Friday, 1 July 2011

Manajemen Klinis Hipersensitivitas Dentin (part 3 of 8)

Gambar 3. Tangga nyeri menunjukkan nyeri yang makin meningkat dan kompleksitas perawatan desensitisasi. Diadaptasi dengan izin World Health Organization (32).

Here comes part 3. It's about clinical management of dentin hypersensitivity form "Managing Dentin Hypersensitivity" journal. Speaking of which, my mood is getting better now. I presumed that the hormone drive didn't engrossed me again. Ahaha! It might be my last day for having my period this month.


Menentukan perawatan HD adalah hal yang menantang karena cara kerjanya kadang tidak diketahui. Akan lebih mudah jika menggolongkan perawatan menurut cara pemberiannya. Perawatan dapat diberikan sendiri oleh pasien di rumah ataupun dilakukan oleh dokter gigi di klinik. Metode at-home cenderung lebih sederhana dan lebih murah dan dapat digunakan untuk mengatasi HD umum yang menyerang beberapa gigi (31). Perawatan in-office lebih kompleks dan biasanya mentargetkan perawatan untuk HD yang terlokalisir pada salah satu gigi ataupun beberapa gigi. Pilihan perawatan yang bervariasi ini dapat digolongkan berdasarkan kompleksitasnya (Gambar 3).

Riwayat, pemeriksaan dan diagnosis. Diagnosis HD sebaiknya ditentukan hanya ketika dokter gigi sudah mempertimbangkan diagnosis banding setelah melakukan penarikan riwayat secara metodis dan pemeriksaan pada pasien. Seperti yang telah kami jabarkan sebelumnya, HD diterjemahkan sebagai nyeri gigi sementara yang muncul sebagai respon dari stimulasi (1). Penyebab nyeri gigi sementara yang lain harus digugurkan jika diagnosis HD hendak dibuat. Mengukur derajat awal sensitivitas memberikan dasar untuk dapat memetakan perubahan kondisi berikutnya. Skor nyeri dapat diukur menggunakan skala kategori deskriptif (sebagai contoh: nyeri ringan, sedang, berat) ataupu skala analog visual (contohnya dari 0 – 100). Untuk memperoleh respon nyeri untuk tujuan pencatatan, dokter gigi dapat menggunakan probe ataupun semprotan udara. Evaluasi pasien sendiri akan beratnya sensitivitasnya juga dicatat, penting juga untuk menarik data bagaimana keparahan kondisi pasien tersebut dalam kegiatan sehari-hari (30).

Referensi:
1. Orchardson R., Gillam DG., 2006, Managing Dentin Hypersensitivity, JADA Assoc, Vol 137 (7) : 990-8
2. http://jada.ada.org/content/137/7/990.full

3 comments:

  1. DD-nya HD apa ya Yuki? :D sayang gak dijelasin aja sekalian.. atau emang ada di 2 part sebelumnya?

    ReplyDelete
  2. Hi, Doc, sorry, in this journal, it seems that the DD was not included, but after a little research, I found that several DD of DH are caries, fractured or chipped enamel/dentine, pain due to reversible pulpitis, and post dental bleaching sensitivity.
    For detail explanation, please refer to:
    1. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3010026/
    2. http://www.dental-professional.com/Conditions_DentinHypersensitivity.aspx
    3. http://www.adha.org/CE_courses/course9/prevention.htm
    Have a nice hunting!

    ReplyDelete
  3. Hi, Doc, sorry, in this journal, it seems that the DD was not included, but after a little research, I found that several DD of DH are caries, fractured or chipped enamel/dentine, pain due to reversible pulpitis, and post dental bleaching sensitivity.
    For detail explanation, please refer to:
    1. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3010026/
    2. http://www.dental-professional.com/Conditions_DentinHypersensitivity.aspx
    3. http://www.adha.org/CE_courses/course9/prevention.htm
    Have a nice hunting!

    ReplyDelete

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!