Saturday, 9 July 2011

Perawatan At-Home (part 5 of 8)


There are two kinds of treatments of dentin hypersensitivity: At-Home and In-Office. This grouping is based on complexity and the diagnosis. The At-Home treatments are desensitizing toothpastes/dentifrices, potassium salts, toothpaste application and mouthwash and chewing gums.


Pasta gigi desensitisasi. Pasta gigi adalah bahan yang paling luas digunakan untuk membawa bahan desensitisasi secara bebas (over-the-counter). Pasta gigi desensitisasi yang pertama muncul di pasaran diklaim dapat menutup tubulus dentinalis (mengandung garam stronsium dan flouride) ataupun menghancurkan elemen vital di dalam tubulus dentinalis (yang mengandung formaldehida). Sekarang, sebagian besar pasta gigi desensitisasi mengandung garam potasium seperti potasium nitrat, potasium klorida ataupun potasium sitrat, melalui salah satu penelitian (34), dijelaskan bahwa pasta gigi remineralisasi yang mengandung sodium flouride dan kalsium fosfat dapat mengurangi HD.

Garam potasium. Pasta gigi yang mengandung potasium nitrat telah digunakan sejak tahun 1980 (35). Sejak saat itu, pasta gigi yang mengandung potasium klorida atau potasium nitrat dikomersialisasikan (36). Ion potasium diduga berdifusi sepanjang tubulus dentinalis dan mengurangi kepekaan saraf intradental melalui penggantian potensi membrannya (26, 37). Efikasi potasium nitrat dalam mengurangi HD, bagaimanapun, tida didukung kuat oleh literatur, menurut Poulsen dkk (38). Penulis ini melakukan meta-analisis percobaan klinis potasium nitrat pada pasta gigi yang mengandung potasium nitrat yang dipasarkan hingga tahun 1998. Delapan penelitian memberikan kepuasan pada kriteria inklusi mereka, tetapi hanya 4 penelitian yang memberikan informasi cukup untuk dimasukkan ke dalam meta-analisis final mereka.

Sejak tahun 2000, beberapa percobaan tentang pasta gigi mengandung-potasium telah dipublikasikan. Beberapa penelitian ini membandingkan formulasi pasta gigi yang berbeda. Sebagai contohnya, enam penelitian (39 – 44) menyatakan bahwa pasta gigi yang mengandung potasium nitrat 5% ataupun potasium klorida 3,75% secara signidikan mengurangi HD ketika dibandingkan dengan garis dasar atau kontrol negatif. Produk yang mengandung potasiun nitrat 5%atau stannous florida 0,454% dalam produk berbasis silika secara signifikan mengurangi HD daripada pasta gigi yang mengandung potasium nitrat 5% dan sodium flouride 0,243% pada basis silika (39, 40) atau bahkan daripada formulasi alternatif yang mengandung potasium nitrat 5% dan sodium monofluorofosfat 0,76% dalam basis dikalsium fosfat (41, 42).

Pada penelitian in vitro konduktans hidrolik pada piringan dentin (25) mengkonfirmasi penemuan percobaan klinis ini (39 – 42). Produk yang mengandung potasium nitrat 5% dan stannous flouride 0,454% dalam basis silika, yang mengurangi HD secara signifikan, ternyata juga mempunyai konduktans hidrolik (permeabilitas) paling rendah dan mempunyai fluks ion potasium ke dalam pada piringan dentin yang paling besar.
Dua penelitian mendukung efektivitas desensitisasi pasta yang mengandung potasium sitrat (45, 46). Beberapa pasta gigi mengandung bahan lain seperti flouride (contohnya, sodium monofluoro-phosphate, sodium fluoride, stannous fluoride) dan agen antiplak bersamaan dengan agen desensitisasi dan abrasif. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan bahan-bahan ini tidak saling mempengaruhi satu sama lainnya. Dua penelitian menemukan bahwa bahan antiplak triclosan dan zinc sitrat tidak berinteraksi dengan efikasi desensitisasi potasium nitrat ataupun sitrat (44, 46).

Penggunaan pasta gigi. Dokter gigi harus memberi tahu pasien bagaimana menggunakan pasta gigi dan memonitor teknik menyikat gignya. Pasta gigi sebaiknya dipakai bersama dengan menyikat gigi. Tidak ada bukti yang menunjukkan penggunaan jari dengan pasta gigi meningkatkan efektivitasnya (1). Beberapa pasien mempunyai kebiasaan berkumur dengan ait setelah menyikat gigi. Berkumur dengan air dapat menghilangkan bahan aktif dan rongga mlut sehingga mengurangi efikasi efek pengurangan-karies pasta gigi berflouride (47).

Obat kumur dan permen karet. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obat kumur yang mengandung potasium nitrat dan sodium flouride (48, 49), potasium sitrat atau sodium flouride (50) ataupun campuran flouride (51) dapat mengurangi HD. Dalam salah satu penelitian ini (48), ada efek obat kumur secara signifikan lebih tinggi darpada produk kontrol. Penelitian lain (52) menyimpulkan bahwa permen karet yang mengandung potasium klorida secara signifikan mengurangi HD, tetapi penelitian ini belum memasukkan kelompok kontrol.

Keparahan HD sebaiknya dinilai kembali dua hingga empat minggu setelah awal perawatan untu kmenentukan efektivitas tingkat pertama perawatan desensitisasi (Gambar 3). Jika perawatan at-home gagal mengurangi HD dibandingkan dengan tingkat dasar, maka tingkat selanjutnya, yaitu metode in-office (Gambar 3) sebaiknya dimulai.

Referensi:
1. Orchardson R., Gillam DG., 2006, Managing Dentin Hypersensitivity, JADA Assoc, Vol 137 (7) : 990-8
2. http://jada.ada.org/content/137/7/990.full

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!