Friday, 10 June 2011

Managing Patients Who Have Seizure Disorders: Dental and Medical Issues

This post was about my journal reading when I was at Oral Surgery Department. Each students - every senior clerkship - at Gadjah Mada University have to present at least one journal presentation as it is the prerequisite. My supervisor was drg. E. Riyati, M.Kes, Sp.BM and she likes systemic issues, so I choose seizures disorder.

Speaking of which, I actually have to re-apply to Oral Surgery Department after my cycle there was already run out. I should have three more extraction with my supervisor approval and of course, journal presentation. I love doing work at this department. So, without any other pera-pera, I presented you this.



Managing Patients Who Have Seizure Disorders: Dental and Medical Issues
Penatalaksanaan pasien dengan serangan kejang: isu dental dan medis
BJ Sanders, JA Weddel dan NN Dodge, J Am Dent Assoc; 1995; 126; 1641 – 7


ABSTRAK
Beberapa profesional dental telah mempunyai perhatian terhadap penatalaksanaan pasien dengan seizure disorders. Peneliti berpendapat bahwa penambahan pengetahuan mengenai kejang dan bagaimana menanganinya sehingga pelayanan dental lebih nyaman. Artikel ini meninjau tipe-tipe kejang, mendiskusikan antikonvulsan yang biasa digunakan dan menguraikan beberapa perhatian khusus bagi dokter gigi yang memberikan pelayanan kepada pasien-pasien ini.

S
ekitar 0,3 – 0,7% populasi Amerika Serikat mempunyai kelainan kejang, dan sebanyak 10 juta telah dievaluasi oleh dokter untuk diagnosis ini. Prevalensi lebih tinggi pada anak-anak usia 2 – 5 tahun dan saat pubertas, tetapi insidensi kejang pertama-kali meningkat secara signifikan setelah usia 50 tahun, nomor dua setelah penyakit serebrovaskuler.
Kejang adalah gangguan fungsi otak involunter temporer yang dapat bermanifestasi sebagai kesadaran yang terganggu, aktivitas motorik yang abnormal, gangguan sensorik ataupun disfungsi otonom. Ini disertai dengan pelepasan sinyal-sinyal listrik abnormal pada otak yang biasanya, tetapi tidak selalu, dapat dideteksi dengan elektroenselografi (EEG).
Kejang dapat diklasifikasikan berdasarkan apakah aktivitas elektrik abnormal berawal dari daerah terlokalisasi (partial seizure) atau keseluruhan otak (generalized seizured). Partial seizure (kejang parsial) lebih jauh lagi diklasifikasikan menurut apakah kesadaran terganggu atau tidak, dengan kejang parsial simpel menunjukkan gejala motorik, sensorik, otonomik atau kejiwaan, tetapi tidak adanya kehilangan kesadaran. Kejang parsial kompleks dihubungkan dengan hilangnya kesadaran. Kejang parsial dengan generalisasi sekunder juga terjadi, ketika kejang awalnya terlokalisasi pada satu area otak dan kemudian meluas melibatkan kedua belahan otak.
Generalized seizures (kejang umum), yang mempengaruhi keseluruhan otak pada waktu yang sama dapat terjadi tanpa peringatan. Mereka dibagi menjadi beberapa tipe, termasuk tonic-clonic, myoclonic, atonic dan absence seizures. Kejang tonic-clonic mengakibatkan kehilangan kesadaran dan insidensi terluka karena jatuh relatif besar. Periode postictal atau periode penyembuhan (recovery) setelah serangan panjang. Selama periode ini, pasien dapat bingung atau mengantuk atau bahkan mengeluhkan sakit kepala. Kejang myoclonic biasanya berupa spasme otot yang berlangsung singkat yang terjadi pada klaster otak tertentu dan biasanya tidak mengakibatkan hilangnya kesadaran. Kejang atonic berlangsung singkat dan kehilangan tonus otot-otot involunter yang mengakibatkan resiko terluka akibat jatuh yang cukup signifikan. Pasien yang mengalami serangan atonic mungkin atau tidak kehilangan kesadaran. Abesence seizures, atau disebut dengan petit mal, terdiri atas episode singkat, dan selama serangan, kesadaran dapat hilang disertai manifestasi motorik. Absence seizures simpel berdurasi kurang dari 10 detik, sedangkan ansence seizures atipikal yang berlanjut hingga satu menit. Serangan ini mungkin disalah artikan sebagai melamun.
Tipe kejang lainnya adalah febrile seizure. Serangan tipe ini merupakan serangan tonic-clonic menyeluruh dengan fase postictal yang terjadi pada anak-anak usia 6 bulan hingga 5 tahun selama sakit demam. Episode serangan tidak dianggap sebagai serangan febril jika disertai dengan luka traumatik atau penyebab metabolik yang lainnya. kejang febril terjadi pada 2-5 persen populasi Amerika Serikat, dan 40% diantaranya mengalami lebih dari satu kali episode. Tidak ada medikasi yang diberikan kecuali jika serangan berlangsung berkali-kali. Anak-anak yang mengalami serangan febril biasanya memiliki EEG normal dan nilai laboratoris yang normal selama seminggu mendapat serangan.
Status epilepticus (status epileptikus) adalah aktivitas serangan yang terjadi dengan adanya frekuensi dimana serangan hampir selalu berlangsung tanpa adanya jeda waktu untuk penyembuhan. Status epileptikus dapat dikaitkan dengan tipe kejang manapun, tetapi paling sering bertipe serangan tonic-clonic menyeluruh. Resiko status epileptikus meliputi kompromi saluran pernafasan, asidosis, hipotensi, hipertensi, hipertermia, edema serebral, hipoglikemia dan kerusakan fungsi sistem saraf pusat setelah episode serangan.
Diagnosis yang tepat mengenai serangan sangat penting sehingga obat-obat anti-epileptik dapat diberikan. Beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan untuk memberikan anti-epilepsi antara lain efek samping, usia, jenis kelamin dan harga. Golongan fenobarbital dan fenitoin (Dilantin, Parke-Davis) adalah yang paling sering diresepkan sebagai medikasi serangan. Carbamazepin (Tegretol, Basel Pharmaceuticals) dan asam valproat (Depakene, Depakote, Abbot Laboratories) juga telah sering diresepkan pada pasien dengan kelainan kejang. Pasien yang mengalami serangan biasanya minum sekali sesuai dosis untuk mempertahankan konsentrasi terapeutik.
Tabel di bawah merangkum beberapa obat-obatan yang sering digunakan untuk pengobatan, tetapi penentuan dosis sangat individual karena beberapa pasien menunjukkan gejala keracunan pada konsentrasi rendah daripada pasien yang lainnya.

OBAT-OBAT ANTIKONVULSAN
Fenitoin. Fenitoin pertama kali diperkenalkan pada tahun 1938 dan dipakai secara luas untuk mengobati kejang tonic-clonic sebagian dan menyeluruh. Obat ini telah dibuktikan mempunyai indeks terapeutik tinggi yang tidak umum dan merupakan obat anti konvulsan terbaik yang dapat ditoleransi. Fenitoin dapat diadministrasikan peroral – dalam bentuk kapsul ataupun secara intravena. Obat ini tidak diindikasikan untuk injeksi intramuskuler karena absorpsi yang rendah dan adanya reaksi kristalisasi dalam otot. Pengguna alkohol rutin dapat meningkatkan clearance (klirens) fenitoin, dan konsentrasi obat dalam darah harus terus dimonitor pada pasien dengan konsumsi alkohol teratur. Efek kronis terkait fenitoin termasuk hiperplasi gingiva, hirsutism, dan penampakan wajah yang menjadi kasar. Fenitoin juga mengubah metabolisme vitamin D, yang dapat mengakibatkan kelainan tulang seperti osteomalasia atau hipokalsemia. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko osteomalasia adalah asupan diet rendah vitamin D, paparan sinar matahari yang minimal dibarengi terapi obat-obat antikonvulsan atau penggunaan hormon laki-laki secara eksogen. Blood dyscrasias (diskrasia darah) merupakan kasus yang tidak umum, tetapi telah dilaporkan terdapat leukopenia dan supresi sumsum tulang. Sebagian besar analgetika dapat diberikan secara aman pada pasien yang mengkonsumsi fenitoin. Jika dimonitor dengan baik, pasien mampu mendapat terapi fenitoin untuk beberapa tahun dengan kontrol serangan yang baik.

Carbamazepine. Carbamazepine secara farmakologis terkait dengan antidepresan trisiklik. Obat ini dapat mengontrol kejang tonic-clonic sebagian kompleks dan menyeluruh. Bentuk sediaan yang tersedia adalah peroral. Carbamazepine relatif memiliki waktu paruh yang singkat yang mengakibatkan fluktuasi harian dan frekuensi dosis berulang. Pengunaan bersama dengan fenitoin meningkatkan waktu klirens carbamazepine secara signifikan sehingga dosis yang lebih tinggi dibutuhkan. Carbamazepine sangat mirip dengan fenitoin pada karakter anti-epilepsinya. Obat ini diresepkan secara luas oleh dokter jarena tidak menyebabkan hiperplasi gingiva ataupun hirsutisme. Efek samping termasuk diskrasia darah (termasuk anemia aplastik), dermatitis eksfoliatif dan jaundice. Propoksifen (Darvon, Eli Lilly & Co.) dan eritromisin sebaiknya tidak diresepkan bersamaan dengan carbamazepine karena obat-obatan ini secara signifikan meningkatkan kadar carbamazepine dalam darah. Analgetika yang dapat digunakan secara aman bersamaan dengan penggunaan carbamazepine antara lain aspirin, asetaminofen dan ibuprofen.


Asam valproat. Asam valproat mempunyai spektrum luas aktivitas antiepileptik dan berguna dalam pencegahan petit mal, myoclonic dan kejang tonic-clonic menyeluruh. Obat ini hanya terdapat dalam sediaan peroral dan larut dalam air; sediaan parenteral tidak ada. Asam valproat dapat pula diperikan melalui rektal jika pasien tidak mampu melalui jalur peroral. Efek samping paling umum adalah mual dan muntah. Efek samping yang mungkin lainnya termasih perubahan nafsu makan, sedasi dan rambut rontok. Hepatotoksik fatal memiliki kemiripan dengan Reye’s syndrome yang terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun yang mengkonsumsi antikonvulsan multipel. Asam valproat dapat menurunkan fungsi dan hitung platelet, dan dapat meningkatkan perdarahan, sehingga aspirin dan ibuprofen merupakan kontraindikasi. Kelainan darah seperti anemia dan leukopenia dapat pula terjadi.

Barbiturat. Barbiturat yang paling sering digunakan adalah fenobarbital dan primidon (Mysoline, Wyeth-Ayerst Laboratories). Obat ini diindikasikan untuk kejang tonic-clonic menyeluruh. Fenobarbital tersedia dalam bentuk peroral dan parenteral. Obat ini mempunyai waktu paruh yang lama dan dapat diberikan sekali sehari, biasanya pada malam hari untuk menghindari kantuk yang merupakan efek sampingnya. Dosis sekali sehari dapat pula membantu ketika kepatuhan menjadi masalah. Primidon dimetabolisme menjadi fenobarbital dan feniletilmalonamid, dan dibuktikan manjur pada pasien yang kejangnya tidak terkontrol dengan antikonvulsan yang lain. Obat yang dapat meningkatkan aktivitas enzim hepar seperti warfarin (Coumadin, DuPont Pharma)m hidrokortison dan digoksin (Lanozin, Burroughs Wellcome) dapat menurunkan kadar fenobarbital dalam darah. Supresi sumsum tulang jarang terjadi tetapi komplikasi yang terkait defisiensi folat, hipokalsemia dan osteomalasia dapat terjadi.

Suksinimid. Etosuksimid (Zarontin, Parke-Davis) adalah golongan suksinimid yang paling sering diresepkan untuk mengontrol petit mal. Obat ini tersedia dalam sediaan peroral. Waktu paruh pada anak-anak sekitar 30 jam dan pada orang dewasa 50 jam. Beberapa efek sampingnya adalah mual dan muntah.

Benzodiazepin. Antikonvulsan dari golongan ini yang paling sering diresepkan adalah diazepam (Valiun, Roche), lorazepam (Ativan, wyeth-Ayerst Laboratories) dan klonazopam (Kionopin, Roche). Obat ini diabsorpsi secara cepat melalaui jalur oral. Diazepam dan lorazepam mempunyai sediaan parenteral. Diazepam dan lorazepam digunakan untuk mengobati status epileptikus karena distribusi yang cepa pada otak. Klonazepam efektif digunakan untuk terapi kejang myoclonic.

Antikonvulsan yang lebih baru. Beberapa obat-obat antikonvulsan baru yang tersedia di Amerika Serikat antara lain lamotrigin (Lamictal, Burroughs Wellcome), dan gabapentin (Neurontin, Parke-Davis). Toksisitas obat ini rendah sehingga monitoring rutin terhadap kadar obat ini dan nilai laboratoris lainnya tidak diperlukan.

PERTIMBANGAN MEDIS
Sebagian besar pasien mempunyai kontrol baik terhadap serangan kejang dan dapat menerima perawatan dental rutin. Dokter gigi perlu mengetahui beberapa obat-obatan yang digunakan untuk medikasi serangan kejang yang diminum oleh pasien dan waspada terhadap efek sampingnya. Hal ini sangat penting pada kasus-kasus pasien yang memerlukan ekstraksi ataupun terapi antibiotik. Tidak ada satupun teori mengenai patogenesis serangan kejang; serangan kejang dapatt dipicu oleh banyak hal termasuk kecemasan, penyakit, kelelahan, perubahan metabolik dan hiperventilasi. Ketika melakukan anamnesa mengenai riwayat medis, adalah penting untuk mengetahui frekuensi kejang, sudah berapa lama kejang berlangsung, apakah pasien kehilangan kesadarannya atau berhenti bernafas, kapan episode kejang terakhir berlangsung dan bagaimana serangan kejang biasanya diatasi. Perlu dicari tahu juga bagaimana kondisi tipikal pasien setalah terkena serangan (misalnya apakah pasien merasa bingung atau mengantuk, ataukah mengalami sakit kepala). Operator harus sensitif akan adanya rasa malu pada pasien setelah mengalami serangan kejang sehingg operator harus membuat pasien merasa senyaman mungkin. Beberapa pasien dapat mengalami kehilangan ingatan parsial sekitar insiden terjadi, dan pasien tidak dapat menahan diri selama kejang berlangsung, yang lebih jauh menaikkan kesadaran diri. Pasien sebaiknya tidak dibuat gelisah, karena pasien dapat tertidur setelah terjadi serangan kejang. Adalah bijaksana untuk menunda tindakan dental ketika pasien mengalami episode kejang menengah hingga berat, tetapi jekang ringan dapat terjadi tanpa diketahui dan biasanya tidak mengganggu tindakan dental jika pasien menghendaki tindakan tersebut dilaksanakan. Pasien yang mengalami grand mal, serangan kejang tonic-clonic mungkin dapat mendeskripsikan sensasi atau aura sebelum kehilangan kesadaran. Pasien kemudian mengalami periode singkat kekakuan otot (10 – 20 detik). Kejadian ini diikuti dengan kontraksi muskuloskeletal menyeluruh dan relaksasi yang berlangsung dari 3 hingga 5 menit. Selama fase posictal, yang dapat berlangsung 10 – 30 menit, otot berelaksasi dan terjadi depresi sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler. Kesembuhan penuh dapat memakan waktu hingga 3 jam. Serangan kejang yang berhenti dan kembali sebelum pasien mendapatkan kesadarannya kembali merupakan kondisi serius yang signifikan dan dapat menjadi indikasi status epileptikus. Langkah pertama penatalaksanaan kejang dalam tataran klinik dental adalah melindungi pasien terhadap luka yang lebih jauh. Kursi gigi sebaiknya diletakkan pada posisi supinasi dan sedekat mungkin dengan lantai. Jangan meletakkan apapun pada mulut pasien untuk menyangga mulut supaya terus terbuka, misalnya penyangga mulut atau tongue blade karena dapat mencelakakan pasien. Yakinlah untuk menjaga saluran pernafasan (airway) tetap terbuka sehingga pertukaran oksigen pasien lancar. Hal ini dapat dicapai dengan memposisikan kepala sedemikian rupa sehingga kepala tertekuk dan leher lurus. Handuk gulung dapat ditempatkan di bawah bahu pasien. Sekresi berlebih yang dapat menyumbat saluran pernafasan dapat disedot dengan suction. Tanda-tanda vital seperti denyut nadi dan tekanan darah dimonitor dan usahakan menghubungi unit gawat darurat sesegera serangan kejang bermula untuk meyakinkan tindakan selanjutnya. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, serangan kejang dapat mengancam keselamatan pasien. Hal ini harus ditindak sesegera mungkin untuk menghindari kerusakan saraf, perubahan metabolisme otak, asidosis dan hipoksia. Pasien dengan serangan kejang rekuren biasanya distabilkan dengan obat-obatan antikonvulsan intravena. Kecuali staf klinik telah terlatih dengan penatalaksanaan farmakologis pasien dengan serangan kejang, keadaan ini harus dilakukan oleh staff unit gawat darurat. Obat yang menjadi pilihan untuk mengontrol serangan kejang rekuren adalah lorazepam dosis 0,05 – 0,1 mg/kg. Diazepam juga dapat diberikan pada dosis 0,2 – 0,5 mg/kg, tetapi lorazepam memiliki waktu paruh yang lebih panjang dan lebih tidak menimbulkan depresi respirasi dan hipotensi.

PERTIMBANGAN DENTAL
Adanya serangan kejang dapat mempengaruhi beberapa keputusan perawatan. Misalnya, keputusan terkait prostetik dapat dipengaruhi oleh karakter serangan kejang. Secara umum, gigi tiruan cekat lebih dianjurkan daripada gigi tiruan lepasan, karena gigi tiruan lepasan dapat lepas selama serangan kejang berlangsung. Penempatan frame denture yang terbuat dari logam mungkin dapat meminimalisir kemungkinan fraktur. Penggunaan jaket akrilik untuk mahkota anterior dapat memfasilitasi misalkan terjadi fraktur. Komplikasi oral paling signifikan terkait serangan kejang adalah hiperplasi gingiva sekunder terinduksi fenitoin. Sekitar setengah pasien dengan terapi fenitoin menunjukkan adanya pembesaran gingiva, biasanya sekitar 2 – 18 bulan setelah inisiasi obat. Etiologi pembesaran gingiva masih belum diketahui, tetapi terdapat peningkatan jumlah fibroblast pada jaringan ikat. Hiperplasia gingiva dapat terjadi pada semua usia pasien, tetapi efeknya pada pasien muda lebih besar daripada efek pada usia dewasa. Jenis kelamin tidak berpengaruh; insidensi pada laki-laki dan wanita sama. Tidak ada hubungan antara dosis dengan insidensi hiperplasia gingiva. Bukti klinis yang kuat menunjukkan adanya korelasi kebersihan mulut yang buruk dan jumlah pertumbuhan berlebih jaringan. Area gingiva yang terlibat diurutkan mulai dari yang paling parah, adalah:
• Permukaan fasial anterior maksila
• Permukaan fasial anterior mandibula
• Permukaan bukal posterior maksila
• Permukaan bukal posterior mandibula
Permukaan lingual terlibat dalam keparahan yang relatif kecil dibandingkan permukaan fasial. Pertumbuhan jaringan yang berlebihan dapat menyebabkan erupsi gigi menjadi tertunda, erupsi yang tidak sesuai dengan jalur, retensi makanan dan debris, halitosis dan penampilan gingiva yang tidak menarik. Hiperplasi gingiva sembuh sekitar satu hingga enam bulan setelah penghentian fenitoin; pada kasus-kasus yang ekstrim, dokter gigi dapat berkonsultasi dengan dokter pasien mengenai obat antikonvulsan alternatif untuk menghindari beberapa masalah yang telah disebutkan di atas. Jika hiperplasi gingiva berkaitan dengan fungsi oral ataupun estetika, gingivektomi dapat dilakukan. Prosedur dapat dilakukan melalui elektrokauterisasi ataupun laser atau dengan instrumen bedah. Jika gingivektomi seluruh regio hendak dilakukan, elektrokauterisasi lebih dianjurkan karena perdarahan minimal dan biasanya tidak memerlukan dressing. Pasien disarankan untuk menjaga dan meningkatkan kebersihan mulut rutin karena insidensi rekurensi tinggi dengan adanya kebersihan mulut yang buruk. Alat tekanan-positif dapat digunakan untuk mencegah pertumbuhan gingiva berlebih. Alat tersebut sebaiknya diletakkan segera setelah operasi dan digunakan pada waktu malam hari dan tiga jam pada waktu siang hari. Alat penekan dapat juga mengurangi pertumbuhan jaringan hiperplasi jika operasi menjadi kontraindikasi. Pasien dimonitor dengan interval waktu tiga bulan untuk melihat perkembangan dan kondisi kebersihan mulutnya. Salah satu penelitian menyatakan bahwa aplikasi topikal stannous flouride sebagai bagian dari kebersihan mulut rutin dapat membantu mengontrol hiperplasi gingiva.

KESIMPULAN
Pasien dengan serangan kejang dapat dilakukan tindakan pada tataran klinik pribadi. Riwayat medis yang menyeluruh dapat memberikan informasi mengenai:
• Apa tipe serangan kejang yang dimiliki pasien;
• Seberapa baik serangan kejang terkontrol;
• Frekuensi dan durasi serangan kejang;
• Faktor-faktor yang mungkin memicu serangan kejang;
• Apa yang dapat dilakukan ketika pasien mendapat serangan kejang
Dokter gigi harus mengenal obat-obatan yang digunakan untuk medikasi serangan kejang dan efek sampingnya. Informasi yang didapat dan dokumen dari pasien akan membuat operator dan staf dental yang lain menjadi lebih nyaman. Informasi medis dapat pula mengantisipasi jikalau serangan kejang terjadi, bahkan mungkin mencegah episode serangan sehingga memberikan pelayanan dental yang lebih baik kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Little JW, Falace DA. Dental management of the medically compromised patient. 3rd ed. Chicago: Mosby-Yearbook; 1988:279 – 90.
2. Treiman DM. Current treatment strategies on selected situations in epilepsy. Epilepsia 1993; 34 (Supplement 65): 517 – 23.
3. Cohen DW, ed. A symposium: the oral manifestations of gingival hyperplasia. Compendium Contin Educ Dent 1990; Supplement 14: S490 – S514.
4. Hirtz DG, Nelson KB. The natural history of febrile seizures. Ann Rev Med 1983;34: 453 – 71.
5. Milikan CH, ed. Seizure disorders: clinical management. Part II. Detroit: Perke-Davis; 1976: 6 – 23.
6. Konig SA. Severe hepatotoxicity during valproate therapy: an update and report on eight new facilities. Epilepsia 1994; 35 (5): 1005 – 15.
7. Harden CL. New antiepileptic drugs. Neurology 1994; 44 (5): 787 – 95.
8. Malamed SF. Managing medical emergencies. JADA. 1993; 124 (8): 40 – 51.
9. Selbst SM. Office management of status epilepticus. Pediatr Emerg Care 1991; 7 (2): 106 – 9.
10. Pellock JM. Status epilepticus in children: update and review. J Child Neurol 1994; 9 (Supplemet 2): S27 – 35.
11. Rucker LM. Prosthetic treatment for the patient with uncontrolled grand mal epileptic seizures. Spec Care Dentist 1985; 5 (5): 206 – 7.
12. Braham RL, Cassamassimo PS, Nowak AJ, Posnick WR, Steinberg AD. The dental implications of epilepsy. Rockville, Md.: U.S. Department of Health Education and Welfare, 1997; DHEW publication no HSA78 – 5217.
13. Stinnet E, Rodu B, Grizzle WE. New development in understanding phenytoin-induced gingival hyperplasia. JADA 1987; 114: 814 – 6.
14. Thomason JM, Seymour RA, Rawlins MD. Incidence and severity of phenytoin induced gingival overgrowth in epileptic patients in general medical practice. Community Dent Oral Epidemiol 1992; 20: 288 – 91.
15. Modeer T, Dahloff G. Development of phenytoin-induced gingival overgrowth in non-institutionalixed epileptic children subjected to different plaque control programs. ACTA Odontol Scandl 1987; 45 (2) : 81 – 5.
16. Dahloff G, Axio E, Modeer T. Regression of phenytoin-induced gingival overgrowth after withdrawal of medication. Swed Dent J 1991; 15 (3): 139 – 43.
17. Jones JE, Weddel JA, McKown CG. Incidence and indications for surgical management of phenytoin-induced gingival overgrowth in a cerebral palsy population. J Oral Maxillofac Surg 1988; 46: 385 – 90.
18. Steinberg AD. Clinical management of phenytoin-induced gingival overgrowth in handicapped children. Pediatr Dent 1981; 3 (Special Issue): 130 – 6.

NOTULENSI SEMINAR
Hari Rabu, 19 Januari 2011, 14.30 – 15.30, Ruang Seminar Departemen Bedah Mulut

(Hanna) Dalam presentasi disebutkan mengenai penggunaan analgetika dan antibiotika untuk penderita epilepsi. Bagaimana dengan anestesi? Anestesi jenis apa yang cocok bagi penderita epilepsi?
(Jawaban) Di dalam jurnal tidak dijelaskan maupun ditekankan mengenai signifikansi anestesi terhadap epilepsi. Dari sini dapat diasumsikan bahwa anestesi lokal tertentu, bahkan mungkin anestesi umum tertentu tidak dikontraindikasikan bagi penderita epilepsi. Namun, tentu saja, perlu mencari lebih dalam mengenai topik ini.

(Yanuarti) Bagaimana cara kita bisa mencurigai bahwa pasien kita menderita epilepsi? Bagaimana cara kita mengarah ke diagnosis tersebut?
(Jawaban) Anamnesis dapat memberikan beberapa petunjuk mengenai kecurigaan pasien menderita epilepsi, terutama anamnesa mengenai obat yang dikonsumsi. Pasien mungkin tidak akan terang-terang mengatakan bahwa ia menderita epilepsi dan operator tentu saja sangatlah tidak bijaksana jika menanyakan secara langsung to-the-point mengenai keadaan ini kepada pasien, sehingga perlu sekali anamnesa dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan pasien. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan pemilihan kata dan gesture yang tepat.

(Hanna) Apakah obat-obatan anti-epilepsi perlu diminum terus menerus?
(Jawaban) Iya, sama seperti obat-obatan untuk penyakit sistemik lainnya (hipertensi dan diabetes mellitus), penderita epilepsi perlu meminum secara rutin obat-obatan yang diresepkan. Pemutusan minum obat dapat berakibat tak diinginkan seperti status epilepticus (misalnya).
(Surya kemudian membacakan beberapa obat-obatan anti-epilepsi termasuk indikasi dan dosisnya, atas permintaan drg. E. Riyati).

Credit picture: nursingcrib.com

For the original version of my presentation, below is the download-able and readable.
Managing Patients Who Have Seizure Disorders Dental and Medical Issues

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!