik (15). Dalam rangkaian hidrodinamik, stimulus penyebab-nyeri yang diaplikasikan pada dentin meningkatkan aliran cairan tubuus dentinalis. Selanjutnya, proses ini secara mekanik akan mengaktivasi saraf yang terletak di akhiran bagian dalam tubulus atau di lapisan luar pulpa (Gambar 1).

Gambar 1. Gambaran mekanisme hidrodinamik yang menjelaskan stimuli mengaktivasi saraf intradental menyebabkan nyeri.

Pendinginan, pengeringan, penguapan, dan rangsng kimiawi hipertonik yang menstimulasi cairan mengalir keluar dari pulpa lebih efektif merangsang saraf-saraf intradental daripada stimuli lain seperti panas ataupun probing yang menyebabkan cairan mengalir ke dalam pulpa (12, 16). Observasi menunjukkan bahwa 75% pasien dengan keluhan HD yang menerima stimuli dingin mendukung hipotesis ini (3).

Lokalisasi lesi. Lebih dari 90% permukaan hipersensitif terletak pada margin servikal aspek bukal ataupun labial gigi (3). Telah diusulkan bahwa HD berkembang dalam 2 gase (17). Pertama, lokalisasi lesi terjadi melalui paparan dentin, baik itu karena hilangnya email atau karena resesi gingiva. Resesi gingiva dipandang lebih penting dari kedua faktor ini (18). Menyikat gigi secara normal tidak akan mengikis email, tetapi telah disebutkan menjadi etiologi resesi gingiva (18).

Inisiasi lesi. Tidak semua dentin yang terbuka adalah sensitif. Hal ini terjadi ketika smear layer atau sumbatan tubuli dihilangkan, yang membuka ujung luar tubulus dentinalis (17). Abrasi dan erosi mungkin berperan disini, tetapi erosi asam dipandang sebagai faktor predominan (18). Plak bukan faktor signifikan dalam HD; pasien HD cenderung mempunyai kontrol plak yang baik (14, 19).
HD lebih sering ditemui pada pasien periodontitis (7, 11) dan hipersensitif sementara dapat terjadi setelah prosedur periodontal seperti deep scaling, root planing ataupun bedah gingiva (20). Hipersensitivitas dapat pula terjadi setelah pemutihan gigi dan prosedur restoratif (21).

Referensi:
1. Orchardson R., Gillam DG., 2006, Managing Dentin Hypersensitivity, JADA Assoc, Vol 137 (7) : 990-8
2. http://jada.ada.org/content/137/7/990.full

Credit picture: redmondmolloy.ie

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!