Friday, 23 December 2011

Reaksi Alergi Anafilaksis

artoonstock.com
Reaksi Alergi Berat: Pendahuluan
Anafilaksis adalah reaksi alergi berat yang berlangsung cepat dan menyebabkan respon membahayakan jiwa yang melibatkan keseluruhan tubuh. Reaksi ini mampu memicu kesulitan bernafas dan syok yang akhirnya menyebabkan kematian.

Reaksi anafilaksis dapat terjadi jika seseorang terpapar substansi yang menyebabkan reaksi di masa lalu, yang disebut antigen. Peristiwa ini disebut “sensitisasi”.

Sengatan lebah, misalnya tidak menyebabkan reaksi alergi saat pertama kali tersengat. Sengatan lebah yang lain dapat menyebabkan reaksi alergi berat dan tiba-tiba yang disebut dengan reaksi anafilaksis atau syok anafilaksis

Reaksi ini biasanya terjadi dalam hitungan detik hingga menit setelah terpapar. Biasanya, reaksi ini tertunda. Seseorang dapat memicu sensitisasi dan anafilaksis terhadap substansi yang telah terpapar selama beberapa kali di masa lalu tanpa reaksi, dan kadang-kadang seseorang tidak mengingat kapan paparan sebelumnya.



Penyebab Reaksi Alergi Berat
Reaksi anafilaktik terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi berlebihan terhadap antigen, yang ditandai dengan adanya “serbuan” substansi asing. Sel-sel darah putih memproduksi substansi yang disebut antibodi sebagai reaksi terhadap antigen. Antibodi bersirkulasi dalam pembuluh darah dan melekatkan diri pada sel-sel tertentu dalam tubuh. Dalam reaksi alergi, antibodi disebut sebagai immunoglobulin E (IgE). Ketika antibodi berkontak dengan antigen, mereka memberikan sinyal terhadap sel-sel lainnya untuk memproduksi senyawa kimiawi tertentu yang disebut “mediator”. Histamin adalah contoh mediator. Efek mediator ini pada organ dan jaringan tubuh menyebabkan gejala reaksi.

Pemicu reaksi anafilaksis melibatkan berbagai substansi. Hanya sedikit jejak pemicu yang diperlukan untuk menyebabkan reaksi berat. Pemicu reaksi alergi, termasuk anafilaksis meliputi:
1. Peresepan atau obat-obat over-the-counter
2. Racun dari sengatan serangga seperti lebah, semut api, tawon.
3. Makanan, terutama makanan yang berprotein tinggi – paling sering ikan, kerang, kacang, buah-buahan, gandum, susu, telur, produk-produk kedelai.
4. Bahan tambahan makanan, seperti sulfit.
5. Transfusi darah atau produk darah yang lain.
6. Substansi lain seperti latex (karet alami)
7. Material pewarna dan kontras termasuk yang digunakan pada prosedur dan tes radiologi.

firstaid.about.com
Kadang-kadang, pemicu reaksi alergi sangat jelas, seperti sengatan lebah atau obat-obat baru dalam peresepan. Kadang-kadang, pemicu malah tidak diketahui. Orang-orang dengan asma, eczema dan hay fever lebih sering terkena reaksi anafilaksis daripada mereka yang tidak memiliki kondisi ini.

Gejala Reaksi Alergi Berat
Gejala anafilaksis dapat bervariasi. Pada beberapa orang, reaksi bermula sangat pelan, tetapi sebagian besar gejala muncul secara cepat dan tiba-tiba. Gejala yang paling berat dan paling membahayakan jiwa adalah kesulitan bernapas dan kehilangan kesadaran. Kesulitan bernapas disebabkan adanya pembengkakan dan atau spasme saluran nafas (yang dapat melibatkan pembengkakan lidah atau saluran nafas). Pada beberapa kasus yang jarang, nafas dapat berhenti sama sekali.
• Kehilangan kesadaran karena tekanan darah rendah yang berbahaya, yang disebut dengan “syok”.
• Pada kasus yang lebih serius, jantung dapat berhenti memompa sama sekali.
• Kejadian ini dapat memicu kematian karena reaksi anafilaksis.

Meski ada sebagian gejala yang membahayakan jiwa, beberapa dapat membuat tidak nyaman. Secara umum, reaksi setidaknya melibatkan setidaknya dua sistem tubuh yang berbeda, misalnya kulit dan jantung untuk dapat disebut sebagai reaksi anafilaksis.

Kulit: Sebagian besar reaksi anafilaksis melibatkan kulit.

  • Bintik, bilur, atau bengkak berisi cairan yang dapat terasa sangat gatal.
  • Eritema general (kemerahan).
  • Pembengkakan pada wajah, kelopak mata, lidah, tenggorokan, tangan dan kaki.

Pernapasan: Pembengkakan pada jaringan sekitar yang menyempitkan saluran napas.

  • Kesulitan bernapas, mengi, dada serasa tertekan
  • Batuk, suara menjadi parau
  • Bersin-bersin, hidung tersumbat

Kardiovaskuler: Tekanan darah dapat turun hingga membahayakan jiwa.

  • Denyut jantung ireguler atau cepat
  • Pusing dan melayang-layang
  • Pingsan

Umum

  • Kesemuran atau sensasi hangat – sering terlihat sebagai gejala yang pertama terlihat
  • Kesulitan menelan
  • Mual, muntah
  • Diare, kram perut, kembung
  • Kecemasan, ketakutan, perasaan seperti akan mati
  • Kebingungan


Kapan Perlu Mencari Pertolongan
• Bertindaklah segera jika seseorang mengalami gejala reaksi anafilaksis. Reaksi anafilaksis adalah keadaan gawat darurat dan memerlukan perawatan segera di bagian UGD, sehingga perawatan medis dapat diberikan dengan segera.
• Adalah hal yang tidak mungkin memprediksi reaksi alergi. Setiap individu yang menunjukkan gejala anafilaksis sebaiknya segera dievakuasi ke bagian UGD.
• Jika pembengkakan berlanjut dengan cepat, terutama yang melibatkan mulut dan tenggorokan, dan jika individu tersebut mengalami kesulitan bernapas atau pusing, melayang-melayang atau pingsan, segera panggil ambulan untuk evakuasi ke rumah sakit.
• Selama masa menunggu ambulan, berikan perawatan mandiri.

Pemeriksaan dan Tes
Reaksi anafilaksis didiagnosis berdasarkan tanda dan gejala.
Tidak ada tes spesifik yang membantu.
Penyedia tindakan medis mungkin akan meminta tes tertentu.

Penatalaksaan Reaksi Alergi Berat
Perawatan Mendiri di Rumah

  • Jangan mencoba merawat sendiri reaksi alergi berat atau “menunggu” di rumah. Segera pergi ke bagian gawat darurat atau memanggil ambulan. Selama masa menunggu ambulan, cobalah tetap tenang.
  • Jika penyebab reaksi alergi bisa diiedntifikasi, hindari paparan lebih lanjut.
  • Minum antihistamin (satu sampai dua tablet atau kapsul diphenhydramine [Benadryl]) jika bisa menelan tanpa kesulitan.
  • Jika korban mengalami mengi atau kesulitan bernapas, pakailah bronkodilator inhalasi seperti albuterol (Proventil) atau epinefrin (Primatene Mist) jika tersedia. Inhaler ini akan mendilatasi saluran napas.
  • Jika korban merasa melayang-layang atau pingsan, berbaring dan pastikan kaki lebih tinggi dari kepala supaya darah mengalir ke otak.
  • Jika memiliki preparat epinefrin, suntikkan pada otot untuk penatalaksanaan gejala anafilaksis.
  • Penolong pertama dapat melakukan CPR pada korban yang tidak sadar, mengalami henti napas maupun henti jantung.
  • Pastikan memberikan informasi kepada tenaga medis obat-obatan apa saja yang telah diminum dan riwayat alergi.


Perawatan medis
• Prioritas awal di bagian gawat darurat adalah melindungi saluran napas (pernapasan) dan menjaga tekanan darah yang memadai.
• Tim medis akan memastikan saluran napas terbuka dan mempunyai oksigen yang cukup.
• Oksigen dapat diberikan melalui selang hidung ataupun facemask.
• Pada kasus henti napas berat, ventilasi mekanik mungkin diperlukan. Pada situasi ini, selang dimasukkan melalui mulut menuju saluran napas untuk menjaganya tetap terbuka. Selang dihubungkan dengan ventilator (memberikan oksigen langsung menuju paru-paru).
• Pada kasus luar biasa, bedah sederhana dapat dilakukan untuk membuka saluran napas. Jika tekanan darah terlalu rendah, obat-obatan untuk menaikkan tekanan darah dapat diberikan.
• Kateter intravena (IV) dapat dimasukkan.
• Cairan salin juga dapat diberikan untuk meningkatkan tekanan darah.
• Rawat inap juga direkomendasikan untuk monitoring dan perawatan lebih lanjut.

Pengobatan
Epinefrin – jika diberikan pada reaksi alergi berat, epinefrin sangat efektif dan bereaksi cepat; epinefrin dapat menyempitkan pembuluh darah sehingga meningkatkan tekanan darah dan melebarkan saluran napas. Epinefrin diadministrasikan pada otot, melalui selang IV atau suntikan di bawah kulit.
Antihistamin/ H1-receptor blocker – biasanya diphenhydramine (Benadryl); obat ini tidak menghentikan reaksi tetapi meredakan gejala. Obat ini dapat diberikan secara IV, IM maupun peroral.
Beta-agonist pernasal (albuterol) – digunakan untuk mengobati bronkospasma (spasme di paru-paru) dan mendilatasi saluran nafas; obat ini dihirup.
H2-receptor blockers – biasanya cimetidine (Tagamet), diberikan secara IV atau peroral.
Kortikosteroid (misalnya prednison, Solu-Medrol) – obat ini membantu mengurangi keparahan dan rekurensi gejala; dapat diberikan per oral, IM ataupun secara IV.
Jika tekanan darah tidak meningkat, obat-obatan lain seperti dopamin dapat diberikan.

Tindak lanjut
Anda biasanya akan diobservasi setidaknya selama 6 jam setelah permulaan reaksi. Biasanya, reaksinya akan tampak membaik dan kemudian berulang, dan bahkan memburuk dalam beberapa jam. Kadang-kadang keparahan reaksi memerlukan perawatan rumah sakit. Saat pasien keluar dari rumah sakit, biasanya mereka mendapatkan salah satu resep di bawah ini. Obat-obat ini digunakan untuk mencegah reaksi atau mengurangi keparahan.
• Peralatan epinefrin (preparat dikenal dengan nama EpiPen atau ana-Kit) harus dibawa setiap waktu, sebagai antisipasi jika tepapar dengan antigen yang menyebabkan reaksi awal.
• Peralatan tersebut terdiri atas epinefrin dosis tertentu yang berada dalam syringe. Setelah paparan terjadi, Anda segera disuntik dengan epinefrin ke otot paha. Cara ini sangat efektif dan beraksi cepat.
• Semua orang yang pernah mengalami reaksi anafilaksis sebaiknya membawa salah satu perlengkapan ini setelah berkonsultasi dengan dokter.
• Perhatian medis diperlukan, meskipun Anda sudah diberikan suntikan epinefrin.

Pencegahan
• Hindari berkontak dengan substansi (alergen) yang menjadi pemicu.
• Jika pemicunya adalah makanan, Anda harus mempelajari label makanan dengan baik. Ketika memesan makanan di restoran atau makan di tempat teman, tanyakan mengenai komposisinya. Waspadalah terhadap bahan makanan yang menjadi pemicu. Hindari memakan makanan yang Anda tidak yakin akan komposisinya. Jika reaksi Anda berat, segera kabari perusahaan manufaktur untuk memastikan makanan pemicu tersebut tidak dipoduksi di daerah yang sama karena Anda alreagi terhadap makanan tersebut.
• Jika pemicunya adalah obat, informasikan pada semua pemberi layanan kesehatan mengenai reaksinya. Bersiaplah untuk melaporkan apa yang terjadi ketika Anda mempunyai alergi. Kenakan tanda (kalung atau gelang) untuk identifikasi alergi.
• Gigitan serangga paling sulit dihindari. Kenakan pakaian lengan panjang selama aktivitas outdoor. Hindari pakaian berwarna cerah dan parfum yang menarik serangga yang menggigit. Waspada terhadap minuman yang berpemanis, seperti minuman ringan yang tak tertutup.
• Orang-orang yang terpapar atau tidak bisa menghindari alergen yang menyebabkan reaksi anafilaktik berat di masa lalu sebaiknya menemui spesialis untuk desensitisasi. Tes kulit mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi alergen.

Pandangan
Dengan perawatan tepat, pasien dapat sembuh tital. Pada kasus anafilaksis berat, meskipun jarang, pasien dapat meninggal karenahipotensi berat (syok) atau henti jantung dan henti napas.

Authors and Editors
Author: Jerry R. Balentine, DO, FACEP
Editor: Melissa Conrad Stöppler, MD
Previous contributing authors and editors: John A Calomeni, MD, JD, Consulting Staff, Department of Emergency Medicine, Seton Medical Center; Scott H Plantz, MD, FAAEM, Research Director, Assistant Professor, Department of Emergency Medicine, Mount Sinai School of Medicine; Francisco Talavera, PharmD, PhD, Senior Pharmacy Editor, eMedicine; Anthony Anker, MD, FAAEM, Attending Physician, Emergency Department, Mary Washington Hospital, Fredericksburg, VA.

http://www.emedicinehealth.com/severe_allergic_reaction_anaphylactic_shock/article_em.htm


No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!