Saturday, 7 January 2012

CPR Lebih Baik Dilakukan Oleh Dua Orang Daripada Seorang


NEW YORK (Reuters Health) – Sebuah penelitian mengusulkan bahwa ketika seseorang mengalami henti jantung di tempat publik, kemungkinan bertahan hidup lebih baik jika penyelamatan dilakukan oleh dua orang daripada seorang penolong pertama saja. Asosiasi Jantung Amerika (the American Heart Association; AHA) dan kelompok lain mengatakan bahwa semua orang sebaiknya mempelajari resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Selanjutnya dalam artikel ini akan diistilahkan dengan CPR :D.

Bagi orang awam, tindakan CPR yang dimaksud adalah dengan melakukan ‘gerakan tangan’ – kompresi dada saja dan tidak disertai dengan pernapasan mulut-ke-mulut – hingga paramedis sampai di tempat kejadian. Penelitian menunjukkan bahwa CPR kompresi dada saja ternyata sama efektidnya dengan cara tradisional jika CPR dilakukan untuk penanganan korban henti napas dewasa. (Rekomendasi untuk anak-anak berbeda).

Penelitian terbaru yang dikeluarkan oleh jurnal Resuscitation menyatakan bahwa para korban henti jantung mempunyai kemungkinan bertahan hidup yang lebih baik jika penolong bertama lebih dari satu orang. Peneliti Jepang menemukan bahwa di antara lebih dari 5.000 orang dewasa yang mengalami henti jantung di luar rumah sakit, kemungkinan bertahan hidup menjadi dua kali lebih baik jika penolong pertama lebih dari satu orang.

Enam persen korban hidup setahun kemudia jika penolong terdiri atas tiga atau lebih orang, sedangkan persentase menjadi sekitar 3 persen jika hanya satu orang yang menjadi penolong pertama. Jika dua orang penolong pertama darang, angka bertahan hidup menjadi 4 persen. Peneliti tidak tahu apakah semua penolong pertama tersebut melakukan CPR atau bahkan mengetahui apa itu CPR.

Beberapa orang mungkin hanya ingin membantu, kata peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Hideo Inaba dari Universitas Kanazawa Graduate School of Medicine. Meskipun demikian, penemuan memang menunjukkan bahwa makin banyak penolong pertama bertindak dalam aksi pertolongan pertama, hasilnya akan semakin baik, kata Dr. Michael Sayre, associate professor kedokteran kegawatan darurat dari Universitas Negeri Ohio di Columbus dan juru bicara AHA.

“Penelitian ini menkonfirmasi urgensi penolong pertama yang merespon henti jantung dan urgensi CPR dini”, jelas Sayre kepada Reuters Health.

Ketika henti jantung terjadi di rumah (sebagian besar), tim Inaba menemukan bahwa belum ada hubungan antara jumlah penolong pertama dengan tingkat bertahan hidup. Belum jelas mengapa hal itu terjadi, kata para peneliti.

Sayre menyetujui bahwa alasannya memang belum jelas. Tetapi ia mengatakan bahwa banyak faktor yang mungkin berperan. Salah satu alasannya mungkin adalah orang yang sering melakukan kegiatan di luar adalah orang yang lebih sehat ketika henti jantung terjadi.

Henti jantung pada geriatri dan lemah jantung kemungkinan besar terjadi di rumah. Henti jantung terjadi ketika rangsang listrik di jantung tiba-tiba menjadi kacau dan jantung tidak mampu memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Henti jantung berakibat fatal jika dibiarkan beberapa menit tanpa penanganan.
CPR tidak dapat ‘merestart’ jantung, tetapi tindakan itu dapat menjaga aliran darah dan oksigen tetap bergerak hingga bantuan medis datang.

Renjatan listrik dari alat bernama defibrillator dapat membalikkan henti jantung, tetapi waktu sangat berharga. Diperkirakan bahwa setiap penundaan satu menit aplikasi defibrilasi, persentase hidup berkurang sepuluh persen. Jadi, bersamaan dengan melakukan CPR, penolong pertama perlu segera memanggil bantuan darurat.

Menurut AHA, lebih dari 380.000 orang Amerika mengalami henti jantung di luar rumah sakit tiap tahunnya. Tetapi sebagian besar orang Amerika tidak pernah belajar CPR sama sekali ataupun latihan mereka sudah dilupakan. Kursus CPR tentu saja tersedia, tetapi pendekatan kompresi dada-saja cukup gampang dipelajari tanpa pelatihan formal.

 “Anda tidak harus melakukan kursus”, kata Sayre. Dia menyatakan bahwa website AHA mempunyai video instruksi bagaimana melakukan CPR hanya-kompresi-dada: http://bit.ly/LhVoQl.



Instruksi dasar CPR adalah memberikan kompresi dada dengan kecepatan dan kekuatan yang stabil, sekitar 100 tekanan per menit. Para ahli menyatakan bahwa bersenandung lagu disco “Stayin’ Alive” Bee Gees tahun 1970an dapat membantu Anda menemukan ritme 100 denyut per menit.



“Mempelajari CPR adalah sesuatu yang bisa ditangguhkan”, kata Sayre. “Tetapi Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan terpanggil untuk melakukannya”.

SOURCE: http://bit.ly/LjRENu Resuscitation, online June 15, 2012.

Author: Amy Norton
Reuters Health
(c) Copyright Thomson Reuters 2012. Check for restrictions at: http://about.reuters.com/fulllegal.asp

No comments:

Post a Comment

Hi, everyone! Please feel FREE to express yourself here!