Monday, 17 October 2011

Obat dengan Risiko Jantung pada Individu Diabetik Geriatri

Peneliti menemukan risiko yang lebih rendah dengan metformin, tetapi para ahli menyatakan penelitian itu bukan akhir.

Penelitian terbaru menunjukkan individu yang lebih tua (selanjutnya disebut geriatri) yang mempunyai diabetes tipe 2 yang meminum obat golongan sulfonilurea untuk menurunkan kadar gula darahnya ternyata mempunyai risiko yang lebih tinggi terjenak masalah jantung daripada mereka yang minum golongan metformin.

Lebih dari 8.500 individu berusia 65 tahun ke atas yang mengidap diabetes tipe 2 mengikuti penelitian ini, dan 12,4% dari mereka yang diberi sulfonilurea mengalami serangan jantung ataupun cardiovascular events lainnya, dibandingkan dengan mereka yang yang meminum metformin (10,4%). Sebagai tambahan, masalah jantung ini bermula lebih awal selama perjalanan perawatan pada mereka yang menerima obat sulfonilurea.




Penelitian bandingan head-to-head dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Diabetes Association (ADA) di San Diego. Karena penemuan ini hendak dilaporkan dalam pertemuan medis, mereka sebaiknya mempertimbangkan penelitian pendahuluan hingga dipublikasikan dalam jurnal ulasan-rekan (peer-reviewed journal).

Pada diabetes tipe 2, tubuh tidak mampu memproduksi hormon insulin yang cukup ataupun tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi dengan baik. Pada kasus tersebut, insulin tidak dapat melaksanakan tugasnya, yaitu mengusung glukosa (gula darah) menuju sel-sel tubuh, akhirnya, glukosa menumpuk dalam darah dan dapat mendatangkan malapetaka bagi tubuh sendiri.

Obat-obatan metformin dan sulfonilurea (termasuk gliburida, glipizida, klorpropamida, tolbutamida dan tolazamida) sering digunakan sebagai obat pertama yang diresepkan untuk menurunkan kadar gula darah pada individu yang mempunyai diabetes tipe 2.

Penelitian ini penting, tegas peneliti, sebagian karena obat-obatan sulfonilurea biasanya diresepkan pada geriatri untuk menurunkan gula darah mereka. Sebagai tambahan, penyakit kardiovaskuler adalah penyebab kematian utama pada penderita diabetes tipe 2.

Untuk beberapa informasi, penelitian baru pada obat-obatan ini masi jauh dari kseimpulan akhir, kata ahli. Individu yang awalnya minum sulfonilurea, alih-alih metformin kadang memang kondisinya lebih parah awalnya kata dr. Spyros G. Mezitis, seorang endokrinologis di RS Lenox Hill, New York. Metformin tidak bisa diresepkan pada individu yang mempunyai kelainan ginjal dan jantung”, katanya. Kedua obat tersebut menurunkan kadar gula darah, tetapi cara kerjanya berbeda”, sambungnya. “Sulfonilurea menurunkan gula darah dengan cara membuat tubuh memproduksi lebih banyak insulin, dan ini dapat menyebabkan kadar gula darah rendah atau glikemia. Di lain pihak, metformin meningkatkan aktivitas insulin yang diproduksi tubuh:, jelasnya.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa metformin tidak berhubungan dengan risiko hipoglikemia yang setinggi sulfonilurea. Hipoglikemia melemahkan otot – termasuk otot jantung – padahal glukosa digunakan untuk mendapatkan energi, sehingga otot-otot ini tidak bekerja sebagaimana mestinya. Itulah mengapa obat-obat ini tidak mempunyai risiko tinggi terhadap serangan jantung, kata Mezitis. Penelitian baru, bagaimanapun berdasarkan pada observasi dan tidak memberikan bukti adanya hubungan sebab-akibat diantara obat-obat ini dengan masalah jantung.

Dr. Jerome V. Tolbert, direktur medik tim outreach Institut Diabetes Friedman di New York, menegaskan perlunya perhatian dalam mereaksi penemuan baru ini. “Saya tidak akan bertaruh pada penelitian ini dan mengatakan: Semua orang berhenti minum sulfonilurea”, katanya. Tetapi, “Kita sekarang jarang menggunakan obat-obat ini karena ada obat lebih baru dan lebih baik di luar sana”, sambungnya. Beberapa obat baru lebih mahal, katanya. “Jika Anda kuatir dengan risiko Anda, konsultasilah dengan dokter supaya tentram”, jelasnya, menambahkan bahwa pasien jangan langsung menghentikan obat-obat yang telah diresepkan tanpa bilang terlebih dahulu kepada dokter mereka.

Dr. Joel Zonszein, direktur Pusat Diabetes Klinis di Montefiore Medical Center, New York, setuju dengan pernyataan bahwa penelitian terbaru ini jauh dari definitif. Tetapi, “Kami sudah jarang menggunakan sulfonilurea sekarang:, katanya. “Dan kami hanya menggunakan obat ini pada pasien yang sangat spesifik dan dalam jangka waktu yang pendek, setelahnya kami menggantinya dengan obat yang lain.”

Referensi: 

  1. Spyros G. Mezitis, M.D., endocrinologist, Lenox Hill Hospital, New York City; Jerome V. Tolbert, M.D., medical director, Friedman Diabetes Institute outreach team, New York City; Joel Zonszein, M.D.,C.D.E., director, Clinical Diabetes Center, Montefiore Medical Center, Albert Einstein College of Medicine University Hospital, New York City; June 25, 2011, news release, Albert Einstein College of Medicine
  2. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_113652.html

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!