Sunday, 10 July 2011

What is Doctor?


I was happened to read "Say Hello to black Jack" Manga or in its original version named "Black Jack ni Yoroshiku (ブラックジャックによろしく)". This realistic manga was mainly talking about doctors and their internal and external affairs. Created by Shuho Sato, in Japan itself, this manga was bombarded with critics and also compliments. The series won the Manga Artist Society grand prize in 2004. In Indonesia, this manga has been released by Level Comics. Thank you, Level Comics for finally releasing this fabulous manga.



8 thousand people each year, 8 thousand people pass final exams from the 81 medical universities of the country, among them, you are the top 80. Japan's medical system's future lies in your hands!!

That was the prologue speech given in front of fresh intern in the very first page of the manga. Along with the story, we will be brought along tracing an intern life looking for his answer, "WHAT IS DOCTOR?".

This independent series inspired by Black Jack follows the story of Saito Eijirou, a young doctor as he begins his internship at a Japanese hospital and encounters the frustration, exploitation, hypocrisy, corruption and financial chaos of the world of professional medicine. Appauled at the extreme unfairness of the system, and its apparent disregard for the welfare of both patients and doctors, he wishes that he could, like Black Jack, turn his back on the establishment and become a high-principled rogue doctor, but such a course is impossible for a young man of average skill trying to make his way in the real world. The series gives a very detailed and realistic portrait of the problems with the Japanese hospital system and the struggles of those who are trying to do their best despite it. It may fairly be called a portrait of someone who shares Black Jack’s principles but has to live in the real world.

And then, I also happened to get a good reflection for myself, to get closer to the ideal doctor, no matter how rotten this world will be. Because deep in my heart, my only intention of becoming doctor is I want to save other lives. Please read below.

Catatan: Ini adalah permenungan yang dituliskan oleh dr. Aditya Putra, yang kemarin dibacakan oleh dr. Alex Kusanto dalam pidatonya saat Sumpah Dokter FKUAJ Periode II/2011. Semoga bisa menjadi permenungan yang baik bagi para dokter.
Rekan sejawat yang terhormat..

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda. Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah. Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “Jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?”

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.


Source: catatan koas, mangareader, tezukainenglish

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!