Sunday, 16 October 2011

Mencegah Diabetes Tipe 2 Berarti Hemat Uang


Sebuah penelitian menunjukkan bahwa terapi obat preventif dapat menghemat uang juga, tetapi tidak seefektif perubahan gaya hidup.

Mencegah diabetes tipe 2 tidak hanya meningkatkan kualitas hidup seseorang, tetapi juga menghemat uang! Dengan cara merawat individu yang mempunyai risiko tingi terkena diabetes tipe 2, peneliti mengurangi biaya kesehatan hingga USD 2.600 untuk tiap individu dalam kelompok yang terdaftar dalam perubahan gaya hidup, dan USD 1.500 untuk setiap individu yang meminum obat diabetes metformin selama lebih dari 10 tahun.



Tetapi, ketika penghematan di bidang perawatan medis terhadap biaya intervensi, metformin menghemat USD 30 selama lebih dari 10 tahun, sedangkan intervensi gaya hidup menghabiskan USD 1.700 dalam kurun waktu yang sama. “Dibandingkan dengan tidak melakukan apapun untuk mencegah diabetes tipe 2, metformin ternyata menghemat biaya, sebagai intervensi. Intervensi gaya hidup, meskipun tidak menghemat biaya, ternyata cost-effective,” jelas dr. William Herman, penulis dan profesor bidang kedokteran dan epidemiologi Universitas Michigan, kepada konferensi press American Diabetes Association (ADA).

Herman menyatakan bahwa selama penelitian follow-up selama 10 tahun, intervensi gaya hidup menurunkan angka diabetes tipe 2 hingga 18%. Herman dijadwalkan menyajikan penemuan ini pada hari Selasa dalam temu Sesi Ilmiah ADA di San Diego.

Data penelitian ini datang dari Program Pencegahan Diabetes, yang melibatkan lebih dari 3.000 individu yang memiliki risiko tinggi terkena diabetes tipe 2. Semuanya kelebihan berat badan dan diduga mempunyai gejala pre-diabetes. Mereka juga mempunyai faktor risiko tambahan terkena diabetes tipe 2.

Subjek secara acak dikelompokkan menjadi 3 kelompok: intervensi gaya hidup, perawatan metformin atau pil plasebo. Kelompok intervensi gaya hidup menerima latihan one-on-one, modifikasi olahraga dan kebiasaan. Tujuannya adalah menurunkan 7% berat badan dan berolahraga minimal 150 menit dalam seminggu. Kelompok metformin diberikan 850 mg obat dua kali sehari dan kelompok plasebo diberikan pil plasebo dua kali sehari.

Tahap awal penelitian berakhir 3 tahun, dan ditemukan bahwa intervensi gaya hidup mengurangi angka diabetes hingga 58%, sedangkan metformin menurunkan insidensi diabetes hingga 31%, menurut Herman.

Peneliti melanjutkan penelitnan dengan subjek yang sama untuk tujuh tahun berikutnya sehingga dapat dinilai pengeluaran ekonomisnya. Herman mengatakan bahwa penelitian terbaru ini tidak memasukkan kriteria apakah iya atau tidak subjek meneruskan regimen yang telah diresepkan, hanya pada kelompok yang awalnya diresepkan.

Ketika para peneliti meninjau data untuk menilai biaya per QoL (quality of life) pertahun, mereka menemukan bahwa metformin lebih menghemat uang, sedangkan intervensi gaya hidup lebih membutuhkan investasi.

Herman menyatakan bahwa biaya metformin menjadikannya ada pada kategori intervensi yang sama dengan “lakukan secara luas tanpa pertanyaan”, seperti pada perawatan prenatal, imunisasi anak-anak dan suntikan flu untuk individu berusia lebih dari 65 tahun. Intervensi gaya hidup, di lain pihak, menghabiskan biaya per QoL (quality of life) pertahun sebanyak obat-obatan tekanan darah bagi mereka yang mempunyai hipertensi diastolik (angka bawah tinggi), obat-obatan penurun kolesterol bagi individu yang mempunyai serangan jantung dan penggunaan obat-obatan beta-blocker untuk penyakit jantung. “Keduanya adalah intervensi yang efektif, dan keduanya dapat diterapkan pada individu yang mempunyai risiko tinggi”, kata Herman.

“Dengan adanya pre-diabetes, makin dini kita intervensi, makin baik pula hasilnya”, cetus dr. Joel Zonszein, direktur program diabetes klinis di Montefiore Medical Center di New York. “Jika kita menanti hingga seseorang terkena diabetes tipe 2, ini akan terlalu lama. Secara umum, intervensi lebih awal lebih cost effective, karena merawat komplikasi membutuhkan biaya lebih banyak".

Karena pelatihan intervensi gaya hidup one-on-one cenderung mahal, dan mungkin tidak dibiayai perusahaan asuransi, Zonszein mengembangkan kelas untuk pasien diabetes tipe 2 yang bertemu beberapa jam setiap tiga bulan. Mereka membandingkan kelompok ini dengan individu yang menerima pelatihan one-on-one. Peneliti menemukan bahwa keduanya mampu menurunkan gula darah jang panjang. Penemuan Zonszein direpresentasikan dalam poster saat rapat ADA.

Herman menyatakan bahwa kelompoknya mengharapkan biaya intervensi gaya hidup dapat berkurang, mungkin melalui intervensi grup alih-alih pelatihan one-on-one. “Menjalankan intervensi gaya hidup sebagai intervensi grup dapat lebih murah, dan mungkin lebih efektif karena adanya aspek ikatan sosial,” pungkasnya.

Referensi:

  1. William Herman, M.D., M.P.H., professor of medicine and epidemiology, University of Michigan, Ann Arbor, Mich.; Joel Zonszein, M.D., director, clinical diabetes program, Montefiore Medical Center, New York City; June 27, 2011, press conference, and June 28, 2011, presentation, American Diabetes Association's Scientific Sessions, San Diego
  2. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_113735.html

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!