Saturday, 9 July 2011

Perawatan In-Office (part 6 of 8)

Several In-Office treatments dor Dentin Hypersensitivity are topically applied desensitizing agents (including flouride, potassium nitrate, oxalate, and calcium phosphates), adhesives and resins, and other methods (including iontophoresis and lasers. Keep in mind that this methods is applied by dentist only. Keep reading to know the full-story!


Agen desensitisasi yang dipakai at-home yang digunakan sendiri oleh pasien di rumah biasanya mudah untuk dipakai. Dokter gigi dapat memberikan perawatan desensitisasi yang cakupannya lebih luas dan lebih kompleks.

Agen desensitisasi topikal. Sebelum penemuan anestesi lokal, dokter gigi akan menggunakan bahan kimia toksik seperti perak nitrat, zinc klorida, potash dan senyawa arsen untuk membuat dentin tidak terlalu sensitif. Sekarang, materi yang tidak terlalu toksik dapat digunakan (Tabel 1 (53 – 59)).


TABEL 1. Produk yang digunakan pada percobaan klinis.

Fluoride. Flouride seperti NaF dan SnF dapat mengurangi sensitivitas dentin (53). Flouride menurunkan permeabilitas dentin in vitro (22), kemungkinan melalui presipitasi kalsium flouride diantara tubuli dentinalis.

Potassium nitrat. Potasium nitrat yang biasa digunakan melalui pasta gigi desensitisasi, dapt pula mengurangi sensitivitas dentin ketika diaplikasikan secara topikal pada larutan (54) ataupun gel adhesif (55). Potasium nitrat tidak mengurangi permeabilitas dentin in vitro (22), tetapi ion potasium memang mengurangi eksitasi saraf pada percobaaan di hewan (26, 37).

Oksalat. Tahun 1981, Greenhill dan Pashley (22) menyatakan bahwa 30% potasium oksalat menyebabkan berkurangnya permeabilitas dentin in vitro. Sejak saat itu, beberapa produk desensitisasi berbasis-oksalat dipasarkan. Produk oksalat mengurangi permeabilitas dentin dan menymbat tubulus dentinalis lebih konsisten pada penelitian laboratoris (60, 61) daripada percobaan klinis (36). Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa oksalat secara signifikan mengurangi sensitivitas (56 – 58) sedangkan lainnya menyatakan bahwa efek oksalat tidak berbeda dengan plasebo (53, 58).

Kalsium fosfat. Kalsium fosfat dapat mengurangi sensitivitas dentin secara efektif (59). Kalsium oksalat menymbat tubulus dentinalis in vitro (62, 63) dan mengurangi permeabilitas dentin in vitro (64).

Adhesif dan resin. Karena beberapa agen desensitisasi topikal tidak melekat di permukaan dentin, maka efeknya hanya sementara. Material adhesif yang lebih kuat dapat dilihat pada Gambar 3. Pada tahun 1970-an, Brännström dkk. (65) menyarankan penggunaan impregnasi resin untuk desensitisasi gigi. Perawatan HD yang sekarang melibatkan penggunaan adhesif, termasuk varnish, agen bonding dan materi restorasi. Dokter gigi harus sadar bahwa percobaan klinis materi desensitisasi adhesif cenderung menjadi pragmatis. Banyak percobaan ini adalah penelitian single-blind karena penelitian double-blind sejati sulit dicapai. Tabel 2 (53, 66 – 77) menyebutkan daftar produk yang dicobakan sejak tahun 1999 yang diklaim dapat menyumbat tubulus pada HD.


TABEL 2. Adhesif dan resin yang dicobakan pada percobaan klinis.

Prosedur lain.
Ionto-phoresis. Prosedur ini menggunakan listrik untuk meningkatkan difusi ion ke dalam jaringan. Iontophoresis paling sering digunakan sebagai penunjang bersama dengan pasta dan cairan flouride, dan ternyata dapat mengurangi HD (73, 78).

Laser. Efektivitas laser dalam mengobati HD bervariasi antara 5 – 100%, tergantung pada tipe laser dan parameter perawatan (79). Penelitian menunjukkan bahwa laser neodymium: yttrium-aluminum-garnet (YAG) (80), laser erbium:YAG (71) dan laser galium-aluminium-arsenide dosis rendah (67) dapat mengurangi HD, tetapi penurunannya tidak berbeda secara signifikan dengan plasebo (80) ataupun kontrol positif (67). Sebagai tambahan terhadap hasil yang samar-samar ini, laser termasuk modalitas perawatan yang lebih mahal dan kompleks.

Perawatan lainnya. Sejumlah laporan mendukung pendekatan alternatif desensitisasi gigi. Meskipun laporan ini tidak sepenuhnya berdasarkan-bukti, mereka dapat diterapkan di beberapa kondisi klinis. Sebagai contohnya, operasi periodontal yang melibatkan peletakan flap ke arah coronal dilaprkan dapat menghilangkan HD pada gigi dengan akar terbuka (81). Jika HD dihubungkan dengan lesi abfraksi, occlusal adjustment mungkin efektif (82).

Referensi:
1. Orchardson R., Gillam DG., 2006, Managing Dentin Hypersensitivity, JADA Assoc, Vol 137 (7) : 990-8
2. http://jada.ada.org/content/137/7/990.full

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!