<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288</atom:id><lastBuildDate>Sun, 15 Apr 2012 23:00:47 +0000</lastBuildDate><category>DENTISTRY</category><category>PEDIATRIC</category><category>DIABETES mellitus</category><category>reflection</category><category>biochemistry</category><category>HEPATITIS</category><category>kuis</category><category>anatomy</category><category>cholesterol</category><category>HIPERTENSI</category><category>TIPS</category><category>stomatognatik</category><category>biomaterial</category><category>our HEALTH</category><category>ORAL MEDICINE</category><category>complication</category><category>FACT</category><category>CONSERVATION</category><category>oral surgery</category><category>DORAMA</category><category>mastikasi</category><category>Forensic</category><category>TOOTH</category><category>radiology</category><category>FANFIC</category><category>MANGA</category><category>OTHER</category><category>TOBACCO</category><category>malpractice</category><category>review</category><category>ANAESTHESIOLOGY</category><title>IT'S SMILE!</title><description>That Will Make the World Smile with You♥</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Yuki)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>169</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-479658357523038058</guid><pubDate>Fri, 23 Dec 2011 04:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-31T11:52:10.837+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>complication</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>ORAL MEDICINE</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>oral surgery</category><title>Reaksi Alergi Anafilaksis</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/mba/lowres/mban1128l.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/mba/lowres/mban1128l.jpg" width="261" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;artoonstock.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Reaksi Alergi Berat: Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anafilaksis adalah reaksi alergi berat yang berlangsung cepat dan menyebabkan respon membahayakan jiwa yang melibatkan keseluruhan tubuh. Reaksi ini mampu memicu kesulitan bernafas dan syok yang akhirnya menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi anafilaksis dapat terjadi jika seseorang terpapar substansi yang menyebabkan reaksi di masa lalu, yang disebut antigen. Peristiwa ini disebut “sensitisasi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengatan lebah, misalnya tidak menyebabkan reaksi alergi saat pertama kali tersengat. Sengatan lebah yang lain dapat menyebabkan reaksi alergi berat dan tiba-tiba yang disebut dengan reaksi anafilaksis atau syok anafilaksis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi ini biasanya terjadi dalam hitungan detik hingga menit setelah terpapar. Biasanya, reaksi ini tertunda. Seseorang dapat memicu sensitisasi dan anafilaksis terhadap substansi yang telah terpapar selama beberapa kali di masa lalu tanpa reaksi, dan kadang-kadang seseorang tidak mengingat kapan paparan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Penyebab Reaksi Alergi Berat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Reaksi anafilaktik terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi berlebihan terhadap antigen, yang ditandai dengan adanya “serbuan” substansi asing. Sel-sel darah putih memproduksi substansi yang disebut antibodi sebagai reaksi terhadap antigen. Antibodi bersirkulasi dalam pembuluh darah dan melekatkan diri pada sel-sel tertentu dalam tubuh. Dalam reaksi alergi, antibodi disebut sebagai immunoglobulin E (IgE). Ketika antibodi berkontak dengan antigen, mereka memberikan sinyal terhadap sel-sel lainnya untuk memproduksi senyawa kimiawi tertentu yang disebut “mediator”. Histamin adalah contoh mediator. Efek mediator ini pada organ dan jaringan tubuh menyebabkan gejala reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemicu reaksi anafilaksis melibatkan berbagai substansi. Hanya sedikit jejak pemicu yang diperlukan untuk menyebabkan reaksi berat. Pemicu reaksi alergi, termasuk anafilaksis meliputi:&lt;br /&gt;1. Peresepan atau obat-obat over-the-counter&lt;br /&gt;2. Racun dari sengatan serangga seperti lebah, semut api, tawon.&lt;br /&gt;3. Makanan, terutama makanan yang berprotein tinggi – paling sering ikan, kerang, kacang, buah-buahan, gandum, susu, telur, produk-produk kedelai.&lt;br /&gt;4. Bahan tambahan makanan, seperti sulfit.&lt;br /&gt;5. Transfusi darah atau produk darah yang lain.&lt;br /&gt;6. Substansi lain seperti latex (karet alami)&lt;br /&gt;7. Material pewarna dan kontras termasuk yang digunakan pada prosedur dan tes radiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://0.tqn.com/d/firstaid/1/0/F/-/-/-/allergies.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://0.tqn.com/d/firstaid/1/0/F/-/-/-/allergies.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;firstaid.about.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kadang-kadang, pemicu reaksi alergi sangat jelas, seperti sengatan lebah atau obat-obat baru dalam peresepan. Kadang-kadang, pemicu malah tidak diketahui. Orang-orang dengan asma, eczema dan hay fever  lebih sering terkena reaksi anafilaksis daripada mereka yang tidak memiliki kondisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Gejala Reaksi Alergi Berat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gejala anafilaksis dapat bervariasi. Pada beberapa orang, reaksi bermula sangat pelan, tetapi sebagian besar gejala muncul secara cepat dan tiba-tiba. Gejala yang paling berat dan paling membahayakan jiwa adalah kesulitan bernapas dan kehilangan kesadaran. Kesulitan bernapas disebabkan adanya pembengkakan dan atau spasme saluran nafas (yang dapat melibatkan pembengkakan lidah atau saluran nafas). Pada beberapa kasus yang jarang, nafas dapat berhenti sama sekali.&lt;br /&gt;• Kehilangan kesadaran karena tekanan darah rendah yang berbahaya, yang disebut dengan “syok”.&lt;br /&gt;• Pada kasus yang lebih serius, jantung dapat berhenti memompa sama sekali.&lt;br /&gt;• Kejadian ini dapat memicu kematian karena reaksi anafilaksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ada sebagian gejala yang membahayakan jiwa, beberapa dapat membuat tidak nyaman. Secara umum, reaksi setidaknya melibatkan setidaknya dua sistem tubuh yang berbeda, misalnya kulit dan jantung untuk dapat disebut sebagai reaksi anafilaksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kulit:&lt;/b&gt; Sebagian besar reaksi anafilaksis melibatkan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bintik, bilur, atau bengkak berisi cairan yang dapat terasa sangat gatal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Eritema general (kemerahan).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembengkakan pada wajah, kelopak mata, lidah, tenggorokan, tangan dan kaki.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pernapasan:&lt;/b&gt; Pembengkakan pada jaringan sekitar yang menyempitkan saluran napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kesulitan bernapas, mengi, dada serasa tertekan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batuk, suara menjadi parau&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersin-bersin, hidung tersumbat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kardiovaskuler: &lt;/b&gt;Tekanan darah dapat turun hingga membahayakan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Denyut jantung ireguler atau cepat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pusing dan melayang-layang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pingsan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Umum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kesemuran atau sensasi hangat – sering terlihat sebagai gejala yang pertama terlihat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesulitan menelan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mual, muntah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diare, kram perut, kembung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kecemasan, ketakutan, perasaan seperti akan mati&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebingungan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kapan Perlu Mencari Pertolongan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;• Bertindaklah segera jika seseorang mengalami gejala reaksi anafilaksis. Reaksi anafilaksis adalah keadaan gawat darurat dan memerlukan perawatan segera di bagian UGD, sehingga perawatan medis dapat diberikan dengan segera.&lt;br /&gt;• Adalah hal yang tidak mungkin memprediksi reaksi alergi. Setiap individu yang menunjukkan gejala anafilaksis sebaiknya segera dievakuasi ke bagian UGD.&lt;br /&gt;• Jika pembengkakan berlanjut dengan cepat, terutama yang melibatkan mulut dan tenggorokan, dan jika individu tersebut mengalami kesulitan bernapas atau pusing, melayang-melayang atau pingsan, segera panggil ambulan untuk evakuasi ke rumah sakit.&lt;br /&gt;• Selama masa menunggu ambulan, berikan perawatan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemeriksaan dan Tes&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Reaksi anafilaksis didiagnosis berdasarkan tanda dan gejala.&lt;br /&gt;Tidak ada tes spesifik yang membantu.&lt;br /&gt;Penyedia tindakan medis mungkin akan meminta tes tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penatalaksaan Reaksi Alergi Berat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Perawatan Mendiri di Rumah&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jangan mencoba merawat sendiri reaksi alergi berat atau “menunggu” di rumah. Segera pergi ke bagian gawat darurat atau memanggil ambulan. Selama masa menunggu ambulan, cobalah tetap tenang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika penyebab reaksi alergi bisa diiedntifikasi, hindari paparan lebih lanjut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Minum antihistamin (satu sampai dua tablet atau kapsul diphenhydramine [Benadryl]) jika bisa menelan tanpa kesulitan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika korban mengalami mengi atau kesulitan bernapas, pakailah bronkodilator inhalasi seperti albuterol (Proventil) atau epinefrin (Primatene Mist) jika tersedia. Inhaler ini akan mendilatasi saluran napas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika korban merasa melayang-layang atau pingsan, berbaring dan pastikan kaki lebih tinggi dari kepala supaya darah mengalir ke otak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika memiliki preparat epinefrin, suntikkan pada otot untuk penatalaksanaan gejala anafilaksis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penolong pertama dapat melakukan CPR pada korban yang tidak sadar, mengalami henti napas maupun henti jantung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pastikan memberikan informasi kepada tenaga medis obat-obatan apa saja yang telah diminum dan riwayat alergi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Perawatan medis&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;• Prioritas awal di bagian gawat darurat adalah melindungi saluran napas (pernapasan) dan menjaga tekanan darah yang memadai.&lt;br /&gt;• Tim medis akan memastikan saluran napas terbuka dan mempunyai oksigen yang cukup.&lt;br /&gt;• Oksigen dapat diberikan melalui selang hidung ataupun facemask.&lt;br /&gt;• Pada kasus henti napas berat, ventilasi mekanik mungkin diperlukan. Pada situasi ini, selang dimasukkan melalui mulut menuju saluran napas untuk menjaganya tetap terbuka. Selang dihubungkan dengan ventilator (memberikan oksigen langsung menuju paru-paru).&lt;br /&gt;• Pada kasus luar biasa, bedah sederhana dapat dilakukan untuk membuka saluran napas. Jika tekanan darah terlalu rendah, obat-obatan untuk menaikkan tekanan darah dapat diberikan.&lt;br /&gt;• Kateter intravena (IV) dapat dimasukkan.&lt;br /&gt;• Cairan salin juga dapat diberikan untuk meningkatkan tekanan darah.&lt;br /&gt;• Rawat inap juga direkomendasikan untuk monitoring dan perawatan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pengobatan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Epinefrin – jika diberikan pada reaksi alergi berat, epinefrin sangat efektif dan bereaksi cepat; epinefrin dapat menyempitkan pembuluh darah sehingga meningkatkan tekanan darah dan melebarkan saluran napas. Epinefrin diadministrasikan pada otot, melalui selang IV atau suntikan di bawah kulit.&lt;br /&gt;Antihistamin/ H1-receptor blocker – biasanya diphenhydramine (Benadryl); obat ini tidak menghentikan reaksi tetapi meredakan gejala. Obat ini dapat diberikan secara IV, IM maupun peroral.&lt;br /&gt;Beta-agonist pernasal (albuterol) – digunakan untuk mengobati bronkospasma (spasme di paru-paru) dan mendilatasi saluran nafas; obat ini dihirup.&lt;br /&gt;H2-receptor blockers – biasanya cimetidine (Tagamet), diberikan secara IV atau peroral.&lt;br /&gt;Kortikosteroid (misalnya prednison, Solu-Medrol) – obat ini membantu mengurangi keparahan dan rekurensi gejala; dapat diberikan per oral, IM ataupun secara IV.&lt;br /&gt;Jika tekanan darah tidak meningkat, obat-obatan lain seperti dopamin dapat diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tindak lanjut&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anda biasanya akan diobservasi setidaknya selama 6 jam setelah permulaan reaksi. Biasanya, reaksinya akan tampak membaik dan kemudian berulang, dan bahkan memburuk dalam beberapa jam. Kadang-kadang keparahan reaksi memerlukan perawatan rumah sakit. Saat pasien keluar dari rumah sakit, biasanya mereka mendapatkan salah satu resep di bawah ini. Obat-obat ini digunakan untuk mencegah reaksi atau mengurangi keparahan.&lt;br /&gt;• Peralatan epinefrin (preparat dikenal dengan nama EpiPen atau ana-Kit) harus dibawa setiap waktu, sebagai antisipasi jika tepapar dengan antigen yang menyebabkan reaksi awal.&lt;br /&gt;• Peralatan tersebut terdiri atas epinefrin dosis tertentu yang berada dalam syringe. Setelah paparan terjadi, Anda segera disuntik dengan epinefrin ke otot paha. Cara ini sangat efektif dan beraksi cepat.&lt;br /&gt;• Semua orang yang pernah mengalami reaksi anafilaksis sebaiknya membawa salah satu perlengkapan ini setelah berkonsultasi dengan dokter.&lt;br /&gt;• Perhatian medis diperlukan, meskipun Anda sudah diberikan suntikan epinefrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pencegahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;• Hindari berkontak dengan substansi (alergen) yang menjadi pemicu.&lt;br /&gt;• Jika pemicunya adalah makanan, Anda harus mempelajari label makanan dengan baik. Ketika memesan makanan di restoran atau makan di tempat teman, tanyakan mengenai komposisinya. Waspadalah terhadap bahan makanan yang menjadi pemicu. Hindari memakan makanan yang Anda tidak yakin akan komposisinya. Jika reaksi Anda berat, segera kabari perusahaan manufaktur untuk memastikan makanan pemicu tersebut tidak dipoduksi di daerah yang sama karena Anda alreagi terhadap makanan tersebut.&lt;br /&gt;• Jika pemicunya adalah obat, informasikan pada semua pemberi layanan kesehatan mengenai reaksinya. Bersiaplah untuk melaporkan apa yang terjadi ketika Anda mempunyai alergi. Kenakan tanda (kalung atau gelang) untuk identifikasi alergi.&lt;br /&gt;• Gigitan serangga paling sulit dihindari. Kenakan pakaian lengan panjang selama aktivitas outdoor. Hindari pakaian berwarna cerah dan parfum yang menarik serangga yang menggigit.  Waspada terhadap minuman yang berpemanis, seperti minuman ringan yang tak tertutup.&lt;br /&gt;• Orang-orang yang terpapar atau tidak bisa menghindari alergen yang menyebabkan reaksi anafilaktik berat di masa lalu sebaiknya menemui spesialis untuk desensitisasi. Tes kulit mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi alergen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pandangan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan perawatan tepat, pasien dapat sembuh tital. Pada kasus anafilaksis berat, meskipun jarang, pasien dapat meninggal karenahipotensi berat (syok) atau henti jantung dan henti napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Authors and Editors&lt;br /&gt;Author: Jerry R. Balentine, DO, FACEP&lt;br /&gt;Editor:  Melissa Conrad Stöppler, MD&lt;br /&gt;Previous contributing authors and editors:  John A Calomeni, MD, JD, Consulting Staff, Department of Emergency Medicine, Seton Medical Center; Scott H Plantz, MD, FAAEM, Research Director, Assistant Professor, Department of Emergency Medicine, Mount Sinai School of Medicine; Francisco Talavera, PharmD, PhD, Senior Pharmacy Editor, eMedicine; Anthony Anker, MD, FAAEM, Attending Physician, Emergency Department, Mary Washington Hospital, Fredericksburg, VA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.emedicinehealth.com/severe_allergic_reaction_anaphylactic_shock/article_em.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="dropcap"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-479658357523038058?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/12/reaksi-alergi-anafilaksis.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-8977466545507970540</guid><pubDate>Fri, 16 Dec 2011 07:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-22T18:32:58.338+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>malpractice</category><title>Malpraktik: Penanganan Malpraktik</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.jdmd.com/images/doctor-with-malpractice-victim-close-up.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="209" src="http://www.jdmd.com/images/doctor-with-malpractice-victim-close-up.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;dmd.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Pada dasarnya penanganan kasus malpraktik dilakukan dengan mendasarkan kepada konsep malpraktik medis dan adverse events yang diuraikan di atas. Dalam makalah ini tidak akan diuraikan pelaksanaan pada kasus per-kasus, namun lebih ke arah hasil pembelajaran (lesson learned) dari pengalaman penanganan berbagai kasus dugaan malpraktik, baik dari sisi profesi maupun dari sisi hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu tuntutan hukum perdata, dalam hal ini sengketa antara pihak dokter dan rumah sakit berhadapan dengan pasien dan keluarga atau kuasanya, dapat diselesaikan melalui dua cara, yaitu cara litigasi (melalui proses peradilan) dan cara non litigasi (di luar proses peradilan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dipilih penyelesaian melalui proses pengadilan, maka penggugat akan mengajukan gugatannya ke pengadilan negeri di wilayah kejadian, dapat dengan menggunakan kuasa hukum (pengacara) ataupun tidak. Dalam proses pengadilan umumnya ingin dicapai suatu putusan tentang kebenaran suatu gugatan berdasarkan bukti-bukti yang sah (right-based) dan kemudian putusan tentang jumlah uang ganti rugi yang "layak" dibayar oleh tergugat kepada penggugat. Dalam menentukan putusan benar-salahnya suatu perbuatan hakim akan membandingkan perbuatan yang dilakukan dengan suatu norma tertentu, standar, ataupun suatu kepatutan tertentu, sedangkan dalam memutus besarnya ganti rugi hakim akan mempertimbangkan kedudukan sosial-ekonomi kedua pihak (pasal 1370-1371 KUH Perdata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dipilih proses di luar pengadilan (alternative dispute resolution), maka kedua pihak berupaya untuk mencari kesepakatan tentang penyelesaian sengketa (mufakat). Permufakatan tersebut dapat dicapai dengan pembicaraan kedua belah pihak secara langsung (konsiliasi atau negosiasi), ataupun melalui fasilitasi, mediasi, dan arbitrasi, atau cara-cara kombinasi. Fasilitator dan mediator tidak membuat putusan, sedangkan arbitrator dapat membuat putusan yang harus dipatuhi kedua pihak.  Dalam proses mufakat ini diupayakan mencari cara penyelesaian yang cenderung berdasarkan pemahaman kepentingan kedua pihak (interest-based, win-win solution), dan bukan right-based.  Hakim pengadilan perdata umumnya menawarkan perdamaian sebelum dimulainya persidangan, bahkan akhir-akhir ini hakim memfasilitasi dilakukannya mediasi oleh mediator tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal tuntutan hukum tersebut diajukan melalui proses hukum pidana, maka pasien cukup melaporkannya kepada penyidik dengan menunjukkan bukti-bukti permulaan atau alasan-alasannya. Selanjutnya penyidiklah yang akan melakukan penyidikan dengan melakukan tindakan-tindakan kepolisian, seperti pemeriksaan para saksi dan tersangka, pemeriksaan dokumen (rekam medis di satu sisi dan bylaws, standar dan petunjuk di sisi lainnya), serta pemeriksaan saksi ahli. Visum et repertum mungkin saja dibutuhkan penyidik. Berkas hasil pemeriksaan penyidik disampaikan kepada jaksa penuntut umum untuk dapat disusun tuntutannya. Dalam hal penyidik tidak menemukan bukti yang cukup maka akan dipikirkan untuk diterbitkannya SP3 atau penghentian penyidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kasus medikolegal dan kasus potensial menjadi kasus medikolegal, juga harus diselesaikan dari sisi profesi dengan tujuan untuk dijadikan pelajaran guna mencegah terjadinya pengulangan di masa mendatang, baik oleh pelaku yang sama ataupun oleh pelaku lain. Dalam proses tersebut dapat dilakukan pemberian sanksi (profesi atau administratif) untuk tujuan penjeraan, dapat pula tanpa pemberian sanksi - tetapi memberlakukan koreksi atas faktor-faktor yang berkontribusi sebagai penyebab terjadinya "kasus" tersebut. Penyelesaian secara profesi umumnya lebih bersifat audit klinis, dan dapat dilakukan di tingkat institusi kesehatan setempat (misalnya berupa Rapat Komite Medis, konferensi kematian, presentasi kasus, audit klinis terstruktur, proses lanjutan dalam incident report system, dll), atau di tingkat yang lebih tinggi (misalnya dalam sidang Dewan Etik Perhimpunan Spesialis, MKEK, Makersi, MDTK, dll). Bila putusan MKEK menyatakan pihak medis telah melaksanakan profesi sesuai dengan standar dan tidak melakukan pelanggaran etik, maka putusan tersebut dapat digunakan oleh pihak medis sebagai bahan pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Langkah-Langah Penanganan Kasus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai langkah-langkah tindakan kita dalam menghadapi kemungkinan adanya tuntutan hukum, seharusnya dimulai dari langkah pencegahan. Dalam upaya ini dimasukkan perspektif safety di setiap langkah prosedur atau tindakan medis dengan juga melibatkan proses manajemen risiko. Dengan perspektif safety berarti meyakini bahwa faktor-faktor yang berkontribusi dalam keberlangsungan layanan medis, baik perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), maupun sumber daya manusia (liveware atau brainware) sudah berorientasi kepada keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal telah terjadi peristiwa yang potensial menjadi kasus tuntutan hukum, maka profesional wajib menganalisis peristiwa tersebut untuk menemukan apakah "kesalahan" yang telah terjadi dan kemudian melakukan koreksi, guna mencegah terulangnya peristiwa serupa di kemudian hari. Untuk dapat melakukan hal itu, ia harus membuat catatan tentang kronologi peristiwa dan menjelaskan alasan masing-masing tindakannya, dan menandatanganinya (semacam pernyataan affidavit). Hal ini bisa dicapai apabila ia memiliki dokumen (rekam medis) yang cukup lengkap, termasuk informed consent dan catatan yang terkait. Apabila lebih dari satu orang yang terlibat dalam kasus tersebut, maka mereka harus membahasnya bersama untuk dapat saling melengkapi "jalannya ceritera" - tanpa melakukan manipulasi fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila tingkat potensial menjadi kasus medikolegalnya cukup tinggi, maka kasus tersebut dilaporkan ke atasan (ketua KSMF atau Komite Medik) untuk dibahas bersama. Institusi kesehatan yang relatif kecil dan memiliki staf medis yang terbatas mungkin sukar membahas kasus yang "spesialistik" dengan baik, maka harus berupaya untuk mengundang pakar dari organisasi profesi atau perhimpunan spesialis terkait. Dalam audit klinis tersebut dilakukan pembahasan tentang keadaan pasien, situasi-kondisi yang merupakan "tekanan", diagnosis kerja dan diagnosis banding, indikasi medis dan kontra-indikasi, alternatif tindakan, informed consent, komunikasi, prosedur tindakan dibandingkan dengan standar, penyebab peristiwa yang menuju ke peristiwa medikolegal, penanganan peristiwa tersebut saat itu, diagnosis akhir, dan kesimpulan apakah prosedur medis dan alasannya telah dilakukan sesuai dengan standar profesi atau SOP yang cocok dengan situasi-kondisi kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan yang dilakukan di atas adalah juga merupakan langkah-langkah persiapan menghadapi komplain pasien, atau bahkan menghadapi somasi dan gugatan di kemudian hari. Di samping itu profesional terkait kasus tersebut harus melihat kembali dokumen kompetensi (keahlian) dan kewenangan medis (perijinan), serta kompetensi / kewenangan medis khusus (dokumen pelatihan/workshop, pengakuan kompetensi, pengalaman, dll) yang berkaitan dengan kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan apakah kasus akan diselesaikan di pengadilan ataukah dengan cara perdamaian perlu dibahas pada waktu tersebut. Kasus yang secara nyata merupakan kesalahan pihak medis dan dinilai "undefensable" sebaiknya diselesaikan dengan cara non litigasi. Sebaliknya, kasus yang secara nyata tidak memiliki titik lemah di pihak medis dapat dipertimbangkan untuk diselesaikan melalui sidang pengadilan. Kadang-kadang terdapat kasus "abu-abu" atau "kasus ringan" yang penyelesaian cara non litigasi mungkin akan lebih "menguntungkan" dari segi finansial daripada memilih cara penyelesaian litigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pasien dan/atau keluarganya harus diberikan penjelasan yang memuaskan tentang terjadinya peristiwa tersebut, penyebabnya atau kemungkinan penyebabnya, tindakan yang telah dilakukan untuk mencegah atau mengatasinya, tindakan yang masih diperlukan, dan peluang kesembuhannya di masa mendatang. Apabila pasien meninggal dunia, maka penjelasan tentang sebab kematian yang cukup rinci diperlukan. Keberhasilan penjelasan ini sangat bergantung kepada kualitas penjelasan yang telah diberikan sewaktu memperoleh informed consent. Keluhan atau komplain pasien dan/atau keluarganya harus direspons dengan segera dan adekuat. Alangkah lebih baik apabila penjelasan dilakukan oleh tim dokter terkait didampingi oleh salah seorang direktur dan wakil dari Komite Medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila di kemudian hari datang somasi, maka tim dokter segera berkonsultasi dengan atasan dan penasehat hukum terkait. Tenaga medis dan staf lain yang terlibat pada kasus tersebut haruslah berada dalam satu pihak yang solid dengan rumah sakit agar tidak mudah digoyang oleh pihak penuntut. Suatu pertemuan dan penjelasan yang adekuat seringkali dapat meredakan permasalahan. Tidak sedikit yang berlanjut ke pembicaraan tentang "kompensasi" finansial di luar pengadilan. Cara tersebut dirasakan cukup efektif untuk mencegah kasus ke pengadilan yang membawa berbagai dampak. Proses di pengadilan dianggap dapat merusak citra pofesional, mengganggu bisnis, berbiaya tinggi dan makan waktu lama. Namun, sebagian kecil kasus mungkin masih akan maju ke pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang, sebagaimana akhir-akhir ini sering terjadi, pasien dan kuasanya mengungkapkan kasusnya kepada publik melalui media massa - dilihat dari sisi mereka dengan persepsi mereka sendiri. Tulisan, tayangan atau pernyataan yang sangat menyudutkan rumah sakit atau menyesatkan persepsi masyarakat sebaiknya segera direspons oleh rumah sakit dengan memberikan informasi yang adekuat tanpa harus membuka rahasia kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus pidana dugaan kelalaian yang mengakibatkan cedera atau kematian, penanganan awalnya boleh dianggap sama dengan di atas. Selanjutnya proses pemeriksaan oleh penyidik diikuti dengan patuh, dengan memberikan pembelajaran kepada penyidik di bidang medis dan medikolegal. Di wilayah hukum Polda Metro Jaya disepakati untuk mengajukan satu atau dua orang saksi ahli di bidang yang dibutuhkan, satu berasal dari organisasi profesi (MKEK) dan satu dari kalangan akademisi (dosen Fakultas Kedokteran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menghadapi hal itu, organisasi profesi (PDSp) membentuk semacam "dewan pakar" atau "dewan kehormatan pembina", yang akan menilai kasus dari sisi profesi dan kemudian akan menjadi saksi ahli - menyampaikan hasil pembahasan peer-group tersebut kepada penyidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Layanan kedokteran adalah suatu sistem yang kompleks dan rentan akan terjadinya kecelakaan, sehingga harus dilakukan dengan penuh hati-hati oleh orang-orang yang kompeten dan memiliki kewenangan khusus untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya meminimalkan tuntutan hukum terhadap rumah sakit beserta stafnya pada dasarnya merupakan upaya mencegah terjadinya preventable adverse events yang disebabkan oleh medical errors, atau berarti seluruh upaya mengelola risiko dengan berorientasikan kepada keselamatan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kepustakaan Lanjutan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHRQ's Patient Safety Initiatives. http://www.ahrg.gov&lt;br /&gt;Carroll R (ed). Risk Management Handbook for health care organizations. San Fransisco: Jossey-Bass, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jones MA. Medical Negligence. London: Sweet &amp;amp; Maxwell, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Undang-Undang Hukum Perdata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Undang-Undang Hukum Pidana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kohn LT, Corrigan JM, Donaldson MS (eds). To Err is Human, building a safer health system. Washington: National Academy Press, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lens P and vander Wal G. Problem Doctors, a conspiracy of silence. Amsterdam:Jos Press, 1997&lt;br /&gt;Mann A. Medical Negligence Litigation, Medical Assessment of Claims. Redfern: International Business Communications Pty Ltd, 1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McNair T. Medical Negligence. BBC Health, 28 January 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pozgar GD. Legal Aspects of Health Care Administration. 8th ed, Gaithersburg: An Aspen Publ, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schutte JE. Preventing Medical Malpractice Suits. Seattle: Hogrefe &amp;amp; Huber Publ, 1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan SY. The Medical Malpractice Epidemic in Singapore: Thoughts From Across the Sea. Singapore: Medico-legal Annual Seminar, 27-28 October 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vincent C, Ennis M and Audley RJ. Medical Accident. Oxford: Oxford University Press, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WMA. Statement on Medical Malpractice, adopted by the 4th World Medical Assembly, Marbella, Spain, September 1992&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://malprate.webs.com/penangananmalpraktik.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-8977466545507970540?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/12/malpraktik-penanganan-malpraktik.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-7482146953787458827</guid><pubDate>Fri, 09 Dec 2011 07:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-22T18:32:58.332+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>malpractice</category><title>Malpraktik: Implikasi Hukum</title><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.stus.com/images/products/blg5937.gif" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://www.stus.com/images/products/blg5937.gif" width="273" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;stus.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Istilah malpraktik memang bukan istilah hukum yang tertera di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, namun berbagai tindakan yang termasuk ke dalam kelompok tindak malpraktik telah diatur dalam hukum pidana. Kata malpraktik lebih diartikan sebagai suatu "genus" tindak pidana yang "spesies" nya teruraikan di dalam berbagai pasal ketentuan pidana.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pidana yang paling sering dituntutkan kepada dokter adalah pidana kelalaian yang mengakibatkan luka (pasal 360 KUHP), atau luka berat atau mati (pasal 359 KUHP), yang dikualifikasikan dengan pemberatan ancaman pidananya bila dilakukan dalam rangka melakukan pekerjaannya (pasal 361 KUHP). Sedangkan pidana lain yang bukan kelalaian yang mungkin dituntutkan adalah pembuatan keterangan palsu (pasal 267-268 KUHP), aborsi ilegal (pasal 349 KUHP jo pasal 347 dan 348 KUHP), penipuan dan misrepresentasi (pasal 382 bis), pidana perpajakan (pasal 209 atau 372 KUHP), pencemaran lingkungan hidup (pasal 42 dan 43 UU Pengelolaan Lingkungan Hidup),  euthanasia (pasal 344 KUHP), penyerangan seksual (pasal 284-294 KUHP), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan perdata dalam bentuk ganti rugi dapat diajukan dengan mendasarkan kepada salah satu dari 3 teori di bawah ini, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kelalaian sebagaimana pengertian di atas dan akan diuraikan kemudian&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perbuatan melanggar hukum, yaitu misalnya melakukan tindakan medis tanpa memperoleh persetujuan, membuka rahasia kedokteran tentang orang tertentu, penyerangan privacy seseorang, dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wanprestasi, yaitu pelanggaran atas janji atau jaminan. Gugatan ini sukar dilakukan karena umumnya dokter tidak menjanjikan hasil dan perjanjian tersebut, seandainya ada, umumnya sukar dibuktikan karena tidak tertulis.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Suatu perbuatan atau sikap tenaga medis dianggap lalai apabila memenuhi empat unsur di bawah ini, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Duty atau kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan atau untuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi dan kondisi yang tertentu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan / kedokteran yang diberikan oleh pemberi layanan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal ini harus terdapat hubungan sebab-akibat antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian yang setidaknya merupakan "proximate cause".&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, oleh karena teori kelalaian adalah dasar penuntutan yang tersering digunakan, baik pada tuntutan pidana maupun pada gugatan perdata, maka upaya meminimalisasi tuntutan di rumah sakit harus ditujukan kepada upaya menurunkan kemungkinan terjadinya kelalaian medis, atau bahkan mengurangi kemungkinan terjadinya preventable adverse events yang disebabkan oleh medical errors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;http://malprate.webs.com/implikasihukum.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-7482146953787458827?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/12/malpraktik-implikasi-hukum.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-1444334550739894875</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 07:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-22T18:32:58.309+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>malpractice</category><title>Malpraktik: Pemahaman dari Segi Kedokteran dan Hukum</title><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.lawyerscareers.com/wp-content/uploads/2010/10/malpractice-lawyer.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://www.lawyerscareers.com/wp-content/uploads/2010/10/malpractice-lawyer.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;http://www.lawyerscareers.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tuntutan hukum yang diajukan oleh pasien atau keluarganya kepada pihak rumah sakit dan atau dokternya dari waktu ke waktu semakin meningkat kekerapannya. Tuntutan hukum tersebut dapat berupa tuntutan pidana maupun perdata, dengan hampir selalu mendasarkan kepada teori hukum kelalaian. Dalam bahasa sehari-hari, perilaku yang dituntut adalah malpraktik medis, yang merupakan sebutan "genus" dari kelompok perilaku profesional medis yang "menyimpang" dan mengakibatkan cedera, kematian atau kerugian bagi pasiennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Black's Law Dictionary mendefinisikan malpraktik sebagai "professional misconduct or unreasonable lack of skill" atau "failure of one rendering professional services to exercise that degree of skill and learning commonly applied under all the circumstances in the community by the average prudent reputable member of the profession with the result of injury, loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian malpraktik di atas bukanlah monopoli bagi profesi medis, melainkan juga berlaku bagi profesi hukum (misalnya mafia peradilan), akuntan, perbankan (misalnya kasus BLBI), dan lain-lain. Pengertian malpraktik medis menurut World Medical Association (1992) adalah: "medical malpractice involves the physician's failure to conform to the standard of care for treatment of the patient's condition, or lack of skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to the patient."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi hukum, di dalam definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa malpraktik dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada misconduct tertentu, tindakan kelalaian (negligence), ataupun suatu kekurang-mahiran / ketidak-kompetenan yang tidak beralasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professional misconduct yang merupakan kesengajaan dapat dilakukan dalam bentuk pelanggaran ketentuan etik, ketentuan disiplin profesi, hukum administratif, serta hukum pidana dan perdata, seperti melakukan kesengajaan yang merugikan pasien, fraud, "penahanan" pasien, pelanggaran wajib simpan rahasia kedokteran, aborsi ilegal, euthanasia, penyerangan seksual, misrepresentasi atau fraud, keterangan palsu, menggunakan iptekdok yang belum teruji / diterima, berpraktek tanpa SIP, berpraktek di luar kompetensinya, dll.  Kesengajaan tersebut tidak harus berupa sengaja mengakibatkan hasil buruk bagi pasien, namun yang penting lebih ke arah deliberate violation (berkaitan dengan motivasi) ketimbang hanya berupa error (berkaitan dengan informasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance, misfeasance dan nonfeasance. Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak (unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai (pilihan tindakan medis tersebut sudah improper). Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance), yaitu misalnya melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan bentuk-bentuk error (mistakes, slips and lapses) yang telah diuraikan sebelumnya, namun pada kelalaian harus memenuhi ke-empat unsur kelalaian dalam hukum - khususnya adanya kerugian, sedangkan error tidak selalu mengakibatkan kerugian. Demikian pula adanya latent error yang tidak secara langsung menimbulkan dampak buruk (lihat pula bagan 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktik medis, sekaligus merupakan bentuk malpraktik medis yang paling sering terjadi. Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang dengan tidak sengaja, melakukan sesuatu (komisi) yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan sesuatu (omisi) yang seharusnya dilakukan oleh orang lain yang memiliki kualifikasi yang sama pada suatu keadaan dan situasi yang sama. Perlu diingat bahwa pada umumnya kelalaian yang dilakukan orang-per-orang bukanlah merupakan perbuatan yang dapat dihukum, kecuali apabila dilakukan oleh orang yang seharusnya (berdasarkan sifat profesinya) bertindak hati-hati, dan telah mengakibatkan kerugian atau cedera bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;http://malprate.webs.com/malpraktikkedokteran.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-1444334550739894875?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/12/malpraktik-pemahaman-dari-segi.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-5793119530584377999</guid><pubDate>Fri, 25 Nov 2011 07:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-22T18:32:58.325+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>malpractice</category><title>Malpraktik: Layanan Kedokteran, Errors dan Adverse Events</title><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://osje.org/wp-content/uploads/2011/06/Medical-malpractice-insurance-premiums-300x300.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://osje.org/wp-content/uploads/2011/06/Medical-malpractice-insurance-premiums-300x300.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;osje.org&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Ilmu kedokteran adalah ilmu empiris, sehingga ketidakpastian merupakan salah satu ciri khasnya. Iptekdok masih menyisakan kemungkinan adanya bias dan ketidaktahuan, meskipun perkembangannya telah sangat cepat sehingga sukar diikuti oleh standar prosedur yang baku dan kaku. Kedokteran tidak menjanjikan hasil layanannya, melainkan hanya menjanjikan upayanya (inspanningsverbintennis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan kedokteran dikenal sebagai suatu sistem yang kompleks dengan sifat hubungan antar komponen yang ketat (complex and tightly coupled)[1], khususnya di ruang gawat darurat, ruang bedah dan ruang rawat intensif. Sistem yang kompleks umumnya ditandai dengan spesialisasi dan interdependensi. Dalam suatu sistem yang kompleks, satu komponen dapat berinteraksi dengan banyak komponen lain, kadang dengan cara yang tak terduga atau tak terlihat. Semakin kompleks dan ketat suatu sistem akan semakin mudah terjadi kecelakaan (prone to accident), oleh karena itu praktik kedokteran haruslah dilakukan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Setiap tindakan medis mengandung risiko buruk, sehingga harus dilakukan tindakan pencegahan ataupun tindakan mereduksi risiko. Namun demikian sebagian besar diantaranya tetap dapat dilakukan oleh karena risiko tersebut dapat diterima (acceptable) sesuai dengan "state-of-the-art" ilmu dan teknologi kedokteran. Risiko yang dapat diterima adalah risiko-risiko sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko yang derajat probabilitas dan keparahannya cukup kecil, dapat diantisipasi, diperhitungkan atau dapat dikendalikan, misalnya efek samping obat, perdarahan dan infeksi pada pembedahan, dll.&lt;br /&gt;Risiko yang derajat probabilitas dan keparahannya besar pada keadaan tertentu, yaitu apabila tindakan medis yang berrisiko tersebut harus dilakukan karena merupakan satu-satunya cara yang harus ditempuh (the only way), terutama dalam keadaan gawat darurat.&lt;br /&gt;Kedua jenis risiko di atas apabila terjadi bukan menjadi tanggung-jawab dokter sepanjang telah diinformasikan kepada pasien dan telah disetujui (volenti non fit injuria). Pada situasi seperti inilah manfaat pelaksanaan informed consent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu risiko / peristiwa buruk yang tidak dapat diduga atau diperhitungkan sebelumnya (unforeseeable, unpredictable) yang terjadi saat dilakukan tindakan medis yang sesuai standar tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada dokter atau pemberi layanan medis (misalnya reaksi hipersensitivitas, emboli air ketuban). World Medical Association berpendapat: "An injury occurring in the course of medical treatment which could not be foreseen and was not the result of the lack of skill or knowledge on the part of the treating physician is untoward result, for which the physician should not bear any liability".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap cedera yang lebih disebabkan karena manajemen kedokteran daripada akibat penyakitnya disebut sebagai adverse events. Sebagian dari adverse event ternyata disebabkan oleh error sehingga dianggap sebagai preventable adverse events. Error sendiri diartikan sebagai kegagalan melaksanakan suatu rencana tindakan (error of execution; lapses dan slips) atau penggunaan rencana tindakan yang salah dalam mencapai tujuan tertentu (error of planning; mistakes). Di dalam kedokteran, semua error dianggap serius karena dapat membahayakan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hasil yang tidak diharapkan di bidang medik sebenarnya dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu (lihat bagan 1):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari suatu perjalanan penyakitnya sendiri, tidak berhubungan dengan tindakan medis yang dilakukan dokter.&lt;br /&gt;Hasil dari suatu risiko yang tak dapat dihindari, yaitu risiko yang tak dapat diketahui sebelumnya (unforeseeable); atau risiko yang meskipun telah diketahui sebelumnya (foreseeable) tetapi dianggap acceptable, sebagaimana telah diuraikan di atas.&lt;br /&gt;Hasil dari suatu kelalaian medik.&lt;br /&gt;Hasil dari suatu kesengajaan.&lt;br /&gt;Guna menilai bagaimana kontribusi manusia dalam suatu error dan dampaknya, perlu dipahami perbedaan antara active errors dan latent errors. Active errors terjadi pada tingkat operator garis depan dan dampaknya segera dirasakan, sedangkan latent errors cenderung berada di luar kendali operator garis depan, seperti desain buruk, instalasi yang tidak tepat, pemeliharaan yang buruk, kesalahan keputusan manajemen, dan struktur organisasi yang buruk (lihat bagan 2).&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.freewebs.com/malprate/Malpraktek%202.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="234" src="http://www.freewebs.com/malprate/Malpraktek%202.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.freewebs.com/malprate/Malpraktek%201.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="282" src="http://www.freewebs.com/malprate/Malpraktek%201.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latent error merupakan ancaman besar bagi keselamatan (safety) dalam suatu sistem yang kompleks, oleh karena sering tidak terdeteksi dan dapat mengakibatkan berbagai jenis active errors. Sebagai contoh adalah sistem pendidikan dokter spesialis yang mahal, pembolehan dokter bekerja pada "banyak" rumah sakit, tidak adanya sistem yang menjaga akuntabilitas profesi (lihat pula bagan di bawah) adalah latent errors yang tidak terasa sebagai error, namun sebenarnya merupakan akar dari kesalahan manajemen yang telah banyak menimbulkan unsafe conditions dalam praktek kedokteran di lapangan. Bila satu saat unsafe conditions ini bertemu dengan suatu unsafe act (active error), maka terjadilah accident. Dalam hal ini perlu kita pahami bahwa penyebab suatu accident bukanlah single factor melainkan multiple factors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya kita merespons suatu error dengan berfokus pada active error-nya dengan memberikan hukuman kepada individu pelakunya, retraining dan lain-lain yang bertujuan untuk mencegah berulangnya active errors. Meskipun hukuman seringkali bermanfaat pada kasus tertentu (pada mistakes yang timbul karena kesengajaan), namun sebenarnya tidak cukup efektif. Memfokuskan perhatian kepada active errors akan membiarkan latent errors tetap ada di dalam sistem, atau bahkan mungkin akan terakumulasi, sehingga sistem tersebut semakin mungkin mengalami kegagalan di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang mengatakan bahwa kecelakaan dapat dicegah dengan desain organisasi dan manajemen yang baik akhir-akhir ini sangat dipercaya kebenarannya. Konsep safety (dalam hal ini patient safety), yang pada mulanya diberlakukan di dalam dunia penerbangan, akhir-akhir ini diterapkan oleh Institute of Medicine di Amerika (dan institusi serupa di negara-negara lain). Keselamatan pasien diartikan sebagai penghindaran, pencegahan dan perbaikan terjadinya adverse events atau freedom from accidental injury. Keselamatan tidak terdapat pada diri individu, peralatan ataupun bagian (departemen, unit), melainkan muncul dari interaksi komponen-komponen dalam sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;[1] Kohn LT, Corrigan JM and Donaldson MS. To err is human, building a safer health system. Washington DC: National Academy Press, 2000, p58-60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;http://malprate.webs.com/layanankedokteran.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-5793119530584377999?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/11/malpractice-layanan-kedokteran-errors.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-2698510410157807038</guid><pubDate>Thu, 17 Nov 2011 07:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-22T18:32:58.317+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>malpractice</category><title>Malpraktik: Pendahuluan</title><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.syracusemedicalmalpracticelawyerblog.com/Syracuse%20New%20York%20medical%20malpractice%20lawyers.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="154" src="http://www.syracusemedicalmalpracticelawyerblog.com/Syracuse%20New%20York%20medical%20malpractice%20lawyers.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;syracusemedicalmalpracticelawyerblog.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="dropcap"&gt; &lt;/span&gt;Praktik kedokteran bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang memiliki kompetensi yang memenuhi standar tertentu, diberi kewenangan oleh institusi yang berwenang di bidang itu dan bekerja sesuai dengan standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis-konseptual, antara masyarakat profesi dengan masyarakat umum terjadi suatu kontrak (mengacu kepada doktrin social-contract), yang memberi masyarakat profesi hak untuk melakukan self-regulating (otonomi profesi) dengan kewajiban memberikan jaminan bahwa profesional yang berpraktek hanyalah profesional yang kompeten dan yang melaksanakan praktek profesinya sesuai dengan standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sikap profesionalisme adalah sikap yang bertanggungjawab, dalam arti sikap dan perilaku yang akuntabel kepada masyarakat, baik masyarakat profesi maupun masyarakat luas (termasuk klien).  Beberapa ciri profesionalisme tersebut merupakan ciri profesi itu sendiri, seperti kompetensi dan kewenangan yang selalu "sesuai dengan tempat dan waktu", sikap yang etis sesuai dengan etika profesinya, bekerja sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh profesinya, dan khusus untuk profesi kesehatan ditambah dengan sikap altruis (rela berkorban). Uraian dari ciri-ciri tersebutlah yang kiranya harus dapat dihayati dan diamalkan agar profesionalisme tersebut dapat terwujud. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran diundangkan untuk mengatur praktik kedokteran dengan tujuan agar dapat memberikan perlindungan kepada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian awal, Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang persyaratan dokter untuk dapat berpraktik kedokteran, yang dimulai dengan keharusan memiliki sertifikat kompetensi kedokteran yang diperoleh dari Kolegium selain ijasah dokter yang telah dimilikinya, keharusan memperoleh Surat Tanda Registrasi dari Konsil Kedokteran Indonesia dan kemudian memperoleh Surat ijin Praktik dari Dinas Kesehatan Kota / Kabupaten. Dokter tersebut juga harus telah mengucapkan sumpah dokter, sehat fisik dan mental serta menyatakan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengatur persyaratan praktik kedokteran di atas, Undang-Undang No 29/2004 juga mengatur tentang organisasi Konsil Kedokteran, Standar Pendidikan Profesi Kedokteran serta Pendidikan dan Pelatihannya, dan proses registrasi tenaga dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian berikutnya, Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang penyelenggaraan praktik kedokteran. Dalam bagian ini diatur tentang perijinan praktik kedokteran, yang antara lain mengatur syarat memperoleh SIP (memiliki STR, tempat praktik dan rekomendasi organisasi profesi), batas maksimal 3 tempat praktik, dan keharusan memasang papan praktik atau mencantumkan namanya di daftar dokter bila di rumah sakit. Dalam aturan tentang pelaksanaan praktik diatur agar dokter memberitahu apabila berhalangan atau memperoleh pengganti yang juga memiliki SIP, keharusan memenuhi standar pelayanan, memenuhi aturan tentang persetujuan tindakan medis, memenuhi ketentuan tentang pembuatan rekam medis, menjaga rahasia kedokteran, serta mengendalikan mutu dan biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini Undang-Undang juga mengatur tentang hak dan kewajiban dokter dan pasien. Salah satu hak dokter yang penting adalah memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, sedangkan hak pasien yang terpenting adalah hak memperoleh penjelasan tentang penyakit, tindakan medis, manfaat, risiko, komplikasi dan prognosisnya dan serta hak untuk menyetujui atau menolak tindakan medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian berikutnya Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang disiplin profesi. Undang-Undang mendirikan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia yang bertugas menerima pengaduan, memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter. Sanksi yang diberikan oleh MKDKI adalah berupa peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan STR dan/atau SIP, dan kewajiban mengikuti pendidikan dan pelatihan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya Undang-Undang No 29/2004 mengancam pidana bagi mereka yang berpraktik tanpa STR dan atau SIP, mereka yang bukan dokter tetapi bersikap atau bertindak seolah-olah dokter, dokter yang berpraktik tanpa membuat rekam medis, tidak memasang papan praktik atau tidak memenuhi kewajiban dokter. Pidana lebih berat diancamkan kepada mereka yang mempekerjakan dokter yang tidak memiliki STR dan/atau SIP.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang No 29/2004 baru akan berlaku setelah satu tahun sejak diundangkan, bahkan penyesuaian STR dan SIP diberi waktu hingga dua tahun sejak Konsil Kedokteran terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Praktik Kedokteran belum akan bisa diterapkan secara sempurna apabila peraturan pelaksanaannya belum dibuat. Peraturan Konsil yang harus dibuat adalah ketentuan tentang Fungsi &amp;amp; Tugas KKI; Fungsi, Tugas, Wewenang KK / KKG; Pemilihan tokoh masyarakat sebagai anggota; Tata Kerja KKI; Tata cara Registrasi; Kewenangan dokter / dokter gigi; Tata cara pemilihan Pimpinan MKDKI dan Tata Laksana kerja MKDKI. Peraturan Menteri Kesehatan yang harus dibuat atau direvisi bila sudah ada adalah peraturan tentang Surat Ijin Praktik, Pelaksanaan Praktik, Standar Pelayanan, Persetujuan Tindakan Medik, Rekam Medis, dan Rahasia Kedokteran. Selain itu masih diperlukan pembuatan berbagai standar seperti standar profesi yang di dalamnya meliputi standar kompetensi, standar perilaku dan standar pelayanan medis, serta standar pendidikan. Bahkan beberapa peraturan pendukung juga diperlukan untuk melengkapinya, seperti peraturan tentang penempatan dokter dalam rangka pemerataan pelayanan kedokteran, pendidikan dokter spesialis, pelayanan medis oleh tenaga kesehatan non medis, penataan layanan kesehatan non medis (salon, pengobatan tradisionil, pengobatan alternatif), perumahsakitan dan sarana kesehatan lainnya, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;[1] Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme, organisasi profesi wajib menentukan standar, persyaratan, dan sertifikasi keahlian, serta kode etik profesi (Ps 12 ayat 1 UU No 18 tahun 2002 tentang IPTEK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Perbedaan pendapat terjadi di bidang ini. Sebagian ahli tidak setuju atas ancaman pidana bagi pelanggaran yang dianggap pelanggaran administratif (praktik tanpa STR/SIP dan tidak memasang papan praktik), sebagian ahli lain berpendapat perlunya kriminalisasi oleh karena menganggap pelanggaran tersebut bukan sekedar administratif - melainkan pelanggaran kewajiban yang azasi - sebagai konsekuensi hak pasien atas informasi dan akuntabilitas profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;http://malprate.webs.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-2698510410157807038?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/11/malpraktik-pendahuluan.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-1891175087449986200</guid><pubDate>Wed, 09 Nov 2011 11:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-19T18:18:07.946+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>anatomy</category><title>Lesung Pipit: Tak Semua Malformasi Identik dengan Keburukan</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT08eMDgRsTB7h4ZY4iKAUPvf1U2GGXoyJN85KkN7l4M5HV6uoGbaajMyLr" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT08eMDgRsTB7h4ZY4iKAUPvf1U2GGXoyJN85KkN7l4M5HV6uoGbaajMyLr" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Source: fashioncentral.pk&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;L&lt;/span&gt;esung pipit (&lt;i&gt;dimple&lt;/i&gt;) adalah cekungan alami kecil pada bagian tubuh manusia, biasanya di pipi atau di dagu. Lesung pipit dapat muncul dan menghilang bersamaan dengan waktu. Mungkin cukup mudah menemukan seseorang yang mempunyai lesung pipit karena sifat ini diturunkan secara genetik. Sebagian besar lesung pipit sebenarnya disebabkan adanya defek lahir, yang malah menunjukkan bahwa tidak semua ‘malformasi’ adalah hal yang buruk. Lesung pipit dapat berperan dalam pemilihan jenis kelamin. Beberapa kebudayaan, misalnya Asia ataupun subgrup etnik Indo, menganggap lesung pipit sebagai simbol daya pikat dan kejujuran. Lesung pipit dapat diturunkan secara genetik dan digolongkan dalam sifat dominan sederhana, tetapi belum ada bukti ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Lesung pipit dapat disebabkan adanya variasi struktur otot wajah yang dikenal dengan nama musculus zygomaticus mayor. Lebih khusus lagi, adanya musculus zygomaticus mayor yang dobel ataupun bifida dapat menjelaskan fenomena pembentukan lesung pipit di pipi ini. Variasi bifida musculus yang bersangkutan berorigo pada struktur tunggal di os zygomaticum. Ketika otot ini berjalan ke anterior, dia kemudian membelah menjadi dua, serabut superior berinsersi ke posisi umumnya yaitu sudut mulut (anguli oris), sedangkan serabut inferiornya berinsersi di bawah sudut mulut (anguli oris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab paling sering terbentuknya lesung pipit adalah otot yang memendek, yang dapat menjelaskan mengapa lesung pipit tidak selalu terlihat saat kondisi istirahat. Di wajah, otot wajah yang memendek menarik kulit, terutama ketika seseorang tersenyum, menciptakan lesung pipit yang klasik. Seiring berjalannya waktu, otot di wajah akan mengendur dan itulah mengapa beberapa orang yang mempunyai lesung pipit ketika muda akan menghilang ketika mulai menua. Lesung pipit juga bisa ditemukan di bagian tubuh yang lain seperti pantat. Lesung pipit di tempat lain tidak terlalu dipandang tinggi dibandingkan dengan yang ada di pipi, mungkin karena lesung pipit di wajah langsung tampak, sedangkan di bagian lain tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genetika lesung pipit sebenarnya cukup menarik. Lesung pipit adalah sifat dominan, yang berarti hanya perlu satu gen untuk mewarisi lesung pipit. Jika tidak ada orang tua mempunyai lesung pipit, Anda kemungkinan tidak mempunyainya, kecuali Anda mengalami mutasi spontan. Jika salah satu orang tua mempunyai lesung pipit, Anda mempunyai kemungkinan 25 – 50% untuk mewarisi gen, karena ini berarti orang tua Anda mewarisi gen tersebut dari salah satu ataupun kedua orang tuanya. Jika kedua orang tua mempunyai lesung pipit, Anda mempunyai kesempatan 50 – 100% mewarisi gen ini, tergantung bagaimana mereka mewarisi gen lesung pipit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kebanyakan kasus, lesung pipit muncul di pipi, meskipun lesung pipit juga bisa muncul di dagu dan tidak terlihat hingga seseorang tersenyum. Beberapa orang mempunyai lesung pipit pada salah satu sisi wajah saja, yang membuat ciri fisik ini menimbulkan rasa sayang. Penampakan lesung pipit juga sangat bervariasi; sama seperti ciri pewarisan yang lain, lesung pipit dapat diturunkan dari generasi ke generasi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lesung pipit dapat menghilang bersamaan dengan waktu ketika otot-otot wajah mulai mengendur, beberapa orang menghubungkan lesung pipit dengan masa muda. Anak-anak sering dihubungkan dengan pipi berlesung pipit, dan seseorang yang mempunyai lesung pipit biasanya diangap tampak muda atau &lt;i&gt;baby faced&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;http://www.wisegeek.com/what-are-dimples.htm&lt;/li&gt;&lt;li&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Dimple&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-1891175087449986200?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/11/lesung-pipit-tak-semua-malformasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-5374818819941992</guid><pubDate>Wed, 02 Nov 2011 11:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-19T18:18:25.638+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>TIPS</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>complication</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DIABETES mellitus</category><title>[TIPS] Komplikasi Jangka Panjang Diabetes Mellitus</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sehatalami.biz/wp-content/uploads/2011/08/stop-diabetes.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="234" src="http://sehatalami.biz/wp-content/uploads/2011/08/stop-diabetes.jpg" width="324" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Source: sehatalami.biz&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;T&lt;/span&gt;he U.S. National Library of Medicine menyebutkan beberapa komplikasi jangka panjang yang mungkin akibat diabetes tak terkontrol antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pengerasan arteri (atherosklerosis)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kerusakan ginjal, saraf dan mata&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disfungsi ereksi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hiperkolesterolemia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hipertensi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Infeksi saluran kemih atau kulit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stroke&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyakit vaskuler perifer&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pengaturan kadar gula darah yang baik dapat mencegah komplikasi ini.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Referensi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_115073.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-5374818819941992?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/11/tips-komplikasi-jangka-panjang-diabetes.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-5176742031092952761</guid><pubDate>Mon, 24 Oct 2011 09:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-15T16:49:44.184+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>our HEALTH</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>ORAL MEDICINE</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>TOOTH</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>TOBACCO</category><title>‘Smokeless Tobacco’ Bukanlah Alternatif yang Aman</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.tobacco-facts.net/wp-content/uploads/2010/02/tobacco34.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="248" src="http://www.tobacco-facts.net/wp-content/uploads/2010/02/tobacco34.jpg" width="318" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Source: tobacco-facts.net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;mokeless tobacco dapat menyebabkan kanker, masalah kesehatan dan kecanduan nikotin.&amp;nbsp;Banyak orang yang mengunyah tembakau atau nginang berpikir bahwa aktivitas tersebut lebih aman daripada merokok. Tetapi para ahli di Pusat Pengaturan dan Pencegahan Penyakit (Center of Disease Control and Prevention, CDC) Amerika Serikat menemukan fakta yang lain. Anda tidak perlu merokok untuk mengetahui bahwa hal tersebut memang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;‘Smokeless tobacco’ mengandung lebih banyak nikotin dibandingkan dengan rokok. Nikotin adalah senyawa adiktif yang membuat penggunanya sulit menghentikan penggunaannya jika sudah memulai menggunakan. Cobalah membuat rencana berhenti menggunakan tembakau.&lt;br /&gt;CDC menyebutkan masalah kesehatan yang berasal dari penggunaan ‘smokeless tobaccco’ antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kanker, terutama kanker mulut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karies akar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Resesi gingiva&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Plak berwarna putih atau luka memerah di rongga mulut yang dapat mengarah ke kanker.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika Anda hamil, meningkatkan risiko komplikasi, termasuk preeklampsia, berat badan lahir kurang dan kelahiran prematur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masalah fertilitas pada laki-laki, termasuk sperma abnormal dan jumlah sperma yang rendah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kecanduan nikotin dan kemungkinan menjadi perokok&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_114783.html&lt;/li&gt;&lt;li&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/smokelesstobacco.html&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-5176742031092952761?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/smokeless-tobacco-bukanlah-alternatif.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-465373205828312700</guid><pubDate>Sun, 23 Oct 2011 16:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-14T23:57:20.412+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>reflection</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>OTHER</category><title>Entusiasme! Seberapapun Banyaknya Ternyata Diperbolehkan</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://img2.lln.crunchyroll.com/i/spire4/03112008/2/2/b/5/22b51af54f0240_full.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://img2.lln.crunchyroll.com/i/spire4/03112008/2/2/b/5/22b51af54f0240_full.jpg" width="319" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Source: crunchyroll.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;E&lt;/span&gt;hehe...saya kira saya mulai keracunan poster motivasi anime deh. LOL. Awalnya cuma iseng saja mencari motivasi dan setengahnya karena masih rada kesal dengan postingan yang tiba-tiba terhapus (Duh! Jangan bahas lagi yaaa...). Banyak poster motivasi anime yang beredar di dunia maya, sebagian tidak (atau belum) bisa saya pahami, sebagian ada yang memang benar-benar memotivasi, sebagian justru ada yang bikin nggak termotivasi (artinya jadi berbeda dong). Sebagian ada yang kontennya aman untuk semua kalangan, sebagian ada yang berlabel "Not Safe For Working" alias sudah menyerempet ke ranah yang cenderung mesum. Tapi semuanya tergantung bagaimana kita merespon semua itu. Tentu saja, ada yang biasa aja, ada yang langsung merasa ilfil dan bahkan mungkin ada yang menjadi semangat (semangat mencari poster yang sejenis). Oh well, kayaknya alurnya malah jadi ngomongin poster motivasi itu sendiri yak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Intinya, kali ini saya mendapatkan poster motivasi anime yang memang memotivasi saya, bahwa &lt;b&gt;entusiasme, seperti hal yang lain, seberapapun banyaknya ternyata diperbolehkan&lt;/b&gt;. Saya menerjemahkannya secara bebas. Entusiasme juga yang membuat seseorang tetap bertahan terhadap apa yang sedang dilakukannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-465373205828312700?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/entusiasme-seberapapun-banyaknya.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-9040959888423347898</guid><pubDate>Sat, 22 Oct 2011 16:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-14T23:14:21.867+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>PEDIATRIC</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>our HEALTH</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DIABETES mellitus</category><title>Diabetes Mellitus Neonatal Permanen (PNDM)</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.diabetescare.net/CMS/DOCS/userfiles/image/Images%20-%20Logos/Photos_com%20Images/Infant_Mom.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="337" src="http://www.diabetescare.net/CMS/DOCS/userfiles/image/Images%20-%20Logos/Photos_com%20Images/Infant_Mom.jpg" width="507" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Source: diabetescare.net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #0b5394; font-size: large;"&gt;Apa itu diabetes mellitus neonatal permanen?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diabetes mellitus neonatal permanen adalah tipe diabetes yang pertama kali terlihat pada usia 6 bulan dan terus ada sepanjang hidup. Tipa diabetes ini ditandai dengan adanya kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) yang disebabkan kurangnya hormon insulin. Insulin mengontrol berapa banyak glukosa (tipe gula) yang melewati darah menuju sel yang diubah menjadi energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Individu yang menderita diabetes mellitus neonatal permanen mengalami pertumbuhan yang lambat sebelum lahir (retardasi pertumbuhan intrauterin). Balita yang terkena mengalami hiperglikemia dan hilangnya cairan dalam jumlah besar (dehidrasi) dan tidak mampu menaikkan berat badannya secara normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kasus, individu yang mengalami diabetes mellitus neonatal permanen akan mengalami masalah neurologis, termasuk pertumbuhan yang tertunda dan kejang berulang (epilepsi). Kombinasi antara pertumbuhan yang tertunda, epilepsi, dan diabetes neonatal disebut sindrom DEND. Sindrom DEND intermediat mempunyai kemiripan kombinasi tetapi dengan pertumbuhan yang tertunda yang lebih ringan dan tanpa disertai epilepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kecil individu yang menderita diabetes mellitus neonatal permanen mempunyai pankreas yang tidak berkembang. Karena pankreas menghasilkan enzim pencernaan termasuk insulin dan hormon lainnya, individu yang terkena akan mengalami masalah pencernaan seperti feses berlemak dan ketidakmampuan menyerap vitamin yang larut dalam lemak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #0b5394; font-size: large;"&gt;Seberapa umumkan diabetes mellitus neonatal permanen itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 1 dari 400.000 balita terdiagnosis diabetes pada awal kehidupannya. Namun demikian, sekitar setengah bayi-bayi ini mengalami kondisi tersebut sementara dan gejalanya hilang dengan sendirinya pada usia 18 minggu. Sisanya menderita diabetes mellitus neonatal permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #0b5394; font-size: large;"&gt;Gen apakah yang berhubungan dengan diabetes mellitus neonatal permanen?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diabetes mellitus neonatal permanen dapat disebabkan karena mutasi beberapa gen. Sekitar 30 persen individu penderita diabetes mellitus neonatal permanen mengalami mutasi pada gen KCNJ11. Tambahan 20 persen penderita diabetes mellitus neonatal permanen mengalami mutasi pada gen ABCC8. Gen-gen ini mengandung instruksi untuk membuat subunit saluran Kalium sensitif-ATP (K-ATP). Setiap saluran K-ATP mengandung 8 subunit, empat dihasilkan dari gen KCNJ11 dan empat dari gen ABCC8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saluran K-ATP ditemukan menembus membran sel pda sel-sel beta sekresi-insulin pankreas. Saluran-saluran ini membuka dan menutup oleh respon jumlah glukosa di dalam aliran darah. Penutupan saluran terhadap respon peningkatan glukosa memicu pelepasan insulin dari sel-sel beta panjreas menuju aliran darah, yang kemudian membantu mengontrol kadar gula darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutasi gen KCNJ11 atau ABCC8 yang menyebabkan diabetes mellitus neonatal permanen menyebabkan saluran K-ATP tidak menutup sehingga sekresi insulin berkurang dan kontrol gula darah menjadi terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutasi gen INS, yang mengandung instruksi untuk memproduksi insulin, telah teridentifikasi pada 20% pasien diabetes mellitus neonatal permanen. Insulin dihasilkan dari bentuk prekursor yang disebut proinsulin, yang mengandung rantai tunggal blok pembentuk protein (asam amino). Rantai proinsulin terbelah membentuk pecahan yang disebut rantai A dan B, yang bersatu melalui hubungan yang disebut ikatan disulfida untuk membentuk insulin. Mutasi gen INS dipercaya dapat mengganggu pembelahan rantai insulin atau pengikatan rantai A dan B untuk membentuk insulin, yang menyebabkan gangguan kontrol gula darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diabetes mellitus neonatal permanen dapat pula disebabkan oleh mutasi gen-gen yang lain, beberapa diantaranya belum teridentifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #0b5394; font-size: large;"&gt;Bagaimana seseorang bisa mewarisi diabetes mellitus neonatal permanen?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diabetes mellitus neonatal permanen dapat mempunyai pola pewarisan yang berbeda.&lt;br /&gt;Ketika kondisi ini disebabkan oleh mutasi gen KCNJ11 atau INS, maka diabetes mellitus neonatal permanen mengikuti pola pewarisan dominan autosom, yang berarti satu salinan gen yang berubah pada tiap sel sudah mampu menyebabkan kelainan itu. Pada 90% kasus ini, kondisi berawal dari mutasi baru pada gen dan terjadi pada orang yang tidak mempunyai riwayat kelainan pada keluarga mereka. Pada kasus lainnya, individu yang terkena mewarisi mutasi gen dari salah satu orang tua yang menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diabetes mellitus neonatal permanen yang disebabkan mutasi gen ABCC8 dapat diturunkan melalui pola pewarisan dominan autosom ataupun resesif autosom. Pada pola pewarisan resesif autossom, kedua salinan gen pada tiap sel mengalami mutasi. Orang tua individu dengan kondisi resesif autosom menymbang satu salinan gen yang bermutasi, sehingga mereka berdua tidak menunjukkan tanda dan gejala kondisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jarang lagi kondisi yang disebabkan mutasi pada gen-gen lainnya, dan pada kasus ini, pola pewarisannya mengikuti pola resesif autosom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;http://ghr.nlm.nih.gov/condition/permanent-neonatal-diabetes-mellitus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-9040959888423347898?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/diabetes-mellitus-neonatal-permanen.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-1501537423535518893</guid><pubDate>Fri, 21 Oct 2011 15:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-14T23:13:28.289+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>stomatognatik</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>our HEALTH</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>mastikasi</category><title>Kepekaan Lidah Terhadap Lemak VS Kecenderungan Gemuk</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lovealiz.files.wordpress.com/2008/04/ice-cream-cake.jpeg?w=480" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://lovealiz.files.wordpress.com/2008/04/ice-cream-cake.jpeg?w=480" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Source: ovealiz.wordpress.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;M&lt;/span&gt;akanan yang kaya lemak seperti es krim dan salad bermayo menggoda banyak orang, tetapi terdapat bukri baru yang mengindikasikan bahwa beberapa orang sebenarnya bisa “merasakan” lemak yang tersembunyi dalam makanan dan mereka yang tidak bisa melakukannya mempunyai kecenderungan memakan lebih banyak makanan kaya lemak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dalam presentasi penelitian berseri yang dilakukan oleh Institusi Teknologi Makanan pada pertemuan tahunan Juni 2011 ini, peneliti menjelaskan mengenai penelitian lambat laun mendukung  ide bahwa lemak dan asam lemak dapat dicicip, meskipun ‘rasa’ tersebut dideteksi sebagian besar melalui indera penciuman dan tekstur. Individu yang tidak dapat merasakan lemak mempunyai variansi genetik mengenai cara mereka memproses makanan yang kemudian kemungkinan mengarah kepada ngemil makanan berlemak secara tidak sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka yang lebih sensitif terhadap kandungan lemak lebih gampang mengontrol diet mereka”, kata Kathleen L. Keller, rekan peneliti dari Pusat Penelitian Obesitas New York di Rumah Sakit Roosevelt, St. Luke. “Kami berpendapat orang-orang ini terlindungi dari obesitas karena kemampuan mereka mendeteksi perubahan kecil kandungan lemak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keller dan koleganya mempelajari 317 orang dewasa kulit hitam, mengidentifikasi varian umum pada gen CD36 yang terkait dengan preferensi pribadi untuk menambahkan lemak seperti mentega, minyak dan lumuran keju. Varian yang sama juga ditemukan berhubungan dengan preferensi lemak pada sampel produk susu pada kelompok kecil anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keller mengatakan bahwa penting membatasi sampel penelitian terhadap kelompok etnis tertentu untuk mengurangi variasi gen. Timnya meminta peserta penelitian mengenai diet normalnya dan bagaimana mereka menerima ‘rasa’ minyak dan krim salad yang lemaknya antara 5 – 55 persen. Sekitar 21 persen peserta ternyata termasuk kelompok genotip ‘berisiko’ melaporkan kesukaan terhadap makanan berlemak dan merasa saus salad terasa lebih cremy dibandingkan kelompok lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah ilmu pengetahuan yang sedang berkembang”, kara Jeannie Gazzaniga-Moloo, juru bicara Asosiasi Diet Amerika (American Dietetic Association) dan instruktur nutrisi di Universitas Negeri California di Sacramento. “Meskipun demikian, penelitian in harus terus berlanjut karena kita yakin tahu bahwa rasa adalah dorongan seseorang untuk makan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak lain yang dipresentasikan di pertemuan yang dilaksanakan di New Orleans, menguraikan tema “pengecap-lemak”. “Citra otak fungsional menyatakan bahwa presepsi individu terhadap ‘kenyamanan tekstur lemak’ menunjukkan dua regio otak, korteks orbitofrontal dan korteks cingulatum pregenual”, jelas Edmund Rolls, dari Pusat Neurosains Komputasional Oxford di Inggris. “Perbedaan sensitivitas dua area tersebut berhubungan dengan kesukaan akan coklat berperan dalam obesitas”, jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gazzaniga-Moloo mengatakan masih prematur untuk menghubungkan kenaikan berat badan dengan gen pengecap lemak yang baru-baru ini teridentifikasi, karena penelitian belum menunjukan sebab dan akibat. "Jika kita menemukan orang-orang yang pengecap-lemak, beberapa lebih banyak dari yang lainnya...hal ini dapat menjelaskan mengapa makanan bebas-lemak tidak sepopuler makanan penuh-lemak”, katanya. Lebih lanjut ia mengatakan, “Jelas-jelas hal tersebut akan membantu kita memahami sekeping puzzle, mengapa pengganti lemak yang sekarang tidak memberikan prestasi sempurna seperti yang sebelumnya kita kira. Saya terus terang menganggap hal ini sangat menarik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keller mengatakan informasi ini dapat bermanfaat untuk membantu mencocokkan individu dengan rencana dietnya dengan lebih baik terhadap fisiologi individunya sendiri. Industri makanan juga dapat mendesain produk modifikasi lemak yang lebih menjual berdasarkan data. “Secara umum, sulit untuk menciptakan pengganti lemak yang sama rasanya dengan yang asli. Tetapi hal ini dapat membantu memformulasikan makanan”, pungkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul asli:Poor 'Fat-Tasters' May Tend to Be Heavier&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kathleen L. Keller, Ph.D., research associate, New York Obesity Research Center, St. Luke's Roosevelt Hospital, New York City; Jeannie Gazzaniga-Moloo, Ph.D., R.D., spokeswoman, American Dietetic Association, and nutrition instructor, California State University, Sacramento, Calif.; June 2011, presentation, Institute of Food Technologists Annual Meeting &amp;amp; Food Expo, New Orleans&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://healthfinder.gov/news/newsstory.aspx?docID=654222&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-1501537423535518893?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/kepekaan-lidah-terhadap-lemak-vs.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-5085666053233236205</guid><pubDate>Thu, 20 Oct 2011 14:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-14T22:03:33.428+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>OTHER</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>review</category><title>[Review] Say You Love Me - Akemi Kakihara</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;O&lt;/span&gt;kay, this might be still the wandering feeling from yesterday lost. You see...I accidentally deleted lot of my posts...ooooh...don't make me remember that again. So I intended to post something trivia now. Yes, totally trivia it doesn't have any essence to the major topics usually post in this blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The song titled Say You Love Me was sung by Akemi Kakihara. I don't know why I get attached to this song. Just right after I search about Asian Make-Up on youtube, this song was sung for the background music tutorial. I then searched for the song and the link to listen to. Wow, I suddenly fell in love. LOL. I already downloaded the&amp;nbsp;&amp;nbsp;remix version, which is more like clubbing song :P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/TBbqqd1kvS0/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/TBbqqd1kvS0&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt; &lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt; &lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/TBbqqd1kvS0&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;The song itself is simple yet the meaning is rich. Superficial yet tasted deep in my heart. What's more, it reminded me for something I yearn for so long. I'd like to find the other song by Akemi Kakihara name. Oh well, if I had to lose more than 30 posts in just ten seconds, I'll just have to upload a hundred posts in several days, weeks or months. LOL. I got the peculiar comparison, didn't I?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I hope everyone is happy to the way they find their own happiness.&lt;br /&gt;:D&lt;br /&gt;I want to have several reviews about e-book or another things soon. At least, I already told my plan.&lt;br /&gt;Last but not least, I want to share a fanfic picture I made several years ago.&lt;br /&gt;Yes, the cosplayers definitely weren't me, but I love the scene and I deliberately edit here and there, for the border and the tag. Afraid not! I literally didn't change the appearance of Athrun and Cagalli.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-IGf5F5xqjM4/TsEs9E57tFI/AAAAAAAAA3s/95k56YyqepQ/s1600/gundam%2Bseed_athrun%252Bcagalli02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="325" src="http://3.bp.blogspot.com/-IGf5F5xqjM4/TsEs9E57tFI/AAAAAAAAA3s/95k56YyqepQ/s400/gundam%2Bseed_athrun%252Bcagalli02.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;PS: Kenapa tiba-tiba saya menulis dalam bahasa Inggris lagi? LOL.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-5085666053233236205?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/review-say-you-love-me-akemi-kakihara.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-IGf5F5xqjM4/TsEs9E57tFI/AAAAAAAAA3s/95k56YyqepQ/s72-c/gundam%2Bseed_athrun%252Bcagalli02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-1349614976510665720</guid><pubDate>Wed, 19 Oct 2011 11:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-14T18:25:49.010+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>OTHER</category><title>Accidentally Deleted SEVERAL Posts! Haul!</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-q1PT2VIJct0/TsD42QLxP0I/AAAAAAAAA3g/aDM6pdOSntw/s1600/cats%2Bfrom%2BJapan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="318" src="http://1.bp.blogspot.com/-q1PT2VIJct0/TsD42QLxP0I/AAAAAAAAA3g/aDM6pdOSntw/s400/cats%2Bfrom%2BJapan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;H&lt;/span&gt;ave you ever felt upset, anxious, sad, angry and depressed at the same time? Aaaa...I think it happened to me now. Why so? I suddenly, recklessly, deliberately, and strangely enough,&amp;nbsp;unconsciously deleted several posts of this blog. Yeah! And do you know how much I deleted to the point I feel get trolled by another me? It's more than 30 posts! I don't know exactly how much, but the total posts were decreasing drastically...That was just great! (sarcastically). I deleted my own posts and now feel empty about it.... huhuhu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, this is ridiculous, yeah, I know, I actually just wanted to tidy my posts when suddenly subconsciously I clicked delete button. Whattttt? Now, it already happened, nothing can be retracted again, whatever already happened was already done. Oh well, I guess I have to post another topic then. I even didn't remember what posts that I deleted because the topics were broad under 'yuki no koto' label.&lt;br /&gt;Oh well...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-1349614976510665720?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/accidentally-deleted-several-posts-haul.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-q1PT2VIJct0/TsD42QLxP0I/AAAAAAAAA3g/aDM6pdOSntw/s72-c/cats%2Bfrom%2BJapan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-8773479283757804282</guid><pubDate>Tue, 18 Oct 2011 02:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-06T09:27:04.966+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>HIPERTENSI</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>our HEALTH</category><title>Monitoring Tekanan Darah at-Home Versus in-Office</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-51VHJ4oli1w/TrXwKJx9CyI/AAAAAAAAA0I/hDqUWQUPJZE/s1600/pengukuran%2Btekanan%2Bdarah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="130" src="http://1.bp.blogspot.com/-51VHJ4oli1w/TrXwKJx9CyI/AAAAAAAAA0I/hDqUWQUPJZE/s200/pengukuran%2Btekanan%2Bdarah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;T&lt;/span&gt;anpa adanya kecemasan dalam kunjungan ke praktik dental, pembacaan pasien dengan kelainan ginjal ternyata menunjukkan hasil yang lebih akurat.&amp;nbsp;Tekanan darah yang dicatat selama 24 jam lebih pada alat monitoring tekanan darah portable tampaknya lebih efektif daripada tekanan darah yang diukur di klinik dokter, untuk prediksi apakah pasien dengan penyakit ginjal kronis akan mengalami gagal ginjal ataupun kematian. Itu adalah penemuan penelitian Itali yang melibatkan 436 pasien penyakit ginjal yang tidak melakukan dialisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini, tekanan darah tiap pasien diukur beberapa kali selama dua hari di klinik dokter. Pasien juga diberikan pengukur tekanan darah portabel untuk monitoring setiap 15 menit selama siang hari dan setiap setengah jam malam hari selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantauan tekanan darah at-home dipercaya dapat mengatasi apa yang dikenal sebagai “hipertensi jas putih” (“white coat hypertension”), dimana tekanan darah pasien meninggi karena stress dan kecemasan ketika mengunjungi klinik dokter. Menurut informasi latar belakang dalam artikel ini, pasien dengan penyakit ginjal kronis rentan terhadap hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian sebelumnya juga mendapatkan kesimpulan bahwa pembacaan tekanan darak saat malam hari memberikan gambaran yang lebih aktual mengenai status tekanan darah karena ini adalah saat dimana pasien beristirahat dan bebas dari stress fisik dan emosional yang dapat mempengaruhi pembacaan. Tindak lanjut selama 4,2 tahun, 86 orang pasien mengalami gagal ginjal dan 69 meninggal. Terdapat pula 63 kasus kardiovaskuler non-fatal dan 52 kematian yang disebabkan karena masalah kardiovaskuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien yang mempunyai risiko masalah ginjal ataupun kardiovaskuler tertinggi adalah mereka yang bacaan tekanan darah sistolik siang harinya mencapai 135 mmHg ataupun lebih tinggi; bacaan diastolik tinggi; bacaan sistolik malam harinya mencapai 124 mmHg ataupun lebih tinggi; dan mereka yang bacaan diastolik saat malam harinya 70 mmHg ataupun lebih tinggi. Semua pembacaan ini berasal dari alat portabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sisi lain, pengukuran tekanan darah in-office tidak dapat memprediksi peristiwa yang akan terjadi pada sistem kardiovaskuler maupun ginjal”, pungkas peneliti.&lt;br /&gt;The study appears in the June issue of the journal Archives of Internal Medicine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;JAMA/Archives journals, news release, June 27, 2011&lt;/li&gt;&lt;li&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_113688.html&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-8773479283757804282?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/monitoring-tekanan-darah-at-home-versus.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-51VHJ4oli1w/TrXwKJx9CyI/AAAAAAAAA0I/hDqUWQUPJZE/s72-c/pengukuran%2Btekanan%2Bdarah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-122724415563707214</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2011 08:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-05T15:41:48.536+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>our HEALTH</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DIABETES mellitus</category><title>Obat dengan Risiko Jantung pada Individu Diabetik Geriatri</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-U1UWupAhHco/TrT04N_UZcI/AAAAAAAAAz8/NyMWYcyAVvY/s1600/diabetes%2Bmellitus_01.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-U1UWupAhHco/TrT04N_UZcI/AAAAAAAAAz8/NyMWYcyAVvY/s200/diabetes%2Bmellitus_01.jpg" width="154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;P&lt;/span&gt;eneliti menemukan risiko yang lebih rendah dengan metformin, tetapi para ahli menyatakan penelitian itu bukan akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian terbaru menunjukkan individu yang lebih tua (selanjutnya disebut geriatri) yang mempunyai diabetes tipe 2 yang meminum obat golongan sulfonilurea untuk menurunkan kadar gula darahnya ternyata mempunyai risiko yang lebih tinggi terjenak masalah jantung daripada mereka yang minum golongan metformin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 8.500 individu berusia 65 tahun ke atas yang mengidap diabetes tipe 2 mengikuti penelitian ini, dan 12,4% dari mereka yang diberi sulfonilurea mengalami serangan jantung ataupun cardiovascular events lainnya, dibandingkan dengan mereka yang yang meminum metformin (10,4%). Sebagai tambahan, masalah jantung ini bermula lebih awal selama perjalanan perawatan pada mereka yang menerima obat sulfonilurea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian bandingan head-to-head dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Diabetes Association (ADA) di San Diego. Karena penemuan ini hendak dilaporkan dalam pertemuan medis, mereka sebaiknya mempertimbangkan penelitian pendahuluan hingga dipublikasikan dalam jurnal ulasan-rekan (peer-reviewed journal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada diabetes tipe 2, tubuh tidak mampu memproduksi hormon insulin yang cukup ataupun tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi dengan baik. Pada kasus tersebut, insulin tidak dapat melaksanakan tugasnya, yaitu mengusung glukosa (gula darah) menuju sel-sel tubuh, akhirnya, glukosa menumpuk dalam darah dan dapat mendatangkan malapetaka bagi tubuh sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat-obatan metformin dan sulfonilurea (termasuk gliburida, glipizida, klorpropamida, tolbutamida dan tolazamida) sering digunakan sebagai obat pertama yang diresepkan untuk menurunkan kadar gula darah pada individu yang mempunyai diabetes tipe 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini penting, tegas peneliti, sebagian karena obat-obatan sulfonilurea biasanya diresepkan pada geriatri untuk menurunkan gula darah mereka. Sebagai tambahan, penyakit kardiovaskuler adalah penyebab kematian utama pada penderita diabetes tipe 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa informasi, penelitian baru pada obat-obatan ini masi jauh dari kseimpulan akhir, kata ahli. Individu yang awalnya minum sulfonilurea, alih-alih metformin kadang memang kondisinya lebih parah awalnya kata dr. Spyros G. Mezitis, seorang endokrinologis di RS Lenox Hill, New York.&amp;nbsp;Metformin tidak bisa diresepkan pada individu yang mempunyai kelainan ginjal dan jantung”, katanya. Kedua obat tersebut menurunkan kadar gula darah, tetapi cara kerjanya berbeda”, sambungnya. “Sulfonilurea menurunkan gula darah dengan cara membuat tubuh memproduksi lebih banyak insulin, dan ini dapat menyebabkan kadar gula darah rendah atau glikemia. Di lain pihak, metformin meningkatkan aktivitas insulin yang diproduksi tubuh:, jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa metformin tidak berhubungan dengan risiko hipoglikemia yang setinggi sulfonilurea. Hipoglikemia melemahkan otot – termasuk otot jantung – padahal glukosa digunakan untuk mendapatkan energi, sehingga otot-otot ini tidak bekerja sebagaimana mestinya. Itulah mengapa obat-obat ini tidak mempunyai risiko tinggi terhadap serangan jantung, kata Mezitis. Penelitian baru, bagaimanapun berdasarkan pada observasi dan tidak memberikan bukti adanya hubungan sebab-akibat diantara obat-obat ini dengan masalah jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Jerome V. Tolbert, direktur medik tim outreach Institut Diabetes Friedman di New York, menegaskan perlunya perhatian dalam mereaksi penemuan baru ini. “Saya tidak akan bertaruh pada penelitian ini dan mengatakan: Semua orang berhenti minum sulfonilurea”, katanya. Tetapi, “Kita sekarang jarang menggunakan obat-obat ini karena ada obat lebih baru dan lebih baik di luar sana”, sambungnya. Beberapa obat baru lebih mahal, katanya. “Jika Anda kuatir dengan risiko Anda, konsultasilah dengan dokter supaya tentram”,  jelasnya, menambahkan bahwa pasien jangan langsung menghentikan obat-obat yang telah diresepkan tanpa bilang terlebih dahulu kepada dokter mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Joel Zonszein, direktur Pusat Diabetes Klinis di Montefiore Medical Center, New York, setuju dengan pernyataan bahwa penelitian terbaru ini jauh dari definitif. Tetapi, “Kami sudah jarang menggunakan sulfonilurea sekarang:, katanya. “Dan kami hanya menggunakan obat ini pada pasien yang sangat spesifik dan dalam jangka waktu yang pendek, setelahnya kami menggantinya dengan obat yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Spyros G. Mezitis, M.D., endocrinologist, Lenox Hill Hospital, New York City; Jerome V. Tolbert, M.D., medical director, Friedman Diabetes Institute outreach team, New York City; Joel Zonszein, M.D.,C.D.E., director, Clinical Diabetes Center, Montefiore Medical Center, Albert Einstein College of Medicine University Hospital, New York City; June 25, 2011, news release, Albert Einstein College of Medicine&lt;/li&gt;&lt;li&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_113652.html&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-122724415563707214?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/obat-dengan-risiko-jantung-pada.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-U1UWupAhHco/TrT04N_UZcI/AAAAAAAAAz8/NyMWYcyAVvY/s72-c/diabetes%2Bmellitus_01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-143179790363093302</guid><pubDate>Sun, 16 Oct 2011 08:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-05T15:30:37.129+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>our HEALTH</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DIABETES mellitus</category><title>Mencegah Diabetes Tipe 2 Berarti Hemat Uang</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://penyakitdiabetes.net/wp-content/uploads/2011/03/Diabetes-mellitus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://penyakitdiabetes.net/wp-content/uploads/2011/03/Diabetes-mellitus.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;ebuah penelitian menunjukkan bahwa terapi obat preventif dapat menghemat uang juga, tetapi tidak seefektif perubahan gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencegah diabetes tipe 2 tidak hanya meningkatkan kualitas hidup seseorang, tetapi juga menghemat uang! Dengan cara merawat individu yang mempunyai risiko tingi terkena diabetes tipe 2, peneliti mengurangi biaya kesehatan hingga USD 2.600 untuk tiap individu dalam kelompok yang terdaftar dalam perubahan gaya hidup, dan USD 1.500 untuk setiap individu yang meminum obat diabetes metformin selama lebih dari 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ketika penghematan di bidang perawatan medis terhadap biaya intervensi, metformin menghemat USD 30 selama lebih dari 10 tahun, sedangkan intervensi gaya hidup menghabiskan USD 1.700 dalam kurun waktu yang sama. “Dibandingkan dengan tidak melakukan apapun untuk mencegah diabetes tipe 2, metformin ternyata menghemat biaya, sebagai intervensi. Intervensi gaya hidup, meskipun tidak menghemat biaya, ternyata cost-effective,” jelas dr. William Herman, penulis dan profesor bidang kedokteran dan epidemiologi Universitas Michigan, kepada konferensi press American Diabetes Association (ADA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman menyatakan bahwa selama penelitian follow-up selama 10 tahun, intervensi gaya hidup menurunkan angka diabetes tipe 2 hingga 18%. Herman dijadwalkan menyajikan penemuan ini pada hari Selasa dalam temu Sesi Ilmiah ADA di San Diego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data penelitian ini datang dari Program Pencegahan Diabetes, yang melibatkan lebih dari 3.000 individu yang memiliki risiko tinggi terkena diabetes tipe 2. Semuanya kelebihan berat badan dan diduga mempunyai gejala pre-diabetes. Mereka juga mempunyai faktor risiko tambahan terkena diabetes tipe 2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subjek secara acak dikelompokkan menjadi 3 kelompok: intervensi gaya hidup, perawatan metformin atau pil plasebo. Kelompok intervensi gaya hidup menerima latihan one-on-one, modifikasi olahraga dan kebiasaan. Tujuannya adalah menurunkan 7% berat badan dan berolahraga minimal 150 menit dalam seminggu. Kelompok metformin diberikan 850 mg obat dua kali sehari dan kelompok plasebo diberikan pil plasebo dua kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap awal penelitian berakhir 3 tahun, dan ditemukan bahwa intervensi gaya hidup mengurangi angka diabetes hingga 58%, sedangkan metformin menurunkan insidensi diabetes hingga 31%, menurut Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti melanjutkan penelitnan dengan subjek yang sama untuk tujuh tahun berikutnya sehingga dapat dinilai pengeluaran ekonomisnya. Herman mengatakan bahwa penelitian terbaru ini tidak memasukkan kriteria apakah iya atau tidak subjek meneruskan regimen yang telah diresepkan, hanya pada kelompok yang awalnya diresepkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para peneliti meninjau data untuk menilai biaya per QoL (quality of life) pertahun, mereka menemukan bahwa metformin lebih menghemat uang, sedangkan intervensi gaya hidup lebih membutuhkan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman menyatakan bahwa biaya metformin menjadikannya ada pada kategori intervensi yang sama dengan “lakukan secara luas tanpa pertanyaan”, seperti pada perawatan prenatal, imunisasi anak-anak dan suntikan flu untuk individu berusia lebih dari 65 tahun. Intervensi gaya hidup, di lain pihak, menghabiskan biaya per QoL (quality of life) pertahun sebanyak obat-obatan tekanan darah bagi mereka yang mempunyai hipertensi diastolik (angka bawah tinggi), obat-obatan penurun kolesterol bagi individu yang mempunyai serangan jantung dan penggunaan obat-obatan beta-blocker untuk penyakit jantung. “Keduanya adalah intervensi yang efektif, dan keduanya dapat diterapkan pada individu yang mempunyai risiko tinggi”, kata Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan adanya pre-diabetes, makin dini kita intervensi, makin baik pula hasilnya”, cetus dr. Joel Zonszein, direktur program diabetes klinis di Montefiore Medical Center di New York. “Jika kita menanti hingga seseorang terkena diabetes tipe 2, ini akan terlalu lama. Secara umum, intervensi lebih awal lebih cost effective, karena merawat komplikasi membutuhkan biaya lebih banyak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pelatihan intervensi gaya hidup one-on-one cenderung mahal, dan mungkin tidak dibiayai perusahaan asuransi, Zonszein mengembangkan kelas untuk pasien diabetes tipe 2 yang bertemu beberapa jam setiap tiga bulan. Mereka membandingkan kelompok ini dengan individu yang menerima pelatihan one-on-one. Peneliti menemukan bahwa keduanya mampu menurunkan gula darah jang panjang. Penemuan Zonszein direpresentasikan dalam poster saat rapat ADA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman menyatakan bahwa kelompoknya mengharapkan biaya intervensi gaya hidup dapat berkurang, mungkin melalui intervensi grup alih-alih pelatihan one-on-one. “Menjalankan intervensi gaya hidup sebagai intervensi grup dapat lebih murah, dan mungkin lebih efektif karena adanya aspek ikatan sosial,” pungkasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;William Herman, M.D., M.P.H., professor of medicine and epidemiology, University of Michigan, Ann Arbor, Mich.; Joel Zonszein, M.D., director, clinical diabetes program, Montefiore Medical Center, New York City; June 27, 2011, press conference, and June 28, 2011, presentation, American Diabetes Association's Scientific Sessions, San Diego&lt;/li&gt;&lt;li&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_113735.html&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-143179790363093302?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/mencegah-diabetes-tipe-2-berarti-hemat.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-4669765312044837923</guid><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 02:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-05T09:10:19.349+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>our HEALTH</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>HEPATITIS</category><title>Sepertiga Dunia Terinfeksi Hepatitis</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;ekitar sepertiga populasi global, atau 2 milyar manusia, telah terinfeksi dengan salah satu virus yang menyebabkan penyakit hepatitis, yang membunuh setidaknya sejuta orang tiap tahun, kata Organisasi kesehatan Dunia (World health Organization).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan meskipun sebagian besat pembawa hepatitis tidak tahu bahwa mereka sudah terinfeksi, mereka tidak tahu bahwa mereka dapat menularkannya pada orang lain dan pada saat yang sama, mereka dapat terbunuh karena penyakit tersebut, salah seorang agen PBB mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hepatitis adalah penyakit kronis yang tersebar di seluruh dunia, tetapi sayangnya masih sangat sedikit kesadaran, bahkan di antara para pembuat kebijakan”, kata spesialis hepatitis WHO, Steven Wiersma kepada pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konferensi yang disebut sebagai Hari Hepatitis Dunia PBB, mengingatkan dunia akan adanya penyakit virus ini, yang sebagian besar disebarkan melalui air dan makanan yang terkontaminasi, darah, semen dan cairan tubuh lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiersma mengatakan bahwa penyakit ini – yang virusnya dikategorikan menjadi lima – ternyata menghabiskan biaya yang menggemparkan pada sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia dan mempunyai potensi mencetuskan epidemi, termasuk sebagai penyebab utama sirosis dan kanker hepar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lima virus yang disebut sebagai virus A, B, C, D dan E, jelas dokumen WHO, virus B adalah yang paling umum dan dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya saat lahir atau pada bayi dan anak-anak, termasuk melalui injeksi yang terkontaminasi atau penggunaan obat-obat parenteral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus E ditularkan melalui makanan ataupun air yang terinfeksi, penyebab paling umum penyakit tersebut di negara-negara berkembang dan mulai meningkat jumlahnya di negara maju, menurut WHO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO menyatakan bahwa vaksin yang efektif telah dikembangkan untuk melawan virus A dan B yang juga dapat digunakan untuk virus D. Vaksin A untuk virus E telah dikembangkan tetapi tidak tersedia secara luas, tetapi belum ada vaksin untuk virus C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye vaksinasi telah memperoleh sukses di beberapa negara, dengan 180 dari 193 negara anggota yang sekarang memasukkan vaksin B dalam program imunisasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, banyak yang perlu dilakukan untuk mencegah ataupun mengontrol penyakit. Penting untuk memastikan bahwa individu yang sudah terinfeksi mendapatkan pemeriksaan,  perawatan dan tindakan yang berkualitas tanpa penundaan, lapor dokumen WHO tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_114715.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-4669765312044837923?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/sepertiga-dunia-terinfeksi-hepatitis.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-466552098213331075</guid><pubDate>Thu, 13 Oct 2011 07:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-26T15:47:18.480+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>our HEALTH</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>HEPATITIS</category><title>Penelitian Menunjukkan Tingkat Hepatitis Melonjak pada Golongan Pengguna Obat IV</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-L3B29LwuY9U/ToviXYTdsKI/AAAAAAAAAJ0/8YcRMS5Xt_w/s1600/skema+hep+C.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-L3B29LwuY9U/ToviXYTdsKI/AAAAAAAAAJ0/8YcRMS5Xt_w/s320/skema+hep+C.jpg" width="289" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Courtesy: overfame.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;ebuah penelitian baru melaporkan bahwa sekitar 10 juta pengguna obat injeksi di seluruh dunia terkena hepatitis C dan 1,3 juta terkena hepatitis B. Hepatitis dapat mengarah pada sirosis, gagal hati dan kanker hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti menganalisa data internasional dan menemukan tingkat infeksi hepatitis C diantara pengguna obat injeksi (injection drug users, IDU) sekitar 60 – 80 persen di 25 negara dan lebih dari 80 persen di 12 negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara yang ini termasuk Spanyol (80%), Norwegia (76%), Jerman (75%), Perancis (74%), Amerika Serikat (73%), Cina (67%), Kanada (64%), Itali (81%), Portugal (83%), Palistan (84%), Belanda (86%), Thailand (90%) dan Meksiko (97%). Tingkat yang lebih rendah ada pada Selandia Baru (52%), Australia (55%) dan Inggris (50%). Negara yang paling banyak jumlah IDU terinfeksi virus hepatitis C (HCV) adalah Cina (1,6 juta), Amerika Serikat (1,5 juta) dan Rusia (1,3 juta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat infeksi hepatitis B antara 5 – 10 persen di 21 negara dan lebih dari 10 persen di 10 negara. Tingkat paling tinggi dipegang Vietnam (20%), Estonia (19%), Saudi Arabia (18%) dan Taiwan (17%). Inggris adalah negara Eropa barat yang paling tinggi tingkat infeksi hepatitis B-nya (9%). Tingkat infeksi hepatitis B di Amerika Serikat adalah 12%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Respon kesehatan publik terhadap transmisi virus melalui-darah pada IDU telah menjadi perhatian utama pada penderita HIV. Pemeliharaan dan penguatan respon terhadap HIV pada IDU tetap menjadi hal yang penting, tetapi signifikansi hepatitis virus memerlukan perhatian yang lebih besar sekarang ini”, jelas Paul Nelson dkk dari Pusat Penelitian Obat dan Alkohol Nasional di Universitas New South Wales, Sydney.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usaha untuk mencegah, mengobati dan mengurangi risiko penyakit hati pada IDU merupakan hal yang penting, terutama pada situasi dimana HIV dapat dicegah ataupun dikelola, karena sejumlah besar IDU terinfeksi HCV dan morbiditas yang signifikan berasal dari infeksi ini berarti biaya kesehatan dan ekonomi untuk HCV karena pengguna obat injeksi mungkin sama banyak (atau malah lebih tinggi) dengan yang dikeluarkan bagi penderita HIV”, tambah peneliti.&lt;br /&gt;“Penatalaksanaan HCT masih belum optimal. Sebagian diantaranya adalah alasan biaya yang tinggi, yang menjadi tembok substansial untuk meningkatkan jangkauan perawatan di tatanan sumber daya minimal hingga biayanya dapat berkurang”, simpul para peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;The Lancet, news release, July 27, 2011&lt;br /&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_114751.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-466552098213331075?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/penelitian-menunjukkan-tingkat.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-L3B29LwuY9U/ToviXYTdsKI/AAAAAAAAAJ0/8YcRMS5Xt_w/s72-c/skema+hep+C.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-1916827018912492111</guid><pubDate>Wed, 12 Oct 2011 03:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-26T15:46:20.528+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>oral surgery</category><title>Komplikasi Pencabutan Gigi - Intraoperatif (Cedera Saraf)</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;N&lt;/span&gt;ervus mandibularis paling rawan.&lt;br /&gt;Saraf yang sering cedera selama pencabutan dan pembedahan gigi adalah divisi ketiga nervus trigeminus. Nervus alveolaris inferior sangat dekat dengan regio apikal gigi molar ketiga dan kadang-kadang molar kedua. Meskipun putusnya saraf relatif jarang, tetapi tekanan mungkin terjadi selama pengeluaran gigi molar ketiga yang erupsi atau impaksi, ujung akar dan fragmen akar atau keduanya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nervus lingualis paling sering cedera selama pencabutan molar ketiga bawah yang impaksi. Hal ini terjadi karena penyingkapan flap lingual, fraktur dataran lingual atau penembusan bur melalui korteks lingual pada waktu memecah gigi. Nervus lingualis menempel pada aspek medial mandibula pada regio molar. Pada beberapa kasus letaknya sangat tinggi, tepat di inferior batas mukosa cekat. Nervus mentalis berhubungan erat dengan apeks gigi premolar sehingga mudah diidentifikasi. Saraf mengeluarkan cabang anterior ke bibir bawah, yang relatif superfisial dan mudah terkena cedera. Cabang nervus mentalis mudah terpotong selama pembuatan flap atau mengalami cedera regangan akibat retraksi. Pada rahang tak bergigi, kondisi atrofi yang merupakan akibat sekunder dehisense tilang, nervus alveolaris inferior, nervus lingualis dan nervus mentalis mungkin letaknya superfisial, menempel pada basis mandibula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cedera saraf yang terlambat ditemukan&lt;br /&gt;Malangnya, cedera saraf sensorik hanya kadang dapat diketahui pada waktu tindakan operasi. Pasien sering merasakan kelainan tanpa suata tanda sebelumnya. Rujukan segera sangat diperlukan, karena diperlukan perawatan sedini mungkin. Apabila kontinuitas saraf tetap terjada, sensasi biasanya kembali sesudah 2 – 6 bulan. Apabila melebihi jangka waktu tersebut, kesempatan untuk kembali seperti semula amatlah kecil. Cedera saraf dirawat dengan dekompresi, eksisi dan anastomosis ulangan atau cangkok. Cedera saraf ini merupakan kejadian yang sering dipermasalahkan oleh pasien dan kadang-kadang sampai dimejahijaukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1231.photobucket.com/albums/ee512/yuki_kawaii_00/Oral%20Surgery/Tabel3CederaSaraf.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="418" src="http://i1231.photobucket.com/albums/ee512/yuki_kawaii_00/Oral%20Surgery/Tabel3CederaSaraf.png" width="466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-1916827018912492111?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/komplikasi-pencabutan-gigi_12.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i1231.photobucket.com/albums/ee512/yuki_kawaii_00/Oral%20Surgery/th_Tabel3CederaSaraf.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-2944906800042470119</guid><pubDate>Tue, 11 Oct 2011 03:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-26T15:45:14.601+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>oral surgery</category><title>Komplikasi Pencabutan Gigi - Intraoperatif (Cedera Jaringan Lunak)</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;L&lt;/span&gt;ecet dan luka bakar. Cedera jaringan lunak yang paling umum adalah lecet (luka sobek) dan luka bakar (abrasi). Lecet sering diakibatkan oleh retraksi berlebihan flap yang kurang besar. Sobeknya mukosa sering terjadi pada tempat yang tidak diharapkan yaitu pada tepi tulang, atau pada tempat penyambungan tepi-tepi flap. Komplikasi ini dapat dihindari dengan membuat flap yang lebih besar dan menggunakan retraksi yang ringan saja. Lecet akibat elevator, scalpel, dan instrumen putar sangatlah jarang. Lecet dapat dihindari dengan perhatian yang cermat oleh ahli bedah dan asistennya. Sesudah memberitahu pasien, penjahitan dilakukan bila diindikasikan. Luka bakar/ abrasi sering merupakan akibat dari tertekannya bibir yang dalam keadaan teranestesi oleh pegangan henpis lurus. Lesi ini bisa sangat tidak nyaman dan lama sembuhnya. Luka pada bibir dihindari dengan melakukan kerja sama yang baik dengan asisten pada waktu operasi. Luka bakar labial dapat diatasi dengan aplikasi salep antibiotika atau steroid yaitu bacitracin atau bethamethasone (valisone).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emfisema subkutan. Empisema subkutan lebih sering terjadi oada regio maksilla dan disebabkan oleh adanya udara yang terjebak. Di bawah tekanan, udara dikeluarkan dari henpis yang terletak di dekat bur. Apabila melakukan operasi di tempat dataran fasial yang dalam, ada risiko masuknya kotoran ataupun flora rongga mulut melalui udara ke dalam celah-celah jaringan. Jika terdapat hubungan potensial dengan celah-celah jaringan perlu dipilih henpis yang tidak menggunakan tekanan udara. Empisema jaringan lunak dapat pula terjadi jika pasien batuk atau bersin pada waktu flap yang luas dalam keadaan terbuka. Perluasan empisema subkutan rahang atas dapat intrakranial dan berkembang menjadi meningitis atau abses cerebral.apabila terjadi empisema mediastinum sebagai akibat invasi udara daerah mandibula, akibatnya dapat tragis yaitu mediastinitis, abses dan kematian. Empisema subkutan dapat didiagnosis dengan adanya pembengkakan yang mendadak, perabaan benjolan-benjolan pada kulit setempat dan penampakan radiografis yang menunjukkan adanya udara di dalam jaringan lunak. Empisema subkutan yang luas memerlukan tindakan darurat. Perawatan rumah sakit untuk observasi jalan keluarnya udara dan terapi antibiotika intravenous merupakan indikasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-2944906800042470119?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/komplikasi-pencabutan-gigi_11.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-6732101412443290496</guid><pubDate>Sun, 09 Oct 2011 03:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-26T14:38:03.847+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>oral surgery</category><title>Komplikasi Pencabutan Gigi - Intraoperatif (Pergeseran)</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;A&lt;/span&gt;ntrum sering terlibat. Seluruh gigi atau fragmen akar dapat masuk ke sinus maxillaris, fossa infratemporalis, hidung, canalis mandibularis atau ruang submandibula. Bagian yang paling sering adalah sinus maxillaris. Kejadian ini sering merupakan usaha untuk mengambil fragmen atau ujung akar gigi molar atau premolar kedua atas melalui alveolus dengan tekanan elevator yang berlebihan ke arah superior. Pemeriksaan sinar-X yang akurat diperlukan baik sebelum maupun intra-operatif. Kedekatan sinus terhadap apeks akar mungkin sedemikian rupa sehingga perlu dilakukan pembedahan, jika terjadi fraktur akar, film dibuat untuk mendeteksi posisi fragmen dengan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan akar terhadap antrum, sering dapat dinilai berdasarkan bagian gigi yang dicabut. Pencabutan dengan pembedahan dilakukan dengan memperhatikan upaya untuk menghindari tekanan ke arah antrum, misalnya akar bukal dapat bergeser akibat tekanan ke palatal. Apabila ada kecurigaan (adanya rasa terbenam) bahwa telah terjadi pergeseran ke dalam sinus maka dianjurkan difoto intra-operatif. Adanya perdarahan hidung atau keluhan subjektif adanya udara keluar dari mulut atau cairan keluar dari hidung, menguatkan kecurigaan tersebut. Sesudah menginformasikan kepada pasien, regio tersebut dijahit apabila diperlukan dan kepada pasien diberikan antibiotika spektrum luas, dekongestan sistemik dan obat analgetika untuk persiapan rujukan. Pasien diperingatkan untuk jangan bersin, dan batuk, dan menghembuskan hidung. Usaha mengeluarkan ujung akar yang masuk ke sinus melalui alveolus biasanya tidak ada gunanya dan seing mengakibatkan membesarnya lubang tulang yang pada akhirnya akan mendukung terjadinya komunikasi yang persisten yaitu fistula oroantral. Pendekatan standar masuk ke dalam sinus maxillaris adalah dengan metode Caldwell-Luc, dengan jalan masuk melalui fossa canina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran ke fossa infratemporalis. Gigi atau fragmen yang masuk ke dalam fossa infratemporalis jarang ditemukan. Umumnya disebabkan oleh tekanan elevator ke arah distal pada gigi molar ketiga atas impaksi yang terletak pada level C. Jika tekanan mengakibatkan pergeseran ke arah posterior-superior lebih dari tekanan buko-oklusal, gigi dan fragmen cenderung terdorong ke fossa. Sekali lagi, perasaan terbenam menunjukkan perlunya dilakukan pembuatan film intraoperatif. Tindakan yang tepat meliputi: memberi tahu pasien, memberikan terapi antibiotika dan rujukan segera. Ahli bedah biasanya menunggu terbentuknya jaringan fibrosa sehingga gigi atau fragmen akar terfiksasi (biasanya 3 – 4 minggu) sebelum dikeluarkan. Pergeseran melalui dasar lantai rongga hidung bahkan lebih jarang. Apabila hal ini terjadi penyebab utamanya adalah menekan ujung akar kaninus ke superior. Sekali lagi, memberi tahu pasien, memberikan terapi antibiotika dan kemudian merujuk secepatnya merupakan respons yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran ke dalam mandibula.pergeseran mandibula biasanya hanya melibatkan gigi molat, sedangkan canalis mandibularis dan ruang submendibula adalah bagian yang sering mengalami pergeseran ini. Ujung akar molar ketiga baik yang sudah erupsi/ impaksi sering sangat dekat letaknya terhadap tulang kortikal dari bundel neuromuskuler canalis mandibularis, seperti terbukti dari seringnya mengalami dilaserasi. Film periapikal prabedah akan mengungkapkan kondisi ini. Apabila terdapat dilaserasi maka diperlukan pengeluaran molar ketiga yang menjadi masalah dan mengungkit akarnya dengan sangat hari-hari. Sebaiknya beritahu pasien tentang situasi tersebut yang mungkin bisa menyebabkan terjadinya parestesi bibir bawah sementara. Menentukan apakan ujung akar sudah bergeser ke canalis manndibularis atau ruang submandibula adalah sulit. Radiograf sangat membantu untuk menentukan adanya ujung akar di dalam canalis mandibularis, tetapi radiograf intraoral ujung akar yang tergeser dangat dalam ke ruang submandibula adalah jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penatalaksanaan pergeseran mandibula. Pasien diberitahu tentang keadaan yang ada dan dirujuk. Pada kasus pergeseran ke dalam canalis mandibularis, pengeluaran harus dilakukan segera sedangkan pada kasus pergeseran ke dalam ruang submandibula, pembedahan biasanya ditunda untuk memungkinkan terjadinya fibrosis terlebih dahulu, sehingga terjadi imobilisasi fragmen akar. Pendekatan ke arah canalis adalah dengan flap mukoperiosteal bukal yang cukup besar dan kemudian melalui alveolus atau dekortikasi lateral ke bukal (pengambilan segmen dataran bukal). Dekortikasi memberikan jalan masuk yang bagus dan memungkinkan dekompresi, atau memperbaiki saraf yang cedera. Ruang submandibula biasanya dicapai dengan membuat flap envelope lingual yang cukup besar yang direfleksikan dari servikal gigi. Musculus mylohyoideus disisihkan sementara sambil memperhatikan nervus lingualis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-6732101412443290496?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/komplikasi-pencabutan-gigi_09.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-6927492401174866379</guid><pubDate>Sat, 08 Oct 2011 03:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-09T12:03:53.816+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>oral surgery</category><title>Komplikasi Pencabutan Gigi - Intraoperatif (Fraktur)</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;T&lt;/span&gt;ekanan terkontrol untuk menghindari fraktur. Fraktur bisa mengenai akar gigi, gigi sebelahnya atau gigi antagonis, restorasi, processus alveolaris dan kadang-kadang mandibula. Semua fraktur yang dapat dihindarkan mempunyai etiologi yang sama; yaitu tekanan yang berlebihan atau tidak terkontrol atau keduanya. Cara terbaik untuk menghindari fraktur di samping tekanan terkontrol adalah dengan menggunakan gambar sinar-X sebelum melakukan pembedahan. Akar yang mengalami delaserasi atau getas atau yang dirawat endodontik sering mengharuskan dilakukannya perubahan pada rencana pembedahan, biaanya dimulai dari prosedur pencabutan dengan tang (close procedure) sampai melakukan pembukaan flap.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sesudah dilakukan pencabutan dengan tang menggunakan tekanan terkontrol tidak terjadi luksasi dan dilatasi alveolus, ini menunjukkan perlunya dilakukan pembedahan. Pengenalan adanya fraktur biasanya secara klinis dan mudah terlihat, kecuali untuk fraktur mandibula. Apabila ini terjadi pada waktu dilakukan pencabutan dengan tang, atau pembedahan biasanya melibatkan gigi molar ketiga. Meskipun garis fraktur bisa dilihat pada film periapikal, ketiadaannya bukan selalu berarti tidak terjadi fraktur. Jika masih ada keraguan bisa dilakukan panoramik atau film ekstraoral yang lain. Kegagalan memperoleh sinar-X dari bagian yang dicurigai, merupakan kelalaian serius dan dapat berdampak hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ujung Akar dan Fragmen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah tindakan ini benar-benar diperlukan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pertama yang perlu dijawab apabila menghadapi fraktur ujung akar atau fragmen adalah perlukah bagian tersebut dikeluarkan? Ujung akar dan fragmen adalah sisa-sisa dari struktur yang normalnya berada di dalam processus alveolaris. Karena itu benda tersebut dapat ditolerir dan jarang mengakibatkan adanya reaksi benda asing atau infeksi. Keputusan untuk mengeluarkannya didasarkan pada perkiraan bahwa tidak akan terjadi cedera akibat hal tersebut dan karena merupakan keadaan dengan rasio risiko/manfaat yang menguntungkan. Merusak sebagian besar lingir alveolar dalam upaya untuk membebaskan ujung akar merupakan tindakan yang patut dipertanyakan. Apabila ada risiko terdorongnya gigi ke dalam sinus maxillaris, ke fossa infratemporalis, canalis mandibularis atau ke ruang submandibularis maka pengeluaran fragmen akar sering memberikan rasio risiko/manfaat yang merugikan. Apabila pengeluaran pada situasi ini memang diperlukan, maka sebaiknya merujuk ke spesialis bedah mulut. Apabila ujung atau fragmen dibiarkan tetap pada tempatnya, maka sebaiknya dilakukan foto rontgen untuk kontrol di masa mendatang dan pasien diberitahu mengenai pertimbangan risiko/manfaat yang mendasari keputusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeluaran dengan pembedahan. Pendekatan yang biasa dilakukan untuk mengeluarkan patahan ujung akar atau fragmen adalah dengan pembedahan. Pertama dapat dilakukan dahulu dengan pendekatan konservatif dari alveolus dengan menggunakan root picks, elevator cryer atau file saluran akar. Tetapi menghabiskan terlalu banyak waktu dan usaha untuk mengeluarkan patahan akar atau fragmen dengan cara konservatif, sering meningkatkan morbiditas dibanding apabila dilakukan pembedahan dari awal. Sesudah pembuatan flap, tulang diambil secara konservatif untuk mendapat jalan masuk ke akar. Tulang dapat dipotong dengan elevator kecil, elevator periosteal atau instrumen plastis. Elevator gigi yang lurus dan kecil atau kadang-kadang elevator periosteal yang kecil digunakan untuk memisahkan akar dari alveolus. Jika hal tersebut tidak berhasil dan sulit mengarahkan tekanan secara benar, maka dibuat suatu lubang kaitan pada akar untuk insersi elevator. Seperti prosedur flap, operasi diikuti dengan irigasi saline steril dan pemeriksaan bagian yang dioperasi sebelum melakukan penghalusan tulang dan penjahitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gigi sebelahnya dan gigi antagonis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan elevator dengan hati-hati. Fraktur pada gigi atau restorasi di dekatnya, kebanyakan merupakan akibat terlalu kuatnya tekanan yang dikenakan melalui elevator. Suatu elevator yang bertumpu pada gigi atau restorasi di dekatnya dapat menggoyahkan gigi tersebut atau restorasi dapat lepas. Cedera pada gigi antagonis biasanya terjadi akibat pencabutan eksplosif, yaitu gigi terungkit secara tidak diperkirakan dari alveolus akibat tekanan berlebih ke arah oklusal atau sejajar. Perawatannya bersifat individual, mulai dari replantasi gigi yang tercabut tidak sengaja, membuat restorasi sementara atau menyemenkan kembali mahkota prostetik atau inlay. Pencegahan didasarkan pada penggunaan pinch grasp atau sling grasp dan tekanan terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Processus alveolaris&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fraktur minor. Fraktur processus alveolaris yang ringan adalah ikut terambilnya sebagian tulang bukal atau facial maxilla bersama akar pada waktu dilakukan pencabutan dengan tang. Hal tersebut disebabkan oleh tekanan yang besar pada processus alveolaris yang getas dan tipis. Kejadiannya sulit diperkirakan, bahkan walaupun kadang-kadang dapat diraba bila menggunakan pinch grasp. Capa penanganannya dengan menggunakan rongeur untuk mengambil tulang-tulang tajam di dekatnya dan menggunakan kikir tulang untuk menghaluskan tepi-tepi tulang. Mukoperiosteum di atasnya perlu dijahit bila sangat terpisah dengan tulangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fraktur mayor. Radiograf dapat membantu memperkirakan fraktur mayor pada processus alveolaris rahang atas. Apabila sinus hiperaerasi dan processus alveolaris ekstruksi, jembatan tulang yang tertinggal antara lantai sinus dan puncak lingir kebanyakan setipis kertas. Kondisi ini menunjukkan perlunya pembedahan tanpa lebih dahulu menoba mencabut menggunakan tang. Pada kasus terburuk, alveolus molar atas mungkin fraktur total, kadang-kadang melibatkan seluruh tuberositas dan dasar antral. Dasar pemikiran dari konsep penanganan fraktur processus alveolaris yang luasa adalah pengertian bahwa tulang yang terpisah dari periosteum atau suplai darahnya mudah mengalami nekrosis. Karena itu, suatu pendekatan konservatif yang dapat melindungi periosteum kalau memungkinkan dipilih. Umumnya gerakan tuberositas dapat dideteksi sebelum dikeluarkan dan pencabutan ditunda. Prosedur ditunda dan gigi atau gigi yang terlibat displinting dan kalau bisa dibebaskan dari oklusi. Karena sinus maxillaris cedera sampai batas tertentu, maka kasus ini memerlukan pemberian antibiotika spektrum luas dan dekongestan sistemik. Pencabutan diselesaikan setelah beberapa saat (biasanya 6 – 8 minggu) melalui pembedahan, jika processus alveolaris atau tuberositas terangkat pada waktu pencabutan, maka gigi dikeluarkan dengan pembedahan dan tulang dikembalikan pada daerah yang fraktur sebagai graft bebas. Jika ini dilakukan, maka penjahitan mukoperiosteum harus dilakukan, karena sebagian besar dasar sinus maxillaris harus diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mandibula&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian pada penggunaan elevator. Fraktur mandibula paling sering terjadi pada pencabutan molar ketiga. Mandibula cukup lemah di bagian ini, yang merupakan pertemuan corpus dan processus alveolaris yang berat dengan ramus yang tipis. Kesalahan biasanya karena menggunakan elevator dengan kekuatan yang berlebihan. Elevator yang diinsersikan pada bagian mesial molar ketiga baik yang erupsi maupun yang impaksi, dan ditekan dengan kekuatan yang besar ke atah distal atau disto-oklusal menjadikan mandibula terancam fraktur. Jika pergeseran distal dari gigi terhalang oleh tulang, maka terbentuk baji antara mahkota dan ramus yang kaku. Baji bisa dihindari dengan pemotongan terencana dari gigi tersebut yang menciptakan celah di bagian distal untuk tempat pergeseran gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosis. Fraktur mandibula karena pencabutan gigi dapat menimbulkan masalah (merugikan diagnosis tetapi menguntungkan penanganan) yaitu karena pergeseran fragmen biasanya minimal dan hanya sedikit gangguan oklusi. Untuk menentukan adanya fraktur diperlukan gambar sinar-X ekstraoral (panoramik atau oblik lateral). Apabila terdiagnosis adanya fraktur, pasien sebaiknya segera diberitahu dan dirujuk. Perawtan biasanya terdiri atas imobilisasi mandibula dengan menggunakan fiksasi maksilomandibuler selama kurang lebih 5 – 6  minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mandibula nyata-nyata lemah secara anatomis , maka pada pengambilan gigi impaksi yang dalam, patologis yang besar atau resorbsi, fraktur hampir tidak bisa dihindarkan. Untuk mengatasi masalah seperti ini, pasien diberi pengarahan/ penjelasan sebelum pembedahan dilakukan bahwa rencana pembedahan diubah untuk mengurangi kemungkinan terjadinya fraktur dan akan merawatnya dengan baik apabila fraktur benar-benar terjadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-6927492401174866379?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/komplikasi-pencabutan-gigi_08.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-8018026996142378342</guid><pubDate>Fri, 07 Oct 2011 03:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-09T12:02:28.643+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DENTISTRY</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>oral surgery</category><title>Komplikasi Pencabutan Gigi - Intraoperatif (Perdarahan)</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;W&lt;/span&gt;ah!&lt;br /&gt;Rasanya ada yang ganjil kalo saya memposting tentang komplikasi terlebih dahulu sebelum yang laen. Tapi, daripada material yang ini membusuk dalam harddisk saya, jadi saya keluarin duluan nggak papa ya. LOL. Nanti pendahuluan, teknik dan penjelasan tentang pencabutan giginya menyusul :D.&lt;br /&gt;Happy reading!&lt;br /&gt;Respon pasien tertentu dianggap sebagai kelanjutan yang normal akibat pembedahan, yaitu perdarahan, rasa sakit dan edema. Tetapi apabila berlebihan, perlu dipikirkan lagi apakah termasuk morbiditas yang biasa ataukah komplikasi. Komplikasi digolongkan menjadi intraoperatif, segera sesudah operasi dan jauh sesudah operasi. Pencegahan, pengenalan dan cara mengatasi komplikasi akan didiskusikan di sini. Pencegahannya tergantung pada pemeriksaan riwayat, pemeriksaan menyeluruh, foto rontgen yang memadai dan rencana pembedahan yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memandang pengalaman operator, kesempurnaan persiapan dan keterampilan, komplikasi masih bisa terjadi pada situasi perawatan tertentu. Karena itu komplikasi tertentu kadang-kadang tidak dihindarkan. Perdebatan sekarang ini yang cenderung menganggap sebagian besar komplikasi disebabkan oleh kesalahan pembedahan adalah tidak akurat dan merupakan salah pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komplikasi Intraoperatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERDARAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdarahan merupakan ancaman. Perdarahan mungkin merupakan komplikasi yang paling ditakuti karena bagi dokter maupun pasien dianggap mengancam kehidupan. Pasien dengan gangguan pembekuan darah yang tidak terdiagnosis sangatlah jarang. Insidensi hemofilia yang terdiagnosis di Amerika Serikat pada orang dewasa adalah 1:20.000 dan insidensi penyakit Christmas lebih jarang lagi. Kebanyakan pasien adalah individu dengan penyakit hepar, misalnya seorang alkoholik yang menderita sirosis, pasien yang menerima terapi antikoagulan atau pasien yang minum aspirin dosis tinggi atau agen antiradang non-steroid yang lain. Semua itu berisiko mengalami perdarahan. Apabila riwayat kesehatan menunjukkan kecurigaan pada penyakit tertentu, sebaiknya menghubungi dokter yang merawat sebelumnya, sebelum melakukan tindakan. Berbagai tes laboratorium dapat mengkonfirmasikan atau menyingkirkan masalah atau mengidentifikasi bagian khusus yang menyebabkan kegagalan mekanisme pembentukan bekuan darah (Tabel 1 dan Tabel 2). Apabila pasien mengalami mekanisme pembekuan darah yang abnormal, perawatan yang akan dilakukan adalah kolaborasi antara dokter gigi dan dokter umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1231.photobucket.com/albums/ee512/yuki_kawaii_00/Oral%20Surgery/Tabel1TesKoagulasi.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="244" src="http://i1231.photobucket.com/albums/ee512/yuki_kawaii_00/Oral%20Surgery/Tabel1TesKoagulasi.png" width="466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tabel 1. Tes Koagulasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1231.photobucket.com/albums/ee512/yuki_kawaii_00/Oral%20Surgery/Tabel2FaktorPembekuanDarah.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="377" src="http://i1231.photobucket.com/albums/ee512/yuki_kawaii_00/Oral%20Surgery/Tabel2FaktorPembekuanDarah.png" width="466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tabel 2. Faktor Pembekuan Darah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;enghindari pembuluh darah. Pengetahuan mengenai anatomi merupakan jaminan terbaik untuk menghadapi kejadian yang tidak diharapkan yaitu perdarahan pada arteri atau vena. Regio-regio risiko tinggi adalah palatum dengan arteri palatina mayor, vestibulum bukal molar bawah dengan arteri facialis, margo anterior ramus mandibula yang merupakan jalur perjalanan arteri buccalis dan regio apikal molar ketiga yang terletak dekat dengan arteri alveolaris inferior. Regio mandibula anterior juga merupakan sumber perdarahan karena vaskularisasinya sangat melimpah. Keadaan patologi kadang-kadang juga mengakibatkan risiko perdarahan, misal: hemangioma dan malformasi arterivenosus adalah yang paling berbahaya. Secara umum, adanya lesi yang tumbuh dengan cepat adalah potensial berbahaya karena pertumbuhan tersebut memerlukan banyak suplai darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan dan klem. Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan. Penekanan diperoleh dari penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa. Sering hanya dengan melakukan penekanan sudah berhasil mengatasi perdarahan. Jika keluarnya darah sangat deras misalnya terpotongnya arteri, maka diklem dengan hemostat. Melakukan klem pada daerah perdarahan di mulut sangat sukar dan melakukan pengikatan (ligasi) bahkan lebih sulit lagi. Untungnya hanya dengan melakukan klem saja biasanya sudah cukup, karena daerah luka cukup diinduksi untuk membuat bekuan darah. Apabila tersedia, dapat digunakan elektrokoagulasi dari pembuluh darah yang diklem sehingga tidak perlu diikat. Alternatif lain yang biasa digunakan hanya pada pembedahan adalah menggunakan klip hemostatik pada pembuluh darah. Sesudah mengontrol perdarahan intra-operatif, maka dapat diputuskan untuk meneruskan atau menghentikan prosedut. Faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kondisi fisik dan mental pasien (tanda-tanda vital), perkiraan jumlah darah yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk mengontrol perdarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke Komplikasi Pencabutan Gigi - Intraoperatif (Fraktur)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-8018026996142378342?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/komplikasi-pencabutan-gigi.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i1231.photobucket.com/albums/ee512/yuki_kawaii_00/Oral%20Surgery/th_Tabel1TesKoagulasi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-6335634402430481288.post-6489379555428717743</guid><pubDate>Wed, 05 Oct 2011 11:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-04T16:50:41.229+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>complication</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>DIABETES mellitus</category><title>Diabetes dan Kesehatan Mata</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;D&lt;/span&gt;iabetes adalah penyakit kompleks yang merupakan hasil dari ketidakmampuan tubuh untuk menghasilakn insulin, hormon yang mengatur kadar gula dalam darah, membawa gula berlebih untuk disimpan di dalam sel dan kemudian akan digunakan jika diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa insulin yang memadai, gula di dalam darah akan menjadi berlebih. Analoginya seperti mobil yang penuh bensin tetapi tidak ada kuncinya; Anda mempunyai energi untuk menggerakkan mobil, tapi tidak bisa menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diabetes dialami oleh lebih dari 16 juta warga Amerika. Sebagian besar kasus yang dialami adalah diabetes onset dewasa, yang biasanya mengenai individu berusia lebih dari 40 tahun, kelebihan berat badan dan gaya hidup sedenter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor risiko termasuk riwayat keluarga yang menderita diabetes dan kelompok etnis tertentu. Keturunan Afrika, Amerika asli, Jepang, Latin ataupun Polinesia lebih tinggi risikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Mata pada Penderita Diabetes&lt;br /&gt;Komplikasi umum penderita diabetes adalah penyakit mata akibat diabetes. Salah satunya adalah glaukoma. Komplikasi lainnya termasuk retinopati dan katarak. Retinopati diabetik adalah penyakit yang merusak pembuluh darah kecil pada retina (jaringan yang peka cahaya yang berjajar di belakang mata) yang sering dijumpai pada penderita diabetes. Selama masa hidup mereka, sekitar 16 juta penderita diabetes akan mengalami berbagai tingkatan retinopati diabetik dan setidaknya 25.000 menjadi buta tiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katarak adalah pengaburan lensa mata yang mengakibatkan pudarnya penglihatan normal. Penderita diabetes mempunyai risiko hampir dua kali mengalami katarak dibandingkan yang lainnya. Katarak juga mempunyai kecenderungan terjadi pada usia yang lebih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara diabetes dengan glaukoma sudut-terbuka (tipe glaukoma yang paling umum) telah membangkitkan minat para peniliti selama bertahun-tahun. Penderita diabetes mempunyai risiko dua kali terkena glaukoma daripada individu non-diabetes, meskipun beberapa penelitian baru-baru ini telah mempertanyakan hal ini. Yang lebih menarik lagi, kemungkinan seseorang yang mempunyai glaukoma sudut terbuka kemudian menderita diabetes ternyata lebih tinggi dibandingkan individu yang tidak mempunyai penyakit mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glaukoma neovaskuler, tipe glaukoma yang jarang selalu dikaitkan dengan abnormalitas yang lain, diabetes adalah yang paling sering. Pada beberapa kasus retinopati diabetes, pembuluh darah pada retina menjadi rusak. Retina kemudian memproduksi pembuluh darah baru yang abnormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glaukoma neovaskuler dapat terjadi jika pembuluh darah yang baru tumbuh pada iris (bagian berwarna pada mata), menutup cairan pada mata dan meningkatkan tekanan pada mata. Glaukoma neovaskuler adalah penyakit yang sulit untuk diobati. Salah satu pilihan adalah bedah laser untuk mengurangi pembuluh darah abnormal pada permukaan iris dan retina. Penelitian yang terbaru telah menunjukkan kesuksesan penggunaan implan drainase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lindungi Mata Anda!&lt;br /&gt;Komplikasi pada mata adalah hal yang umum terjadi pada penderita diabetes, penting bagi penderita diabetes untuk memeriksakan kesehatan mata mereka secara rutin. Institusi Mata Nasional (National Eye Institute) merekomendasikan penderita diabetes untuk memeriksakan mata mereka setahun sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: http://www.glaucoma.org/glaucoma/diabetes-and-your-eyesight.php&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6335634402430481288-6489379555428717743?l=www.vikaasriningrum.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.vikaasriningrum.com/2011/10/diabetes-dan-kesehatan-mata.html</link><author>noreply@blogger.com (Yuki)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>
