Sunday, 15 January 2012

CPR Kadang Menyebabkan Fraktur Iga


Resusitasi Jantung Paru (RJP)/ Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR) | xenophilius.wordpress.com
 NEW YORK (Reuters Health) – Hal signifikan individu yang menerima resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) dapat mengalami fraktur iga ataupun tulang lain, menurut peneliti Korea, yang juga menemukan tipe pasien tertentu mempunyai risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya.

Dalam penelitian pasien yang masuk ke rumah sakit Korea, hampir sepertiga pasien yang teresusitasi setelah mendapatkan CPR mengalami fraktur tulang iga, sedangkan empat persen mengalami fraktur tulang dada/ sternum.

Dr. Michael Sayre, juru bicara Asosiasi Jantung Amerika (American Heart Association) dan professor Universitas Washington di Seattle, mengatakan bahwa fraktur tulang iga memang mungkin saja terjadi ketika melakukan CPR dan kekhawatiran menyebabkan fraktur tersebut sebaiknya tidak menghalangi seseorang untuk menolong individu yang mengalami henti jantung.

“Saya sudah berbicara dengan pasien dan saya belum pernah mendapatkan seorangpun yang mengatahan, ‘Astaga, aku berharap tidak ada yang melakukan ini (CPR) karena dadaku sekarang sakit”, jelas Sayre, yang tidak terlibat dalam penelitian terbaru.

Untuk penelitian terbaru ini, tim peneliti dipimpin oleh Dr. Dr. Min Joung Kim dari Fakultas Kedokteran Universitas Yonsel Seoul, melakukan CT scan pada pasien yang dibawa ke departemen gawat darurat di delapan rumah sakit antara bulan Januari hingga Juni 2011. Semua pasien mendapatkan CPR dan selamat sebelum dibawa ke rumah sakit maupun departemen gawat darurat.

Dari 71 pasien yang discan, peneliti menemukan 22 pasien setidaknya mengalami satu fraktur tulang iga dan 14 lainnya mengalami fraktur multiple. Hanya tiga psien yang mengalami fraktur sternum dan beberapa mengalami cedera lain selain fraktur, seperti perdarahan pada dinding dada ataupun memar paru-paru.

KELOMPOK RISIKO TINGGI

Secara keseluruhan, usia bukan menjadi faktor penentu bagi siapa yang mengalami fraktur, tetapi perempuan dan pasien yang mendapatkan CPR dari seseorang selain dokter mempunyau kecenderungan mengalami fraktur tulang iga. Di antara pasien yang kompresinya dilakukan di luar rumah sakit; misalnya satu dari empat pasien yang mendapatkan CPR dari paramedis mengalami fraktur iga dibangdingkan dengan satu dari tiga pasien yang CPRnya dilakukan oleh penolong pertama.
Di rumah sakit, sekitar sepertiga pasien yang mendapatkan kompresi dari dokter dan hampir setengah total pasien yang CPRnya dilakukan oleh seseorang selain dokter mengalami fraktur

Secara total, sekitar seperempat laki-laki dan hampir setengah perempuan dalam subjek penelitian mengalami fraktur tulang iga. Wanita mempunyai risiko fraktur tulang iga lebih besar setelah prosedur CPR karena mereka lebih rentan terkena penyakit penipisan tulang osteoporosis, jelas peneliti di jurnal Resuscitation.

Kim dkk mengatakan bahwa mereka tidak yakin mengapa pasien menjadi lebih baik jika dokter yang melakukan kompresi.

Dr. Rahul Sharma, direktur kedokteran dan kepala asosiasi pelayanan Departemen Gawat Darurat di Universitas New York (NYU) Pusat Medis Langone di New York mengatakan pada Reuters Health bahwa dia tidak dapat menjelaskan hasil tersebut, tetapi tidak melarang individu non-dokter untuk melakukan CPR. “Bagi saya, karya tulis ini tidak terlalu meyakinkan saya bahwa kita sebaiknya tidak melakukan CPR dan prosedur ini tidak dilakukan oleh orang lain kecuali dokter”, kata Sharma, yang tidak terlibat dengan penelitian tersebut.

Rekomendasi CPR terbaru di Eropa dan Amerika Serikat untuk kompresi dada setidaknya dilakukan hingga kedalaman 5 cm (2 inchi) dengan kecepatan 100 kali permenit ataupun lebih.

Hal yang paling ditekankan adalah janganlah takut ataupun khawatir, karena cedera yang disebabkan oleh tindakan CPR biasanya minor”, kata Sayre. Sharma menambahkan, “Pada akhirnya, Anda menyelamatkan nyawa orang tersebut. Jika Anda tidak melakukan kompresi itu, pasien tidak akan selamat”.

SOURCE: Resuscitation, online July 23, 2012.
Reuters Health; by Andrew M. Seaman
(c) Copyright Thomson Reuters 2012. Check for restrictions at: http://about.reuters.com/fulllegal.asp

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!