Saturday, 25 June 2011

Migrain Dapat Menjadi Faktor Risiko Stroke (Heartwire)


Recently, I just found that I should filter my subscription to Medline, Medscape and Emedicine because I ticked all of issues there and wished to read all of it. What a greedy! Then I realized that my inbox was jammed with hundred of them. Instead of reading, I was busy emptying and re-filter it again. Sigh! What a waste of the time. And now, I rearrange my subscription. I only subscribe several topic that really hit my interest. Yup, mostly about dental and oral health, and of course hypertension and diabetes mellitus. Lately I found that I became fond of woman (perempuan) issues, that I finally make a new blog about it! Hahaha!). Anyway, this posting was taken from Medscape and Heartwire. Glad if you spend a little time to sit and read it heartfully. And don't worry, I translated it for you.


Prevalensi komorbiditas hipertensi dan migrain secara klinis jarang, tetapi dokter sebaiknya memberikan perhatian ketika melihat kondisi ini, karena siapa tahu dapat membantu mengidentifikasi pasien dengan risiko ini sewaktu-waktu.

Medscape Medical News dari European Society of Hypertension (ESH) 2011: 21st European Meeting on Hypertension

From Heartwire

Lisa Nainggolan

Juni 20, 2011 (Milan, Itali) — Meskipun beberapa isu perlu diklarifikasi, bukti yang terkumpul menyatakan bahwa migrain dipandang sebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskuler, atau lebih spesifiknya stroke, kata salah satu ahli.

Selama kuliah mengenai migrain dan hipertensi di European Society of Hypertension (ESH) European Meeting on Hypertension 2011 hari ini, Dr Enrico Agabiti-Rosei (Universitas Brescia, Itali) mendiskusikan penemuannya dari penelitian yang dipublikasikannya awal tahun ini [1], yang menunjukkan bahwa pasien yang mempunyai hipertensi dan menderita migrain mempunyai kemungkinan lebih tinggi mengalami cerebrovascular events daripada pasien yang hanya menderita hipertensi saja.

“Prevalensi komorbiditas hipertensi dan migrain secara klinis jarang, tetapi dokter sebaiknya memberikan perhatian ketika melihat kondisi ini, karena siapa tahu dapat membantu mengidentifikasi pasien dengan risiko ini sewaktu-waktu. Migrain mungkin dapat dipertimbangkan sebagai faktor dalam skor risiko stroke,” jelasnya.

Kepada heartwire, ia berkomentar, “Ketika individu muda mengidap hipertensi, ini adalah khal yang penting, terutama kalau dia perempuan, untuk mengetahui apakah ia menderita migrain atau tidak. Segera sesudah komodbiditas ini ditemukan, penting sekali dilakukan skrining faktor risiko kardiovaskuler, karena apa yang dapat dilakukan oleh dokter adalah mencoba mengurangi faktor risiko yang mungkin yang dapat dikoreksi dengan perawatan – ini bukan hanya untuk hipertensi tetapi juga termasuk kolesterol tinggi, diabetes dan lain-lain.”

Isu-isu tersisa yang perlu dipecahkan, menurutnya, termasuk apakah migrain sendiri adalah faktor risiko yang bisa dimodifikasi untuk stroke dan apakah perawatan migrain dapat mengurangi risiko stroke. “Kita perlu penelitian lebih lanjut untuk menilai kepentingan sejati hubungan ini. Kita memerlukan penelitian prospektif untuk mengkonfirmasi hasil menarik ini.”, tandasnya.

Pasien dengan Migrain dan Tekanan Darah Tinggi Dapat Berkembang Menjadi Hipertensi pada Usia Muda

Dalam wawancara ini, Agabiti-Rosei menggarisbawahi penelitian sebelumnya di bidang ini, terutama studi epidemiologi dan observasi, yang telah mengindikasikan korelasi diantara migrain dan cerebrovascular events, terutama stroke. “Migrain sepertinya berhubungan dengan kerusakan vaskuler, disfungsi endotelial”, katanya.

Untuk memeriksa karakter subjek yang mempunyai komorbiditas tersebut, dia dan koleganya melakukan survei cross-sectional, multicenter dalam jumlah besar di Itali – penelitian Hypertension and Migraine Comorbidity: Prevalence and Risk of Cerebrovascular Events (MIRACLES) – dimana mereka membandingkan kejadian-kejadian sebelumnya yang dialami pasien dengan komorbiditas dan pasien yang hanya menderita hipertensi saja.

Penelitian ini melibatkan 2973 pasien dengan hipertensi, migrain, dan keduanya. Pasien hipertensi saja 1271 orang (43%), migrain saja 1185 orang (40%), dan pasien komorbiditas hipertensi – migrain 517 orang (17%).

Pasien dengan komorbiditas onsetnya terjadi pada sekitar 45 tahun, dengan migrain bermula secara signifikan lebih lambat daripada kelompok migrain saja, dan dengan hipertensi bermula secara signifikan lebih awal daripada kelompok hipertensi saja. Tekanan darah lebih sulit dikontrol pada mereka yang mempunyai komorbiditas, dan individu ini sering mempunyai riwayat keluarga positif untuk keduanya.

Pasien dengan Komorbiditas Mempunyai Kemungkinan Lima Kali Lebih Besar Mengalami Stroke

Kelompok komorbiditas mempunyai prevalensi cerebrovascular events yang lebih tinggi (4,4%) daripada kelompok hipertensi saja (3,1%) atau migrain saja (0,7%), dengan rasio odd riwayat prediksi stroke atau serangan iskemik sementara (transient ischemic attack; TIA) 1,76 (95% confidence index 1,01 – 3,07) dibandingkan dengna kelompok hipertensi. Dan dengan interval usia 40 – 49 tahun, prevalensi riwayat stroke/ TIA lebih besar menjadi lima kalinya (4,8% pasien dengan komorbiditas versus kelompok hipertensi).

Agabiti-Rosei mengatakan bahwa meskipun mereka teliti dalam mendiagnosa migrain dengan aura pada MIRACLES, mayoritas pasien memang mempunyai migrain, jadi tidak ada analisia migrain menggunakan aura.

Dalam kesimpulannya, ia mengatakan “Prevalensi komorbiditas hipertensi dan migrain secara klinis relevan dan mungkin membantu identifikasi pasien yang mempunyai risiko kardiovaskuler ke depannya.”

"Ada baiknya dokter mencari hubungan ini, dan biasanya onset migrain relatif terjadi pada usia muda, sebagai bandingan onset hipertensi, tetapi seperti yang coba kami maksudkan adalah mencoba meyakinkan para dokter untuk mengukur tekanan darah lebih awal, bermula dari usia muda, bahkan diantara para remaja dan anak-anak sekalipul”, komentarnya pada heartwire .

Referensi:
1. Mancia G, Agabiti-Rosei E, Ambrosioni E, et al. Hypertension and migraine comorbidity: Prevalence and risk of cerebrovascular events. Evidence from a large, multicenter, cross-sectional survey in Italy (MIRACLES study). J Hypertens 2011; 29:309–318. Abstract
2. http://www.medscape.com/viewarticle/744921?sssdmh=dm1.696880&src=nldne

Credit picture: piogama.ugm.ac.id

3 comments:

  1. Duh saya jadi takut, soalnya kadang saya suka migren tp ga sering banget :(

    ReplyDelete
  2. Hmm, migrain ternyata tidak bisa disepelekan ya. Ada baiknya mulai ngecek tekanan darahnya. Kalau bisa rutin sehingga risiko-risiko penyakit dapat diminimalisir. Lagipula, ada faktor-faktor lain yang bisa dikendalikan seperti gaya hidup: diet, olahraga, tidur dan stress.

    ReplyDelete
  3. Assalamu'alaikum ohayou gozaimasu^^

    ReplyDelete

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!