Saturday, 28 January 2012

CPR: Cepat Tidak Selalu Lebih Baik


moms.gather.com
 NEW YORK (Reuters Health) – Melakukan CPR terlalu cepat dapat mengindikasikan bahwa kompresi dada tidak cukup dalam sehingga dapat memastikan darah mengalir ke dalam jantung dan otak, temuan sebuah penelitian dari Belgia. Peneliti menemukan bahwa ketika penolong melakukan kompresi dada dengan kecepatan di atas 145 kompresi per menit, kedalaman kompresi tersebut menurun hingga kurang dari empat sentimeter.

Rekomendasi dari Eropa dan Amerika Serikat sekarang menyatakan bahwa kompresi sebaiknya memiliki kedalaman setidaknya 5 cm (sekitar 2 inchi) dengan kecepatan 100 per menit atau lebih cepat.
“Gagasan logis tindakan tersebut adalah bahwa setiap kompresi akan menyebabkan sedikit darah mengalir ke tubuh dan jika kita memompa lebih cepat, maka darah juga akan mengalir lebih banyak”, kata Dr. Benjamin Abella, seorang dokter departemen kegawat daruratan di rumah Sakit Universitas Pennsylvania di Philadelphia yang tidak terlibat di penelitian terbaru ini.

Tetapi, jika anda melakukannya lebih cepat, ada kemungkinan kedalamannya menjadi berkurang”, lanjutnya kemudian kepada Reuters Health.

Bagi penolong pertama yang tidak dilatih secara professional untuk melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation), hal paling penting untuk dilakukan adalah mendorong “dalam dan cepat” – tetapi tidak terlalu cepat yang membuat anda kelelahan dalam beberapa menit saja. Pelayanan kesehatan darurat selanjutnya dapat menyediakan tindakan yang lebih rumit ketika mereka datang.

Dalam penelitian baru ini, Dr. Koenraad Monsieurs dkk. dari Rumah Sakit Belgia menggunakan accelerometer untuk mengukur kecepatan dan kedalaman kompresi dada selama prosedur CPR berlangsung oleh professional pada 133 pasien. Mereka menemukan bahwa kompresi dada yang sangat cepat sering lebih dangkal daripada kompresi yang dilakukan dengan kecepatan 100 kali per menit. Dan pada kecepatan 145 kali per menit, kedalaman menjadi “terlalu dangkal”, jelas peneliti dalam jurnal Resuscutation. Hal tersebut mengacu pada pedoman Eropa 2005 yang menyatakan bahwa kompresi sedalam 4 cm atau lebih sudah cukup. Sejak saat itu, standard-nya dinaikkan.

“Dari pengalaman saya melakukan CPR… Saya mempunyai kesan bahwa beberapa penolong pertama akan berpikir makin cepat makin baik”, jelas Monsieurs kepada Reuters Health. “Akhirnya jika kecepatan terlalu cepat, kedalaman kompresi menjadi tidak cukup”, lanjutnya.

Hal tersebut penting karena kompresi yang lebih dalam meningkatkan kemungkinan penggunaan defibrillator akan membuat jantung berdenyut kembali dan pasien tiba di rumah sakit dalam keadaan hidup, jelas peneliti. “Kompresi yang lebih dalam menyebabkan darah lebih banyak mengalir menuju jantung dan otak – organ paling penting untuk bertahan hidup”, kata Monsieurs.

CPR biasanya dilakukan setelah serangan jantung atau kasus hampir-tenggelam, ketika seseorang tidak mempunyai denyut ataupun tidak bernapas.

Pada tahun 2010, pedoman baru Asosiasi Jantung Amerika (American Heart Association; AHA) mengatakan penolong pertama yang melakukan CPR dapat menghilangkan protokol pernapasan yang menjadi protokol awal CPR dan hanya melakukan komprasi dada hingga paramedic datang.
 “Penyedia layanan kesehatan professional mampu mencapai pengukuran kecepatan dan kedalaman kompresi dada dari alat seperti accelerometers – tetapi bagi penolong pertama, hal yang paling penting hanyalah melakukan CPR segera”, jelas Abella.

Dia mengatakan bahwa semua orang sebaiknya mempelajari CPR semampunya – baik tersertifikasi maupun tidak – dan tidak perlu takut memulai dan melakukan kompresi di saat darurat. “Jika seseorang mengalami henti jantung, Anda bukan menyakiti mereka, namun membantu mereka”, katanya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah kompresi dada beriringan dengan lagu disko Bee Gees tahun 1977 berjudul “Stayin’ Alive” yang mempunyai ritme 100 denyut per menit. “Tentu saja, ritme ini mungkin bukan hal paling gampang untuk diingat di saat-saat darurat”, jelas Abella.

 “Selama Anda menempatkan tangan di atas dada dan menekan kuat dan cepat, Anda sedang melakukan sesuatu yang sangat penting”, tutupnya.

SOURCE: http://bit.ly/OfkexZ Resuscitation, online July 23, 2012.
Reuters Health; by Genevra Pittman
(c) Copyright Thomson Reuters 2012. Check for restrictions at: http://about.reuters.com/fulllegal.asp

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!