Sunday, 19 June 2011

Waspada terhadap 'Super Toxic' STEC pada Travelers, kata CDC

I was browsing net yesterday and found a blog that embed information about STEC. The tittle said so, and the prologue did so. So what is this STEC? I was previously find the meaning or at least the abbreviation via google, and Voila! found dozens of it. But what I want to share is about Shiga Toxin-producing Escherichia coli. The newest strain that is considered as a 'super-toxic' bug infected Germany population and peoples who recently traveled there. I actually received a newsletter from MedScape.com but haven't read it enthusiastically until one blogger posted it (I thought he took the news from Yahoo or somewhere) and I felt a little bit annoyed. Why I felt annoyed? Because I think that their (Europe) countermeasures are indeed very efficient. Unlike in here, my Indonesia. So I decided to translate it and post it here. Don't worry, the article was already translated to Indonesia, though my English is so-so. Alright then, happy reading!



Infeksi E coli 'Sangat Jarang' tetapi Mematikan

Oleh Nancy A. Melville
Diterjemahkan lepas oleh Vika Asriningrum

Juni 3, 2011 — Bersamaan dengan pemegang kuasa kesehatan Jerman secara berkelanjutan menemukan sumber wabah Escherichia coli yang secara unik herohemoragik dan toksik yang telah menelan korban setidaknya 18 orang, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (the Centers for Disease Control and Prevention; CDC) mengeluarkan peringatan kepada para pemberi pelayanan kesehatan untuk waspada terhadap infeksi Shiga toxin–producing E coli O104:H4 (STEC O104:H4) diantara pada wisatawan yang kembali dari Jerman.

Walaupun terdapat beberapa laporan yang menyatakan stabilisasi wabah, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization; WHO) menegaskan bahwa terdapat 1.823 kasus total STEC O104:H4 telah dilaporkan, termasuk 520 kasus sindrom uremik hemolitik (hemolytic uremic syndrome; HUS), komplikasi infeksi yang berpotensi mengancam nyawa yang dapat menyebabkan gagal ginjal/ Dua belas kasus HUS termasuk fatal dan 6 kematian dilaporkan adalah kasus non-HUS.

Jumlah negara yang dilaporkan mempunyai kasus keracunan STEC O104:H4 telah meningkat menjadi 11 pada hari Jumat. Akan tetapi, semua kecuali satu kematian yang terjadi sejak mewabah bermula pada bulan Mei semuanya terjadi di Jerman. Kematian ke-18 dilaporkan terjadi di Swedia dan terjadi pada individu yang baru saja pulang dari Jerman.

Gejala-gejala strain baru, yang oleh pemegang kuasa Eropa menyebutnya “super-toksik”, secara khusus berat, termasuk keram perut, diare berdarah, muntah dan demam. Meskipun demikian, demam biasanya tidak terlalu tinggi.

Jarang tetapi Bukannya Tidak Lazim
“Empat kasus infeksi yang dicurigai telah dilaporkan di Amerika Serikat, semua melibatkan individu yang sebelumnya baru-baru ini berunjung ke Hamburg, Jerman”, kata Chris Brade, MD, Direktur Foodborne, Waterborne, and Environmental Diseases CDC, pada briefing press hari ini.
Tiga dari 4 kasus di Amerika Serikat melibatkan HUS dan pasien dirawat inap. “Kasus keempat tidak berkembang menjadi HUS, tetapi bergejala diare berdarah, dan kita tahu bahwa organisme produksi-toksin Shiga terlibat”, katanya.

Dr. Braden menggambarkan strain STEC O104:H4 sebagai “sangat jarang” tetapi bukannya tidak lazim.
"CDC tidak sadar akan adanya kasus apapun terkait infeksi ini pernah dilaporkan di Amerika Serikat. Meskipun demikian, kami menjadi menyadari strain yang mirip di negara lain di masa lalu”, paparnya.

Strain tersebut menyerang tubuh dengan cara yang berbeda dengan strain E coli produksi-toksin Shiga yang lain. "Strain tersebut mepunyai perbedaan pada penanda genetik dan caranya menempel pada dinding usus”, tambah Dr. Braden.

Mayoritas Pasien Perempuan
Sebagai tambahan penyebab secara khusus gejala yang berat, strain ini kebenyakan menyerang perempuan dan individu di atas 20 tahun. “Adalah benar bahwa di Jerman 60% kasus ini dan 71% kasus HUS adalah perempuan”, tegas WHO.

“Pola yang tidak umum menekankan bahwa masih sedikit yang diketahui menganai karakteristik strain ini, tetapi bisa juga mengindikasikan bahwa sumber mungkin berhubungan dengan demografi perempuan dewasa”, kata Dr. Braden.

"Kita mempunyai banyak PR tentang organisme tertentu ini. Adalah hal yang mungkin organisme ini mempunyai predileksi yang lebih tinggi pada dewasa daripada anak-anak, tetapi ada pula kemungkinan tergantung tipe makanan atau produk yang dimakan lebih banyak pada perempuan dewasa daripada lainnya”, lanjutnya. Dr. Braden juga menyatakan bahwa durasi gejala dari terpapar hingga onset termasuk unik, dengan waktu inkubasi lebih dari seminggu hingga 12 hari, dibandingkan dengan 5 hari seperti yang biasanya diamati pada infeksi E coli lainnya.

“Sebagian besar gejala pasien sembuh selama kurun waktu 5 – 7 hari. Meski demikian, HUS dapat berkembang sekitar seminggu setelah diare muncul”, terangnya.

"Triad klasik penemuan HUS antara lain kerusakan ginjal akut, anemia hemolitik mikroangiopati (bukti adanya schistosit dan sel helm pada apus darah tepi), dan trombositopenia”, papar CDC.

Tersangka Utama
Setelah menelusuri ke belakang sugesti awal bahwa sumber strain E coli dapat berhubungan dengan mentimun Spanyol organik, pemerintah resmi Jerman menyatakan bahwa mentimun, tomat dan selada adalah tersangka utama.

Sebagai tambahan, perwakilan pengawasan penyakit nasional Jerman, Institut Robert Koch telah menyarankan kepada para konsumen, terutama mereka yang tinggal di daerah Jerman Utara sekitar Hamburg, untuk menghindari konsumsi sayur ini.

Institut telah mengatakan bahwa jumlah kasus yang bermunculan telah mencapai puncak sekitar tanggal 21 atau 22 Mei. Meski demikian, pemerintah memperingatkan bahwa penundaan komunikasi dapat memperlambat pelaporan kasus baru hingga sekarang. Dalam kurun waktu tersebut, pemerintak Jerman tidak lantas berjaga-jaga.

"Kita berurusan dengan fakta adanya epidemik terbesar yang disebabkan oleh bakteri dalam beberapa dekade terakhir ini”, kata Reinhard Brunkhorst, presiden Persatuan Nefrologi Jerman (German Nephrology Society), kepada para wartawan di Hamburg minggu ini.

Untuk pengobatan kasus STEC, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian antibiotika dapat meningkatkan risiko HUS, tetapi CDC merekomendasikan dokter akhirnya menentukan perawatan menurut kondisi tiap-tiap pasien. “Mungkin ada indikasi pemakaian antibiotika pada pasien dengan inflamasi jika perforasi menjadi perharian an”, kata perwakilan. “Sebagai catatan, isolat STEC O104:H4 pasien di Jerman menunjukkan adalnya resistensi terhadap antibiotika multipel”.

Petunjuk Deteksi

• Semua feses yang dites dari pasien dengan diare akut dapatan-komunitas harus dikultur untuk STEC O157:H7. Feses ini harus secara simultan diuji untuk non-O157 STEC dengan tes deteksi toksin Shiga atau gen yang mengkoding toksin ini.
• Laboratorium klinis harus melaporkan dan mengirimkan isolat E coli O157:H7 dan sampel positif toksin Shiga pada laboratorium kesehatan umum atau negara secepatnya untuk karakterisasi tambahan.
• Spesimen atau pengayaan kaldu (enrichment broths) yang mendeteksi toksin Shiga dan STEC, tetapi dari isolat O157:H7 STEC tidak dapat diperoleh, maka harus segera diteruskan ke laboratorium kesehatan publik lokal ataupun pusat sehingga non-O157:H7 STEC dapat diisolasi.
• Kadang sulit untuk mengisolasi STEC dari feses ketika pasien datang dengan HUS. Pemisahan imunomagnetik (immunomagnetic separation; IMS) telah menunjukkan dapat meningkatkan perolehan STEC dari pasien HUS. Untuk semua pasien dengan HUS tanpat kultur terkonfirmasi infeksi STEC, feses dapat dikirim ke laboratorium kesehatan umum yang dapat melayani IMS atau ke CDC (melalui laboratorium kesehatan umum negara). Sebagai tambahan, serum dapat dikirimkan kepada CDC (melalui laboratorium kesehatan umum negara) untuk tes serologis serogrup STEC yang common.

If you read above article, you will find that their service-line against this kind of problem is well prepared. Very efficient. And my question here is: How about Indonesia?

Spoiler:
Saya menelepon adik saya tentang ini dan meminta komentarnya, tahu apa jawabnya? "Halah! Kalo Indonesia mah, perlu bikin pansus dulu, rapat-rapat melulu, habis itu baru bikin surat keputusan, lalu rapat-rapat lagi, gitu terus, isinya kayak gitu terus...Disini, kalo habis pup cebok, terus mencuci tangan dengan sabun sudah cukup". Saya hanya mengangguk-angguk.

Reference for article: www.medscape.com
Credit picture: foodpoisonjournal.com, nbafoodadvocate.com

3 comments:

  1. Replies
    1. Dokter gigi tepatnya, Bro ^w^.
      Terima kasih sudah mampir.

      Delete
  2. Halo FZABoyZ, kurang tepat, saya bergerak di bidang kedokteran gigi, meski demikian, saya menyukai topik-topik kesehatan lainnya ko, dan juga topik tentang SEO (sedang belajar), teknologi, pastry, gaya hidup dan pengetahuan umum lainnya. Lha! Jadi curhat.

    ReplyDelete

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!