Friday, 1 July 2011

Teori Hidrodinamik Tubulus Dentinalis (part 2 of 8)

Gambar 2. Tahapan rangkaian hidrodinamik. Bahan dapat diaplikasikan pada tahapan-tahapan tertentu ini.
I initially wanted to publish this journal translation in one whole post. But, then I realized that it was veeerrry long downward. So then I decided to separated it into 8 part. Yeah! You might imagine how long the translation was. But it was not that long, actually. Anyway, here is the second part of "Managing Dentin Hypersensitivity".


Prinsip. Pemahaman menganai mekanisme idrodinamik sensitivitas dentin memberikan dasar untuk mengembangkan terapi desentisisasi. Agen desensitisasi dapat mentargetkan pada beberapa titik rangkaian hidrodinamik, yang dapat diinterupsi melalui beberapa tindakan (Gambar 2).

Penelitian melibatkan studi laboratoris untuk menyaring perawatan potensial dan mengidentifikasi mekanisme aksinya. Untuk mengevaluasi klaim pabrik-pabrik produk desensitisasi, dokter gigi sebaiknya waspada terhadap keterbatasan dan kekuatan metode penelitian ini.

Model piringan dentin. Preparat piringan dentin kecil dari gigi yang diekstraksi digunakan untuk mengukur permeabilitas dentin. Permeabilitas diperoleh dari melalui konduktan hidrolik atau mengalirkan cairan melalui dentin (22). Beberapa agen desensitisasi seperti oksalat mengurangi permeabilitas dentin, sedangkan yang lain seperti potasium nitrat ternyata tidak. Piringan dentin kemudian diteliti menggunakan scanning electron microscope (SEM) untuk melihat deposit permukaan dan oklusi tubuli (23). Dengan menggabungkan spesimen piringan dentin ini pada peralatan intraoral, eksperimen dapat dilakukan in situ dalam kondisi alami dalam rongga mulut (24). Adalah hal yang mungkin untuk mereplikasi aliran keluar cairan dentin (25), yang dapat menahan difusi ke arah pulpa agen-agen desensitisasi.

Pencatatan konduksi pada serabut saraf terisolasi. Model ini mengidentifikasi agen (misalnya garam potasium) (26, 27) atau prosedur (misalnya penggunaan laser) (28, 29) yang dapat menghambat konduksi saraf. Meskipun metode in vitro ini memungkinkan skrining cepat agen desensitisasi potensial, metode ini secara umum tidak menyerupai kondisi alami atau mengindikasikan bagaimana agen tersebut anak bereaksi ketika terpapar saliva dan tekanan mastikasi.

Percobaan klinis. Tes terakhir dari semua tindakan adalah melihat bagaimana agen tersebut beraksi dalam tataran klinis. Percobaan terkontrol, blinded, random adalah standar emas (gold standard) untuk menentukan efikasi (30). Pada percobaan klinis tersebut, produk dibandingkan dengan formulasi yang sama minus bahan aktif, yang disebut “minus aktif”, “kontrol negatif” ataupun “plasebo”. Sebuah produk juga dapat dites “satu-lawan-satu” terhadap produk yang telah ada untuk menentukan ekuivalensi ataupun superioritas efektivitasnya dengan pembandingnya.

Referensi:
1. Orchardson R., Gillam DG., 2006, Managing Dentin Hypersensitivity, JADA Assoc, Vol 137 (7) : 990-8
2. http://jada.ada.org/content/137/7/990.full

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!